Kisah tentang pengkhianatan seorang yang kamu kasihi, tentang cinta yang tulus dan takdir yang tak mau memisahkan mereka.
Takdir yang telah terikat sejak mereka kecil, yang akan membawa masa depan kerajaan ini pada kebenaran murni dibalik rahasia yang telah membuat sang raja membenci wanita yang dicintainya.
.
.
Raja terdiam setelah tangan mungil itu menyentuh pipinya. Ia dapat merasakan tangan dingin itu. Hal itu membuat tangan nya yang mencengkeram leher Selir Mina mengendur.
Selir Mina terbatuk keras hingga berlinang air mata. Lehernya bahkan memerah karena cengekeraman raja.
Raja melihat leher itu. Seketika tangannya mengepal. Ia merasa bodoh. Bangaimana mungkin ia tak bisa mengendalikan amarah nya begini. Mina belum boleh mati. Ini belum saat nya.
Mina langsung berlutut dan berbicara tersenggal.
"Ma..afkan ke..lancang..an hamba yang mu..lia" Mina berusaha keras untuk berbicara walau tenggorokannya masih terasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee_put, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 - Putra Mahkota Jinggara -
"Ampun yang mulia raja, hamba berharap anda segera mengangkat selir Alifa sebagai seorang ratu, karena jika tidak fondasi negeri ini tanpa putra mahkota yang sah akan hancur yang mulia" Mentri pertahanan menyampaikan pemikirannya.
"Benar yang mulia, terlebih sudah 6 tahun kita berselisih dengan Valencia dan dua negara sekutu kita memilih menerima resimen yang diajukan Valencia saat itu.
Arigrath terus menekankan kedua jemarinya pada pelipis nya. 'selalu ini yang mereka ributkan!' pikirnya.
Saat ini memang kedudukan ratu kosong. Bahkan sejak 6 tahun yang lalu, walau ia memiliki 5 selir dan selir pertamanya selir Afila telah memberikan seorang putra sejak dulu. Ia tetap tak Sudi dan tidak bisa memberikan tampuh kekuasaan ratu selain kepada Mina.
Pangeran Davreth merupakan anak lelaki sulung nya , ia bahkan mempunyai 3 putra lagi dari selir yang berbeda. Ia sadar , ini akan menyebabkan kekacauan perebutan tampuh kekuasaan putra mahkota nantinya terlebih ketika mereka memasuki Daejeon.
Arigrath akhirnya mengambil keputusan.
"Baiklah aku akan menetap kan siapa putra mahkota yang akan kupilih kelak diantara keempat pangeran yang layak."
Para menteri kaget dan tak menyangka akan keputusan itu. Setelah sekian lama akhirnya raja memutuskan untuk mengisi kekosongan putra mahkota.
Berita ini segera tersebar ke penjuru istana dalam dan didengar oleh para selir. Dari ke lima selir tersebut selir Alifa sangat murka, ia mengira bahwa saat raja memutuskan akan mengangkat putra mahkota maka anaknya, pangeran Davreth dapat langsung menduduki posisi nya mengingat ia merupakan selir pertama dan anak nya adalah anak yang paling tua diantara para pangeran lainnya.
Selir lain yang mempunyai pangeran terlihat bangga dan senang hati karena bisa jadi pangeran mereka menjadi putra mahkota
Selir Alifa tak bisa tinggal diam. Dia harus melakukan sesuatu. "Dimana pejabat sairta?"tanya nya pada seorang dayang.
"Ampuni hamba yang mulia, Tuan Sairta masih belum kembali dari Valencia."
"Sial!! Apa yang diperbuat nya disana? Segera kirim surat padanya minta ia segera kembali ke Jinggara"
"Baik yang mulia"
...****************...
Ditempat lain, Sairta bersama keponakan nya sedang berjalan jalan membeli kertas dan tinta. Sairta berniat mengajari keponakan nya itu membaca dan menulis.
"Paman, bagaimana dengan yang ini?" Alfreth bertanya padanya sembari memberikan kertas dengan bahan vilen yang indah di pinggirnya.
"Oh kertas ini cukup bagus dan tak akan membuat mu susah untuk membaca."
"Oh benarkah paman?" Alfreth tersenyum.
"Tapi paman, apa tidak apa-apa aku membaca dan menulis ini terlebih dulu sebelum memasuki Daejeon?"
Sairta tersenyum dan berlutut di hadapan keponakan nya itu "bukannya kau yang selalu menggangu paman untuk mengajarkan mu ini?"
"Hehehe iya sih" Alfreth hanya tertawa.
Setelah itu Sairta mengajarkan cara membaca kitab dan menulis yang harusnya diajarkan pada anak-anak yang akan memasuki Daejeon sekitar usia 9-10 tahun
Karena Alfreth yang terbilang pintar ia cepat memahami pembelajaran , Sairta bahkan terus memujinya. Tak terasa sudah dua Minggu dan Alfreth telah bisa membaca dan menulis kata.
Mayang yang awalnya khawatir pun akhirnya bangga, ia menjadi tak begitu khawatir lagi untuk meninggalkan anaknya sendiri karena ia mempunyai kegiatan yang ia sukai. Di rumah nya pun banyak buku-buku dari berbagai negeri yang dibawa oleh Sairta dan akhirnya menjadi kesukaan anaknya itu.
Hingga suatu hari, surat selir Alifa yang meminta nya untuk kembali ke Jinggara datang.
Memang sudah cukup lama ia meninggalkan posisi nya sebagai pejabat kerajaan disana. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Jinggara keesokan harinya dengan kapal
"Guru, apakah ini benar?" Bahkan panggilan Alfreth telah berubah kepadanya. Ia akan memanggilnya guru disaat belajar
Sairta tersenyum "Kau sudah semakin mahir."
