Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Rasa Takut
Suara roda tandu berderak pelan menyusuri lorong rumah sakit. Beberapa petugas medis mendorong Marissa menuju ruang pemeriksaan, sementara seorang perawat berjalan di sampingnya untuk memantau kondisinya. Wajah Marissa tampak pucat. Sesekali, ia meringis ketika rasa sakit di bagian bawah perutnya kembali muncul.
"Dokter sudah menunggu di ruang pemeriksaan. Kita harus segera melakukan evaluasi kondisinya," ujar salah seorang petugas medis.
Marissa berusaha membuka mata. Pandangannya terasa kabur, tetapi ia masih bisa mendengar suara-suara di sekelilingnya. Dalam keadaan seperti itu, pikirannya hanya tertuju pada satu hal, anak yang dikandungnya.
Ia belum sempat mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Banyak hal yang belum ia pahami, bahkan hubungannya dengan Rashid sendiri masih dipenuhi pertengkaran yang tidak kunjung berakhir. Namun, di balik semua kebingungan itu, ia selalu membayangkan bagaimana kehidupannya akan berubah setelah anak mereka lahir.
Ia membayangkan sebuah keluarga kecil yang mungkin tidak sempurna, tetapi setidaknya masih memiliki kesempatan untuk bahagia. Tetapi kini, bayangan itu terasa begitu rapuh.
"Dokter ..." panggilnya lirih ketika tandunya memasuki ruang pemeriksaan. "Tolong selamatkan anak saya."
Dokter yang telah menunggu segera mendekat. "Kami akan melakukan pemeriksaan secepat mungkin. Ibu harus berusaha tetap tenang dan mengikuti arahan kami, ya."
Marissa hanya mengangguk lemah, pandangannya mulai sayu, keringat mulai membasahi pelipisnya, napasnya naik-turun.
Seorang perawat kemudian memasang alat pemantau, sementara dokter mulai melakukan pemeriksaan awal untuk mengetahui sumber perdarahan dan kondisi kehamilannya. Sedangkan petugas medis lainnya menyiapkan perlengkapan yang diperlukan, memastikan Marissa mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisinya.
Di tengah semua itu, Marissa berusaha menahan rasa takutnya. Ia ingin bertanya apakah anaknya baik-baik saja, tetapi suaranya terasa tertahan. Ia hanya mampu menggenggam seprai dengan jemari gemetar, berharap pemeriksaan yang dilakukan dapat memberikan kabar baik.
Sementara itu, di luar ruangan, Rashid berdiri dengan wajah tegang. Ia berjalan mondar-mandir di sepanjang lorong, sesekali berhenti untuk menatap pintu ruang pemeriksaan yang masih tertutup. Kepalanya masih pening akibat alkohol yang dikonsumsinya semalam, tetapi ia tidak lagi memedulikan rasa sakit itu.
Pikirannya dipenuhi kejadian di rumah, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Marissa berdiri di hadapannya sambil menarik koper. Ia mengingat suara perempuan itu ketika mengatakan ingin pergi, juga tatapan terluka yang sempat diarahkan kepadanya sebelum mereka kembali bertengkar. Namun, yang paling sulit ia lupakan adalah suara benturan ketika tubuh Marissa terjatuh.
Rashid berhenti berjalan. Ia menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. "Apa yang sudah kulakukan?" gumamnya. Rasa sesal itu mulai menekan-nekan dadanya.
Ia tahu dirinya sedang marah, dan tak ingin Marissa pergi begitu saja. Namun, semua itu tidak mengubah kenyataan bahwa ia telah kehilangan kendali dan menyebabkan perempuan itu terjatuh.
Rashid mengusap wajahnya kasar. Selama ini, ia selalu menganggap bahwa dirinya masih memiliki kendali atas hidupnya. Ketika Kinara meninggalkannya, ia mencoba meyakinkan diri bahwa ia masih bisa memperbaiki keadaan. Bahkan setelah dipermalukan di pesta Santoso Group, ia masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang terjadi hanyalah kesulitan sementara.
Tetapi, pagi itu berbeda. Ia tidak sedang menghadapi persoalan bisnis yang bisa diselesaikan melalui rapat atau negosiasi. Ia juga tidak sedang berhadapan dengan seseorang yang bisa ia bujuk agar mengubah keputusan.
Di balik pintu itu, Marissa sedang menerima perawatan medis dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hampir empat puluh menit berlalu sebelum pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka.
Rashid yang sejak tadi duduk di kursi tunggu langsung berdiri. Ia segera menghampiri dokter yang keluar dengan membawa beberapa lembar hasil pemeriksaan.
"Dokter, bagaimana keadaan Marissa?" tanyanya cepat. "Bagaimana dengan anak saya?"
Dokter menatapnya dengan serius. "Pasien masih membutuhkan pemantauan. Kami telah melakukan pemeriksaan awal untuk mengetahui kondisi kehamilan dan penyebab perdarahannya. Saat ini, kami sedang memastikan apakah ada komplikasi yang memerlukan penanganan lebih lanjut."
Rashid menelan ludah. "Apakah … anak saya baik-baik saja?"
"Kami belum bisa memberikan kepastian sebelum seluruh hasil pemeriksaan selesai dievaluasi,” jawab sang dokter yang langsung membuat dada Rashid terasa semakin sesak.
"Tolong lakukan apa pun yang diperlukan, Dokter. Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka."
Dokter terdiam sesaat sebelum menjawab dengan nada profesional.."Kami akan memberikan penanganan sesuai kondisi pasien. Namun, saya juga perlu mengetahui bagaimana pasien mengalami cedera agar kami dapat mempertimbangkan informasi tersebut dalam pemeriksaan."
Rashid langsung terdiam, ia tahu apa yang harus dikatakannya. Tapi, untuk beberapa detik, bibirnya seolah terkunci.
Dokter memperhatikan perubahan ekspresinya. "Apakah pasien terjatuh?"
Rashid menunduk. "I-iya, Dok."
"Bagaimana kejadiannya?"
Rashid mengepalkan tangan sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah. "Kami bertengkar. Ketika dia berusaha pergi, saya tidak sengaja mendorongnya. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh."
Wajah dokter berubah serius. "Jadi, pasien mengalami benturan setelah didorong?"
Rashid mengangguk pelan dan lemah, tahu bahwa semua itu adalah kesalahannya. Andai ia bisa lebih mengontrol emosinya, hal ini pasti tidak akan terjadi.
Dokter tidak memberikan komentar panjang. Ia hanya memastikan bahwa informasi tersebut akan dicatat sebagai bagian dari riwayat kejadian pasien. "Untuk saat ini, yang terpenting adalah memastikan kondisinya stabil. Kami akan melanjutkan pemeriksaan dan menentukan tindakan medis yang diperlukan berdasarkan hasilnya."
Setelah dokter kembali masuk, Rashid berdiri terpaku di lorong. Ia tidak mencoba membenarkan perbuatannya ataupun berusaha menyalahkan Marissa atas pertengkaran mereka. Kali itu, ia ingin mengakui kesalahannya tanpa mencari alasan untuk meringankan beban di pundaknya sendiri.
Dialah yang mendorong Marissa dan membahayakannya. Untuk sekarang, ia hanya bisa menunggu sambil berharap perempuan itu mendapatkan pertolongan yang dibutuhkannya.
tp kl bikin Salah dng istri sah gk pernh minta maaf.
gedek banget semoga karma nya makin menyakit kan buat Rasyid Dan Marisa
cm gitu tok gk seru banget.