Zakia Sukma, wanita sederhana yang memikul banyak beban di bahu kecilnya, membantu keluarga, memperjuangkan kuliah, semua itu ia tanggung sendiri, prinsip Zakia "Jika masih bisa diusahakan sendiri maka jangan menerima bantuan dari orang lain."
Namun, sebuah tragedi yang tak disangka Zakia merenggut harga dirinya, kejadian itu jugalah yang membuat Zakia bertemu dengan pria bernama Daren, Laki-laki yang baru pulang setelah menyelesaikan studinya di luar kita tiba-tiba disuruh menikah dengan Zakia karena tuntutan keluarga.
Akankah pernikahan yang berawal dari tuntutan itu bisa menjadi pernikahan penuh cinta? Atau hanya menjadi pernikahan di atas kertas saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"A-apanya yang enak?" tanya Zakia gugup. Daren tersenyum kecil, kenapa Zakia makin ke sini makin terlihat menggemaskan?
Tunggu, menggemaskan? Astaga Daren apa yang kamu pikirkan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Daren semakin lama semakin hafal dengan kebiasaan istrinya ini. Daren kerepotan? Tentu saja tidak! Toh itu memang tanggung jawab Daren sebagai seorang suami.
Dulu Daren bercita-cita menjadi suami yang penuh tanggung jawab dan bersedia menerima apapun keadaan istrinya, kini Daren mulai memerankan apa yang sudah ia janjikan kepada dirinya sendiri.
Ya walaupun kondisi mereka menikah bukan karena saling cinta, tapi Daren tetap menghargai Zakia sebagai istri sahnya, baik itu dari segi hukum agama ataupun hukum negara.
"Rotinya yang enak," jawab Daren. Zakia tanpa sadar membuang nafas lega, hal itu mendapat respon jahil dari Daren.
"Emang, lo mikir apanya yang enak?"
Senyum miring terbit dari bibir Daren, tangan besarnya mengenggam lembut telapak tangan kecil Zakia, wanita itu gemetar gugup dan tangannya juga dingin, Daren sudah ingin tertawa lepas, tapi melihat Zakia gugup seperti itu membuat ia menahan tawanya, sepertinya menjahili Zakia di saat seperti ini terasa menyenangkan.
Zakia meremas ujung kasur brankar yang ia gunakan, ada apa dengan Daren hari ini? Dan apa maksud dari senyuman itu? Daren tidak ingin berniat jahat kan?
"Y-ya, gue ga mikir apa-apa sih!" seru Zakia.
Sebelah alis Daren terangkat, "yakin?"
Oh Tuhan! Lihatlah wajah tengil suaminya itu. Zakia sontak menarik tangannya dan memberikan tatapan kesal kepada Daren. Sudah tahu dirinya gugup, masih juga dipermainkan!
"Iya ihhh! Dibilangin juga!" kesal Zakia.
Tawa lepas ke luar dari bibir Daren usai mendengar nada kesal dari Zakia. Dulu semasa kuliah dia heran dengan temannya yang selalu menjahili pasangan mereka, tapi kini Daren paham ternyata rasanya semenyenangkan ini.
"Jangan ketawa ih!" Zakia semakin kesal sampai ia memukul pelan telapak tangan suaminya, tapi bukannya bertambah diam Daren malah semakin tertawa keras.
Tapi kekesalan Zakia mereda saat melihat wajah gembira suaminya itu, Zakia baru ingat selama mereka berkenalan sampai mereka menikah, Daren belum pernah tertawa sampai selepas ini.
Daren memang peduli, Daren memang bersikap lembut dan perhatian, tapi Daren tak pernah menunjukkan eskpresi senang seperti saat ini. Suara tawa Daren dan bagaimana gigi rapinya terlihat saat Daren menunjukkan eskpresi bahagianya.
Walaupun Daren tertawa karena menjahili dirinya, tapi setidaknya Zakia bisa melihat Daren dengan mode seperti ini.
'Kok ganteng ya,' batin Zakia. Sejenak kemudian dirinya terkesiap, baru saja dia memuji suaminya itu?
"Sorry Zak sorry, gue ga maksud apa-apa," kata Daren. Kata-kata itu terdengar tulus walaupun diujungnya ditambah tawa yang belum mereda.
"Lagian rotinya memang enak kok, pantesan lo suka," lanjut Daren. Matanya mengintip isi kantong plastik yang terletak di atas pangkuan Zakia, masih ada sekitar lima bungkus lagi roti seperti itu.
"Emanglah, gue dulu inget banget pas selesai sekolah sering mampir ke supermarket dekat sekolah buat beli roti ini, pokoknya ini jajanan favorit gue dari dulu," jelas Zakia panjang lebar.
