Indonesia
NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: JEJAK YANG MEMANGGIL

Rangga berhenti beberapa langkah di hadapan wanita itu.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang tanpa satu pun kata terucap. Musik yang mengalun dari aula utama masih terdengar samar, tetapi sudut galeri itu terasa seperti memiliki ruang dan waktu sendiri.

Wanita itu akhirnya menurunkan tangannya.

Gelang perak dengan ukiran rasi bintang Arkais masih melingkar erat di pergelangan tangannya.

“Rangga.”

Satu kata.

Namun, suara itu membuat alis Rangga langsung berkerut.

Ia tidak mengenalkan dirinya.

“Dari mana Anda tahu nama saya?”

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Rangga dengan tenang, seolah pertanyaan tersebut memang sudah diperkirakan akan muncul.

“Nama Anda cukup dikenal di kalangan orang-orang yang mengikuti perkembangan proyek Borneo.”

“Karena bisnis saya?”

“Bukan hanya karena bisnis Anda.”

Jawaban itu membuat Rangga semakin waspada.

Ia melirik sekeliling.

Tidak ada orang yang tampak memperhatikan mereka. Para tamu masih sibuk dengan percakapan masing-masing. Beberapa orang berjalan melewati galeri tanpa sedikit pun menunjukkan ketertarikan.

Rangga kembali menatap wanita tersebut.

“Kalau begitu, saya rasa Anda sudah tahu kenapa saya datang ke sini.”

Senyum tipis muncul di wajah wanita itu.

“Justru saya ingin tahu, apakah Anda datang karena surat itu atau karena gelang ini.”

Tatapan Rangga langsung jatuh pada gelang perak di pergelangan tangannya.

“Jadi memang Anda yang mengirim surat itu?”

Wanita itu diam sesaat.

“Surat yang mana?”

“Jangan bermain-main.”

Nada suara Rangga berubah lebih tegas.

“Saya menerima amplop hitam dengan segel Arkais. Di dalamnya ada koordinat tempat ini.”

Wanita itu menghela napas kecil.

“Kalau begitu, surat itu memang berhasil membawa Anda kemari.”

“Siapa Anda?”

Kali ini wanita itu tidak tersenyum.

Ia memandang Rangga sejenak sebelum menjawab.

“Nama saya belum penting.”

“Bagi saya, nama orang yang mengetahui terlalu banyak tentang hidup saya justru sangat penting.”

Ada sedikit perubahan pada ekspresi wanita tersebut.

Bukan marah.

Lebih seperti menghargai ketegasan Rangga.

“Anda berubah.”

Rangga mengernyit.

“Berubah dari apa?”

“Dari pemuda yang dulu meninggalkan Jakarta dengan membawa lebih banyak luka daripada uang.”

Rangga terdiam.

Kalimat itu terlalu tepat.

Bukan sekadar mengetahui dirinya sebagai pengusaha yang pernah berangkat ke Borneo.

Wanita itu mengetahui masa lalunya.

“Siapa yang memberi Anda informasi tentang saya?”

Wanita tersebut justru melangkah mendekati sebuah meja kecil di samping instalasi kaca. Ia mengambil segelas air mineral, tetapi tidak langsung meminumnya.

“Orang yang mengenal perjalanan Anda.”

“Siapa?”

“Banyak orang mengenal perjalanan Anda, Rangga.”

“Tidak sebanyak yang Anda kira.”

Wanita itu menatapnya kembali.

“Dan tidak semuanya ingin Anda mengetahui keberadaan mereka.”

Rangga terdiam.

Kalimat itu membuat suasana kembali menegang.

Ia kemudian menunjuk gelang perak yang dikenakan wanita tersebut.

“Sekarang saya yang bertanya. Apa hubungan gelang itu dengan saya?”

Wanita itu menatap gelangnya.

“Seharusnya Anda lebih dulu bertanya tentang apa yang Anda ingat.”

Rangga tidak menjawab.

Ingatan masa kecilnya kembali muncul.

Desa Samudra.

Malam dengan bulan purnama.

Lakon pewayangan.

Dan janji yang pernah ia ucapkan ketika masih terlalu muda untuk memahami arti sebuah janji.

Namun ada satu bagian yang selalu terasa kabur dalam ingatannya.

Sebuah benda.

Sesuatu yang pernah ia pegang.

Sesuatu yang kemudian hilang dari kehidupannya.

Rangga menatap gelang itu lebih lama.

“Gelang itu pernah saya lihat.”

Wanita itu tidak menyela.

“Bukan gelang yang sama,” lanjut Rangga pelan. “Tapi simbolnya... saya pernah melihatnya.”

“Di mana?”

“Desa Samudra.”

Untuk pertama kalinya, sorot mata wanita itu berubah.

