Indonesia
NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Pesan yang Terputus

Layar monitor di komputer masih memancarkan pendar putih temaram di tengah kegelapan ruangan.

Komentar dari akun @user-883921 yang baru saja melintas di kolom youtube seolah memaku pandangan Rhea dan Zora. Tulisan singkat itu tidak hanya membawa angin segar, tetapi juga memicu aliran adrenalin yang mendadak melesat kencang.

"Rhe, lu pegang laptopnya sebentar," seru Zora dengan napas memburu, jemarinya lincah membuka fitur pesan pribadi dan membalas komentar tersebut secara langsung.

"Halo, kami dari Biro Bantuan Hukum Rhea & Partners. Mohon bantuannya untuk segera mengirimkan nomor yang bisa dihubungi atau lokasi. Ini sangat penting dan mendesak," tulis Zora cepat.

Hanya butuh waktu kurang dari duan menit, notifikasi pesan masuk berbunyi nyaring. Sebuah balasan meluncur lengkap dengan nomor telepon.

Zora menyambar ponselnya tanpa ragu, langsung menekan tombol panggilan ke nomor tersebut. Rhea berdiri rapat di samping Zora, menahan napas seraya mendekatkan telinganya ke punggung ponsel.

Nada sambung berdering tiga kali sebelum akhirnya terhubung.

"Halo?" suara seorang wanita muda terdengar samar dari seberang telepon.

"Halo! Selamat malam, saya Zora dari Biro bantuan hukum," cecar Zora cepat tanpa basa-basi.

"Iya, betul Mbak. Saya yang kirim komentar tadi. Soal foto nenek yang kalian cari... itu Bu Mira Sastro. Saya kenal beliau," jawab wanita itu seberang telepon.

Rhea yang mendengarnya langsung memotong antusias. "Mbak, kalau begitu, Mbak tahu di mana alamat Bu Mira sekarang."

"Gini aja Mbak, Mbak datang aja ke alamat yang mau saya kirimkan ini. Nanti saya jelaskan semuanya di sini ya Mbak," sahut wanita itu pelan.

"Oh iya Mbak. Terima kasih banyak ya atas bantuannya, Mbak," jawab Rhea dan Zora cepat sebelum panggilan telepon itu di tutup sepihak.

Panggilan terputus. Rhea menatap Zora dengan raut wajah penuh harap sekaligus penasaran.

"Gimana, Zor udah ada balasan belum?" tanya Rhea.

"Bentar Rhe, dia lagi ngirim alamatnya lewat pesan," jemari Zora mengetuk layar ponselnya.

Detik berikutnya, sebuah pesan masuk memperlihatkan pin lokasi peta digital. "Oke Rhe, masuk. Alamatnya ada di rumah sakit sehat sejahtera."

"Rumah sakit? Kenapa di rumah sakit? Apa... apa Bu Mira sedang di rawat sana," dahi Rhea seketika berkerut dalam.

"Gue juga nggak tahu, Rhe. Yang penting kita samperin dulu ke sana sekarang," seru Zora seraya menyambar tas bahunya di atas meja.

Keduanya keluar dari kantor Biro, membiarkan pintu depan terkunci terburu-buru. Suasana malam di tepi jalan raya sudah sangat dingin. Angin malam berhembus kencang mengibaskan helai rambut Rhea.

Di bawah pendar kuning lampu jalanan. Rhea dan Zora berdiri di pinggir trotoar dengan raut panik, melambaikan tangan setiap kali ada sorot lampu kendaraan melintas.

"Taksi! Pak, taksi," teriak Zora melambaikan tangannya.

Namun, taksi itu melaju lurus tanpa menghentikan lajunya, menimbulkan asap knalpot yang pekat.

"Duh, kenapa jam segini susah banget dapat taksi sih. Aplikasi taksi daring juga dari tadi searching melulu, nggak ada driver yang ngambil pesanan apa," keluh Zora frustasi.

"Tolonglah... siapapun," gumam Rhea.

Tiba-tiba, seru suara mesin mobil yang halus membelah heningnya malam. Sebuah mobil hitam melambat tepat di depan trotoar tempat berdiri Rhea dan Zora.

