Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barang lain yang kembali ditemukan
Bima masih menatap ke arah pepohonan di belakang kampung. Entah mengapa, bau rawa yang semakin kuat itu seperti membuka kembali sesuatu yang selama ini terkunci di dalam ingatannya. Ada perasaan aneh yang muncul. Bukan sekadar takut. Bukan pula sekadar penasaran. Seolah-olah tempat itu sedang memanggilnya.
"Bim." Suara Dedi membuatnya tersadar.
Bima mengedipkan mata, lalu mengalihkan pandangan.
"Iya."
"Kita lanjut dulu. Sudah hampir Maghrib."
Bima mengangguk. Arga juga sudah berdiri tegak. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi ia berusaha kembali seperti biasa.
"Ayo." Ayah Arga berjalan mendekat dan menepuk pelan pundaknya.
"Kalau masih mual, bilang."
Arga mengangguk.
"Iya, Yah."
Mereka kembali berjalan. Kali ini Arga tidak banyak bicara. Sesekali ia menoleh ke belakang, tetapi tidak lagi berhenti. Rumah Pak Rahman sudah tidak jauh. Setelah melewati sebuah jalan kecil yang diapit pagar bambu, mereka sampai di sebuah rumah yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan rumah warga lainnya. Halamannya luas. Di samping rumah terdapat beberapa pohon mangga dan rambutan yang tumbuh cukup lebat.
Di teras, seorang laki-laki tua sedang duduk sambil menyeruput kopi. Usianya hampir enam puluh tahun. Rambutnya sudah banyak memutih. Wajahnya teduh. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat siapa pun yang berbicara dengannya merasa tenang.
Arga langsung tersenyum.
"Itu Pak Rahman."
Belum sempat Arga memanggil, lelaki itu sudah mengangkat kepala. Matanya langsung tertuju kepada Arga. Beberapa detik ia hanya diam.
Cangkir kopi di tangannya bahkan tidak jadi diminum.
"Arga?"
Arga tersenyum lebar.
"Assalamu'alaikum, Pak."
Pak Rahman langsung berdiri.
"Wa'alaikumussalam..."
Suara lelaki tua itu terdengar bergetar. Ia turun dari teras dan berjalan cepat menghampiri Arga.
"Arga!"
Arga segera menyalami tangannya. Pak Rahman justru menarik Arga ke dalam pelukan singkat.
"Ya Allah... kamu benar-benar kembali."
Arga tertawa kecil.
"Iya, Pak."
Pak Rahman menepuk-nepuk bahu Arga.
"Sehat?"
"Alhamdulillah."
Pak Rahman kemudian melepaskan pelukannya dan memperhatikan wajah Arga dari dekat.
"Kurus."
Arga terkekeh.
"Memang dari dulu begini, Pak."
"Jangan membantah orang tua."
Arga langsung tertawa.
Dari dalam rumah, seorang perempuan paruh baya istri Pak Rahman keluar membawa beberapa gelas.
"Siapa, Pak?"
Pak Rahman menoleh.
"Ini Arga."
Perempuan itu langsung terkejut.
"Arga?"
Arga tersenyum.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumussalam."
Perempuan itu mendekat. Senyumnya langsung mengembang.
"Ya Allah, Nak. Kamu datang juga."
"Iya, Bu."
"Masuk dulu. Jangan berdiri di luar."
Pak Rahman baru menyadari bahwa Arga tidak datang sendirian. Ia menoleh ke belakang. Ada tiga orang yang berdiri beberapa langkah dari mereka.
Ayah Arga.
Bima.
Dan Dedi.
Pak Rahman tampak sedikit terkejut.
"Ini..."
Arga segera memperkenalkan mereka.
"Pak, ini ayah saya."
Ayah Arga maju dan mengulurkan tangan.
"Assalamu'alaikum, Pak Rahman."
Pak Rahman menyambutnya.
"Wa'alaikumussalam."
Keduanya berjabat tangan cukup lama.
Ayah Arga tersenyum.
"Saya sebenarnya sudah lama ingin bertemu dengan Bapak."
Pak Rahman tertawa kecil.
"Kenapa?"
Ayah Arga menatap Arga sebentar.
"Karena beberapa minggu lalu, ketika anak saya hilang dan akhirnya ditemukan di desa ini, Bapak dan warga sudah banyak membantu."
Pak Rahman menggeleng pelan.
"Ah, jangan begitu."
"Tetap saja, Pak. Saya berterima kasih."
Ayah Arga menundukkan kepala sedikit.
"Terima kasih karena sudah menjaga Arga selama berada di sini."
Pak Rahman terdiam. Kemudian ia menoleh kepada Arga.
"Kami tidak merasa sedang menjaga siapa-siapa." Ia tersenyum.
"Arga waktu itu datang sebagai orang asing. Tapi setelah beberapa hari, rasanya dia sudah seperti anak sendiri."
Arga yang mendengar itu menunduk. Dadanya terasa hangat.
Pak Rahman melanjutkan.
"Kalau anak kita tersesat di tempat seperti ini, yang bisa kita lakukan ya membantu sebisa mungkin."