Sangat tipis.

Namun Rangga menangkapnya.

Ia semakin yakin bahwa kedatangannya malam ini bukan kebetulan.

Wanita itu kemudian berkata pelan.

“Kalau begitu, mungkin sudah waktunya Anda mengingat semuanya.”

Rangga menatapnya tajam.

“Apa yang harus saya ingat?”

Wanita itu tidak menjawab.

Ia hanya memandang ke arah instalasi kaca di samping mereka, lalu kembali menatap Rangga.

“Bukan saya yang harus menceritakannya.”

“Lalu siapa?”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Diri Anda sendiri.”

Rangga mengembuskan napas perlahan.

Pertemuan yang semula ia kira akan memberikan jawaban justru membuka ruang pertanyaan yang jauh lebih dalam.

Namun kali ini ia tidak mundur.

Ia sudah terlalu jauh berjalan untuk membiarkan dirinya kembali menjadi orang yang hanya menunggu jawaban dari orang lain.

“Baik,” katanya.

Wanita itu mengangkat alis.

“Baik?”

“Saya tidak tahu siapa Anda. Saya juga belum tahu apa maksud semua ini.”

Rangga menatap lurus ke matanya.

“Tapi kalau Anda memang membawa saya sampai ke sini, saya akan mendengar semuanya.”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi saya tidak akan percaya begitu saja.”

Senyum wanita itu kembali muncul.

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Karena Rangga yang saya cari memang seharusnya seperti itu.”

Wanita itu tidak langsung melanjutkan pembicaraan.

Ia justru berjalan perlahan menuju sisi lain galeri, memberi isyarat agar Rangga mengikutinya. Langkah mereka melewati beberapa karya seni yang dipajang dengan pencahayaan temaram. Rangga tetap menjaga jarak, matanya sesekali mengamati sekeliling.

“Tenang saja,” ujar wanita itu tanpa menoleh. “Tidak ada yang sedang mengawasi percakapan kita.”

Rangga tersenyum tipis.

“Kalimat seperti itu justru membuat saya semakin curiga.”

Wanita itu terkekeh kecil.

“Wajar.”

Mereka berhenti di depan sebuah lukisan besar yang didominasi warna biru gelap. Di tengah lukisan itu terdapat susunan titik-titik cahaya yang membentuk pola menyerupai rasi bintang.

Rangga langsung mengenalinya.

Arkais.

Ia menatap lukisan tersebut cukup lama.

“Kenapa simbol itu ada di sini?”

“Karena tidak semua orang melihatnya sebagai sekadar rasi bintang.”

Rangga menoleh.

“Maksudnya?”

Wanita itu berdiri di sampingnya.

“Bagi sebagian orang, Arkais adalah pengingat.”

“Pengingat tentang apa?”

“Janji.”

Satu kata itu membuat wajah Rangga berubah.

Ingatan masa kecilnya kembali menyeruak.

Suara tawa anak-anak di Desa Samudra.

Tanah lapang yang masih basah setelah hujan.

Bulan purnama yang menggantung di atas pepohonan.

Dan seorang gadis kecil yang pernah berdiri di hadapannya.

Denia.

Rangga memejamkan mata sesaat.

“Ada satu hal yang tidak pernah saya mengerti.”

Wanita itu menunggu.

“Kenapa setiap kali simbol ini muncul, nama Desa Samudra selalu ikut kembali dalam ingatan saya?”

“Karena Anda belum pernah benar-benar meninggalkan desa itu.”

Rangga membuka matanya.

“Saya meninggalkannya bertahun-tahun lalu.”

“Secara fisik.”

Wanita itu menatapnya.

“Tapi tidak secara batin.”

Rangga tidak membantah.

Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa benar.

Selama bertahun-tahun, ia mengejar kehidupan di Jakarta. Kemudian pergi ke Borneo. Ia membangun bisnis, menghadapi kegagalan, kehilangan Sari, dan akhirnya kembali sebagai pengusaha yang jauh berbeda.

Namun setiap kali langit malam terbuka dan rasi Arkais terlihat, pikirannya selalu kembali pada tempat yang sama.

Desa Samudra.

“Kenapa sekarang?” tanya Rangga.

Wanita itu terdiam.

“Karena sekarang Anda sudah siap.”

“Siap untuk apa?”

“Untuk pulang.”

Rangga mengerutkan kening.

“Saya bisa pulang kapan saja.”

“Bukan pulang ke Jakarta.”

Tatapan wanita itu berubah lebih dalam.

“Pulang ke tempat di mana semuanya dimulai.”

Rangga terdiam.

Ia tahu maksud wanita itu.

Desa Samudra.

Namun sebelum ia sempat menjawab, suara seorang pelayan terdengar dari ujung galeri.

