Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Konfrontasi

Malam yang begitu dingin membungkus kediaman mewah keluarga Broto. Di dalam ruang tengah yang megah, lampu kristal gantung memancarkan pendar kuning hangat, menerangi perabotan jati berukir dan dinding yang kini dipenuhi lukisan-lukisan mahal.

Namun, kemewahan itu terasa hampa—sebuah istana megah yang dibangun di atas fondasi tulang-tulang manusia.

Pukul sebelas malam, Rian dan Gilang sudah terlelap di kamar bawah setelah Galang memastikan pintu dan jendela mereka terkunci rapat.

Galang melangkah pelan keluar dari lorong kamar, membawa tas ransel kusamnya yang berisi sisa-sisa bukti dari Desa Kedung Lembah, berupa sekeping tanah kuburan berbungkus kain kafan yang ditemukannya di bawah kasir, serta potongan catatan tua almarhum Pak Broto.

Di meja makan jati berukuran panjang, Bu Retno duduk berdampingan dengan Pak Sapta. Di hadapan mereka tergelar tumpukan uang kertas pecahan seratus ribu yang rapi di dalam beberapa tas kain tebal, bersama buku catatan omset penjualan dari tiga cabang warung yang kini beroperasi.

Bu Retno sibuk menghitung lembaran uang itu dengan jemarinya yang lincah, sementara Pak Sapta menyesap kopi hitam dari cangkir porselennya dengan tenang.

Langkah kaki Galang yang berat dan mantap memecah keheningan ruang tengah. Ia tidak lagi menyembunyikan langkahnya. Ia berjalan lurus, memutari meja makan, lalu berdiri tepat di ujung meja, menatap dua orang dewasa di hadapannya dengan mata membara.

Pak Sapta perlahan meletakkan cangkirnya ke atas piring kecil. Bunyi klenting keramik berdenting halus, namun menggema tajam. Kacamata berbingkai emas pria itu memantulkan pendar lampu kristal, menyembunyikan binar matanya yang dingin.

"Belum tidur, Galang?" tanya Pak Sapta dengan suaranya yang tenang. "Atau kamu mau membantu ibumu menghitung hasil penjualan hari ini? Cabang baru kita di Ngawi mencatatkan rekor luar biasa. Orang-orang mengantre sejak subuh."

Galang mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa mual dan amarah melebur menjadi satu di dalam dadanya.

"Berapa harga nyawa Mia, Pak?" tanya Galang serak, suaranya menusuk langsung tanpa basa-basi.

Gerakan jemari Bu Retno yang sedang menghitung tumpukan uang mendadak terhenti kaku. Suasana di ruang tengah langsung membeku.

"Bicara apa kamu, Galang? Ini sudah malam, istirahatlah!" tegur Bu Retno tanpa mengangkat wajahnya. Suaranya terdengar datar, seolah pertanyaan anaknya hanyalah gangguan kecil yang tidak berharga.

"Aku bertanya padanya, Bu!" jerit Galang, ia maju satu langkah lebih dekat dan menunjuk wajah Pak Sapta dengan telunjuknya yang gemetar.

"Berapa banyak uang yang dihasilkan dari darah Mia yang mati tenggelam di kolam renang dangkal itu?! Berapa besar omset yang naik setelah Mas Bayu ditabrak kereta dan Pertiwi mati mengering di atas kasurnya?!"

Pak Sapta tidak tampak terkejut sedikit pun. Ia hanya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi jati, menyilangkan kakinya dengan santai, lalu menatap Galang bagaikan seorang juru tagih yang sedang memperhatikan mangsanya yang meronta sia-sia.

"Jaga mulutmu, Galang," ucap Pak Sapta pelan, namun berbobot seperti bongkahan batu. "Kamu sedang berduka, pikiranmu pasti sangat kacau. Masuk ke kamarmu sebelum kamu mengucapkan hal-hal yang akan kamu sesali."

"Pikiranku tidak kacau!" teriak Galang histeris. Ia merogoh ranselnya dengan cepat, menarik keluar bungkusan kain kafan berisi tanah kuburan yang lusuh, lalu melemparkannya keras-keras ke atas tumpukan uang di meja makan.

Brak!

Bungkusan kain kafan itu terhempas, terburai sedikit dan menaburkan tanah hitam yang berbau kamboja busuk di antara lembaran uang seratus ribuan.

"Ini tanah kuburan yang Bapak taruh di bawah meja kasir!" jerit Galang, matanya menyala-nyala menatap ibunya. "Ibu! Buka mata Ibu! Semua uang yang ibu raih sampai hari ini hasil dari pesugihan. Laki-laki yang Ibu nikahi ini bukan manusia! Dia iblis! Ibu sudah diperdaya oleh iblis itu! Sadarlah, Bu! Sebelum Ibu kehilangan semuanya!"

Bu Retno perlahan mendongakkan kepalanya. Wajah wanita paruh baya itu tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah matanya.

