Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Rahasia Apa Sebenarnya
Juvan berusaha mengalihkan pikirannya soal omongan Arga kemarin, walau terasa sangat susah. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke toko buku membeli beberapa buku — mungkin dengan membaca, pikirannya bisa sedikit tenang.
Setiba di toko buku, tiba-tiba ponselnya berdering. Pacarnya menelpon, menanyakan di mana dia sekarang.
"Sayang, kamu lagi di mana? Aku bosan banget, ketemuan yuk," ujar Yena di seberang telepon.
"Aku lagi di toko buku, tempat biasa kita beli buku," jawab Juvan pelan.
"Ya udah, aku kesana ya!"
Juvan menghela napas, hatinya bercampur senang dan gelisah. Dia ingin sekali bertemu Yena, tapi dia takut — takut Yena melihat bekas merah memar di pipinya, akibat tamparan keras Arga kemarin.
Tak lama kemudian, Yena pun sampai. Matanya berkeliling melihat ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan Juvan. Saat ia sudah menemukan sosok yang dicarinya, Yena langsung menghampirinya.
"Sayang," ucap Yena lembut sambil memegang pergelangan tangan Juvan. Juvan perlahan berbalik badan, menatap wajah kekasihnya. Dan ya, benar saja — mata Yena langsung tertuju pada bekas merah di pipi Juvan.
"Muka kamu kenapa kok memar gini?" tanya Yena, suaranya terdengar penuh kekhawatiran.
"Ini cuma memar biasa kok, nggak apa-apa. Bentar lagi juga sembuh," jawab Juvan berusaha terdengar santai.
"Kamu menyembunyikan sesuatu ya dari aku?" tatapan Yena tajam namun lembut.
Juvan hanya menggeleng pelan.
"Juvan, pasti ada sesuatu yang terjadi sama kamu. Jujur sama aku, ya?"
Melihat ketegasan di mata Yena, dengan terpaksa akhirnya Juvan mengangguk. "Oke, aku akan ceritain semuanya. Tapi jangan di sini," jawabnya pelan.
Setelah membeli buku yang diinginkan, Juvan menggandeng tangan Yengan erat, lalu mereka pergi ke sebuah taman yang tak jauh dari sana — tempat yang cukup tenang untuk berbicara.
"Sekarang, ayo ceritain semuanya. Kenapa muka kamu sampai memar begitu?" tanya Yena begitu mereka duduk di bangku kayu.
Juvan menarik napas panjang, lalu menceritakan semuanya. Tentang dia kembali bertemu dua orang jahat yang dulu pernah mencelakainya, lalu munculnya Arga, dan kata aneh yang keluar dari mulut pria itu — saudara.
Yena yang mendengar cerita itu langsung terlihat menahan amarah. Tapi saat mendengar kata "saudara", kemarahannya seketika berubah menjadi kebingungan.
"Tunggu... saudara? Apa maksudnya?" gumam Yena, alisnya berkerut.
"Nah itu dia yang bikin aku bingung, Kak. Apa maksud dari perkataannya itu? Aku udah nanya ke Ayah dan Bunda, mereka bilang anak mereka itu cuma aku, nggak ada yang lain."
"Dulu Arga juga nggak pernah cerita soal orang tuanya. Yang aku tahu, ibunya sudah meninggal," Yena terdiam, mencoba menyusun semua potongan teka-teki itu.
Ia lalu menatap lekat wajah pacarnya, kedua tangannya memegang lembut pipi Juvan.
"Maaf ya, Sayang... gara-gara aku kamu harus mengalami semua ini," ucap Yena pelan, matanya berkaca-kaca.
Juvan langsung menangkup tangan Yena yang menempel di pipinya, menatapnya dalam-dalam.
"Kak... berhenti menyalahkan diri Kakak. Ini semua bukan salah Kakak, kok. Pokoknya aku nggak mau lagi denger Kakak menyalahkan diri sendiri terus-menerus," ucap Juvan tegas namun lembut, jari-jarinya mengusap punggung tangan Yena dengan penuh kasih sayang.
"Udah Kakak jangan sedih lagi ya, nanti cantiknya hilang loh," ucapnya menggoda sambil menatap lembut wajah Yena.
Ekspresi Yena yang tadinya sedih perlahan berubah menjadi senyum tipis yang manis. "Oh sekarang udah pinter ngegoda ya? Belajar dari siapa kamu?"
Juvan tak menjawab, ia hanya tersenyum malu, lalu menunduk pelan menahan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.
"Oh iya, hampir aja aku lupa," tiba-tiba Juvan kembali bersemangat. "Minggu depan aku ikut pertandingan voli di sekolah, Kak. Kakak bisa datang kan?"
"Aku usahain ya biar bisa datang," jawab Yena lembut.
