~Bahkan, goresan peluru sekalipun tak pernah sesakit ini...
Pandu tak pernah menyangka akan terjebak dalam permainan seorang wanita licik penuh rahasia bernama Celine.
Terikat dalam pernikahan bersama wanita itu tak pernah memberikan bahagia untuk Pandu. Hingga lama kelamaan, perlahan kebencian itu mulai menghilang dan menghadirkan rasa yang asing di hati Pandu.
Namun, ketika Pandu memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya, Celine malah berpamitan pergi. Tidak hanya dari rumah Pandu tetapi juga dari kehidupan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia suamiku!
Pandu meringis. Bisa ia tebak bahwa kondisi bibir bawahnya pasti robek akibat pukulan keras dari ajudan Hasnan Pranuadji.
"Saya tidak menganggu istri anda. Justru, dia sendiri yang datang pada saya dan meminta tolong untuk menumpang tidur di tempat saya." Pandu berusaha mengatur ritme napas yang tersengal.
Hasnan Pranuadji mendengus. Ia kembali memberi kode pada ajudannya untuk memukul Pandu kembali.
BUG!
Itu bukan suara pukulan yang mendarat di badan Pandu. Melainkan suara dari heels yang baru saja di lempar seseorang dari arah belakang dan tepat mengenai kepala belakang pria yang hendak memukul Pandu. Ajudan Hasnan Pranuadji itu pun menoleh. Begitu pula dengan yang lain. Pandangan mereka kini terpusat pada wanita asing yang baru mereka lihat hari ini.
"Berani kamu pukul dia sekali lagi, maka ujung heels yang satu ini akan benar-benar menancap dileher anda!" ancam Celine dengan wajah memerah menahan amarah.
Hasnan Pranuadji membelah kawanan ajudannya. Ia melangkah. Penasaran pada sosok wanita yang saat ini tengah menatap murka terhadapnya. Tak ada rasa takut, bahkan gentar sedikitpun.
"Jangan ikut campur dengan urusan saya jika kamu masih ingin hidup tenang, Gadis manis!" ujar Hasnan memperingatkan.
Celine melangkah mendekat. Tatapan tajamnya seolah hendak merobek-robek sosok Hasnan Pranuadji. Tak lama, ia berjalan melewati pria itu. Bergegas menuju Pandu dan memukuli tangan dua orang pria yang tadi memegangi suaminya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Celine cemas. "Tuh kan, berdarah!" lanjutnya dengan tangis yang tak lagi bisa ia bendung. Ia sedih melihat bibir Pandu yang robek akibat pukulan ajudan Hasnan.
"Nggak apa-apa. Ini nggak parah kok!" ucap Pandu menenangkan. Di rabanya sudut kiri bibirnya yang terluka. Agak perih memang. Namun, sakitnya masih bukan apa-apa. Ia sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya meregang nyawa saat kasus penculikan Ellena dulu.
"Siapa perempuan ini?" tanya Hasnan penasaran.
"Istri saya." Pandu memeluk Celine. Berusaha menenangkan emosi Celine yang masih meledak-ledak.
Hasnan mengangkat alisnya bingung. Ia bergantian menatap Celine dan juga Christine yang meringkuk di depan pintu.
"Maksudnya apa ini? Bukannya kamu selingkuh dengan istri saya?" tanya Hasnan bingung. Jujur! Ia tak menyangka bahwa mantan pacar yang masih di ingat istrinya sampai sekarang ternyata sudah beristri.
"Saya dan Christine sudah lama selesai. Terlebih lagi, saya masih waras untuk tidak berselingkuh dengan perempuan yang sudah bersuami."
"Lalu, kenapa Christine bisa ada di sini?" Hasnan bertolak pinggang. Wajahnya masih terlihat angkuh namun sudah mulai sedikit bisa membaca situasi. Ya, firasatnya menyatakan telah melakukan kekeliruan dengan memukuli Pandu bahkan sebelum lelaki dengan lesung di pipi itu menjelaskan apa-apa.
Pandu menoleh menatap Christine yang meringkuk di depan pintu apartemennya. Pria itu menghela napas. Sedikit prihatin pada Christine yang sebenarnya juga memiliki kehidupan yang terbilang pelik. Dulu, Christine lebih memilih menikah dan menjadi istri siri Hasnan Pranuadji karena tergoda akan fasilitas yang Hasnan tawarkan. Ia meninggalkan Pandu begitu saja kala itu karena tahu bahwa pekerjaan Pandu bukanlah pekerjaan yang akan menjanjikan dirinya untuk menjadi seorang Nyonya Besar di masa depan. Namun, ketika ia telah mengambil pilihan dan menjalaninya, lama kelamaan Christine sadar akan satu hal. Harta tidak cukup untuk membeli waktu yang kita habiskan bersama orang yang di cintai.
Status istri simpanan membuat Christine kerap kali kesepian. Di tinggal suami sudah merupakan hal yang biasa. Terkadang, suaminya hanya datang padanya jika ingin meminta jatah. Dan, setelah itu Hasnan akan pergi. Tidak akan menetap lama untuk sekadar berbicara atau menemani Christine hingga tertidur. Christine mulai kesepian seiring waktu yang berjalan. Uang transferan dalam jumlah besar dari Hasnan setiap bulan nyatanya tak mampu mengisi kekosongan yang ada di hati Christine. Ia butuh hal yang jauh lebih penting dibanding uang. Ia butuh seorang teman yang mau mendengar kisahnya dan juga mengerti dirinya. Dan, bersama Hasnan ia tak menemukan semua itu.
