Indonesia
NovelToon NovelToon
The Price Of Sincerity

The Price Of Sincerity

Status: tamat
Genre:Romansa / Cintapertama / Model / Playboy / Cinta Terlarang / Chicklit / Tamat
Popularitas:20.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lyaliaa

Harga Sebuah Ketulusan 🥀

Max Miller di tinggalkan oleh tunangannya sesaat setelah dia melingkarkan cincin berlian 1,2 carat di jari manis wanita itu. Sejak saat itu, dia menjadi pria brengsek yang tidur dengan wanita mana pun yang dia mau. Dia tampan dan kaya raya, wanita mana yang sanggup menolaknya. Dan ternyata Jane pengecualian.

Jane Morgan, wanita berusia 25 tahun. Seorang model papan atas di Los angeles. Wanita cantik dan sexy, dan juga wanita yang punya masa lalu. Kenangan di masa lampau yang masih menghantui dan melekat padanya sebagai sebuah trauma. Hingga dia bertemu dengan Max, seorang pria yang ternyata adalah sesuatu yang spesial di hidupnya di masa sekarang. Atau mungkin bisa menjadi masa depannya. Tapi seketika semuanya berubah.

"... Kau tidak bisa membayar ketulusan dengan uangmu, Max," ucap Jane dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Apakah ketulusan pantas di nilai dengan uang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyaliaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelakunya

Satu hari berlalu sejak operasi Max, dia sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP yang ada di lantai 4 rumah sakit bertingkat. Tangannya masih terpasang selang infus yang berisikan darah, transfusi nya masih berlangsung. Kantong darah yang menggantung di tiang infus bersisa sedikit.

Mungkin akan habis sebentar lagi, sayangnya tidak ada stok kantong darah lagi untuk gantinya. Itu adalah kantong terakhir. Semua orang panik. Jane, Shara, Devan dan Dye gelisah sejak pagi ini. Mereka termenung, mereka tidak bisa menghubungi Alex dan juga mereka tidak mendapatkan pendonor.

Sementara itu, polisi masih mencari pelaku penikaman Max. Sepertinya mereka belum menemukan pelakunya karena tidak ada panggilan masuk dari kepolisian.

Jane yang duduk di samping ranjang pasien menggenggam tangan Max, dia berharap pria itu bisa bertahan hingga salah satu ponsel yang ada di dalam ruangan itu berdering. Dia berharap ada yang menelpon dan mengatakan jika ada pendonor, dia sangat, sangat dan sangat berharap.

Clek.

Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka, seorang pria yang mengenakan Hoodie hitam masuk dan berdiri di ambang pintu. Semua mata tertuju padanya. Dia membuka tudung yang menutupi wajahnya, membuat semua orang terkejut dengan kehadirannya. Itu Alex, orang yang sangat diharapkan oleh mereka datang.

"Aku akan mendonorkan darahku." ucapnya nyaring memenuhi segala penjuru ruangan.

Matanya dan mata Jane bertemu, mereka bertatapan. Tapi Shara tiba-tiba berdiri didepan Jane menghalangi pandangan mereka untuk bertemu lebih lama. Ingin rasanya dia membawa Jane menghilang dari sana, tapi tak bisa.

Tanpa jawaban dari siapapun, Devan tiba-tiba berjalan mendekat padanya. "Ikut aku," pintanya sambil menarik pria itu keluar. Tak lama, mungkin sekitar lima menit Devan kembali bersama beberapa perawat, mereka membawa Max keluar dari sana.

Jane ingin ikut, dia ingin selalu ada di samping pria pucat yang tak sadarkan diri itu. Namun Shara menahannya.

"Tetaplah disini, lebih baik kau menunggu disini saja." ucapnya sambil menggenggam pergelangan tangan Jane.

"Tapi Max.."

"Dia akan baik-baik saja."