Tidak ada riak emosi di sana, tidak ada ketakutan, atau rasa bersalah di raut wajahnya. Yang ada hanyalah tatapan kosong yang amat dingin, memantulkan kegelapan yang telah merenggut jiwanya.

"Galang," bisik Bu Retno, suaranya begitu kaku seperti bisikan dari balik kubur. "Singkirkan kotoran itu dari atas uang kita."

Galang terbelalak, tak percaya dengan reaksi ibunya.

"Bu ... Ibu mendengar kata-kata Galang tidak?! Pak Sapta ini bukan manusia! Dia Mbah Mangu! Dia entitas yang datang dari Desa Kedung Lembah untuk merenggut nyawa anak-anak. Darah daging ibu sendiri! Anak yang Ibu lahirkan!"

Galang maju menggebrak meja makan dengan kedua telapak tangannya.

"Mas Bayu sudah mati! Pertiwi mati! Mia juga sudah mati! Sekarang tinggal Rian dan Gilang! Apa Ibu mau membiarkan dua adik Galang yang masih dibunuh iblis itu lagi? Ha?!"

Pak Sapta tersenyum tipis—sebuah sunggingan bibir yang teramat tipis dan kejam. Ia memutar-mutar cincin batu akik hitam di jari manisnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Ia sangat yakin, pengaruhnya atas jiwa Bu Retno sudah mengakar terlalu dalam hingga tak ada logika manusia yang sanggup menembusnya lagi.

Bu Retno berdiri perlahan dari kursinya. Gaun malam sutra yang dikenakannya berdesir halus. Ia menatap Galang, putra angkatnya, bukan lagi dengan pandangan seorang ibu yang penuh kasih sayang, melainkan dengan tatapan benci yang teramat pekat.

"Cukup, Galang," desis Bu Retno, suaranya bergetar menahan amarah yang teramat dingin. "Ibu sudah muak mendengar bualan gila dari mulutmu."

"Bualan gila apa?!" jerit Galang dengan air mata yang menetes deras di pipinya. "Galang pergi ke Ngrambe! Galang lihat sendiri papan silsilah kayu jati itu! Nama Mas Bayu, Pertiwi, dan Mia sudah dicoret pakai darah! Nama Rian dan Gilang ada di urutan berikutnya! Ibu dibodohi oleh iblis ini!"

Napas Galang memburu, sebelum kembali melanjutkan.

"Sekarang Galang tanya sama Ibu. Apa Ibu menikmati hasil kekayaan dari darah anak-anak Ibu sendiri? Semua kekayaan dan kemewahan ini hanya dinikmati oleh iblis itu, Bu! Rian dan Gilang ketakutan. Mereka bahkan jadi lebih kurus karena tak terurus dengan benar. Apa enaknya memuja iblis seperti dia kalau keluarga Ibu sendiri jadi hancur?!"

"Dia bukan seperti yang kamu tuduhkan, Galang! Pak Sapta justru yang menyelamatkan keluarga ini!" teriak Bu Retno mendadak melengking, memotong perkataan Galang.

Suaranya bergema memenuhi ruang tengah yang luas, membuat lampu gantung kristal di atas mereka bergetar pelan.

Ibu melangkah memutari meja, mendekati Galang dengan napas terengah-engah.

"Kematian saudara-saudaramu itu takdir! Musibah! Jangan pernah kamu berani menuduh suami Ibu yang bukan-bukan. Dia sudah berbaik hati memberi kita rezeki!"

"Rezeki?!" Galang tertawa sumbang di tengah tangisnya, rasa sakit di dadanya serasa meremukkan jantungnya. "Rezeki dari menukarkan mayat anak kandung sendiri?! Ibu sudah gila! Harta ini amis, Bu! Setiap rupiah yang Ibu pegang itu berbau darah dan lendir."

"DIAM!"

Bu Retno gemetaran hebat. Kepalanya tertunduk, napasnya memburu, sementara jarinya mencengkeram tepi meja makan hingga kuku-kukunya memutih.

Di belakangnya, Pak Sapta menyesap kopinya kembali, menikmati setiap detik kehancuran mental keluarga yang berada di bawah cengkeramannya.

"Kamu hanya anak angkat, Galang," bisik Bu Retno, suaranya mendadak berubah menjadi lirih, dingin, dan sarat akan penolakan yang paling mendalam.

"Kamu tidak pernah tau rasanya berjuang memberi makan anak-anak di rumah ini. Kamu kami ambil dari panti asuhan, kami beri pakaian, kami beri tempat tinggal ... dan sekarang kamu datang membawa fitnah untuk menghancurkan rumah ini?"

Galang mematung. Kata-kata "anak angkat" yang diucapkan ibunya terasa lebih tajam dari sabetan pisau mana pun yang pernah melukai fisiknya.

"Galang tidak peduli Galang anak angkat atau bukan," bisik Galang dengan suara yang hampir habis. "Tapi Rian dan Gilang adalah adik-adik Galang. Galang tidak akan biarkan iblis itu menyentuh mereka."