Ayah Arga mengangguk.
"Itulah yang membuat saya sangat berterima kasih."
Pak Rahman kemudian menepuk lengan ayah Arga.
"Sudahlah. Jangan bicara di luar. Mari masuk."
Mereka semua dipersilakan masuk. Rumah Pak Rahman sederhana. Ruang tamunya tidak besar, tetapi bersih dan rapi. Di dinding terdapat beberapa foto kegiatan desa. Ada foto gotong royong, acara panen, pertemuan warga, hingga sebuah foto lama Pak Rahman bersama perangkat desa.
Arga duduk di salah satu sisi. Bima dan Dedi duduk di sampingnya. Pak Rahman duduk berhadapan dengan mereka.
Namun sebelum pembicaraan dimulai, istrinya sudah kembali membawa teh hangat dan beberapa piring makanan.
"Nanti ngobrolnya sambil makan."
Arga tersenyum.
"Terima kasih, Bu."
"Jangan cuma terima kasih. Dimakan."
"Iya, Bu."
Dedi tertawa kecil.
"Sepertinya Arga memang sudah dianggap anak sendiri."
Pak Rahman tersenyum.
"Begitulah."
Kemudian pandangannya beralih kepada Bima.
"Kalau yang ini?"
Arga langsung menoleh.
"Oh iya, Pak." Ia memperkenalkan Bima.
"Ini Mas Bima."
Bima segera menyalami Pak Rahman.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumussalam."
Pak Rahman menatap Bima beberapa detik lebih lama. Entah kenapa, ekspresinya berubah sedikit.
"Bima..."
"Iya, Pak."
Pak Rahman mengangguk pelan.
"Nama itu pernah saya dengar."
Bima terdiam. Dedi juga langsung menoleh.
Arga mengerutkan kening.
"Pak Rahman pernah dengar nama Bima?"
Pak Rahman tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelas teh, tetapi tidak meminumnya.
"Entahlah." Ia menghela napas.
"Mungkin cuma perasaan saya."
Bima menatap lelaki tua itu.
"Apa maksudnya, Pak?"
Pak Rahman tersenyum tipis.
"Nanti saja."
Jawaban itu justru membuat suasana menjadi sedikit ganjil.
Arga hendak bertanya lagi, tetapi Pak Rahman tiba-tiba menoleh kepadanya.
"Arga."
"Iya, Pak?"
"Kamu tadi mencium bau rawa?"
Arga langsung diam. Bima dan Dedi saling pandang. Ayah Arga juga mengangkat kepala.
"Kok Bapak tahu?" tanya Arga.
Pak Rahman menghela napas panjang.
"Karena sejak sore, baunya memang sampai ke kampung."
Arga menatapnya serius.
"Tapi seinget saya dulu, baunya tidak pernah sampai sejauh ini."
Pak Rahman mengangguk.
"Memang."
Ruangan mendadak sunyi. Pak Rahman menatap ke arah jendela yang menghadap bagian belakang kampung.
"Dan itu yang membuat saya khawatir."
Bima langsung bertanya.
"Kenapa, Pak?"
Pak Rahman menatap mereka satu per satu.
"Karena pagi tadi..." Ia berhenti sejenak.
"...ada sesuatu yang ditemukan warga di dekat jalan menuju rawa."
Arga langsung menegakkan tubuh.
"Apa?"
Pak Rahman belum sempat menjawab. Dari luar rumah terdengar suara seseorang memanggil.
"Pak Rahman!"
Semua orang menoleh. Seorang pemuda berdiri di halaman dengan napas terengah-engah.
"Pak!"
Pak Rahman segera berdiri.
"Ada apa?"
Pemuda itu menelan ludah.
"Pak... warga menemukan sesuatu lagi."
"Apa?"
Pemuda itu melihat ke arah Arga, Bima, dan Dedi. Wajahnya tampak ragu.
Namun akhirnya ia berkata pelan.
"Seperti kamera lama tapi masih terlihat bersih."
Arga langsung membeku. Bima berdiri. Dedi ikut bangkit.
"Kamera?" ulang Arga.
Pemuda itu mengangguk.
"Di pinggir rawa."
Pak Rahman menatap Arga. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, wajah teduh kepala desa itu kehilangan senyumnya.
"Dan kali ini bukan sekedar barang biasa tapi sepertinya memang milik pendaki. Pagi tadi ada carrier."
Arga merasakan tengkuknya meremang.
Bima mengepalkan tangannya.
"Jadi milik siapa?"
Pemuda itu menatap mereka.
"Kami belum tahu."
Angin kembali berembus dari arah belakang kampung. Bau rawa masuk melalui celah jendela. Dan kali ini, Arga tidak merasa sedang mencium masa lalu. Ia merasa sesuatu dari masa lalu itu sedang kembali.
banyak orang klw mau baca, mereka lihat dulu ini cerita tamat atau tidak. klw tidak mereka jadi malas membacanya.
masukan buat author, tamatin aja ceritanya. saya tahu di luar sana banyak yg mengintip cerita ini tapi Krn menggantung mrk JD malas..😍