Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 RED ZONE KRAJAN
Malam di Cikampek tidak lagi memiliki wajah tenang.
Jika malam-malam sebelumnya kota ini "bernapas lewat kekerasan", maka malam ini Cikampek sedang meregang nyawa dalam neraka.
Titik didih pertempuran meledak di sebuah wilayah strategis yang menjadi pintu penghubung antara Barat dan Utara: Krajan.
Wilayah ini mendadak berubah menjadi Zona Merah—sebuah area pembantaian di mana hukum rimba tidak lagi sekadar aturan, melainkan kenyataan yang memercikkan darah di setiap jengkal aspalnya.
Krajan, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai wilayah yang terpecah oleh dendam internal, malam ini dipaksa oleh keadaan untuk bersatu.
Di gerbang utama menuju Krajan Tengah, tepatnya di wilayah Pawarengan (Krajan Barat), Fraksi Loszetas di bawah komando Muza telah memasang barikade hidup.
Di sisi Krajan Timur, tepatnya di wilayah Sentul yang berbatasan langsung dengan Wirasaba, Masdim19 yang dipimpin oleh Dimas telah bersiaga.
Dan di jantung pertahanan, Krajan Boys yang dipimpin oleh Ambon berdiri sebagai benteng terakhir.
"OKOM SUDAH MASUK! TAHAN POSISI!!" teriak Muza saat raungan mesin motor dari arah Barat mulai memekakkan telinga.
Gelombang besar Aliansi OKOM merangsek masuk bagaikan air bah. Namun, yang memimpin serangan di lini depan bukanlah Oky sang Ruler, melainkan orang kedua terkuat di OKOM—Izal dari Fraksi T.O.K.
Izal melangkah di tengah kerumunan dengan aura yang sangat menekan, mencerminkan kekuatan fisik Bangsa Galactian yang sudah matang.
Muza, sebagai pemimpin Krajan Barat, langsung menghadang Izal di tengah Pawarengan. Pertarungan satu lawan satu yang brutal pun meledak.
BUGHH! CRAK!
Muza terpelanting setelah menerima pukulan straight murni dari Izal. Tulang pipinya retak, namun sebagai keturunan Galactian, Muza bangkit kembali dengan mata menyala.
Ia menyerang lagi, namun Izal terlalu dominan. Berkali-kali Muza dihantam jatuh, tubuhnya diseret di atas aspal, hingga napasnya tersengal parah.
"Lu bukan lawan gua, Bocah Krajan," desis Izal dingin. "Menyerahlah, atau wilayah ini bakal gua ratain jadi lahan OKOM."
"Gua... gak bakal... biarin Krajan hancur!" teriak Muza sambil terbatuk darah.
Ia bangkit untuk kesekian kalinya, membuktikan bahwa nyali di kota ini memang berada di atas batas wajar manusia.
Sesaat sebelum Izal melayangkan pukulan penghancur, sebuah ledakan besar terdengar dari arah Utara Pawarengan.
DUARRRR... DHUARRRR...!!
Bukan bom militer, melainkan ratusan petasan skala besar yang diarahkan secara horizontal—tepat ke wajah dan badan pasukan OKOM.
Cahaya benderang menyilaukan mata, diikuti teriakan kesakitan. Pasukan KRS dari Karangsinom telah tiba. Iky Smntry dan Juan memimpin puluhan orang dengan gaya yang sangat agresif.
"KRS?! Kenapa kalian ada di sini?!" teriak Muza marah, meski tubuhnya sudah gemetar lemas. "Woy, anjing! Gua gak butuh bantuan lu!"
DHUARRR! DHUARRR!
Iky menghentikan langkahnya, menutup salah satu telinganya karena bisingnya petasan. Ia menatap Muza dengan pandangan meremehkan.
"Gua juga gak butuh pendapat lu, Muza! Gua ke sini atas kemauan gua sendiri. Gua bukan buat bantuin lu, tapi gua pengen hancurin OKOM sebelum mereka nyentuh Karangsinom!"
"Banyak bacot lu semua, anjing!" teriak Oky Febrian dari kejauhan, matanya menyala liar melihat kekacauan di depannya.
Sebagai Ruler ketiga di Barat, Oky tidak akan membiarkan invasi ini terhambat oleh aliansi kecil.
Sementara itu, di gerbang Timur (Sentul), situasi tak kalah gila. Pasukan Zela yang membawa kekuatan dari Wirasaba—termasuk Bagas dari Daborija—telah merangsek masuk.