Kaca mobil bagian depan perlahan turun. memperlihatkan sosok Rayven. Dia menatap dua wanita di pinggir jalan dengan alis terangkat.

"Apa kalian butuh tumpangan?" tanya Rayven tenang dari dalam mobil.

"Rayven," seru mereka berdua bersamaan.

"Masuklah," kata Rayven seraya membuka kunci pintu mobil.

Rhea dan Zora tanpa buang waktu langsung masuk duduk cepat di dalam mobil. Rhea menatap wajah Rayven dari samping dengan wajah panik.

"Rayven tolong antarkan kita ke rumah sakit sehat sejahtera sekarang. Kita dapat petunjuk alamat Bu Mira di sana," desak Rhea.

Rayven sempat terdiam sejenak. "Kalian dapat info dari mana tentang Bu Mira?"

"Ini, si Zora tadi membuat postingan unggahan foto yang kemarin itu. Terus ada salah satu komentar yang mengatakan bahwa dia mengenal Bu Mira. Makanya kami mau segera ke sana," sahut Rhea cepat.

Rayven manggut-manggut memahami situasi. Sembari menginjak pedal gas dan memutar kemudi menuju jalan raya Rayven sesekali melirik Rhea.

"Rayven kamu dari mana kok malam-malam begini lewat sini?" tanya Rhea yang menyadari.

"Enggak dari mana-mana, saya baru pulang aja sekalian jalan ngelewatin Biro kalian. Rupanya kalian berdiri di situ," jawab Rayven santai.

"Iya, soalnya dari tadi kita nunggu taksi gak ada yang berhenti. Untung banget Mas Rayven lewat," timpal Zora lega seraya menghembuskan napas panjang.

"Ya sudah, kita ke rumah sakit itu sekarang," ujar Rayven menambah kecepatan mobilnya.

Suasana lobi rumah sakit tampak sangat lengang. Hanya ada beberapa penerangan lampu neon yang berkedip redup di sepanjang koridor.

Sebelum mereka sempat melangkah menuju meja informasi, seorang wanita muda berseragam perawat lengkap melangkah terburu-buru. Matanya langsung mengarah ke Rhea dan Zora.

"Mbak Rhea? Mbak Zora?" tanya perawat itu dengan nada berbisik.

"Iya, saya Rhea. Mbak yang kami telepon tadi kan. Apakah Bu Mira sedang di rawat di sini?" tanya Rhea dengan melangkah maju.

Perawat bernama Maya itu menatap Rhea, Zora dan Rayven bergantian dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat pucat. Ia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan dengan mata yang berkaca-kaca.

"Maafkan saya, Mbak. Tapi... Bu Mira sudah tidak di rumah sakit ini lagi, Mbak," bisik perawat itu pelan.

"Maksud mbak gimana? Bu Mira udah pulang ke rumahnya?" Rhea mengerutkan dahinya.

Suster Maya mengusap sudut matanya yang berair. "Bu Mira... sebenarnya sudah meninggal dunia kemarin sore, Mbak. Beliau di bawa kesini dia hati yang lalu oleh pengemudi taksi dalam kondisi kritis. Dan tadi pagi jenazahnya Bu Mira sudah dijemput oleh pihak dinas sosial dan langsung dikremasi karena tidak ada pihak anggota keluarga pasien."

Kata itu menghantam kesadaran Rhea bagaikan gumpalan es yang membekukan darahnya. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas.

Zora menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isak kaget, sementara Rayven mematung kaku di samping Rhea dengan raut wajah sangat berat.

"Tapi... tapi Bu Mira kemarin pagi baru saja mengirimkan paket surat ke kantor kami lewat kurir," bisik Rhea parau, menggelengkan kepalanya tidak percaya.

"Oh ya Mbak. Sebelum Bu Mira menghembuskan napas terakhirnya. Beliau sempat menuliskan beberapa kata di belakang saya menggunakan jarinya, saat saya sedang memeriksa. Dan saya menuliskan ulang," lanjut Suster Maya sembari menyerahkan sebuah kertas.

Di atas kertas putih itu, terukir barusan tulisan tangan Suster Maya yang rapi namun tergesa-gesa.

"Amara, PT Gemilang Utama. Dia menggunakan nama..."

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!