"Dia kabur karena anda sering memukuli dia!" kata Pandu dengan nada prihatin. Ya, itulah alasannya mengapa ia membiarkan Christine menginap di tempatnya malam ini. Ia khawatir jika Christine tidur di hotel atau penginapan lainnya, Hasnan akan mudah menemukannya dan tentu saja akan menambah hukuman untuk Christine yang terbukti kabur.
Hasnan mengusap wajahnya. Ia melirik Christine yang semakin meringkuk ketakutan. Ada perasaan menyesal karena sudah bermain kasar pada Christine. Padahal, wanita itu hanya meminta waktu yang lebih banyak untuknya.
"Ayo, pulang!" Hasnan mengulurkan tangan.
"Nggak mau," tolak Christine.
"Kalau tetap di sini, media bisa tahu kalau aku ini benar punya istri simpanan. Kamu mau karirku didunia politik berakhir?"
"Aku nggak peduli." Christine melengos. "Aku mau cerai!"
"Christine!" Hasnan menggeram. Bukan ini yang ingin ia dengar dari istri keduanya. "Kamu pikir, cerai itu gampang?"
"Gampang. Kamu tinggal talak aku, selesai kan? Toh, nikah kita juga cuma nikah siri. Aku lelah jadi bahan pelampiasan emosi kamu, Bang! Istri sah kamu dan media tahu tentang perselingkuhan kita, kenapa justru aku yang kamu salahkan? Bukannya kamu juga punya andil yang besar dalam hal ini? Kenapa cuma aku yang dipukul? Kenapa cuma aku yang dimaki? Padahal, dalam kasus ini kamu dan aku sama salahnya." Christine menangis. Ia meluapkan segala beban yang dua bulan terakhir sangat ingin ia tumpahkan.
"Sudah mulai berani ya kamu?" Tangan Hasnan melayang hendak memukul Christine. Wanita itu hanya memalingkan wajah sembari memejamkan mata.
"Anda tidak bisa memperlakukan wanita seperti ini, Tuan Hasnan!" Pandu menahan tangan Hasnan yang terayun di udara.
"Lepas!" perintah Hasnan yang tentu saja tidak akan dituruti Pandu.
"Kamu berani melawan saya?" Hasnan menggeram. Sesaat, ia menoleh pada 5 ajudan yang ia bawa kemari. Memberi kode agar mereka memberi pelajaran pada Pandu.
"Pak Bima...," teriak Celine keras. Sontak saja, semua orang menoleh padanya.
Celine melakukan panggilan video di saat ada kesempatan. Bersyukur, panggilan video itu bisa di angkat cepat oleh atasannya. Tanpa sadar, ia memekik senang karena merasa Bima dapat ia jadikan tameng demi mengusir Hasnan dari tempat mereka.
"Kamu kenapa VC di jam segini, Celine?" tanya Bima dengan wajah datar seperti biasa.
Celine segera mengarahkan kamera ke arah Pandu dan Hasnan.
"Bapak kenal orang itu?"
"Kenapa seorang Hasnan Pranuadji ada di tempat kalian?"
Suara itu cukup membuat Hasnan Pranuadji merinding. Masih dapat ia ingat bahwa pemilik suara itulah yang pernah menjatuhkan salah seorang pejabat dengan mengekspos skandal perselingkuhannya bersama model yang kini sudah meninggal bernama Karina. Ia tahu, posisinya juga tidak akan menguntungkan jika berurusan dengan lelaki dari keluarga Dirgantara. Entah dengan Tuan Satya ataupun anaknya. Mereka berdua bukan orang yang sembarangan bisa di ganggu.
"Pak, mereka mau ngeroyok Pandu!" ucap Celine dengan suara persis anak kecil yang mengadu pada ayah mereka karena telah di ganggu oleh anak lain. Isak tangisnya berusaha ia tahan. Hidungnya bahkan sudah semakin memerah. Ellena yang juga turut muncul di kamera terdengar bertanya ada apa pada suaminya sehingga Celine bisa sesedih itu.
"Masalahnya apa?" tanya Bima dengan suara yang lebih cenderung ke malas. Bukan karena ia tak peduli pada masalah Pandu dan Celine. Melainkan, karena akhir-akhir ini ia memang sedikit lemas dan gampang berubah suasana hati semenjak Ellena hamil lagi. Ngidam? Mungkin saja. Lagipula, masalah Pandu di keroyok bukannya itu tidak apa-apa? Bukan hal besar yang harus ditanggapi serius mengingat Pandu pasti bisa mengalahkan lawan sebanyak itu seorang diri. Pandu yang sekarang sudah jauh lebih kuat semenjak peristiwa penculikan Ellena dulu.
"Pandu cuma nolongin istri simpanannya. Tapi, malah Pandu dituduh selingkuh sama istrinya."
"Berikan HP kamu ke Hasnan!" Bima terlihat sedang memakai jasnya.
"Kalau di banting gimana?"
"Saya paksa dia beliin kamu yang baru!" kata Bima tanpa beban.
Celine mengikuti perintah Bima. Ia menyerahkan ponselnya pada Hasnan.
"Tuan Pejabat yang terhormat! Apa kabar?" sapa Bima ramah. Namun, bagi seorang Hasnan itu lebih seperti kata sambutan sebelum menuju ke neraka. Jadi, selama ini Pandu adalah orang Bima Dirgantara? Ia tak pernah tahu karena menurut info yang Hasnan dapat, Pandu hanya seorang supir. Dengan siapa dia bekerja? Hasnan sebenarnya tidak peduli. Kini, ia baru menyesali tentang betapa bodohnya dia yang tidak menggali informasi dengan benar. Ia terlalu meremehkan pemuda di depannya ini.