Melakukan hubungan satu malam dengan wanita yang tak ia kenal. Hingga merenggut kesucian tanpa peduli dengan Isak tangis penolakan.
"Aku mohon jangan buang benihmu di rahimku!"
"Beruntunglah aku masih berbesar hati terhadapmu!"
Tapi di saat Bastian mulai mencari keberadaan wanita itu, dia harus menerima kenyataan jika wanita yang ia perkosa telah sah menjadi istri dari Ayahnya.
Akankah Bastian terima dengan pernikahan mereka?
Atau justru nekat berhubungan dengan Ibu Tirinya?
Ig weni0192
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Bastian menurunkan Kinara di atas ranjang, mengecup seluruh wajah wanitanya kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Kinara hanya diam memperhatikan, melihat Bastian yang sudah berlalu di balik pintu membuatnya tersenyum. Pandangannya menyapu setiap sudut kamar pria itu, wangi parfumnya begitu menenangkan. Sepertinya ia akan betah berlama-lama di kamar itu.
Apa lagi kamar Bastian begitu rapi dan terawat, membuat Kinara betah dan kembali merebah dengan hati tenang. Baru pertama masuk ke dalam kamar pria namun sudah merasa nyaman, sudah pasti akan kembali singgah jika sudah begini.
Bastian keluar kamar mandi dengan wajah yang fresh, tersenyum melihat Kinara yang memejamkan mata dengan lekukan bibir ke atas.
"Kamu bisa kapan saja masuk ke kamar aku, tidur sini juga nggak apa-apa. Di jamin nyenyak apa lagi ada yang meluk." Kinara membuka mata dan mendekati Bastian yang duduk di tepi ranjang. Dengan manja memeluk Tian dengan tubuh yang merapat.
Bastian membalasnya dengan gemas, dia senang Kinara begitu manja padanya. Sadar efek dari kehamilannya membuat ia berfikir kenapa tidak sejak awal saja menghamili. Sikap Kinara berubah drastis jauh dari biasanya, sangat lembut dan ingin selalu menempel padanya.
"Sayang laper nggak? udah mau jam makan malam, mau turun apa masih betah disini?" Tanya Bastian dengan mengusap lembut pipi Kinara dengan sesekali memberi kecupan.
"Masih pengen di sini!" rengeknya, malah kini Kinara semakin mengeratkan pelukannya membuat Bastian makin geregetan. Tubuhnya pun mulai bereaksi dengan si Tom yang ingin ikut andil.
Bastian menarik nafas panjang, menahan sesuatu yang kian menyiksa. Sesak sekali rasanya, sudah ingin menyembul namun posisi Kinara membuat Si Tom tak bisa bergerak.
Kinara dengan santai menindih, lengannya yang melingkar erat, auto ngilu kena sikut. Mendadak mules dan gelisah.
"Kamu kenapa?" tanya Kinara heran namun tak mengubah posisinya yang masih melingkar dan menindih.
"Si Tom minta keluar, gimana dong? dia nggak tahan katanya sama kamu." Bastian menarik nafas dalam, ternyata yang menyakitkan bukan melihat ibu tirinya di nikahi dengan Papahnya, namun yang lebih menyakitkan kala dirinya harus menahan sesuatu yang menjambak, menahan sesak dan hendak keluar namun tertahan karena pergerakan yang tidak bebas.
Mata Kinara beralih tempat dimana si Tom berada, mengamati dengan tatapan berbeda syarat akan penolakan yang membuat Bastian pusing kepala.
Namun seketika mata Bastian terbelalak saat merasakan suatu angin segar di kepala Tom yang yang kini sudah terbebas tak berbalut. Bahkan Bastian di buat menganga dengan menahan rasa melihat Kinara begitu lahap.
"Oh shiit baby....."
"Gila kalo buntung bikin loe liar begini, ngapa nggak dari awal aja!"
