Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Kartu Nama dan Bayang Masa Lalu
~ HAPPY READING ~
|
Satu minggu berlalu sejak mendiang ibunya dikebumikan. Rumah kecil di pinggiran Kota A itu kini terasa begitu sepi dan dingin. Di dalam kamarnya yang sederhana, Leila duduk bersila di atas lantai semen, merapikan pakaian dan barang-barang peninggalan ibunya ke dalam sebuah kardus tua.
Leila memutuskan untuk meninggalkan desa. Di sini, memori tentang ibunya terlalu kuat dan terus-menerus mengiris hatinya. Ia harus pergi ke pusat Kota A, mencari pekerjaan demi menyambung hidup yang harus tetap berjalan.
Di jemarinya yang tipis, Leila menggenggam sebuah kartu nama elegan bertuliskan nama yang sangat familier: Arton Cassian Veradoux. Setitik senyum tipis yang pahit terbit di bibirnya saat menatap kartu nama tersebut.
"Arton... aku akan pergi ke kota. Semoga kita tidak perlu bertemu lagi," gumam Leila pelan.
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan pikirannya kembali melayang masuk ke masa lalu.
[FLASHBACK ON]
Tepat lima tahun yang lalu, pertemuan pertama antara Leila dan Arton terjadi. Sebuah ketidak sengajaan yang tanpa disadari menjelma menjadi kisah manis namun tersembunyi.
Pagi itu, matahari bersinar hangat seperti biasa. Leila ditemani sepupunya, Bagas, beraktivitas menjalankan rutinitas mereka. Pagi harinya mereka membantu ibu mereka di sawah. Begitu matahari tepat berada di atas kepala, keduanya kembali ke rumah.
"Lei, nanti sore jadi pergi ke pinggiran kota?" tanya Bagas sambil membasuh tangannya.
"Jadi! Nanti di bawah kolong jembatan ya, Gas. Bawa buku-bukunya anak-anak, pasti senang kalau kita bawakan buku cerita baru," jawab Leila penuh antusias.
Setelah tamat SMA, Bagas dan Leila memang tidak melanjutkan kuliah karena terkendala biaya. Leila memilih membantu ibunya bekerja di sawah, begitu pula dengan Bagas. Namun, sore harinya, mereka mengalihkan energi untuk membuka kelas mengajar gratis bagi anak-anak jalanan. Tujuannya sederhana: agar anak-anak kurang beruntung itu setidaknya bisa membaca, berhitung, dan menulis.
Sore itu, hawanya terasa tidak biasa. Di tengah perjalanan mengajar, Leila mendadak memegangi tengkuknya yang merinding.
"Kenapa, Lei?" tanya Bagas penasaran melihat gerak-gerik sepupunya.
"Gak tahu... perasaanku tiba-tiba gak tenang. Kayak bakal ketemu cinta pertama aja," jawab Leila bercanda sambil terkekeh.
"Hahaha!" Bagas langsung tertawa sejadi-jadinya. "Pangeran berkuda putihmu itu? Hahaha, zaman sekarang mana ada lagi cowok naik kuda, Lei! Adanya naik motor atau mobil!"
"Boleh juga tuh, naik mobil Lamborghini!" timpal Leila lagi diiringi tawa renyah.
"Mimpi kamu terlalu tinggi, Lei!" sahut Bagas berusaha membangunkan Leila dari angan-angannya.
"Yah, kalau jodoh siapa yang tahu, uuu~" sahut Leila tak mau kalah.
Namun, di sela-sela canda dan tawa mereka, seorang pria bersetelan rapi tiba-tiba muncul dari balik semak-semak dengan napas terengah-engah.
"Tolong...!" panggil pria itu. Pakaiannya rapi namun berantakan, dan dari pelipisnya mengalir darah segar. "Kami dikeroyok oleh preman setempat!"
"Hah?! Kok bisa?!" jawab Leila terkejut setengah mati.
"Tolong, Nona... majikan saya masih dikepung di sana!" tunjuk pria itu ke arah tanah lapang di balik pepohonan, di mana sekelompok orang tengah adu jotos.
Leila bergerak cepat. "Gas, kamu bawa handphone, kan?"
"Bawa, nih!"
"Masih ada kan audio sirine polisi di HP kamu?"
"Masih!"
"Gini, kita bertiga lari ke sana sambil teriak 'Polisi! Polisi!', terus sirinenya diputar sekencang mungkin. Paham, kan?" jelas Leila cepat.
"Paham!"
Sesuai rencana cerdik Leila, mereka bertiga berlari mendekat sambil berteriak histeris dan memutar suara sirine polisi dari ponsel Bagas. Spontan, preman-preman yang sedang mengeroyok itu langsung panik dan kabur tunggang langgang ketakutan.
"Hahaha!" Leila dan Bagas tertawa puas melihat para penjahat itu kocar-kacir.
"Kan! Mereka takut sama polisi. Denger suara sirine aja langsung lari terbirit-birit!" ujar Bagas diiringi tawa.
"Udah ketawanya, ayo kita bantu dulu pria ini," ujar Leila, melangkah mendekati sang majikan yang masih berdiri menahan sakit.
"Terima kasih..." ujar pria itu tulus.