Zakia duduk di atas brankar sedangkan Daren duduk di kursi di samping brankar Zakia, wanita itu makan dengan lahap, kondisi tubuh atasnya terlihat sehat sampai akhirnya kaki yang menyempurnakan organ tubuhnya itu telah dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Mata Daren melirik ke arah kaki Zakia yang tertutup selimut, kaki itu pasti bisa sembuh, batin Daren. Melihat Zakia senang seperti ini membuat dia ikut merasa nyaman, setidaknya Zakia tidak kehilangan semangat walaupun dalam kondisi seperti ini.
Tangan Daren perlahan-lahan meraba kaki Zakia, hal itu membuat kunyahan di mulut Zakia terhenti, apakah Daren sedang mengecek kondisinya?
"Masih sakit kakinya?" tanya Daren lembut.
"Ga terlalu, cuman ya itu susah dibawa jalan." Nada sedih kembali ke luar dari mulut Zakia saat ia dadar bagaimana kondisinya.
Daren tersenyum tipis, "Gapapa ada gue," jawab Daren pelan.
Zakia menghela nafas, semangat makannya tiba-tiba hilang, bagi sebagian orang kalimat yang baru dikeluarkan Daren itu kalimat yang romantis, tapi bagi Zakia kalimat itu seperti beton yang menimpa bahunya sehingga ia merasa berat untuk mengangkat kepalanya sendiri.
"Gue ga kerepotan Zakia, jangan mikir yang lain-lain," ujar Daren. Atas semua latar belakang kehidupan Zakia yang ia ketahui walaupun masih sedikit, Daren tahu Zakia tipikal orang yang keras, susah menerima bantuan orang lain bahkan itu dari suaminya sendiri, orang yang sudah bertanggung jawab dan bahkan sudah satu rumah dan satu tempat tidur dengannya.
Zakia tak langsung menjawab, ia menghela nafas dan menatap jendela yang menampilkan pemandangan kota di luar sana. Kehidupan memang tidak bisa ditebak, kadang naik kadang turun, tapi bagi Zakia ini posisi yang membingungkan, dibilang naik jawabannya iya di bilang turun bisa dibilang iya juga.
Zakia tiba-tiba memegang kepalanya, kepala itu terasa pusing bahkan berdengut, Zakia bahkan tanpa sadar kembali memegang lengan Daren dan sebelah tangannya memegangi kepalanya.
Ada yang aneh, selama ini ketika Zakia banyak berpikir kepalanya tidak pernah sakit seperti ini, bahkan ketika dia memikirkan masalah berat, kepalanya tidak sampai pusing seperti ini.
Jangan-jangan Zakia punya penyakit lain selain kakinya ini!
Di sela-sela sakitnya kepala Zakia, ia berusaha mengangkat kepalanya dan bertatapan penuh dengan Daren. Tatapan penuh tuntutan itu kembali menyelimuti matanya.
"Kepala gue kenapa?"
Daren merasa gusar, kemarin dia terlalu fokus dengan sakit di kaki Zakia sampai ia lupa menjelaskan bagaimana kondisi kepala wanita itu. Kini, karena Zakia berpikir berat, akhirnya penyakit itu muncul dan diketahui oleh Zakia sendiri.
Daren takut, takut bahwa Zakia menganggapnya berbohong dan menyembunyikan penyakitnya hanya karena Zakia dalam kondisi seperti ini. Daren tahu Zakia tak selemah itu, kehidupannya sebelum bertemu dengan Daren sudah cukup menjadi bekal untuk menguatkan mental perempuan ini.
"Jangan bohong sama gue bang Daren, gue ga selemah yang lo bayangin!" tekan Zakia.
Daren tahu, Daren mengerti, bahkan tak ada sedikitpun dikepalanya terlintas bahwa Zakia adalah wanita lemah, wanita cacat atau apapun itu! Yang Daren tahu Zakia itu adalah wanita kuat dan penuh perjuangan untuk bisa tetap hidup, sampai sekarang.
Sebelum menjawab, Daren menyingkirkan tangan Zakia dari kepalanya, wanita itu bukan lagi memegang kepalanya tapi sudah menjambak rambutnya sendiri, walaupun sedikit, tapi itu bisa berbahaya.
Zakia awalnya bersikeras ingin kembali menjambak kecil rambutnya, semua itu ia lakukan untuk melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan, namun tangannya kembali ditahan oleh Daren.
"Lo terkena geger otak ringan," ucap Daren. Usai mengatakan itu, mata Zakia tertutup, tubuhnya melemah dan langsung ambruk ke tempat tidur Rumah sakit itu. Zakia pingsan setelah tak tahan dengan rasa sakit yang menyerang kepalanya.
Rasa takut Daren semakin hidup ketika Zakia tiba-tiba pingsan di depan matanya. "Zakia!" seru Daren.
Ia spontan bangkit dan menekan tombol emergency, jantung Daren kembali berdegup kencang, untuk kali ini Daren benar-benar merasa takut akan kehilangan Zakia, cukup dengan lemahnya kaki wanita itu tapi jangan lagi bagian kepalanya.