Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pembongkaran Tanpa Ampun
Suasana di Ruang Rapat Utama seketika mengeras bagaikan es. Senyuman sombong Rendy yang membusung dada dan gestur jumawa Siska masih tertinggal di udara, seolah-olah mereka baru saja memenangkan mahkota kekuasaan.
Namun, Alya hanya menatap Rendy dengan ketenangan yang menakutkan. Tidak ada riak kemarahan di wajah cantiknya. Tidak ada kepanikan. Hanya ada keanggunan seorang penguasa yang siap menyembelih mangsanya tanpa menumpahkan darah secara kasar.
"Hak veto, katamu, Rendy?" tutur Alya dengan suara yang amat jernih, bergema dengan sangat teratur di setiap sudut ruangan.
Alya mengetuk layar tablet pintarnya dua kali. Layar proyektor raksasa di belakang meja pimpinan yang tadinya menampilkan logo korporat, seketika berubah gelap.
"Kamu bilang semua tindakan Siska adalah atas perintah, izin, dan persetujuanmu sebagai Wakil Direktur Utama sekaligus suami sahku, bukan?" sambung Alya seraya memiringkan kepalanya sedikit, menatap Rendy lurus ke dalam manik matanya. "Mari kita lihat, sejauh mana 'persetujuan' dan 'pemberian wewenang' yang kamu banggakan itu berlaku di mata hukum."
Bip.
Alya menekan tombol play pada panel kontrol audio meja rapat.
Suara desis rekaman digital yang teramat jernih seketika memenuhi seluruh penjuru ruangan—sebuah rekaman percakapan privat dari ruang kerja Alya beberapa hari lalu:
“...Rendy tidak pernah mencintai Ibu! Sejak dulu Rendy cuma mencintai saya! Dia menikahi Ibu cuma karena harta dan posisi keluarga Ibu! Ibu itu cuma pajangan yang kasihan!”
Suara histeris Siska melengking nyaring dari pengeras suara mutakhir ruangan tersebut, disusul oleh suara Alya yang tenang menyanggah, dan pengakuan jujur Siska berikutnya yang direkam secara sempurna tanpa cela.
DUAR!
Bagaikan hantaman petir di tengah ruangan yang sunyi, wajah Siska seketika berubah pucat pasi seputih kapas. Matanya membelalak horor. Tubuhnya yang bersandar kaku di kursi belakang Rendy gemetar hebat.
"T-tidak... itu... itu direkayasa!" jerit Siska panik, berdiri dari kursinya dengan napas memburu. "Bapak-bapak Komisaris, itu rekaman palsu! Itu editan AI!"
"Palsu?" potong Alya dingin.
Alya tidak membiarkan Siska bernapas. Dengan satu ketukan jari di layar tabletnya, dokumen-dokumen aliran dana fiktif langsung berpindah ke layar proyektor raksasa.
"Izin dan hak veto yang kamu maksudkan tadi, Rendy," kata Alya, menunjuk pada berkas digital berstempel merah di layar, "termasuk pengalihan dana operasional sebesar belasan miliar rupiah ke tiga perusahaan cangkang atas nama kerabat Siska. Dan di sini, tertera dengan sangat jelas tanda tangan digital milikmu serta persetujuan tertulis yang kamu stempel kemarin sore."
Para komisaris senior di sepanjang meja rapat mulai berbisik-bisik keras. Pak Hendra, komisaris paling senior, menyesuaikan kacamata bacanya dengan wajah tegang yang dihiasi kemarahan mendalam.
"Ini bukan sekadar pelanggaran etika!" tegas Pak Hendra dengan suara berat dan menggelegar, menatap Rendy dengan pandangan tajam. "Ini adalah kejahatan penggelapan jabatan dan manipulasi keuangan korporasi!"
Rendy menelan ludah kasar. Peluh dingin mulai bermunculan di kening dan lehernya. Pria yang tadinya membusungkan dada itu kini perlahan menurunkan kedua tangannya, tangannya gemetar di dalam saku jas mewahnya.
"Al... Al, dengarkan aku dulu," panggil Rendy, suaranya yang tadi lantang kini mendadak serak dan terbata-bata. "Itu... aku tidak tahu kalau ada perusahaan cangkang atas nama kerabat Siska! Aku... aku cuma menandatangani berkas yang dia sodorkan karena aku percaya padanya sebagai staf!"
"Oh? Kamu tidak tahu?" Alya menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh ironi yang menyayat ego Rendy hingga ke dasar. "Kamu mempercayainya sebagai staf... atau mempercayainya sebagai wanita yang menghabiskan malam bersamamu hingga dini hari tadi?"
BOM!
Serangan kedua Alya menghantam ruangan dengan kekuatan yang jauh lebih mematikan.
