Indonesia
NovelToon NovelToon
Magic Pandemic

Magic Pandemic

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Evolusi dan Mutasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Saqy Tsakiya

Tahun 2037. Pandemi menyerang lagi. Tapi, yang kali ini sungguh berbeda dari yang sebelumnya. Banyak perubahan ganjil yang terjadi di berbagai belahan dunia. Mulai dari penyakit mematikan dengan penyebaran yang misterius, sumber energi baru yang mengguncang dunia sains, hingga evolusi-evolusi makhluk hidup yang merubah tatanan alam.

Namaku Zen, 17 tahun. Anak bermasalah yang mogok sekolah. Kerajaannya mengurung diri di kamar dengan gadget di tatapan. Ini adalah ceritaku. Cerita mengenai anak muda bermasalah yang berusaha untuk merubah diri di dunia setelah pandemi yang berisi begitu banyak perubahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqy Tsakiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vol 2 Chapter 9.5 - Pertanda (2)

"Pak tua, sudah kuduga Anda ada disini."

Malam hari setelah Zen datang ke Kamp Hunter. Alek, yang tengah membereskan dokumen laporan perkembangan dungeon, mendapatkan pesan dari seseorang yang tidak dia duga. Segera dia mencari Pak tua. Karena, pesan yang diberikan juga menyangkut Pak tua.

Sekeliling berkabut tebal. Jarak pandang tinggal satu meter, tetapi Alek tetap bisa menemukan Pak tua. Dia sedang duduk sila di atas batu ditemani langit malam. Bulan sabit yang secuil hampir tak nampak, terhalang oleh kabut. Sebagai gantinya, kunang-kunang berkerumun di sekeliling Pak tua yang diam bermeditasi.

Alek sebenarnya sungkan untuk menganggu meditasi Pak tua, tapi dia memiliki kabar pesan yag harus disampaikan.

Mendengar suara Alek, tubuh Pak tua berkutik pelan. Perlahan dia membuka matanya. Pandangannya setentram air danau.

"Ada gerangan apa hingga membawamu kesini di tengah malam seperti ini, Alek?" Pak tua bertanya heran.

Alek terkagum melihat Pak tua. Meski sedang bercakap, postur dan konsentrasi meditasi Pak tua tidak pecah. Fenomena kunang-kunang yang mengelilinginya tak berkurang maupun tak bertambah. Bukti kestabilan kontrol ether Pak tua. Alek juga merupakan penyihir tingkat nasional tapi belum tentu dia juga bisa mempertahankan kontrol ether seperti Pak tua.

"Putri Luna mengirim pesan."

Pak tua berkedip. Satu-dua kunang-kunang juga ikut berkelap-kelip. Tanda bahwa kontrol ether Pak tua sedikit terganggu. Dia sepertinya terkejut.

Dalam hati Alek tertawa kecil. Pengaruh sang putri sungguh hebat. Sekedar menyebut namanya saja dapat membuat pesilat tua ini kehilangan fokus.

"A-apa isi pesannya?" Pak tua mecoba mengembalikan mode meditasinya, tapi usahanya malah bebalik pengaruh. Kunang-kunang di sekitarnya meletus satu persatu. Sekarang, Pak tua mirip seorang kakek yang tidak sabar mendengar kabar dari cucunya.

Biasanya Pak tua memasang atmosfir berwibawa. Melihatnya berbeda seperti ini mebuat Alek berpikiran untuk menjahili Pak tua sedikit.

"Pak tua..." Alek memulai bicara secara misterius, "Sepertinya Anda melewatkan sesuatu."

"...? Sesuatu apa?" Pak tua bingung mengapa Alek tiba-tiba mengganti topik.

"Di pesan yang diberikan Putri Luna, sang putri curhat kepadaku, dia sedih karena tidak mendapatkan hadiah ulang tahun dari Pak tua."

"Eh, Putri Luna ulang tahun? Kapan? Kenapa tidak kabar-kabar?" Panik, kunang-kunang di sekeliling Pak tua pada meletup.

"Wah-wah-wah, Pak tua kurang mengerti perasaan Putri Luna... Meski Putri Luna adalah penyihir handal, dia juga seorang gadis muda. Gadis seumuran dia biasanya malu untuk meminta hadiah ulang tahun, apalagi kepada orang yang tidak dekat dengannya."