Alfreth tersenyum, ia senang hingga gurunya menyampaikan kabar itu
"Besok, paman akan kembali ke Jinggara lagi untuk bekerja. Kau dan ibu mu serta para bibi mu tetap lah disini"
"Kenapa tiba-tiba paman? Lalu bagaimana dengan pelajaran yang akan paman ajarkan padaku?" Memang masih ada beberapa pembelajaran yang ingin ia selesaikan
Sairta hanya berdiam diri. Sebenarnya ia masih ingin tetap berada bersama mayang dan keponakan nya. Tapi tugas telah memanggil.
"Mau bagaimana lagi. Kita akan menundanya"
"Yah... Bukannya jika seperti itu akan menyebabkan gulma akan menjadi air racun tak berguna?"
Sairta tersenyum, bahkan keponakan nya sudah pandai bermain kiasan. Hal ini cukup hebat untuk anak seusianya.
"Apakah aku tak bisa ikut dengan paman? Aku juga kangen dengan nenek disana. Lagipula paman akan tetap bisa melanjutkan mengajariku"
Sairta terkejut dengan pemikiran itu. Akhir nya ia memutuskan untuk merundingkan nya dengan Mayang
...****************...
Setelah dirundingkan, Mayang mengizinkan Alfreth untuk ikut dengan sepupunya itu. Sairta dan Alfreth pun akhirnya berangkat dengan kapal dan tiba di dataran Jinggara 4 hari kemudian.
Alfreth bertemu dengan neneknya, Sima Bi. Nyonya Sima sangat senang dengan kedatangan cucunya itu.
Di istana Jinggara, selir Alifa sangat murka dengan pejabat Sairta.
"Bagaimana kau bisa bepergian jauh selama itu? Aku memberi mu izin tetapi tak kusangka kau akan memakai nya hingga selama itu" selir pertama itu mencibir kelakuan Sairta yang tak seperti biasanya.
Sairta tersenyum kecil "ampuni hamba yang mulia selir. Saya terlalu menikmati liburan tersebut bersama ponakan saya."
"Ponakan? Oh anak dari adik perempuan mu itu?"
"Benar sekali yang mulia"
"Yah... Sudah lah. Sekang kembali ke permasalahan, raja akan segera mengangkat putra mahkota. Tetapi bukan pangeran Davreth yang akan menjadi putra mahkota, ia akan melakukan pemilihan sendiri."
"Lalu apa yang anda inginkan untuk saya perbuat?"
"Ajarlah putra mahkota, buat ia menjadi layak dalam satu bulan ini. Karena bulan depan akan diadakan pemilihan"
"Baiklah yang mulia. Saya akan melakukan permintaan yang mulia. Apakah ada yang lain lagi yang mulia?"
"Tidak, kau boleh pergi." Sairta beranjak pergi dari sana dan beranjak menuju pintu.
"Sebentar Sairta. Apakah aku bisa mempercayai mu?" Selir Alifa terlihat murung.
Sairta tersenyum dan berbalik "tentu saja yang mulia. Anda telah melindungi keluarga saya dan sepupu saya"
Selir Alifa tersenyum sendu"Mina adalah sahabat ku juga. Hanya itu yang dapat kulakukan selama dia dapat menghilang dari hadapan suami ku"
Sairta akhirnya menunduk hormat dan pergi dari bilik itu. Benar, yang membantu ibunda Mina keluar dari pengasingan itu adalah selir Alifa, bahkan ia membantu menyembunyikan keberadaan Mayang selama di Jinggara hingga mayang kembali ke Valencia
...****************...
Akhirnya pembelajaran untuk menjadikan pangeran Davreth sebagai putra mahkota dimulai.
Pangeran Davreth adalah tipe orang yang tidak pernah ingin menjadi putra mahkota walaupun ia adalah anak sulung dan sebenarnya ia mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas untuk anak berusia sekitar 6 tahunan.
Ia lebih suka menjadi seorang ksatria dan bepergian ke berbagi tempat bukannya hanya duduk tenang kelak.
Oleh sebab itu ia selalu menunjukkan sikap malas dan tampak lebih lemah dibanding kan dengan pangeran lainnnya. Mungkin inilah yang menyebabkan raja berpikir dan ingin menentukan putra mahkota nya sendiri.
Saat itu ia sangat senang, tetapi ketika mendengar bahwa ibunda nya mengirimkan seseorang untuk mengajarinya maka dapat ia pastikan ibundanya masih berambisi untuk menjadikan nya sebagai seorang putra mahkota.
"Baiklah yang mulia, kita akan mempelajari asaz simcon, asaz yang menjadikan seorang raja berdedikasi kepada langit dalam mengambil tindakan.
Davreth terlihat bermalas-malasan dan hanya menguap beberapa kali. Sairta menghela napasnya beberapa kali, ia sebenarnya kesal dan tidak tahan dengan sifat putra mahkota.
"Yang mulia saya harap anda tidak bermalas-malasan seperti ini"
Davreth hanya mengangguk "Aku tidak bermalas-malasan"
Sairta terus menarik napas nya dalam ia harus mencari jalan lain untuk mengajari pangeran ini.
"Bagaimana jika dipertemuan selanjutnya saya kan membawakan anda seorang teman agar anda lebih bersemangat?"
"Bukannya percuma, aku sudah sering tertidur di kelas saat belajar dengan pangeran lain."
Sairta tersenyum "Bukan dengan pangeran lainnya melainkan dengan seseorang yang mungkin akan menjadi teman mu"
...****************...
Hollaaa... saya kembali dengan lanjutannya. Jangan lupa kritik, saran dan dukungannya untuk cerita The Sun From Valencia ini ys. Terimakasih ☺️