Dan tepat saat pria itu mendongak, tanpa sengaja tatapan mata mereka saling mengunci.
Deg... deg...
Tiba-tiba saja jantung Leila berdetak tidak karuan. ‘Kenapa ini? Kok tiba-tiba...’ Ucapan Leila menggantung dalam hati, enggan menyimpulkan perasaannya terlalu dini.
"Sama-sama, Tuan," ujar Leila ramah sambil mengulurkan tangannya. "Saya Leila Caelise. Panggil saja Leila."
Pria itu menyambut uluran tangan Leila dengan sangat lembut. "Arton. Arton Cassian Veradoux."
Mendengar nama belakang 'Veradoux', Leila dan Bagas langsung membelalakkan mata.
"An-Anda... Tuan Arton pebisnis terkenal itu?!" ujar Bagas penuh antusias.
"Perusahaan saya tidak sebesar itu..." Arton jeda sejenak, lalu tersenyum tipis. "Dan jangan panggil saya Tuan."
"Eh, iya... Arton," cengir Bagas.
"Perusahaan Veradoux itu milik Papa saya. Perusahaan saya sendiri masih merintis, namanya Arton Group," jelas Arton rendah hati.
"Jadi, kenapa Kamu bisa ada di area pinggiran kota seperti ini?" tanya Leila penasaran dengan senyum manisnya.
‘Cantik...’ batin Arton tanpa sadar memuji kepolosan dan kecantikan gadis di depannya.
"Kami sedang survei lahan. Ada seseorang secara anonim ingin menjual tanah tidak jauh dari sini. Tapi saat kami baru memasuki kawasan pinggiran kota, orang-orang tadi langsung menyerang kami," terang Arton.
"Secara anonim? Gas, emangnya di kampung kita ada yang mau jual tanah?" tanya Leila pada sepupunya.
Bagas menggeleng heran. "Gak ada. Tapi aku dengar-dengar Pak Kades kita ngotot banget nyuruh semua warga jual tanah. Katanya mau ada pembangunan... Jangan-jangan ini konspirasi?"
"Bisa jadi," gumam Leila.
Karena hari semakin sore, Leila dan Arton akhirnya bertukar nomor telepon agar bisa saling mengabari perkembangan informasi tersebut. Seminggu kemudian, usut punya usut, dugaan mereka benar. Pak Kades ternyata bersekongkol dengan salah satu direktur di Arton Group! Pak Kades membeli tanah warga dengan harga murah, lalu si direktur akan mengajukan anggaran harga tinggi kepada Arton. Kelebihan dana tersebut nantinya akan dibagi dua oleh Pak Kades dan si direktur licik.
Setelah masalah korupsi itu selesai diusut, hubungan Arton dan Leila tidak berhenti begitu saja. Mereka jadi sering bertemu, terutama saat Leila sedang mengajar anak-anak jalanan.
Tanpa mereka sadari, benih-benih cinta perlahan tumbuh makin dalam. Arton dengan terang-terangan mengejar cinta Leila, hingga akhirnya Leila luluh. Mereka menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi Arton sembunyi dari keluarga besarnya, dan Leila sembunyi dari ibunya.
Sebab, ibu Leila menentang keras putrinya berhubungan dengan anak konglomerat mana pun. 'Orang kaya itu berkuasa, Lei. Anaknya mungkin baik, tapi keluarganya bisa sangat kejam,' begitulah peringatan tegas sang ibu.
Namun sayang, jalinan asmara itu hanya bertahan selama satu bulan. Hubungan rahasia mereka tercium oleh ayah Arton. Tanpa bisa melawan, keesokan harinya Arton langsung dijodohkan dan dipertunangkan secara paksa dengan Helena. Berita pertunangan mewah itu tersebar luas di seluruh media nasional.
Sejak pagi hari berita itu tayang, Leila berulang kali mencoba menghubungi Arton untuk meminta penjelasan. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari pria itu.
Akhirnya, sejak hari kelam itu, hubungan mereka berakhir begitu saja tanpa kata putus, dan tanpa kejelasan. Leila memilih mengubur dalam-dalam cintanya untuk Arton di lubuk hati yang paling dasar, menenggelamkannya agar tidak kembali muncul ke permukaan dan menyiksanya lagi.
[FLASHBACK OFF]
Leila menggelengkan kepalanya, menghapus bulir bening di sudut matanya. Ia menghela napas panjang, menguatkan hatinya sendiri.
"Semangat, Leila. Dan semoga... kita benar-benar tidak akan pernah bertemu lagi, Arton."
Deg...!
Sementara itu, jauh di lantai teratas gedung Arton Group, Arton yang sedang fokus memimpin rapat direksi mendadak menghentikan bicaranya. Pria itu memegangi dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang tanpa alasan.
‘Perasaan ini... seperti seseorang dari masa lalu akan kembali,’ batin Arton risau.
"Ada apa, Tuan?" tanya sekretarisnya yang berdiri di samping Arton dengan cemas.
Arton menguasai diri, mengibaskan tangannya pelan. "Tidak ada apa-apa. Ayo lanjutkan rapatnya."
Bersambung 🫰🏻🤗
Bab 4 ini hasil revisi terbaru ya guys
kamu keren wuw ☺👍
hati2 ya kalian semua /Determined/