"B-berarti... Pak tua ini tidak dianggap dekat oleh Putri Luna?" Kali ini, wajah Pak tua berubah terperanjat ngeri. Tapi selang beberapa detik, dia menyadari sesuatu, "Tunggu, lalu kenapa Putri Luna curhat kepadamu?"

"Tentu saja karena aku membuat-buat cerita itu!" jelas Alek dengan senyum cengil.

"..."

"Aku hanya bercanda Pak tua," Alek mengangkat kedua bahunya memperjelas.

"..."

"..."

Kabut putih bertiup di antara Pak tua dan Alek yang saling beradu tatap tanpa suara.

Dalam pikiran, Alek sedikit menyesal membuat candaan seperti ini. Apakah dia bercanda terlalu jauh. Tatapan datar Pak tua membuat Alek merinding. Pak tua marah kah? Jika iya, bisakah dia keluar dari sini hidup-hidup?

Adu tatap berlanjut. Lima detik masih tak ada yang mau mengalah. Memasuki detik sepuluh, saat kunang-kunang terakhir meletup, Pak tua menghela nafas panjang.

"Hah...... Cukup." Pak tua akhirnya mengalah. Alek dalam hati berteriak lega tidak balasan yang melayang ke mukanya. Sejujurnya, apa yang barusan Alek lakukan kekanakan. Mungkin dia terpengaruh oleh energi muda dari Zen, Dea, dan Septi.

"Jadi, apa sebenarnya isi pesannya?" Dengan fokus terbaharui, Pak tua kembali ke topik.

"Ada dua pesan. Pesan pertama, Putri Luna berkata dia menitipkan Kakaknya, Zen, dan kedua temannya."

Pak tua mengelus-elus janggut berubannya, "Dari cara Putri berbicara, kita bisa tahu bahwa Putri Luna lah yang mengarahkan Dea dan Septi untuk berguru padamu Alek."

"Ya, itu juga yang aku pikirkan." Alek mengangguk, ikut menyutujui.

"Bagaimana dengan pesan kedua?"

Wajah Alek merengut tak sedap, dengan berat mulut dia meneruskan pesan sang Putri, "Devil. Mereka datang ke dungeon ini."

Seketika, suasana senyap. Bukan karena keheningan malam. Melainkan karena aura yang Pak tua keluarkan. Alek, yang tak jauh dari Pak tua merasakan amarah Pak tua. Dia merasa dingin merinding, lebih dingin dari angin malam.

Selama semenit penuh, Alek menerima beban ether pekat yang dikeluarkan oleh Pak tua. Setelah melindungi tubuhnya dengan ether miliknya, Alek memilih diam. Dia tahu pernah mendengar bagaimana pengalaman panjang Pak tua menghadapi Devil. Itulah mengapa Alek tetap diam. Dia tidak ingin memperparah amarah Pak tua dan membiarkan Pak tua mengeluarkan emosinya.

Tidak lama, amarah Pak tua mereda. "Sepertinya... Latihan meditasi malam ini tidak membuahkan hasil. Emosi Pak tua masih berantakan."

Pak tua lalu menundukkan kepala, "Maafkan saya telah membuatmu tidak nyaman, Alek."

"Tak apa Pak tua, saya juga barusan membuat tidak nyaman Pak tua." Alek menyengir kecil. Yang dia maksud yaitu candaannya tadi.

"Lagian," Alek menjeda, raut wajahnya berubah serius. "Para sampah tak bertanggung jawa itu memang harus dimusnahkan."

1
4811
Mendadak mellow baca ini, soalnya pernah rasain /Cry/
Saqy Tsakiya: Thanks untuk komennnya. Seneng rasanya kalau tulisan sendiri bisa mencapai hati orang lain.
total 1 replies
Diancie
Novel ini bagus banget. Gasabar pengen lihat kelanjutannya
Shibuya Luxi
Aku udah rekomendasiin cerita ini ke temen-temen aku. Must read banget!👌🏼
Saqy Tsakiya: Siipp! Thanks for reading!
total 1 replies
Lauraaa♑️
Terima kasih karena telah membagikan kisah yang sangat menyentuh hatiku
Saqy Tsakiya: Thanks for reading /Pray/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!