Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Harta yang Seharusnya Milik Luo Cheng
Malam turun ketika Lin Yuan kembali tiba di depan Rumah Lelang Seribu Harta.
Lampu kristal memenuhi bangunan besar itu, membuat jalan di sekitarnya terang seperti siang hari.
Lin Yuan masuk tanpa banyak menarik perhatian.
Kultivasinya masih berada di Alam Fondasi Roh Lapisan Keenam.
Namun dibandingkan ketika pertama kali datang ke rumah lelang, kekuatannya sudah berubah jauh.
Tubuh Besi telah terbentuk.
Tebasan Pemutus Takdir juga berhasil mencapai Tahap Mahir.
Ia tidak datang hanya untuk membeli barang.
Malam ini ada dua tujuan.
Kristal Api Bumi.
Dan Peluang Takdir yang seharusnya diperoleh Luo Cheng.
Lin Yuan memilih tempat duduk tidak jauh dari bagian tengah aula.
Beberapa saat kemudian, suara gaduh muncul dari pintu masuk.
Luo Cheng datang bersama dua pengawal.
Keduanya berada di Alam Fondasi Roh Lapisan Kedelapan.
Tatapan Luo Cheng langsung menemukan Lin Yuan.
Wajahnya berubah dingin.
Lin Yuan justru tersenyum tipis.
"Masih bisa berjalan rupanya."
Luo Cheng berhenti.
"Kau juga masih punya tangan."
"Orang yang kaukirim kemarin kurang kuat."
Wajah Luo Cheng mengeras.
Namun sebelum ia menjawab, seorang pemuda lain memasuki aula.
Han Lie.
Aura Fondasi Roh Lapisan Kedelapan membuat beberapa kultivator membuka jalan.
Han Lie melihat keduanya, lalu tertawa.
"Menarik."
"Sepertinya malam ini tidak akan membosankan."
Luo Cheng mendengus dan menuju ruangan pribadi.
Pelelangan segera dimulai.
Barang pertama berupa Pil Pemulih Roh.
Barang kedua adalah inti Binatang Roh.
Kemudian sebuah Artefak Roh Kualitas Rendah terjual dengan harga yang membuat Lin Yuan semakin memahami betapa mahalnya dunia kultivasi.
Ia tidak ikut menawar.
Sampai dua pelayan membawa sebuah kotak kristal merah menuju panggung.
Wanita pelelang membuka penutupnya.
Gelombang panas segera menyebar.
"Barang berikutnya—Kristal Api Bumi."
Tatapan Lin Yuan langsung berubah.
Itulah bahan yang diminta Orang Tua Mo.
"Kristal ini merupakan bahan penempaan tingkat Roh."
"Harga awal—tiga ribu Batu Roh."
"Tiga ribu lima ratus!"
"Empat ribu!"
Harga langsung naik.
Lin Yuan menunggu sampai penawaran mulai melambat.
"Enam ribu."
Beberapa orang menoleh.
Han Lie ikut mengangkat tangan.
"Tujuh ribu."
Lin Yuan mengernyit sedikit.
Han Lie memang pengguna tombak api. Tidak aneh kalau bahan tersebut juga berguna baginya.
"Delapan ribu."
Han Lie menjawab,
"Sembilan ribu."
Tiba-tiba suara Luo Cheng terdengar dari ruangan pribadi.
"Sepuluh ribu."
Lin Yuan langsung memahami.
Luo Cheng tidak benar-benar membutuhkan Kristal Api Bumi.
Ia hanya ingin membuat Lin Yuan membayar lebih mahal.
Han Lie juga tampaknya menyadarinya.
Ia berhenti menawar.
Lin Yuan tidak langsung menaikkan harga.
Mata Takdir bergetar.
WUUUNG!
Garis keemasan tipis muncul.
Namun bukan dari Kristal Api Bumi.
Garis lain mengarah menuju salah satu barang yang masih menunggu di belakang panggung.
Lin Yuan menyipitkan mata.
Ia mengangkat tangan.
"Sebelas ribu."
Luo Cheng tertawa.
"Dua belas ribu."
"Dua belas ribu seratus."
"Tiga belas ribu."
Lin Yuan terdiam.
