Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
Setibanya di basement gedung apartemen, Leon mengambil alih baby Richard dari gendongan Reka. Mereka pun berjalan berdampingan menuju ke arah lift yang akan mengantarkan ke lantai di mana unit apartment Leon berada.
Di dalam lift kebetulan ada dua orang pengguna lift lainnya. Dari sikapnya, sepertinya keduanya adalah pasangan suami-istri yang mungkin juga merupakan penghuni gedung apartemen tersebut.
"Anaknya ya pak? Mirip banget soalnya." Tanya si bapak.
Leon mengangguk dengan senyum kecil di bibirnya.
"Kalau dilihat-lihat, wajah bapak mirip sama wajah tuan Leonardo Fernandez. Sering lihat di TV soalnya." Leon memang sering kali tampil di layar kaca sebagai narasumber beberapa acara TV. Mungkin dari situlah pasangan si bapak tadi sampai berkomentar demikian.
Leon kembali menanggapi dengan seulas senyum, tidak melakukan klarifikasi bahwa dirinya memang Leonardo Fernandez. Karena menurut Leon apa pentingnya semua itu. Leon malah bersyukur, ternyata masih ada juga segelintir orang yang tidak dapat mengenali dirinya saat bertemu langsung.
"Kami duluan ya Pak....Bu...." Pamit Leon mendahului, setelah pintu lift terbuka di lantai yang dituju.
"Iya pak."
"Ayo sayang!." Leon merangkul pundak Reka dengan salah satu tangannya yang lepas.
"Si dedek bayinya cakep banget ya pah."
"Gimana anaknya nggak cakep kalau orang tuanya saja cakep begitu, mah"
Leon dan Reka masih dapat mendengar obrolan pasangan tersebut disela pergerakan pintu lift hendak menutup kembali.
Sesampainya di depan unit apartment nya, Leon langsung menekan Sandi apartemen dan pintu pun terbuka.
"Sini mas, biar baby Richard aku yang gendong!."
Leon mengangguk dan memindahkan baby Richard ke gendongan mommy-nya. Reka membawa baby Richard ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan piyama.
Menyadari langkah Leon memasuki kamar, Reka lantas bertanya. "Apa malam ini mas akan menginap di sini?." Reka hanya sekedar bertanya, bukannya berniat mengusir Leon. Lagipula, Leon adalah pemilik apartemen, mana mungkin Reka berani mengusir pria itu.
"Kalau kamu tidak memperbolehkan mas menginap di sini, mas akan pulang."
"Bukan begitu mas, aku hanya sekedar bertanya saja." Reka tidak ingin Leon salah paham dengan maksud ucapannya. "Lagian yang numpang kan aku, masa iya aku mengusir pemilik rumah."
Entah mengapa, mendengar Reka menyebut kata 'menumpang' membuat hati Leon berubah kurang nyaman.
"Jangan bicara seperti itu! Apapun kepunyaan mas, berarti itu punya kamu juga."
Reka tak berniat merespon ucapan Leon barusan, karena kenyataannya kata-katanya tadi tidak memiliki maksud yang lain. Ia hanya berkata apa adanya.
"Mas mau tidur di sini?." Reka melirik ranjang. "Atau di sana." lanjut melirik ke arah sofa.
"Di sofa saja, mas takut nggak kuat nahan sesuatu kalau tidur di sini bersama kamu, maksudnya bersama baby Richard." Leon buru-buru mengoreksi kata-katanya.
Reka diam saja, namun di wajahnya nampak semburat merah.
"Tidak perlu malu begitu_"
"Kita bahkan sudah punya baby Richard." Reka melanjutkan. Saking seringnya mengingatkan, Reka sampai hafal betul dengan kalimat Leon.
"Kamu bahkan sudah hafal." Kata Leon kemudian mengukir senyum manis di bibirnya. Senyuman manis yang sejak dulu hingga detik ini mampu membuat jantung Reka berdebar tak menentu.
Leon mengambil bantal dan juga selimut kemudian beranjak ke sofa.
"Mas...."Baru saja Leon mendudukkan tubuhnya di sofa, Reka kembali berseru.
"Ada apa?."
"Aku penasaran.......sebenarnya siapa ayah dari bayi yang dikandung Georgina."
"Jangankan kamu, sayang, mas saja penasaran. Entah pria malang mana yang akan dilibatkan Georgina dalam kegilaannya ini." Tentu saja kalimat tersebut hanya terucap dalam hati Leon.