Mata Bastian terpejam menikmati, Kinara dengan gagah memimpin permainan hingga peluh mulai bercucuran. Sedikit mengimbangi agar wanitanya tak kepayahan dan ikut memberi sentuhan agar Kinara makin menggila.
Rasa menggebu menyatu menjadi satu, seiring dengan gerakan yang terus beradu. Sampai lupa jika kini keduanya tengah berada di tempat yang berbahaya. Dan tak ingat jika jam makan malam sudah terlewatkan.
Bastian pun tak ingin diam saja, mengambil alih dan memposisikan Kinara dengan nyaman. Mulai mengeksekusi lawan dengan perlahan namun sangat melenakan. Bastian begitu gemas tetapi sadar jika di dalam perut Kinara ada nyawa yang harus di jaga. Meskipun dia membawa hormon baik, membuat Ayahnya merasa senang dengan perubahan sikap Mamahnya.
Namun masih harus menahan agar tetap bergerak lembut seiring gerakan yang syahdu. Ranjang yang rapi berubah menjadi berantakan, bantal berjatuhan di lantai dengan tatanan yang tak beraturan. Ini kali pertama kamar Bastian di selimuti dengan kehangatan dan suara manja wanita.
Sikap Kinara membuat gairah semakin memuncak, begitu menantang dengan suara yang menggelitik telinga. Tanpa sadar gerakan keduanya begitu cepat dengan desahaaan yang semakin menggema.
Sapuan keringat dari tangan Bastian perlahan mengusap kening Kinara. Wanita itu tergeletak dengan nafas ngos-ngosan. Sudah mencapai puncak bersama dan kini merasa tubuhnya begitu lemah. Namun sejak tadi belum mau melepas dekapan Bastian hingga membuat pria itu agak kesulitan memakai pakaian.
"Mau bersih-bersih sekarang sayang?"
"Bentar dulu, masih mager banget. Tapi nggak apa-apa kalo ke kamar mandinya di gendong kamu." Bastian mengulum senyum, kemudian mengangkat tubuh polos Kinara menuju kamar mandi. Memasukkannya ke dalam bathtub dan membersihkan wanita itu dengan sabar. Semua hal baru hanya dengan Kinara ia lakukan. Hatinya bahagia hingga lupa akan bahaya yang kapan saja menyambutnya.
Keduanya kini sudah memakai kembali pakaian dengan rambut yang sama-sama basah, mandi di malam hari berdua tak membuat bumil yang satu ini kedinginan. Karena sejak tadi terus menempel hingga Bastian kewalahan.
"Manjanya kamu, aku suka sayang!"
Tian mengajak Kinara untuk kembali ke kamar, malam ini mungkin ia akan order makanan saja untuk makan malam yang sudah terlewatkan. Dan membiarkan Kinara menunggu di kamar barulah ia memesan.
"Tian, nanti kalo ketahuan mas Bara bagaimana? Dia pasti curiga lihat aku keluar dari kamar kamu! Bagaimana jika ia marah?" tanya Kinara setelah sejak tadi lupa akan statusnya.
"Semoga Papah belum pulang," jawab Bastian kemudian mengecup kening dan bibir Kinara. Namun saat melepaskan Kinara seperti tidak rela, dia mengalungkan tangannya di pundak Bastian hingga keduanya kembali mengeratkan.
Bastian begitu senang, menerima dan kembali menyapa Indra perasa yang membuatnya ketagihan. Bahkan kembali mengeratkan pelukannya dengan tangan yang sudah merusuh masuk ke dalam kaos Kinara.
BRAK
Keduanya terjingkat manakala pintu terbuka dengan begitu kencang. Melepaskan paguutan yang sudah mulai dalam. Dan menoleh mendapati seseorang yang kini menatap dengan tajam.
agar bisa gitu jd teman istrinya pak yuda, setdknya dia aman
racuni bokap Lo atau rusak mobilnya biar cepat²koid dan Lo berdua buru nikah deh,seblm dosa Lo berdua byk