Indonesia
NovelToon NovelToon
Mentari Yang Hilang

Mentari Yang Hilang

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Cintamanis / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Fantasi

tahun 1990, seorang pemuda bernama Ardani Hartanto Kusumo berusia 25 tahun menikahi gadis yang ia jumpai saat berada di hutan. keluarganya tidak merestui hubungan mereka dan membuat Dani marah dan akhirnya pergi meninggalkan rumah demi membela istrinya.

sampai saat itu, ibu Dani bernama Rida Kusumo menjadi sangat membenci menantunya itu, yang menurutnya sudah mengguna-guna putra satu-satunya.

suatu hari, Rida merencanakan untuk melakukan rencana jahat terhadap menantunya yang sangat ia benci. dendamnya berhasil di lakukan. namun sesuatu terjadi setelah kepergian Santi.

bagaimana kisah selengkapnya?
baca lengkapnya hanya di sini ya
no plagiat ‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Fantasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana yang berbeda

Rumah bak istana yang dulu ramai dengan suasana suka cita, kini berubah menjadi kesunyian belaka. Tidak ada lagi percakapan hangat di antara anggota keluarga. Ya, terlihat di sana, Rida sedang duduk termenung. Pandangannya kosong, menatap televisi di depannya, namun seolah tak melihat apa-apa.

Selama kepergian putra satu-satunya, Rida menjadi lebih pendiam. Walaupun punya watak temperamental, namun kini emosinya semakin tidak terkontrol, sering marah-marah tanpa alasan yang jelas. Ia merasakan kehilangan yang amat sangat.

Melihat keterdiaman istrinya, Herman hanya bisa menghela napas kasarnya. Ia melipat koran yang sedari tadi dibacanya, lalu menghampiri sang istri, duduk di sebelahnya. Ia menggenggam lembut bahu Rida.

"Ma... Kamu kenapa sih?" tanya Herman dengan lembut. "Kamu nonton TV, tapi tatapanmu hampa begitu."

Terdengar helaan halus dari Rida. "Mama rindu Dani, Pa..." lirihnya, masih menatap ke depan.

"Sudahlah, Ma, jangan begitu. Dani sudah dewasa. Lagipula, dia memang sudah harus berpisah dari kita. Dia sudah punya istri, biarkan dia hidup mandiri," jelas Herman, mencoba menenangkan.

Mendengar itu, Rida langsung menatap suaminya. Tatapan matanya memerah, dan terlihat genangan air di kelopaknya.

"Dani anakku, Pa! Sampai kapan pun, Dani harus tinggal bersamaku! Perempuan itu telah mencuri anakku dariku, Pa! Aku cuma mau Dani kembali padaku," ujarnya tegas, namun suaranya sedikit bergetar menahan amarah.

"Ma... Dani sudah sah menjadi suaminya Santi. Mau bagaimana pun, Santi menantu kita. Tidak baik Mama bicara begitu," balas Herman, lembut.

Emosi Rida tidak dapat terbendung lagi. Ekspresi amarah kini terpancar jelas. Ia pun berdiri tegak, menatap suaminya penuh amarah. "Itulah kamu! Selalu bela perempuan itu! Anak sama bapak sama saja, tidak ada yang peduli lagi denganku! Benar kata Milly, perempuan itu adalah racun bagi keluarga kita! Aku tidak sudi memanggil namanya, apalagi menyebutnya menantuku! Sampai kapan pun, aku tidak akan anggap dia menantuku, Pa!"

Herman syok mendengar perkataan istrinya itu. Ia pun ikut berdiri, menatap istrinya tidak percaya. "Ma, jangan bicara seperti itu. Itu tidak baik. Dani pergi dari sini juga, kan, karena Mama? Coba Mama lebih baik pada istrinya, tidak akan Dani pergi dari sini," ucapnya, penuh kekecewaan.

Pertengkaran pun memanas. Terlihat Rida sudah meletakkan kedua tangan di pinggangnya. "Oh, jadi Papa menuduh Mama? Apa Papa pikir Mama mau Dani pergi dari sini?!" bentaknya, penuh amarah.

"Bukan seperti itu, Ma... Mama sendiri yang menantang Dani, kan? Ingat, Ma, Dani sudah dewasa. Dia berhak menentukan hidupnya sendiri, termasuk memilih pasangan hidup. Sekarang, dia sudah memulai hidup barunya. Biarkan dia berkembang dengan caranya sendiri," jelas Herman, mencoba meredakan situasi.

