Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan Berdarah
Brak!
Rara meletakkan gelas kaca itu ke atas meja pantry dengan kasar. Suaranya cukup keras untuk membuat dua pria di ruang monitor terlonjak kaget.
Bara dan Dino serempak menoleh. Tangan Bara bahkan sudah refleks meraba gagang pistol di pinggangnya sebelum menyadari siapa yang berdiri di sana.
"Mbak Rara?!" cicit Dino dengan mata melotot. "Sejak kapan di situ?"
"Sejak lo berdua bahas soal pengkhianat!" cecar Rara. Cewek itu melangkah cepat menghampiri meja monitor dengan napas memburu. "Jawab jujur, Dino. Maksud omongan kalian tadi apa? Ada orang dalam yang mau bunuh Arka?!"
Bara menatap Rara dengan raut datar, lalu menghela napas berat. "Nona seharusnya tidak mendengar pembicaraan ini."
"Nggak usah ngalihin topik, Bara!" potong Rara tajam. Wajahnya masih pucat, tapi matanya memancarkan ketegasan. "Gue hampir mati ditembak sniper! Bos lo perutnya bolong! Dan sekarang kalian bilang salah satu petinggi kalian sendiri yang ngebocorin lokasi kita ke musuh?!"
Dino mengusap wajahnya kasar. "Iya, Mbak. Kemungkinannya 99 persen valid. Ada tikus di antara empat Kepala Divisi kita."
"Gila..." Rara memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Terus kita ngapain diam aja di sini?! Kalau orang itu tahu rute harian Arka, bisa aja dia juga tahu posisi bunker ini kan?! Kita bisa disergap kapan aja!"
"Tidak ada yang tahu kode akses bunker ini selain saya dan Bara."
Suara berat, dingin, dan serak itu mendadak mengudara, memotong kepanikan Rara.
Semua kepala sontak menoleh ke arah sofa. Di sana, Arka sudah membuka mata. Pria itu menahan ringisan sakit saat memaksakan dirinya untuk duduk bersandar, mengabaikan perban daruratnya yang kembali merembeskan darah.
Rara langsung berlari menghampiri pria itu.
"Lo ngapain bangun sih?!" omel Rara panik, tangannya refleks menahan bahu Arka agar pria itu tidak banyak bergerak. "Perut lo lagi robek, Arka! Tiduran aja bisa nggak?!"
"Suaramu lebih nyaring dari sirine polisi. Bagaimana saya bisa tidur?" balas Arka datar.
"Gue lagi panik, wajar dong! Lo nggak denger tadi anak buah lo bilang apa? Ada musuh dalam selimut di markas lo!"
Arka menatap Rara lekat. Sudut bibirnya justru berkedut, membentuk seringai tipis yang sangat dingin dan mematikan. "Kau pikir saya bodoh, Rara?"
Rara tertegun. "Hah?"
"Saya sudah mencurigainya sejak Victor berani menyergap kita di lobi," desis Arka. Suaranya pelan, tapi auranya membuat udara di bunker terasa semakin dingin. "Kecoak seperti Victor tidak akan berani menggigit jika tidak ada anjing besar yang melindunginya dari dalam markas saya."
Dino menelan ludah. "Bos... Bos udah tahu ada pengkhianat?"
"Tentu saja."
"Terus kenapa lo diam aja dari tadi?!" semprot Rara tak habis pikir. "Lo sengaja numbalin diri lo sendiri jadi sasaran tembak?!"
"Untuk menangkap tikus, kau butuh umpan, bukan tongkat," jawab Arka absolut.
Pria itu menoleh menatap tangan kanannya. "Bara."
"Siap, Bos," sahut Bara, melangkah tegap mendekati sofa.
"Hubungi keempat Kepala Divisi sekarang. Gunakan jalur komunikasi darurat terenkripsi."
"Apa yang harus saya sampaikan, Bos?"
Mata kelam Arka berkilat tajam. "Beri tahu mereka bahwa saya terluka parah akibat penyergapan Victor. Katakan kita sedang bersembunyi menuggu evakuasi medis."
Bara mengernyit bingung. "Bos mau memberi tahu kondisi kritis Anda pada pengkhianat itu?"
"Ya. Tapi, berikan lokasi persembunyian yang berbeda pada masing-masing Kepala Divisi."
Dino yang tadinya masih bingung, perlahan membelalakkan mata. "Gila... Bos mau ngasih jebakan Batman?"
"Tepat," desis Arka sinis. "Divisi Utara, beritahu kita bersembunyi di Pelabuhan. Divisi Selatan, katakan kita di Gudang Tua. Divisi Timur, arahkan ke Villa Puncak. Dan Divisi Barat, beritahu kita ada di Apartemen Pusat."
Rara menutup mulutnya, otaknya mulai menangkap rencana gila pria di depannya ini. "Dan lokasi mana pun yang diserang malam ini..."
"...adalah bukti nyata siapa pengkhianatnya," sambung Bara, matanya kini berkilat paham. "Ini strategi yang sangat jenius, Bos."
Di sofa seberang, Beby yang sejak tadi diam mendengarkan langsung merinding sambil memeluk bantal. "Sumpah, otak mafia emang beda. Licik banget, gue merinding dengernya."
"Laksanakan sekarang, Bara," perintah Arka mutlak. "Biarkan Dewan Tertinggi berpikir mereka berhasil memancing saya. Malam ini, kita lihat siapa yang akan terpancing masuk ke dalam kandang singa."
"Dilaksanakan, Bos!" Bara langsung berbalik menuju meja monitor, jarinya dengan cepat mengetikkan kode-kode rahasia untuk mengirim pesan mematikan tersebut.
Arka menyandarkan kepalanya kembali ke sofa dengan napas memburu. Memikirkan strategi perang dengan perut berlubang benar-benar menguras sisa tenaganya.
Melihat keringat dingin kembali membanjiri dahi pria itu, Rara berdecak pelan. Cewek itu kembali meraih handuk hangatnya.
"Dasar gila," rutuk Rara pelan, tangannya kembali mengusap dahi Arka dengan lembut. "Nyawa udah di ujung tanduk masih aja sempat-sempatnya bikin jebakan."
"Saya hidup dari kegilaan, Rara," gumam Arka lemah, matanya kembali terpejam menikmati usapan tangan gadis itu.
Tepat pada detik itu, suara desis dari pintu hidrolik utama bunker berbunyi nyaring.
Tttsss... Klak!
Layar monitor di depan Dino langsung berubah hijau. Pemuda itu menghela napas lega yang sangat panjang.
"Bos, Mbak Rara... pertolongan pertama datang," lapor Dino seraya memutar kursinya. "Dokter Hans udah sampai."