“Maaf, Nona. Tamu yang Anda tunggu sudah datang.”

Wanita itu menoleh.

Kemudian ia kembali melihat Rangga.

“Waktu kita malam ini terbatas.”

“Jadi Anda masih punya sesuatu yang harus Anda sampaikan?”

“Bukan saya yang akan menyampaikannya.”

Rangga kembali merasa tidak nyaman dengan jawaban yang berputar-putar itu.

“Lalu siapa?”

Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dibawanya.

Sebuah benda kecil terbungkus kain gelap.

Ia menyerahkannya kepada Rangga.

Rangga menerimanya dengan hati-hati.

“Buka.”

Ia membuka lipatan kain tersebut.

Seketika pandangannya membeku.

Di dalamnya terdapat sebuah benda lama yang bentuknya sederhana, tetapi memiliki pola yang sangat ia kenal.

Jarinya bergetar.

Bukan karena benda itu mahal.

Melainkan karena ingatan yang menyertainya.

“Dari mana Anda mendapatkannya?”

Wanita itu tidak menjawab.

Rangga mengangkat wajah.

“Ini milik saya.”

“Dulu.”

“Kenapa Anda memilikinya?”

“Karena benda itu memang harus kembali kepada Anda.”

Rangga menggenggam benda tersebut lebih erat.

Untuk pertama kalinya sejak menerima surat misterius itu, ketenangan yang selama ini ia bangun mulai retak.

Bukan karena takut.

Melainkan karena masa lalu yang selama ini ia anggap telah terkubur ternyata masih menyimpan sesuatu.

Ia menatap gelang Arkais di pergelangan tangan wanita itu.

Kemudian melihat benda lama di telapak tangannya.

Dua simbol yang berbeda bentuk, tetapi membawa pola yang sama.

“Kalau benda ini memang milik saya,” katanya perlahan, “kenapa baru sekarang dikembalikan?”

Wanita itu menatapnya cukup lama.

“Karena sekarang Anda sudah memiliki alasan untuk mencarinya.”

Rangga mengangkat alis.

“Alasan?”

“Kesuksesan sudah Anda dapatkan.”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Sari sudah Anda lepaskan.”

Rangga terdiam.

Nama itu membuat dadanya sempat terasa sesak, tetapi tidak lagi seperti dahulu.

Wanita itu melanjutkan.

“Tidak ada lagi yang mengikat langkah Anda di Jakarta.”

Rangga menatap benda di tangannya.

“Dan Anda ingin saya pulang?”

“Bukan saya.”

Wanita itu menggeleng.

“Janji yang pernah Anda buat sendiri.”

Rangga terdiam cukup lama.

Di luar gedung, suara kendaraan Jakarta terdengar samar melalui kaca besar galeri.

Kota yang dulu menjadi tempat ia memulai perjuangan.

Kota yang telah ia taklukkan.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rangga merasa ada satu tempat yang justru belum pernah benar-benar ia taklukkan.

Tempat yang selama ini ia tinggalkan.

Desa Samudra.

Wanita itu kemudian melangkah pergi.

Rangga menoleh.

“Tunggu.”

Wanita itu berhenti.

“Setidaknya beri tahu saya satu hal.”

“Apa?”

Rangga menggenggam benda lama tersebut.

“Apakah Denia masih mengingat janji itu?”

Wanita itu tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Rangga dari kejauhan.

Lalu senyum tipis kembali terukir di wajahnya.

Jawaban itu justru membuat Rangga semakin tidak tenang.

Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Rangga.

Ia hanya berdiri beberapa meter darinya, memandang dengan tatapan yang sulit dibaca. Senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang, berganti dengan ekspresi tenang yang justru membuat Rangga semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sengaja disimpan darinya.

“Jawab pertanyaan saya,” ujar Rangga sekali lagi.

“Tidak semua jawaban harus diberikan malam ini.”

Rangga menghela napas.

“Jadi saya harus pulang ke Desa Samudra hanya untuk mencari jawaban sendiri?”

“Bukan mencari.”

Wanita itu menatap benda yang masih digenggam Rangga.

“Mengingat.”

Rangga menundukkan kepala. Jarinya perlahan menyentuh permukaan benda lama tersebut. Ada rasa asing sekaligus akrab yang sulit dijelaskan. Seolah benda itu pernah menjadi bagian dari hidupnya, tetapi ingatannya menolak membuka pintu yang selama ini terkunci.

“Kalau begitu, saya akan pulang.”

Wanita itu akhirnya tersenyum lagi.

“Bagus.”

“Tapi saya punya satu syarat.”

“Apa?”

“Saya ingin tahu siapa yang selama ini mengirimkan semua petunjuk itu.”