Di layar proyektor raksasa, tampilan dokumen keuangan seketika berganti menjadi rekaman video kamera pengawas (CCTV) beresolusi tinggi dan log akses digital dari sebuah kompleks apartemen mewah di kawasan Senopati.
Layar menampilkan timestamp tanggal dan waktu yang teramat jelas: Kemarin malam, Pukul 20:15 WIB hingga Pukul 06:30 WIB Pagi Ini.
Di dalam rekaman video tersebut, terlihat dengan sangat gamblang Rendy membukakan pintu unit apartemennya untuk Siska yang mengenakan gaun malam merah hati. Video berpindah memperlihatkan koridor privat tempat mereka berdua saling merengkuh dan berciuman panas sebelum masuk dan mengunci pintu dari dalam.
“Astaga... Menjijikkan sekali!” gumam salah seorang komisaris wanita di ujung meja, menutup mulutnya dengan raut wajah penuh kejijikan.
“Di saat perusahaan sedang sibuk melakukan efisiensi, Wakil Direktur Utama justru menghabiskan malam dengan bawahannya di apartemen mewah!” seru komisaris lainnya dengan nada murka.
Seluruh pandangan pasang mata di ruangan itu—para komisaris, tim hukum independen, hingga staf eksekutif—kini tertuju pada Rendy dan Siska dengan tatapan penuh cela, hinaan, dan kejijikan yang teramat murni.
Rendy membatu di tempatnya. Kakinya serasa lolos dari pijakan bumi. Lidahnya kaku, tenggorokannya kering bagaikan padang pasir. Seluruh pertahanan dan kesombongan yang ia bangun beberapa menit lalu runtuh berantakan tanpa menyisakan sebutir debu pun.
"Rend... Rendy, tolong aku..." tangis Siska pecah di belakang Rendy, mencengkeram lengan jas Rendy dengan panik dan histeris. "Katakan pada mereka kalau itu bukan aku! Katakan kalau video itu rekayasa!"
"DIAM KAMU, SISKA!" gertak Rendy tiba-tiba, menyikut tangan Siska hingga wanita itu tersungkur pelan di kursinya. Wajah Rendy tampak amat kacau, kepalanya berdenyut hebat oleh kepanikan yang tak tertahankan.
Rendy menatap Alya dengan mata yang memerah dan berair, melangkah satu tapak mendekati meja Alya dengan raut memohon.
"Al... tolong, Al..." bisik Rendy tersedu-sedu, kehilangan seluruh martabat prianya di depan umum. "Aku dijebak! Siska yang memancingku semalam! Dia yang datang ke apartemenku dan merayuku! Aku... aku tidak sadar saat melakukannya, Al! Tolong jangan permalukan aku seperti ini di depan para komisaris..."
Melihat Rendy yang dengan sangat cepat melempar kesalahan padanya demi menyelamatkan diri sendiri, Siska membelalak horor. Rasa cinta liar dan ilusi yang ia bangun bersama Rendy seketika berubah menjadi rasa benci yang membakar.
"Rendy! Kamu pria biadab!" jerit Siska hysteris, berdiri dan memukul bahu Rendy secara kasar. "Kamu yang janji mau pasang badan buat aku! Kamu yang bilang punya hak veto dan tidak takut sama Alya! Kamu bilang kamu cuma manfaatin Alya demi hartanya!"
"Tutup mulutmu, wanita tidak tahu diri!" balas Rendy membentak Siska di tengah ruangan, perselisihan mereka terhampar telanjang di depan seluruh peserta rapat.
Alya menatap pertengkaran menjijikkan di hadapannya tanpa mengedipkan mata. Tidak ada kepuasan kerdil di wajah Alya; yang ada hanyalah ketegasan seorang pemenang yang siap melepaskan bom terakhir untuk meratakan peninggalan masa lalunya.
Alya mengetukkan jemarinya di atas meja. Suara ketukan itu memutus percekcokan Rendy dan Siska seketika.
"Kalian berdua sudah selesai bersandiwara?" tanya Alya pelan, namun nadanya begitu menekan hingga membuat ruangan kembali hening total.
Alya mendongak, memandangi Rendy dan Siska secara bergantian dengan tatapan dingin yang tajam bagaikan sembilu.
"Kalian pikir pengkhianatan ini baru dimulai beberapa bulan terakhir?" ujar Alya, suaranya berbobot dan sarat akan kebenaran sejarah yang kelam. "Kalian pikir aku baru tahu kebusukan kalian belakangan ini?"
Alya menggeser sebuah folder fisik berwarna hitam pekat di atas meja rapat, lalu membukanya secara perlahan.
"Serangan terakhir ini," tutur Alya, "bukan cuma untuk menyelamatkan keuangan perusahaan dari tangan dua ekor pencuri. Tapi untuk membersihkan sampah masa lalu yang sudah terlalu lama mengotori hidupku."
Layar proyektor raksasa berganti untuk yang terakhir kalinya.