"Shara.. Aku-"

"Jane. Tak bisakah kau mendengarkan ku sekali saja," tanpa sadar Shara membentaknya. Jane langsung terdiam. Dia berbicara dengan nada tinggi, tak seperti biasanya. Jujur saja, dia sudah sangat ingin membawa Jane pergi dari sana sejak kedatangan Alex beberapa saat lalu. Bahkan dia tak pernah melepaskan botol obat Jane dari tangannya, dia sangat khawatir.

**

Tiga hari berlalu sejak donor darah itu, dan Alex tidak pernah muncul lagi. Kondisi Max sudah membaik, tapi dia belum juga sadarkan diri. Liburan Jane di pantai berubah haluan menjadi penjaga di rumah sakit, dia kembali ke apartemennya hanya untuk mandi dan ganti baju. Lebih banyak waktu dia habiskan di rumah sakit menunggu Max bangun. Meskipun tak tahu kapan pria itu akan tersadar.

Jam makan siang, Jane baru saja selesai mengelap tubuh Max. Tak lama kemudian Shara tiba-tiba datang dan membawakan makanan untuknya. Mereka makan bersama di kursi sofa yang ada di pojok ruangan. Jane sudah mulai makan lahap seperti biasanya, tidak seperti dua hari belakangan ini yang hanya makan secuil.

"Oh, ya. Aku hampir lupa bertanya. Kenapa Dev tiba-tiba ada disini?" tanya Jane sebelum menyuap makanannya.

"Haha, kau masih tertarik dengan orang lain. Kau bahkan tidak menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Hanya sibuk mengurus priamu itu." balas Shara.

"Ayolah. Untuk apa aku menanyai mu saat melihatmu selalu makan di hadapan ku. Aku hanya penasaran dia tiba-tiba muncul malam itu, apa dia..."

"Hei. Apa yang kau pikirkan! Bagaimana mungkin dia, aku yang menyuruhnya kesana."

"Kau menyuruhnya datang? Untuk apa?"

Shara tidak menjawab karena ada makanan di mulutnya, dia hanya memberi isyarat dengan gerakan kepalanya. Dia menunjuk ke arah meja yang ada di samping jendela, meja yang terdapat vas bunga dan juga sebotol obat yang terletak di sampingnya. Obat Jane.

"Kenapa repot-repot, aku sudah bilang aku tidak membutuhkannya lagi," ucap Jane sambil cemberut. "Tidakkah kau lihat aku baik-baik saja saat melihat dia datang kesini."

"Ya, ya, ya. Terserah mau bilang apa. Yang jelas kau tidak boleh membuang obat itu." Shara menyipitkan matanya pada Jane. Menuntut larangan yang tidak boleh di langgar.

Clek. Pintu terbuka, Devan masuk dengan dua kantong plastik berisi kotak makanan di tangannya. Dia menatap Jane dan Shara yang sedang menikmati makanan mereka, wajahnya tampak kecewa.

"Apa itu untuk kami?" tanya Shara.

"Tidak. Ini untukku, makan siang ku," jawab Dev pasti. Padahal sebenarnya dia sudah makan dengan cepat beberapa saat lalu karena takut Jane akan kelaparan, dan satu lagi memang untuk Shara, sekiranya dia juga belum makan. Tapi ternyata begitu dia sampai dua wanita itu sedang makan dengan nikmatnya.

"Apa kau akan makan dua kotak?" tanya Shara lagi.

"Ini..."

"Apa dia sudah sadar?" tanya Dye yang tiba-tiba muncul di belakang Devan. Membuat pria itu terkejut setengah mati. Dia sedang berada di puncak kekesalan tapi malah di kagetkan dengan pertanyaan itu.

"Apa kau hantu, kau-" ucapan Devan terhenti. Dia berfikir. "Ah ini makan siangmu." lanjutnya sambil memberikan satu kantong makanan pada Dye.

"Makan siang? Aku sudah.."

