Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Luka yang Sama

Rasa sakit yang menyergap tubuhku bukan sekadar nyeri fisik, melainkan seolah ada ribuan jarum halus yang merobek setiap ikatan jiwa yang selama ini menyatukan kami. Napasku tersengal berat, pandanganku mulai menggelap namun tanganku masih mencengkeram erat baju Erlan—satu-satunya sandaran yang tersisa di tengah badai yang melanda. Erlan memelukku sekuat tenaga, rahangnya terkatup rapat menahan amarah dan kepedihan yang meluap, sementara matanya menatap tajam ke arah sosok bayangan yang kini tampak tak sekuat sebelumnya. Di balik jubah hitamnya, luka kecil yang tadi kulihat semakin jelas, berdenyut cahaya yang sama persis dengan cahaya yang memancar dari hati kami berdua. Hubungan sebab-akibatnya kini mulai terlihat nyata: setiap rasa sakit yang kurasakan, setiap getaran cinta yang kami pancarkan, secara ajaib juga menyakiti bagian dari sosok itu sendiri—karena ia bukanlah makhluk asing, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari jiwa Erlan yang terpecah ribuan tahun silam. Jika kami terluka, ia pun terluka; jika kami hancur, ia pun musnah. Dan sumpah kuno yang ia agungkan selama ini ternyata juga mengikatnya dengan rantai yang sama kuatnya.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya Erlan dengan suara bergetar namun penuh tekanan. "Kau bilang sumpah itu menghukumnya sendirian. Tapi lihatlah dirimu... kau pun merasakan setiap rasa sakit yang ia rasakan. Kau tidak lebih bebas dari kami. Kau hanyalah tahanan lain dari kesalahan masa lalu yang kau panggil sebagai kekuasaan."

Sosok bayangan itu meraung kesal, tangannya meremas dadanya seolah menahan rasa sakit yang tak tertahankan. "Diamlah! Ini hanya gangguan sementara! Sumpah itu tetap berlaku! Kau harus kembali menjadi satu denganku, dan perasaan lemah inilah yang harus musnah!"

Namun nada bicaranya yang bergetar tak sanggup menyembunyikan kebenaran yang tak terbantahkan. Sari yang sedari tadi tampak yakin akan kemenangan mereka kini mulai tampak ragu, melangkah mundur perlahan saat melihat tuannya sendiri tampak goyah. Selama ini ia mengira melayani makhluk yang abadi dan berkuasa mutlak, padahal ia melayani bagian yang terbuang yang juga terikat rantai yang sama dengan kami. Keserakahannya, kebenciannya, dan ambisinya hanyalah buah dari ketidaktahuannya akan kenyataan yang sebenarnya.

"Kau tidak bisa memisahkan apa yang sudah menyatu," ucapku pelan, berusaha mengumpulkan sisa tenaga yang ada. "Dulu kalian berpisah karena takut pada perbedaan. Tapi waktu membuktikan bahwa tanpa kasih sayang, kekuatan murni itu hanyalah beban yang menyakitkan. Luka yang kau rasakan sekarang adalah bukti bahwa kau pun merindukan bagian itu... bagian yang kau sebut lemah namun justru yang membuat hidup memiliki arti."

Erlan mengangguk perlahan, menatap lurus ke arah sosok itu seolah berbicara pada bayangan dirinya sendiri. "Kita memang satu asal. Tapi kita bukan lagi sama. Kau memilih kekuasaan yang dingin, sementara aku memilih perasaan yang hangat. Dan jika sumpah ini menuntut salah satu dari kita hancur, maka biarkan sumpah itu sendiri yang hancur bersama ketakutan yang melahirkannya."

Dengan sisa kekuatan yang ada, Erlan merangkulku semakin erat, menyatukan perasaan, keyakinan, dan cinta yang kami miliki menjadi satu titik fokus yang kuat. Cahaya keemasan perlahan muncul kembali, kali ini lebih stabil dan lebih dalam, menyelimuti kami berdua dan menyebar ke seluruh ruangan bawah tanah. Setiap kali cahaya itu menyentuh dinding batu, ukiran kuno di sana ikut bersinar, seolah menyetujui perubahan yang terjadi. Sumpah itu dibuat oleh ketakutan, namun ia bisa diubah oleh kesadaran yang baru—bahwa keseimbangan sejati bukanlah meniadakan perasaan, melainkan menyatukan kekuatan dengan kasih sayang.

Sosok bayangan itu berteriak saat cahaya itu menyentuh lukanya. Tubuhnya mulai bergetar hebat, wujudnya perlahan memudar namun di saat yang sama mulai terlihat lebih jelas—wajahnya yang separuh sama dengan Erlan kini tampak penuh penderitaan yang mendalam, bukan lagi kebencian. "Kau tidak mengerti... jika aku menerima perasaan itu, kekuatan ini akan hancur! Kita akan menjadi lemah!"

