Dia adalah gadis kecil itu...
teman kecilku.
Tanpa aku tau siapa dia,
aku sudah terpikat padanya.
Apa yang membuatku menyukainya? Entahlah.
Selama ini aku suka melihatnya tersenyum dan menyukainya, tanpa tau siapa dia sebenarnya.
Setelah aku tau yang sebenarnya, semuanya terasa seperti kepingan puzzle yang saling melengkapi.
Aku mencintainya.
Asa yang kumiliki, kuharap ia merasakannya.
Berharap bersamanya, selamanya.
Selamanya adalah waktu yang lama.
Tetapi waktu adalah sesuatu yang fana,
cintaku abadi.
sometimes you need to wait and watch
what destiny has got for you...!
Full of love from me,
Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunanganku
"Jane... aku memutuskan untuk merebut Natalie kembali, maafkan aku Jane", aku berada di apartemen Jane, berkata jujur tentang perasaanku.
"Ya Van, aku sudah menduganya kalau ini akan terjadi. Baiklah aku akan mengurus keluargaku, jangan khawatir dan lakukanlah bagianmu".
"Maafkan aku Jane".
"Dari awal ini semua hanyalah drama, cepat atau lambat akan berakhir. Jika bukan kamu yang mengakhirinya mungkin aku yang melakukan pilihan itu. Semoga kamu berhasil Van, perjalananmu masih panjang".
"Ya Jane aku tau itu. Terima kasih Jane, sungguh terima kasih".
Disisi yang lain, Natalie sendiri menghindariku sekarang, setiap kali aku melakukan video call dengan Ara, maka Natalie tidak akan menampakkan wajahnya. Setiap pesan yang kukirimkan juga hanya dibalas ala kadarnya saja oleh Natalie. Namun aku tidak akan menyerah dan memberi Natalie waktu untuk mengelola pikiran dan perasaannya sendiri. Tugasku saat ini adalah menyelesaikan masalah terbesarku, orangtuaku.
Weekend ini aku mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan orangtuaku.
"Pa, ma aku akan membatalkan pertunanganku dengan Jane".
Sebelum orangtuaku berkomentar aku sudah melanjutkan kata-kataku lagi.
"Aku sudah membicarakan hal ini dengan Jane, kami bersepakat meski pertunangan kami tidak akan berlanjut, namun bisnis kami tidak akan terpengaruh oleh hal itu. Kami masih akan berteman baik dalam hal bisnis".
"Jangan berputar-putar Van, katakan ada apa sebenarnya", papa berkata tegas padaku.
Aku menghela nafas dan berkata,
"Aku menemukan Natalie, ingin bersamanya kembali dan kami memiliki seorang putri berusia 2 tahun", jawabku secara singkat namun menjelaskan semuanya dalam 1 tarikan nafas. Kemudian terdiam menunggu reaksi orangtuaku.
"Apa kamu yakin, dia anakmu bukan dari pria lain? Apa kamu sudah melakukan tes DNA?".
"Papa! Ya aku yakin dia anakku, dan ya aku memang belum melakukan tes DNA karena aku yakin akan hal itu".
"Apa kamu lupa bagaimana kamu berjuang sendiri selama ini, belum lagi foto-foto itu, apa kamu melupakan itu?".
"Papa mau bahas masa lalu, baiklah mari kita bahas. Selama aku mencari tau tentang Natalie, aku mengetahui dia meninggalkanku dalam keadaan sudah hamil. Aku sangat mengenal Natalie, dia istriku, dia tidak akan meminta bercerai dalam keadaan hamil dan tidak memberitahukanku jika tidak dalam keadaan terpaksa. Jadi kurasa untuk alasan dia meninggalkanku, papa dan mama lebih tau daripada aku, namun aku tidak akan bertanya soal itu, itu masa lalu dan aku menginginkan masa depan".
Aku melanjutkan perkataanku sebelum papa memotongku dan kulihat mama hanya duduk diam tidak ingin berkomentar apapun.
"Sekarang soal foto-foto Natalie bersama pria lain, pria itu bernama Gama. Aku tidak mau mencari tau soal masa lalu foto-foto itu, tapi aku yakin dulu mereka tidak memiliki hubungan romantis".
"Ara, nama panggilan anakku adalah Ara. Sekarang aku menginginkan masa depan bersama Ara dan Natalie, demi anakku dan diriku sendiri, karena aku masih mencintai Natalie. Aku akan memberikan tes DNA yang papa mau, untuk tesnya papa bisa memilih di rumah sakit yang papa percayai".
Aku telah mengutarakan semuanya, kini aku menunggu tanggapan orangtuaku.
"Kita akan berbicara lagi setelah tes DNA keluar. Sebelum itu ada, selesaikan pembatalan pertunanganmu dengan baik".
Kemudian papa meninggalkanku dan mama mengikuti papa kemudian.
Keesokannya aku datang ke rumah Jane menemui orangtuanya dan ia telah menjelaskan sebelumnya mengenai kesepakatan pembatalan pertunangan kami. Aku membawa buah tangan berupa anggur dengan tahun tua dan makanan kesukaan orangtua Jane.
Selama perjalanan aku bersiap menerima penolakan dan amarah dari orangtua Jane, namun ternyata aku salah, mereka menerimaku dengan cukup terbuka. Aku juga dapat meminta maaf dan berkomunikasi dengan baik. Mereka cukup mengerti alasan aku membatalkan pertunangan kami. Aku dan papa Jane juga sempat membahas mengenai bisnis, dan sepertinya segala sesuatunya berjalan sesuai harapanku.
Kini hanya orangtuaku dan Natalie yang perlu aku yakinkan.