Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Orang
BAB 32
Salah Orang
Dinda segera beranjak dari duduknya dan bergegas menuju rumah Daffa. Kabar kelulusan itu membuatnya tidak sabar untuk segera memberitahukan hasilnya secara langsung.
Dinda tahu, di jam seperti ini orang tua Daffa biasanya belum berada di rumah. Daffa pun kemungkinan sedang sendirian di sana pagi ini.
Tanpa banyak berpikir, Dinda keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju rumah sebelah.
Di ruang tengah, Sarah yang sedang menyiapkan sarapan tiba-tiba merasa seperti ada seseorang yang melintas di belakangnya. Ia menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh. Namun, tidak ada siapa-siapa. Bayangan Dinda bahkan sudah menghilang di balik dinding.
Sarah mengernyitkan kening, merasa sedikit heran. Baru saja ia seperti melihat seseorang lewat dengan tergesa-gesa.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka buru-buru dari arah ruang depan. Sarah hanya bisa menggelengkan kepala.
"Siapa, sih, pagi-pagi sudah buru-buru begitu?"
Sementara itu, tanpa Sarah ketahui, Dinda sudah berada di rumah sebelah.
Begitu memasuki ruang tengah, matanya langsung menangkap seseorang yang sedang duduk di sofa dengan posisi membelakangi dirinya. Tanpa berpikir panjang, Dinda langsung berteriak dengan penuh semangat.
"Abang! Aku lulus! Mana hadiahnya?!"
Dinda bergegas menghampiri, lalu memutar sofa dan langsung duduk di samping lelaki itu. Namun, senyum lebar yang sejak tadi terbit menghiasi wajahnya perlahan redup dan memudar.
Tubuhnya seketika kaku. Wajahnya berubah pucat begitu menyadari bahwa orang yang duduk di sampingnya bukanlah Daffa.
"Bang... Dirga!" gumamnya sangat pelan.
Lelaki yang dipanggil Dirga itu menoleh dengan wajah tenang. Ia memandang Dinda beberapa detik, seolah tidak mengerti kenapa gadis itu tiba-tiba terlihat seperti baru saja melihat hantu.
"Apaan sih, ribut-ribut?"
Suara berat terdengar dari arah tangga. Dinda spontan menoleh.
Daffa terlihat turun dari tangga dengan rambut berantakan dan wajah bantal. Jelas sekali pemuda itu baru bangun tidur.
Dinda kembali menatap Dirga. Senyumnya muncul lagi, tetapi kali ini terasa sangat canggung. Ia bahkan perlahan menggeser tubuhnya menjauh dari Dirga.
"Gimana kabarnya?" tanya Dirga santai.
Lelaki itu kembali menyesap kopinya sambil tetap memperhatikan layar ponselnya.
"B-baik, Bang."
Jawaban Dinda terdengar kikuk. Suasana yang tadinya penuh semangat mendadak berubah menjadi canggung baginya.
Dirga kembali bertanya, "Nggak ke kampus?"
Pertanyaan itu ditujukan kepada Daffa yang baru saja turun dari tangga.
"Nggak."
Daffa menjawab singkat. Ia kemudian duduk tidak jauh dari Dinda dan Dirga.
Tatapan Daffa beralih kepada Dinda.
"Ngapain ke sini pagi-pagi, Cil?"
Dinda sebenarnya ingin langsung menceritakan kabar kelulusannya. Namun, keberadaan Dirga membuatnya tidak sebebas biasanya. Ia bahkan merasa malu untuk berbicara dengan Daffa seperti biasanya.
"Emm... itu..."
"Gimana kelulusan?" Daffa menyela ucapan Dinda yang menggantung.
Dinda langsung mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya kepada Daffa.
"Abang lihat sendiri, deh."
Daffa menerima ponsel itu. Matanya membaca hasil yang tertera di layar. Sesaat kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya. Daffa mengembalikan ponsel tersebut kepada Dinda.
"Lulus."
Dinda mengangguk dengan senyum kecil.
"Iya."
"Jangan sungkan minta hadiah yang banyak. Kalau perlu, kuras isi dompetnya."
Tiba-tiba Dirga bersuara membuat Dinda langsung menoleh.
Meski hanya mendengar potongan percakapan mereka, Dirga tampaknya sudah cukup cepat menangkap apa yang sedang terjadi.
Dinda menelan ludah. Wajahnya kembali terasa panas.
Sementara Daffa hanya melirik Dirga sekilas, lalu bersandar santai di sofa seolah tidak ada yang aneh dengan percakapan mereka.
Dirga Ardiansyah merupakan anak sulung Rendra dan Mayang. Berbeda dengan Daffa yang masih sibuk dengan kuliah, Dirga telah memilih jalan hidupnya sendiri sebagai seorang anggota Angkatan Udara.