Pak Sapta perlahan berdiri dari tempat duduknya, memegang tongkat berkepala naganya, lalu berjalan melangkah berdiri tepat di samping Bu Retno. Pria itu menatap Galang dari atas ke bawah dengan tatapan penuh kemenangan.

"Anak yang tidak bersyukur," ucap Pak Sapta pelan. "Bu Retno, anak ini sudah mengganggu ketenangan rumah tangga kita. Dia membawa pengaruh buruk bagi Rian dan Gilang."

Bu Retno menoleh menatap Pak Sapta, lalu kembali menatap Galang dengan mata kusamnya yang telah mati rasa.

"Malam ini kamu tidur di kamarmu, Galang," kata Bu Retno kaku dan dingin. "Besok pagi, kalau kamu masih berani bicara omong kosong tentang Pak Sapta ... Ibu sendiri yang akan mengusirmu keluar dari rumah ini. Dan kamu tidak akan pernah diizinkan menemui adik-adikmu lagi."

Galang menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. Di belakang Bu Retno, Pak Sapta menyunggingkan senyum tipisnya yang penuh ancaman—sebuah pesan tanpa kata bahwa permainan ini belum selesai.

1
Its just a lunch
klo cuma mau nginep sementara waktu,knp gak minta izin pak kyai utk nginep di pesantren sih,malah kembali pulang ke markas iblis.
wajar para kerabat pada nolak bantuin kalo taruhan nya nyawa dan keluarga mrk.
kinoy
ni gmn sih masa mati smua
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kenapa Galang tidak minta ijin Kyai buat nginep di padepokan ya saja ya .... Biar ada yang membantu dia menghadapi datangnya malam Jumat Kliwon
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ini serius Galang tidak membawa Gilang pergi dari rumah ?
Serius Galang akan menantang datangnya malam Jumat kliwon?
Serius Galang pasrah saja....
Asphia fia
yg menang banyak Sapta Thor anak Retno mati semua, sedang Retno jg jiwanya telah mati siapa yg akan menikmati kekayaan & kekayaan nya klo bukan sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lantas ... kenapa saat itu Juga pakk kyai tidak membantu Galang untuk pergi segera dasi tanah Jawa ini, jika memang itu satu satunya jalan.
Kenapa pakk kyai tidak membantu Galang, yang belum dewasa untuk menyelesaikan ini sendiri.
Asphia fia
apa dr p.broto dan Bu Retno gk ada keluarga Thor ko GK ada yg peduli
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tidak adakah tempat bernaung dan berlindung buat Galang menyelamatkan Gilang dari rumah itu???????
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Disini ga diceritain soal reaksi warga yang melihat kematian anak pakk Broto secara berurutan dan dalam jarak waktu yang dekat , Thor ??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lagi .... dan lagi
Galang harus menyaksikan sisa saudaranya diambil gilirannya menjadi tumbal.

come on, Galang !
jangan diam saja .
Do something to save your little brother "Gilang".
kinoy
PGN komen kasar sbnrnya ke si Sapta ma si Retno .iblis kalian..Galang jg mst y CPT cari cara lain..dah tau pesugihan nyari ustad donk BKN dilawan sndr..maaf y KK otor. AQ gemes baca y&lama2 g sanggup..kyknya KLO msh kyk gini nunggu abis anak si Retno mati smua AQ ijin skip dl baca. jujur g sanggup baca y..maaf y
kinoy
edan..dah jls mengakui pesugihan ..menuntut tumbal
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
kasihan kondisi Rian dan Gilang.
masih kecil tapi diliputi ketakutan karena gangguan ghaib.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Mau menjerit sampai melengking ,
mau kamu menangis darah,
Buu Broto ga akan sadar dengan ucapan dan tindakannya, Galang .....
Dia dalam pengaruh ghaib Mbah Mangu.
kinoy
ALLAHU RABBI..KA Anna..blm muncul kah sosok yg BS nyelametin mrk yg tersisa..ato EMG bkl dibabad abis tuh keturunan
Shankara Senja
buat Galang..klo belom punya ilmu mumpuni..jangan coba coba ngelawan iblis ya...nnt yg ada mlh kamu yg celaka..terus gmn nasib adik adik mu..berguru dulu jgn emosi
kinoy
AQ baca y SKT hati y..kasian ATH KLO Rian&gilang bnr2 ditumbalin mah..gd yg BS nolongin gt..bantuin Galang..tetangga sekitar gmn..KK otor tolongin donk..mewek AQ ni😭
kinoy
hs yg ba nolongin Galang&adik2nya gt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lantas ..... apa yang akan kau lakukan, Galang .... untuk menyelamatkan Rian dan Gilang ?

Apakah pesugihan yang diambil bapakmu tidak bisa diputuskan ???
Dan tetapp harus dituntaskan dengan mengambil 2 nyawa yang tersisa , yaitu Rian dan Gilang ????
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kasihan Rian dan Gilang 😭
Mereka masih kecil
Tapi nyawa mereka sudah digadai oleh pesugihan yang dianut bapaknya sendiri.
Tinggal giliran Rian ..... Dan selanjutnya Gilang.
🥺🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!