Layar menampilkan dokumen rekapitulasi data komunikasi lama, log transaksi rekening bank rahasia atas nama Siska sejak enam tahun lalu, serta tangkapan layar foto-foto lama dari arsip digital tersembunyi—menampilkan foto-foto kebersamaan Rendy dan Siska di luar negeri pada tanggal dan tahun di mana Alya dan Rendy masih berstatus sebagai tunangan.
Terpampang jelas di sana: bukti transfer rutin bulanan dari rekening pribadi Rendy ke rekening Siska—uang yang diambil dari dana tunjangan keluarga yang diberikan orang tua Alya sebelum mereka menikah.
Alya menatap Rendy lurus menembus matanya.
"Bahkan sebelum aku mengenakan gaun pengantin di altar bersamamu, Rendy..." bisik Alya, setiap katanya menusuk tepat di jantung ego Rendy. "...kamu sudah menjadikan wanita ini sebagai parasit di dalam rumah tangga kita. Kamu membiarkannya memakan harta keluargaku, membiarkannya tertawa di belakang punggungku saat aku masih menjadi wanita gempal yang lugu dan tulus mencintaimu."
Rendy gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rahasia paling terlarang—bahwa ia dan Siska sudah bersekongkol sejak awal untuk mengincar kekayaan keluarga Alya—kini terbongkar secara utuh, sah, dan tak terbantahkan di depan seluruh jajaran komisaris serta lembaga hukum.
"Siska bukan sekadar staf yang melakukan kesalahan finansial," tegas Alya, suaranya menggema penuh wibawa. "Dia adalah parasit lama yang secara sadar merusak integritas perusahaan dan rumah tanggaku dari dalam."
Alya memalingkan pandangannya dari Rendy, lalu menatap lurus ke arah Kai Aditya yang sejak tadi menyaksikan seluruh proses pembantaian itu dari sudut ruangan.
Kai Aditya perlahan berdiri dari kursi kehormatannya. Postur tubuhnya yang tinggi, tegap, dan berwibawa melangkah mendekati meja utama. Pandangan mata Kai yang dingin dan mematikan terkunci pada Rendy yang sudah terkulai lemas di samping kursinya.
"Atas nama Aditya Group sebagai investor utama dan pemegang saham mayoritas penjamin," kata Kai dengan suara rendah yang amat dominan dan berwibawa, "kami menyatakan membatalkan seluruh bentuk kepercayaan eksekutif kepada saudara Rendy."
Kai melirik tim hukum independen yang berdiri di sampingnya.
"Lakukan pembekuan seluruh aset eksekutif saudara Rendy dan saudari Siska detik ini juga," perintah Kai tanpa ampun. "Serahkan seluruh bukti penggelapan dana, pemalsuan dokumen, dan manipulasi transaksi ini kepada pihak kepolisian dan Pengadilan Niaga untuk diproses secara hukum pidana."
"T-tidak... Pak Kai, tolong saya, Pak!" jerit Rendy hancur, hendak berlutut memohon di hadapan Kai.
Namun dua orang pengawal bertubuh tinggi besar dari tim keamanan Aditya Group sudah melangkah maju dengan cepat, mencengkeram kedua lengan Rendy dan menahannya dengan sangat kuat, mencegah pria itu menyentuh Kai maupun Alya.
Siska yang melihat pengawal lain melangkah mendekatinya hanya bisa tersungkur di lantai dingin ruangan, menangis histeris seraya meratapi nasibnya yang kini hancur berkeping-keping. Seluruh impian mewahnya, posisi tingginya, dan jaminan hidupnya musnah dalam hitungan menit.
Alya berdiri secara perlahan dari kursi pimpinannya. Ia merapikan blazer putih gadingnya, menatap Rendy yang kini menangis tersedu-sedu di dalam cengkeraman pengawal.
Rendy mendongak, matanya yang sembab menatap Alya dengan penyesalan yang amat dahsyat. "Al... maafkan aku, Al... tolong kasih aku kesempatan... aku mohon..."
Alya tidak menjawab dengan makian. Ia hanya menyunggingkan senyum pembalasan yang teramat anggun, bersih, dan membebaskan.
Ia telah menyelesaikan permainannya. Setiap penderitaan masa lalu, setiap air mata yang pernah menetes di bawah guyuran hujan, dan setiap rasa sakit atas pengkhianatan keji itu kini telah terbayar lunas tanpa sisa.
Alya memutar tubuhnya, melangkah anggun meninggalkan meja rapat menuju pintu keluar. Dan di sampingnya, Kai Aditya melangkah sejajar—uluran tangan pria itu menyambut jemari Alya dengan sangat erat dan hangat, menggandeng sang Ratu keluar dari panggung kehancuran musuh-musuhnya menuju lembaran baru masa depan yang cerah dan abadi.