"Ya. Ya aku tahu, kau tidak suka sayur kan. Aku sudah meminta untuk membuang semua macam sayur di dalamnya."

"Sayur? Aku tidak-"

"Ayo kita makannya diluar saja," Dev merangkul Dye dan membawanya keluar dari ruangan itu. "Haha.." Mereka menghilang di balik pintu, Jane dan Shara hanya bisa saling bertatapan heran melihat apa yang baru saja mereka saksikan.

Di kantin rumah sakit.

Devan dan Dye duduk berhadapan, yang didepan mereka sudah ada kotak makanan terhidang kan.

"Apa kau yakin akan makan ini?" tanya Dye sambil memperlihatkan semangkok makanan yang ada di depannya.

"Ya. Tidak baik membuang makanan," jawab Devan seakan menasehati.

"Kau meninggalkan ku makan sendirian karena ingin membelikan makanan untuk mereka, dan sekarang kau duduk denganku dan ingin makan lagi denganmu?" lanjut Dye sedikit kesal. Mereka memang makan bersama beberapa saat lalu, namun Devan meninggalkannya.

"Makan saja, jangan protes." Devan makan sesuap sebelum kembali bertanya, "Apa ada kabar dari polisi?"

"Ah ya. Aku ingin mengatakannya tadi. Pelakunya sudah menyerahkan diri, tapi.."

"Tapi?"

"Itu Alex."

"Apa?! Kau bercanda? Bagaimana mungkin dia.!" ucapnya dengan makanan yang masih ada di mulutnya. Devan memukulkan sendoknya ke atas meja, bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Dimana dia sekarang?"

"Percuma kau bertanya, kau tidak akan bisa bertemu dengannya. Dia tidak akan bicara sebelum Max sadarkan diri." Ucapan Dye membuat Devan kembali terduduk di kursinya.

"Apa dia sudah gila, dia menikamnya lalu mendonorkan darahnya dan sekarang menyerahkan diri?!"

"Ya. Tidak hanya kau yang berfikir jika dia gila sekarang. Apa kita harus memberitahu mereka tentang ini?"

"Tidak. Jangan katakan apapun. Kau tahu mereka ada masalah dengan Alex, lebih baik kita tunggu Max bangun saja."

"Hem.. Baiklah."

Pembicaraan mereka berakhir disana dan keduanya mulai berjuang untuk menghabiskan makanan yang ada di atas meja.

***

1
Kurniawati Nia
Assalamualaikum aku mau baca buku ini Nama:Putri Salsabila
Ayu Kerti
ditunggu tunggu thor... akhirnya..
love: maaf yaa jarang up🥹🙏
total 1 replies
Narumi09
Ceritanya bagus.
Ayu Kerti
aku suka ceritamu thor... semangat thor.. aku padamu...😘😘😘
love: thank uu🥹🫶
Happy reading yaa🥰
total 1 replies
YouTube: hofi adawiyah
ceritanya sangat bagus 😍
YouTube: hofi adawiyah
Nggak kerasa dah sampe sini bacanya
YouTube: hofi adawiyah
ketagihan bacanya 😁
sitiwasiah channel
mana lanjutannya
love: up nya tiap jam 12 siang kak, 1 bab sehari 🥹
Happy reading kaka🌹
total 1 replies
sitiwasiah channel
mantap ceritanya
love: terimakasih kak🥰
total 1 replies
YouTube: hofi adawiyah
bintang di langit 🤣🤣🤣
YouTube: hofi adawiyah: pakek acara sensi segala ya si itu takut di sebut nanti di bintang2 🤣
total 2 replies
YouTube: hofi adawiyah
semangat
zen🌻
semangat berkarya 💪😎
love: thank you 🥹🫶
total 1 replies
julia
🫶
zen🌻
kalimat apa sih kak yg di sensor itu?
Nori^: wkwkwk
total 6 replies
zen🌻
hy kak aku hadir
love: terimakasih kak🥹🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!