Wanita itu diam.

“Surat hitam. Simbol Arkais. Pria berjaket kulit yang pernah menyelamatkan saya. Dan sekarang benda ini.” Rangga mengangkat benda tersebut. “Saya tidak percaya semuanya terjadi secara kebetulan.”

“Memang tidak.”

Jawaban itu begitu singkat hingga Rangga kembali terdiam.

Wanita itu kemudian mendekat beberapa langkah.

“Rangga, Anda sudah melewati terlalu banyak hal untuk sampai di titik ini. Jangan merusak perjalanan Anda hanya karena ingin mengetahui semuanya sekaligus.”

“Dan kalau saya tidak mau menunggu?”

“Kalau begitu, pulanglah lebih cepat.”

Rangga menatapnya.

“Ke Desa Samudra?”

Wanita itu mengangguk.

“Di sana, Anda akan menemukan jawaban yang tidak bisa diberikan siapa pun kepada Anda.”

Rangga memasukkan benda lama tersebut ke dalam saku jasnya.

“Termasuk jawaban tentang Denia?”

Wanita itu kembali tersenyum.

“Terutama tentang Denia.”

Sebelum Rangga sempat bertanya lebih jauh, wanita itu berbalik dan berjalan meninggalkan galeri.

Rangga tidak mengejarnya.

Ia hanya berdiri diam sambil memperhatikan sosok wanita itu menghilang di antara kerumunan para tamu.

Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar.

Pesan dari Tono.

“Pak, rapat besok pagi tetap jadi?”

Rangga membaca pesan itu sebentar.

Dua tahun lalu, pesan seperti itu mungkin akan langsung membuat pikirannya kembali pada bisnis.

Namun malam ini berbeda.

Ia mengetik singkat.

“Jadwal tetap jalan. Tapi setelah itu saya mau pulang.”

Beberapa detik kemudian, balasan Tono masuk.

“Pulang ke mana, Pak?”

Rangga menatap layar.

Jarinya berhenti beberapa saat sebelum mengetik dua kata.

“Desa Samudra.”

Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku.

Kemudian berjalan keluar dari galeri.

Di luar gedung, udara malam Jakarta terasa lebih hangat dibandingkan malam-malam Borneo yang selama ini menemaninya. Lampu kendaraan berkilauan di sepanjang jalan, sementara gedung-gedung tinggi berdiri kokoh seperti saksi perjalanan panjang yang sudah ia lalui.

Rangga masuk ke mobil.

Sopirnya menatap melalui kaca spion.

“Mau langsung ke kantor, Pak?”

Rangga terdiam sejenak.

“Tidak.”

Ia menatap keluar jendela.

“Antarkan saya pulang.”

Mobil mulai bergerak meninggalkan gedung konvensi.

Namun sepanjang perjalanan, pikirannya tidak lagi tertuju pada gedung kantor, kontrak, investor, atau ekspansi bisnis.

Satu nama terus berputar di kepalanya.

Denia.

Nama yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya.

Nama yang selama bertahun-tahun ia simpan jauh di dalam ruang ingatan.

Dan malam ini, nama itu kembali muncul setelah sebuah gelang Arkais membawanya pada sebuah benda lama yang seharusnya sudah hilang dari hidupnya.

Rangga menyandarkan kepala ke jok.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Desa Samudra, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah diberikan kesuksesan sebesar apa pun.

Kerinduan untuk pulang.

Bukan sebagai anak desa yang dahulu pergi membawa mimpi.

Bukan sebagai pemuda miskin yang mengejar keberuntungan.

Tetapi sebagai Rangga yang sudah menempuh perjalanan panjang dan akhirnya memiliki keberanian untuk menghadapi masa lalunya sendiri.

Di luar kaca mobil, langit Jakarta mulai tertutup awan.

Namun di sela-sela celahnya, satu kelompok bintang masih terlihat samar.

Rasi Arkais.

Rangga menatapnya cukup lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Sudah waktunya.”

Mobil terus melaju menembus malam.

Dan jauh di dalam saku jasnya, benda lama yang baru saja dikembalikan kepadanya terasa seperti membawa pesan yang belum selesai dibaca.

Rangga akhirnya memutuskan pulang ke Desa Samudra, bukan untuk mengejar masa lalu, melainkan untuk menuntaskan sebuah janji yang pernah ia ucapkan ketika dirinya masih terlalu muda untuk memahami arti sebuah takdir. Namun, jika Denia benar-benar masih menyimpan janji itu, apakah kepulangan Rangga akan menjadi awal pertemuan dua hati yang telah dipisahkan waktu—atau justru membuka kenyataan yang selama ini sengaja disembunyikan darinya?

Jawabannya menunggu di tanah tempat semuanya pernah dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!