"Entahlah, mas juga belum tahu siapa pria itu." Balas Leon. "Tapi siapa pria itu, semoga dia bisa menjadi sosok suami yang baik bagi Georgina."
"Bukan hanya bisa menjadi sosok suami yang baik, tapi juga harus bisa menjadi sosok ayah yang baik bagi calon anak mereka nanti." Koreksi Reka.
"Kamu benar, sayang." Leon memilih membenarkan saja ucapan Reka, ketimbang pembahasan tentang kehamilan Georgina semakin panjang lebar.
*
"Mamah dan papah kenapa sih, mukanya kesal begitu?."
"Nyonya Fernandez sudah tahu kalau Reka bukan anak kandung papah dan mamah." Kata Ayah.
"Memangnya kenapa kalau mereka tahu? Sekalipun wanita tidak tahu diri itu bukan anak kandung mamah dan papah, tapi kalian yang telah merawat dan juga membesarkannya. Jadi, mamah dan papah tetap berhak atas Reka." Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sikap Mima menjadi bukti bahwa gadis itu pun sama serakahnya dengan kedua orangtuanya.
"Menurut mamah, apa yang dikatakan Mima memang benar, pah. Kita yang telah bersusah payah merawat dan membesarkan Reka maka itu artinya tidak ada yang lebih berhak atas diri Reka melebihi kita, walaupun kita bukan orang tua kandungnya."
Ayah nampak berpikir sejenak, sebelum berkata. "Kita harus pastikan dulu kebenaran tentang Reka kembali bersama dengan tuan Leonardo Fernandez, karena jika dugaan kita tidak benar maka tidak akan ada untungnya membawa Reka kembali ke keluarga ini."
Mima mendekat pada ayah. "Kalau untuk urusan itu, serahkan pada Mima!." Ujarnya.
"Terserah, kalau kamu bisa melakukannya, maka lakukan! Tapi ingat, jangan membuat masalah!." Mendengar ancaman nyonya Fernandez tadi, ayah lantas berpesan pada putrinya.
"Papah tenang saja!." Balas Mima dengan penuh percaya diri. Mima sangat percaya diri dapat menemukan informasi tentang kebersamaan Leon dan Reka.
Ibu berpindah posisi, yang tadinya menempati sofa single kini berpindah ke sofa double berdampingan dengan sang suami. Wanita itu meraih tangan sang suami dan membawanya ke dalam genggaman. "Papah tidak perlu terlalu memikirkan ancaman nyonya Fernandez! Nyonya Fernandez pasti tidak akan benar-benar melakukannya, dia hanya menakut-nakuti kita saja, pah."
"Semoga saja." Selama ini keluarga Fernandez tidak pernah bermain-main dengan ancamannya, namun kali ini tuan Hafidz berharap mommy-nya Leon hanya sekedar mengancam, tidak akan merealisasikannya.
*
Keesokan paginya.
Leon dan Reka melanjutkan perjalanan menuju perusahaan setelah mengantarkan baby Richard ke rumah mommy. Mulai hari ini baby Richard akan di rawat dan diasuh oleh mommy selama Reka bekerja.
"Turunkan aku di depan, mas!." Reka meminta Leon menurunkan dirinya di tepi jalan yang jaraknya masih seratus meter dari gedung perusahaan.
Permintaan Reka mampu memancing kerutan halus di dahi Leon.
"Jarak ke perusahaan masih cukup jauh, sayang." Kata Leon. "Apa kamu sanggup lanjut jalan kaki?." Sebenarnya Leon tidak tega kalau Reka harus lanjut jalan kaki, namun ia juga tak berani memaksa wanita itu untuk tetap ikut di mobilnya hingga tiba di perusahaan.
"Aku sanggup, mas.." Balas Reka. Wanita itu khawatir pegawai yang lain melihatnya turun dari mobil bos mereka tersebut, mengingat hingga detik ini seluruh pegawai LF Group mengenal Georgina sebagai calon istri Leon. Jika mereka sampai melihat Reka turun dari mobil bos mereka, sudah pasti akan menjadi gosip panas.
"Baiklah, kalau kamu maunya begitu." Leon lantas menepikan mobilnya dan membiarkan Reka turun.
Jangan lupa dukungannya ya sayang-sayangku, biar aku makin semangat crazy up nya.....and 🌟🌟🌟🌟🌟 nya jangan lupa juga....😘😘😘😘
nexttt, semangaatt thoorr
next, semangaaatt thoorr
semangaatt thor
lanjut dong thor up terbarunya