Namun, kedatangan mereka disambut oleh fraksi fraksi Sentul.
"JANGAN BIARIN WHEBE LEWAT!!" teriak Dimas dari Masdim19. Keributan pecah antara Daborija dan Sentul, menciptakan perang tiga arah yang membingungkan di perbatasan Timur.
VROOMM! VROOMM!
Di tengah kerumunan yang semakin chaos, suara raungan motor yang sangat familiar terdengar dari arah belakang.
Aliansi Slonong Boys telah tiba di gerbang perbatasan Krajan. Ratusan anggota mereka turun dari motor tanpa mematikan mesin, langsung berlari sambil menyalakan petasan ke arah massa yang sedang bertarung.
TAR... TAR... TAR...!!
"AWAS LU SEMUA SETAN!!" teriak pasukan WARJO, TOP, Georgia, dan CS Youth yang mulai masuk menembus pertahanan Krajan.
Di barisan paling depan, Friza berdiri dengan jubahnya yang berkibar. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok di kejauhan yang sedang membantai anggota OKOM. Itu adalah Zela.
"Zela... jadi selama ini lu di sini," gumam Friza dengan wajah terkejut sekaligus penuh gairah bertarung.
Perang besar yang melibatkan Slonong Boys, OKOM, Krajan, dan kekuatan Utara kini resmi menjadikan seluruh Krajan sebagai Zona Merah yang mustahil ditembus oleh warga sipil.
Gedung Administrasi Mahkamah Agung – Pusat Cikampek
Sementara darah tertumpah di Krajan, di puncak tertinggi kekuasaan Cikampek, suasana justru terasa sangat sunyi dan dingin.
Di dalam aula besar yang gelap, para petinggi Mahkamah Agung sedang berkumpul di bawah pendar lampu sorot yang minim.
Denza berdiri di tengah ruangan bersama 20 anggota Old Generation terpilih. Namun, yang membuat bulu kuduk Denza meremang adalah kehadiran dua sosok yang berdiri di samping jajaran kursi utama.
Mereka adalah bagian dari OldGuard 13—pengawal elit paling mematikan yang dimiliki Mahkamah Agung: Jeremy dan Laezy.
"OldGuard diturunkan...?" batin Denza kaget. "Situasi di Krajan bener-bener udah di luar nalar kalau sampai Mahkamah mengeluarkan monster-monster ini."
Maruken, yang baru saja diangkat menjadi pilar ke-4 Mahkamah Agung, melangkah maju dengan wajah serius. "Gua gak bisa diem aja. Gua bakal turun langsung ke Krajan."
"Jangan bertindak bodoh, Maruken," potong Yugito Bagna dingin. "Tugas pilar adalah menjaga keseimbangan, bukan ikut dalam tawuran jalanan. Biarkan Old Generation yang menangani pengawasan."
Raka Kael kemudian berdiri, menatap Denza dan para pengawal elitnya. "Jeremy, Laezy... Berangkatlah kalian ke Krajan. Ini misi resmi bagi kalian. Pantau keributan itu. Jangan biarkan mereka membabi buta dan membuat chaos total yang bisa menghancurkan sistem kota. Jika keadaan semakin gawat, kalian tahu apa yang harus dilakukan."
Denza hanya bisa menunduk hormat, meski hatinya berkecamuk. Ia tahu betul reputasi Jeremy dan Laezy. Sebagai bagian dari OldGuard 13, mereka bukanlah tipe orang yang hanya akan berdiri diam untuk memantau.
"Mereka berdua pasti mau ikut berantem," pikir Denza sambil melirik dua monster di sampingnya. "Apalagi sekarang ada Ruler baru seperti Oky Febrian di sana. OldGuard gak bakal ngelewatin kesempatan buat ngetes kekuatan pemimpin era baru."
"Berangkat!" perintah Raka Kael dengan nada otoritas mutlak.
Dengan langkah berat namun mantap, Denza, Jeremy, Laezy, dan 20 anggota Old Generation meninggalkan gedung pemerintahan.
Mereka meluncur menuju Krajan, membawa misi untuk menghentikan kehancuran total di saat ribuan berandalan—para Crows—sedang mempertaruhkan nyawa demi sebuah gelar Kaisar yang legendaris.
Malam ini, Cikampek tidak hanya akan mencatatkan sejarah perang wilayah, tetapi juga menjadi saksi pertama kalinya kekuatan pemerintah bawah tanah bersentuhan langsung dengan kemarahan era baru.