Rida tidak bisa berkutik. Memang benar, penyebab Dani pergi adalah karena ulahnya sendiri. Ia pun menatap penuh emosi suaminya yang tidak membelanya sama sekali. Karena kalah berdebat, ia pergi dari hadapan suaminya, kembali ke kamarnya.

Herman hanya bisa menggeleng dan menghela napas kasarnya. Ia merasa lelah dengan sikap istrinya.

Di kamarnya, Rida duduk di tepi ranjang, amarahnya belum redam. Tangannya mengepal kuat, dan giginya bergetar menahan luapan emosi. "Aku akan merebut anakku kembali. Bagaimanapun caranya, aku harus memisahkan Dani dari perempuan itu. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu, perempuan racun!" monolognya, penuh kebencian.

***

Di suatu malam yang sunyi, hati terasa merengkuh ketenangan hakiki. Tak ada keributan, tak ada bentakan, dan tak ada suara yang mengganggu. Di ruang keluarga yang sederhana, yang menyatu dengan ruang tamu, terlihat dua sejoli sedang menikmati waktu berduaan.

Mereka saling memeluk, menatap sebuah bingkai kosong di depannya. Di sana belum ada televisi, namun kebahagiaan mereka tak berkurang. Dani memeluk erat tubuh Santi dari belakang, lalu mulai memberikan kecupan hangat di leher dan pipi istrinya.

Walaupun hidup seperti ini, tak sedikit pun membuat semangat Dani padam. Di sela-sela ia mencium pucuk rambut Santi, ia berpikir sejenak. Selama ini, ia selalu bertanya, jika suatu hal terjadi pada perekonomian keluarganya, akankah ada orang yang mau menerima keadaannya tanpa memandang harta? Kini jawabannya telah ditemukan, di sampingnya, dalam pelukan hangat Santi.

Dani terus memberikan kecupan-kecupan kecil, hingga Santi sendiri yang harus menjauhkan wajahnya dari sasaran suaminya. "Mas, ih, nakal banget," keluh Santi, namun senyumnya tersungging.

Dani hanya terkekeh geli. "Habisnya gemas, sih... Jadi pengin makan kamu," godanya.

Karena kesal, tangan Santi langsung mencubit pelan perut suaminya. "Aawwssh, sakit, Yang," ringis Dani manja, namun diiringi tawa. Ia pun kembali memeluk istrinya, menaruh dagunya di bahu Santi, lalu mencium pipi tembam sang istri.

"Sayang... terima kasih karena kamu mau menerima keadaan Mas yang seperti ini. Kita tinggal di rumah kecil tanpa alat elektronik. Maafkan aku jika belum bisa membahagiakanmu. Jangan pernah tinggalkan Mas, ya, Sayang," ucapnya, tulus.

Mendengar ucapan suaminya, Santi tersenyum tulus. Ia memutar tubuhnya menghadap Dani, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya dan menempelkan kepalanya di dada lelaki itu. "Mas Dani... Justru aku yang seharusnya berterima kasih. Akulah penyebab semua ini, tapi Mas terus membelaku. Hanya Mas yang aku punya sekarang. Ke mana pun dan dalam keadaan apa pun, aku tidak akan pernah tinggalkan Mas," bisiknya, penuh cinta.

Dani begitu bahagia mendengar ucapan istrinya sehingga ia mengeratkan pelukannya.

"Mas, untuk keperluan rumah, apa perlu aku jual cincin ini? Untuk membantu kamu," bisik Santi sambil memperlihatkan cincin nikahnya, yang diberikan Dani saat mereka sampai di kota.

Bukannya marah, Dani justru tersenyum simpul. Ia memegang lembut tangan Santi yang menunjukkan cincin itu, lalu mengelusnya penuh kasih. "Tidak perlu, Sayang. Uang tabungan Mas masih cukup untuk satu bulan ke depan. Tapi maaf, ya, Mas belum bisa belikan apa-apa. Mas janji, setelah Mas diterima kerja, Mas akan belikan apa pun untukmu," ujar Dani, tulus.

"Terima kasih, Mas," lirih Santi.

Apa yang Dani pikirkan, bahwa hidup sederhana tak seburuk itu, ternyata benar. Selama ada Santi di sampingnya, ia akan terus merasakan kebahagiaan.

"Aku sayang kamu," bisiknya.