"Tapi aku nggak maksa kok. Kalau Kakak sibuk, nggak apa-apa, nggak usah dipaksain datang," tambahnya cepat, takut menyusahkan kekasihnya.
Yena tersenyum menatapnya dalam. "Juvan sayang, aku pasti datang kok. Kan pacar aku mau tanding voli, jadi aku harus datang."
Wajah Juvan seketika berseri-seri. "Nanti Ayah sama Bunda bakalan datang juga lho," ucapnya antusias.
"Oh ya? Iih aku jadi pengen deh ketemu sama calon mertua aku," canda Yena sambil tertawa kecil.
"Hehe pasti Ayah Bunda aku suka banget sama Kakak."
"Iya, semoga aja begitu ya. Juvan, udah sore, kita pulang yuk."
Juvan mengangguk patuh. Saat keduanya hendak melangkah menuju kendaraan masing-masing, Yena tiba-tiba memanggilnya.
"Sayang."
Juvan langsung berhenti dan berbalik. "Iya? Kenapa, Kak?"
Tanpa banyak bicara, Yena mendekat sedikit, lalu berjinjit pelan dan mendaratkan kecupan hangat tepat di pipi Juvan yang memar.
"Itu obat mujarab, biar memarnya cepat sembuh," bisik Yena sambil tersenyum manis.
Wajah Juvan seketika memerah padam, senyum lebar tak lepas dari bibirnya. "Makasih, Kak..." ucapnya pelan, suaranya terdengar begitu bahagia.
Yena hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju mobilnya dan pergi meninggalkan taman itu, meninggalkan Juvan yang masih berdiri terpaku sambil memegang pipinya yang baru saja dicium oleh orang yang paling ia cintai.
Juvan berdiri diam di tempat, menatap mobil Yena yang perlahan menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. Tangannya masih terangkat, jari-jarinya menyentuh pelan bekas kecupan di pipinya, seolah takut rasa hangat itu hilang begitu saja.
Di dalam hatinya, doa itu terucap tulus, begitu dalam hingga membuat dadanya terasa penuh dan hangat.
"Semoga hubunganku dan Kak Yena terus begini, dipenuhi kebahagiaan dan ketenangan. Aku nggak mau lagi kehilangan Kak Yena. Aku akan mengusahakan semuanya buat Kak Yena. Aku mau sama Kak Yena, hari ini sampai sisa hidupku."
Angin sore berhembus lembut, membelai rambutnya yang sedikit berantakan. Juvan tersenyum lebar, matanya berbinar penuh tekad. Ia mengepalkan tangannya pelan di sisi tubuhnya — janji itu bukan sekadar kata-kata, ia akan menjaganya sekuat tenaga, apa pun yang terjadi.
Dengan hati yang penuh harapan dan cinta yang kian tumbuh setiap detiknya, Juvan berbalik menuju motornya, lalu melaju pulang, membawa kebahagiaan terbesar yang pernah ia miliki.
Di dalam mobil, Yena memegang setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyandarkan kepalanya pelan di jendela. Matanya menatap jalanan yang berlalu-lalang, namun pikirannya jauh melayang, terus kembali pada kata-kata Arga yang menggantung di benaknya.
"Saudara..." gumamnya pelan, suaranya tertelan suara mesin mobil. Alisnya berkerut dalam, tak bisa tenang.
Biasanya Arga ini kalau ngomong suka benar dan serius, tidak pernah berbohong. Apa yang dia bilang ke Juvan itu juga beneran ya... dia saudara kandung sama Juvan? Tapi nggak mungkin juga kan? Juvan kan anak tunggal, Ayah dan Bundanya sudah bilang begitu.
Yena menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan seolah ingin membuang pikiran itu menjauh. Tapi semakin ia mencoba melupakannya, semakin kuat rasa penasaran itu menghantui.
"Aduh kepalaku jadi pusing mikirin semua ini," keluhnya pelan, sambil mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut. "Kenapa harus ada rahasia begini? Kenapa harus Juvan yang terlibat? Dan kenapa Arga... kenapa dia tahu hal seperti itu?"
Ia mencoba menenangkan dirinya, mengingat senyum tulus Juvan tadi, kecupan di pipinya, dan janji cinta yang baru saja mereka ucapkan. Tapi keraguan itu tetap ada, menyelinap di sela-sela kebahagiaannya, seolah ada sesuatu yang besar sedang bersembunyi di balik bayang-bayang, siap mengguncang dunia mereka kapan saja.
"Semoga... semoga itu cuma omongan kosong Arga buat mengacaukan kita," batin Yena, berharap dengan sepenuh hati. "Tapi kalau memang benar... apa yang harus aku lakukan?"
Pertanyaan itu tak terjawab, hanya tertinggal di udara seiring mobilnya yang terus melaju menuju rumah, membawa beban pikiran yang perlahan mulai membebani hatinya.