Beberapa waktu terakhir ia bertugas di kota yang berbeda. Namun, karena mendapatkan cuti, Dirga akhirnya kembali ke rumah setelah cukup lama berada jauh dari keluarganya. Kepulangannya tentu menjadi hal yang cukup mengejutkan bagi Dinda.
Selama ini, Dirga hanya sesekali ia dengar dari cerita keluarga Daffa. Ia tahu bahwa kakak Daffa itu juga terkenal memiliki sifat yang hampir sama dengan adiknya.
Dingin, cuek dan tidak banyak bicara.
Hanya saja, jika Daffa cenderung menunjukkan sikap masa bodohnya dengan terang-terangan, Dirga lebih tenang dalam menghadapi berbagai hal. Ekspresinya jarang berubah, bahkan ketika situasi di sekitarnya cukup ramai.
Tidak heran jika keduanya sering dianggap memiliki sifat yang sama. Dua bersaudara yang sama-sama sulit ditebak.
"Abang kapan pulang?" tanya Dinda kepada Dirga, masih kikuk.
Dirga mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Ia menatap Dinda sebentar sebelum menjawab dengan tenang.
"Tadi malam."
"Tadi malam?" Beo Dinda. "Oh."
Dinda terdiam sesaat. Ia kembali menggeser duduknya sedikit. Dalam hati, Dinda masih merasa malu mengingat bagaimana beberapa menit lalu ia masuk ke rumah ini sambil berteriak mencari Daffa, bahkan langsung duduk di samping orang yang salah.
"Berapa lama Abang cuti?"
"Beberapa minggu."
Dinda mengangguk-angguk kecil.
"Berarti Abang bakal di rumah terus?"
"Kurang lebih."
Percakapan mereka kembali terhenti.
Dinda melirik Daffa yang sejak tadi hanya duduk santai sambil memainkan ponselnya.
Sebenarnya ia ingin kembali membicarakan hadiah yang dijanjikan Daffa. Namun, dengan adanya Dirga, rasanya ia tidak mungkin bertingkah sebebas biasanya.
Daffa yang menyadari tatapan Dinda akhirnya mengangkat wajah.
"Kenapa?"
Dinda langsung menggeleng.
"Nggak."
Dirga menyesap kopinya lagi, lalu berkata datar,
"Kalau mau ngomong sama Daffa, ngomong aja. Jangan gara-gara ada gue jadi kayak orang mau ujian."
Dinda langsung tersipu.
Daffa menahan senyum tipis.
"Cil, dari tadi lu memang aneh."
Dinda semakin salah tingkah.
"Abang diam, deh!" Dinda melirik Daffa. "Mana hadiahnya? Katanya mau ngasi hadiah kalau aku lulus."
Dinda langsung mengutarakan niatnya begitu ada kesempatan.
"Emang mau minta apa?" tanya Daffa.
Dinda tampak berpikir. "Emm, apa ya?"
"Kelamaan mikir, batal."
Ekspresi Dinda langsung berubah kesal dengan bibir mengerucut.
"Ih, kok gitu?!"
Namun, sebelum Dinda sempat mengatakan apa yang ia inginkan, Dirga tiba-tiba bersuara.
"Jam sepuluh kita ke mal."
Dinda dan Daffa sama-sama menoleh.
Dirga masih terlihat santai. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja, lalu berdiri.
"Kamu bebas pilih apa yang kamu mau. Daffa yang bayar." Ucap Dirga lagi.
Dinda langsung terdiam. Matanya perlahan membesar.
Sementara Daffa justru terlihat seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Heh?"
Namun Dirga sama sekali tidak merasa bersalah dan tetap tenang dan santai seperti biasa. Ia mulai melangkah pergi menuju kamarnya.
"Bang..." panggil Daffa.
Dirga hanya mengangkat satu tangan tanpa menoleh.
"Anggap aja hadiah kelulusan."
Setelah mengatakan itu, Dirga terus berjalan dan meninggalkan mereka berdua.
"Lah..."
Daffa hanya bisa bergumam pasrah. Ia menatap ke arah Dirga yang sudah menghilang di balik lorong, kemudian mengusap wajahnya.
Belum sempat ia protes lebih jauh, terdengar tawa kecil dari sampingnya. Dinda tersenyum lebar.
"Kalau begitu aku tahu mau minta apa."
Daffa menoleh. Dinda justru semakin tersenyum.
"Kan Abang sendiri yang janji mau kasih hadiah kalau aku lulus."
Daffa terdiam. Tidak ada alasan untuk membantah.
"Jam sepuluh, ya, Bang?"
Daffa menghela napas. Sedangkan Dinda langsung bangkit dari sofa dengan wajah puas.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Mau siap-siap."
Dinda pun berjalan keluar dari rumah Daffa dengan langkah ringan. Sedangkan Daffa menatap punggung kecil itu yang hilang di balik pintu.
Imut.
*
*
*
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
eh tapi daffa kan belum kerja dan berpenghasilan yakan