"Aku juga, Mas," balas Santi, dalam pelukan hangat.

Tatapan mereka pun mulai mengunci satu sama lain. Perlahan, jarak di antara keduanya menipis, hingga bibir Dani menempel di bibir mungil istrinya. Mereka pun bertukaran ciuman, saling melumat mesra. Kedua mata mereka terpejam, menikmati setiap detik yang ada.

Jemari Dani tak diam, ia mulai bergerak, mengelus lembut setiap inci tubuh istrinya. Sentuhannya yang penuh cinta membuat Santi ikut terbawa suasana, membalas setiap perlakuan suaminya.

Usai sepuluh menit berlalu, tautan mereka pun terlepas. Tarikan napas mereka saling beradu, memecah kesunyian malam.

"Yang... Malam ini, ya... Plis," bisik Dani, suaranya sarat permohonan.

Santi yang masih terengah, membalasnya dengan senyum lembut. "Iya, Mas... Boleh."Setelah mendapatkan persetujuan istrinya, wajah Dani berseri. Dengan penuh cinta, ia pun mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke dalam kamar mereka, untuk melaksanakan "ibadah malam," sebuah ritual cinta yang sakral, hanya milik mereka berdua.

***

Di pagi hari yang cerah, terlihat sepasang pengantin baru ini tengah disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Santi membereskan semua area rumah, sementara Dani mencuci pakaian. Selama Dani belum bekerja, ia membantu sang istri untuk membersihkan rumah. Keduanya larut dalam pekerjaan, menciptakan suasana damai dan hangat.

Sementara itu, di luar sana, seorang pengantar surat pos sedang mencari alamat tujuan. Ia bertanya pada warga sekitar, langkahnya membawa ia ke sebuah rumah kecil yang nampak sudah sangat tua. "Permisi... Pos surat..." serunya.

Di tengah kesibukan membereskan rumah, Santi mendengar suara dari arah luar. Ia pun segera keluar. Pintu terbuka, terlihat seorang pengantar pos berdiri di hadapannya. "Iya? Mencari siapa?" tanyanya.

"Maaf, Bu, apakah benar ini rumah Bapak Dani Hartanto? Saya dari pengantar pos, untuk mengantar surat ini," jawab si pengantar pos, menyodorkan sebuah surat.

Santi tak langsung menerimanya, ia sedikit bingung. "Iya, saya istrinya Bapak Dani. Sebentar, ya, Pak, saya panggilkan suami saya," jawabnya, ragu.

"Oh, boleh, Bu," balas pengantar pos itu.

Santi pun bergegas masuk, menemui suaminya di kamar mandi yang sedang membilas pakaian.

"Mas, ada pos mengantar surat," bisik Santi.

Dani yang tengah membilas pakaian langsung menghentikan aktivitasnya. "Ada pengantar pos?" tanyanya, terkejut.

"Iya, dia lagi menunggu di luar," jawab Santi.

Seketika itu juga, Dani meninggalkan pekerjaannya. Tergesa-gesa ia menemui pengantar pos itu di depan rumah. "Halo, Pak, mau bertemu saya?" sapanya.

"Oh, Bapak Dani, ya?"

"Iya, betul, saya sendiri."

Pengantar pos itu kembali menyodorkan surat. "Ini, Pak, surat dari PT xxx. Silakan tanda tangan di sini." Mendengar nama perusahaan itu, hati Dani berdegup kencang. Ini surat balasan dari lamarannya. Dengan senyum sumringah, ia langsung menandatanganinya.

"Terima kasih, Pak, saya permisi," ucap pengantar pos.

"Iya, silakan," balas Dani.

Pengantar pos itu pun berlalu. Dani terus memandangi surat itu dengan penuh kebahagiaan. "Akhirnya dibalas juga..." gumamnya, penuh rasa syukur.

1
Yanti Arlina
sungguh bacaan utk hiburan
Pena Fantasi
Luar biasa
Nikfyni
Ceritanya seru kak..., salam kenal dari cinta Sholeha
Mawar_Jingga
semangat Santi dan Dani💪
Mawar_Jingga
ep ini dapat pemberitahuan tidak kak?
Mawar_Jingga
alangkah sadis mamamertua ini🥵
Mawar_Jingga
duh kasian Nathan😆😆😆😆
Mawar_Jingga
bagus kak
semangat💪
Wanzy_
kerenn
`Vita.via••
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!