"Kita tidak akan menjadi lemah," jawab Erlan lembut namun tegas. "Kita akan menjadi utuh. Kekuatan tanpa arah adalah kehancuran. Tapi kekuatan yang dijalin dengan kasih sayang adalah perlindungan sejati."

Tiba-tiba Sari melangkah maju dengan wajah yang berubah putus asa. "Tidak! Semuanya tidak boleh berubah! Kau berjanji akan memberiku kekuasaan dan balas dendam!" Ia meraih sebilah belati yang terselip di pinggangnya, lalu tanpa diduga mengarahkannya bukan ke kami, melainkan ke arah sosok bayangan yang sedang lemah. "Jika kau tidak bisa melaksanakannya, maka aku yang akan mengambil alih kekuatan itu!"

Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Erlan hendak mencegah, namun sosok bayangan itu dengan sisa tenaganya menangkis serangan itu. Belati itu melesat, namun ujungnya sempat menggores luka yang sama di dadanya—luka yang justru menjadi titik temu antara dirinya, Erlan, dan cahaya yang kami pancarkan. Dalam sekejap, cahaya keemasan meledak memenuhi ruangan, menyedot segala kegelapan, segala kebencian, dan segala ketakutan yang selama ini menguasai tempat itu.

Saat cahaya itu meredup perlahan, sosok bayangan raksasa itu sudah tak ada lagi. Di hadapan kami berdiri seorang pria yang wajahnya persis seperti Erlan namun tampak lebih tua dan penuh kebijaksanaan, meski tubuhnya perlahan mulai berubah menjadi cahaya lembut. Ia menatap kami dengan senyum yang penuh damai.

"Akhirnya..." suaranya kini tenang dan hangat. "Kesalahan ribuan tahun silam akhirnya diperbaiki. Aku bukan musuhmu, Erlan. Aku adalah bagian dari dirimu yang terperangkap dalam ketakutan dan keserakahan. Terima kasih telah menunjukkan bahwa aku salah. Bahwa perasaan bukanlah kelemahan, melainkan jembatan menuju keutuhan yang sesungguhnya."

Ia menatapku sejenak dengan tatapan penuh rasa hormat. "Dan kau... gadis yang berani kembali dari kematian demi cinta. Kaulah pembawa perubahan yang tak pernah kami sangka akan ada. Jagalah ikatan ini, karena dialah yang akan menjaga keseimbangan dunia ini kelak."

Perlahan wujudnya menghilang, menyatu sepenuhnya ke dalam diri Erlan. Tanda merah di pergelangan tangan Erlan lenyap tak berbekas, digantikan oleh kilatan cahaya keemasan yang samar dan indah. Namun di tengah kelegaan yang menyelimuti kami, Sari yang terduduk di lantai tiba-tiba tertawa histeris. Matanya yang tadinya penuh dendam kini memancarkan kegilaan yang mengerikan.

"Kalian pikir ini berakhir?" teriaknya sambil meraba luka di dadanya sendiri yang ternyata terkena cipratan cahaya tadi. "Kalian menghapus tuannya... tapi kalian lupa bahwa aku sudah menanam benih lain di tempat yang tak pernah kalian sangka! Dan saat benih itu tumbuh... kalian akan berharap pernah tidak bertemu satu sama lain!"

Belum sempat kami bertanya apa maksudnya, Sari dengan sigap mengambil sepotong batu tajam dan menghantamkannya ke dinding batu yang berisi ukiran perjanjian kuno. Retakan besar segera menjalar ke seluruh fondasi ruangan itu, dan suara gemuruh tanah yang dahsyat segera terdengar dari atas.

"Jalankanlah takdir kalian!" teriaknya terakhir kali sebelum lari masuk ke dalam lorong gelap yang tersembunyi, meninggalkan kami yang terjebak di ruangan yang perlahan runtuh di atas kepala kami.

Erlan segera merangkulku kuat, berusaha mencari jalan keluar di antara reruntuhan yang mulai berjatuhan. Namun di tengah kepanikan itu, satu hal menghantam kesadaranku: jika musuh utama sudah menyatu dan damai, lalu apa "benih lain" yang ditanam Sari? Dan mengapa ia tampak begitu yakin bahwa benih itu akan menghancurkan kami lebih parah dari sebelumnya?

Saat balok batu besar mulai menghalangi jalan keluar utama, aku menyadari satu hal yang mengerikan: pertarungan melawan kegelapan memang sudah selesai. Namun pertarungan melawan pengkhianatan yang sudah tertanam lama di antara orang-orang terdekat kami... baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!