Luo Cheng menunggu dengan senyum puas.
Namun Lin Yuan justru bersandar.
"Silakan."
Wajah Luo Cheng langsung membeku.
Aula menjadi sunyi sesaat.
Han Lie hampir tertawa.
Luo Cheng berdiri.
"Kau—"
Wanita pelelang langsung mengetukkan palu.
"Kristal Api Bumi, tiga belas ribu Batu Roh!"
"Menjadi milik Tuan Muda Luo."
Wajah Luo Cheng tampak lebih buruk daripada seseorang yang baru kalah.
Lin Yuan tersenyum.
Ia memang membutuhkan Kristal Api Bumi.
Tetapi bukan berarti ia harus membelinya dengan harga bodoh.
Beberapa barang kembali dilelang.
Kemudian sebuah kotak kecil berwarna hitam dibawa ke atas panggung.
Permukaannya penuh retakan.
Wanita pelelang terlihat tidak terlalu bersemangat.
"Barang berikutnya merupakan kotak pil kuno."
"Bagian dalam kosong dan mekanisme penyimpanannya sudah rusak."
"Harga awal—lima puluh Batu Roh."
Tidak seorang pun langsung menawar.
Namun Mata Takdir Lin Yuan langsung bersinar.
WUUUNG!
Cahaya keemasan pada kotak itu jauh lebih kuat daripada harga yang ditawarkan.
【Peluang Takdir terdeteksi.】
Lin Yuan mengangkat tangan.
"Lima puluh satu."
Han Lie menoleh kepadanya.
Luo Cheng juga langsung bereaksi.
"Seratus."
Lin Yuan mengangkat alis.
"Seratus satu."
"Dua ratus."
Suasana mulai ramai.
Luo Cheng tersenyum dingin dari lantai atas.
"Kau menginginkan kotak rusak itu?"
"Kalau begitu aku akan membantumu menaikkan harganya."
Lin Yuan tidak terpancing.
"Tiga ratus."
Luo Cheng langsung membalas.
"Lima ratus."
Beberapa orang mulai tertawa kecil.
Namun Lin Yuan tetap menatap kotak tersebut.
Cahaya keemasan tidak berubah.
Itu berarti nilainya memang lebih tinggi daripada harga sekarang.
"Enam ratus."
Luo Cheng mengangkat tangan.
"Seribu."
Aula mendadak gaduh.
Seribu Batu Roh untuk kotak kosong jelas terasa gila.
Han Lie menatap Lin Yuan.
Seolah ingin tahu apakah ia akan menyerah.
Lin Yuan justru tersenyum.
"Seribu satu."
Wajah Luo Cheng langsung gelap.
Ia hendak menaikkan lagi.
Namun pengawal di sampingnya berbisik,
"Tuan Muda, jangan terpancing."
Luo Cheng mengepalkan tangan.
Akhirnya ia duduk kembali.
Wanita pelelang mengetukkan palu.
"Seribu satu Batu Roh."
"Terjual."
Kotak pil menjadi milik Lin Yuan.
Setelah pelelangan berakhir, ia menerima kotak tersebut di ruang pengambilan barang.
Begitu pintu tertutup, Lin Yuan langsung memeriksanya.
Tidak ada apa pun di dalam.
Namun Mata Takdir menunjuk dasar kotak.
Lin Yuan mengetuknya perlahan.
Tok.
Tok.
Suara kedua berbeda.
Ia menggunakan ujung pedang berkarat untuk menekan salah satu retakan.
Klik.
Lapisan dasar terbuka.
Di dalamnya terdapat satu pil berwarna putih keemasan.
Sistem langsung bereaksi.
【Pil Pemecah Batas Roh terdeteksi.】
【Tingkatan: Pil Roh.】
【Fungsi: membantu kultivator Alam Fondasi Roh menembus penghalang satu lapisan apabila fondasi memenuhi syarat.】
Mata Lin Yuan menyala.
Sekarang ia memahami Peluang Takdir Luo Cheng.
Kotak itu memang rusak.
Tetapi harta sebenarnya tersembunyi di dalamnya.
Lin Yuan menyimpan pil tersebut.
Namun begitu keluar dari Rumah Lelang Seribu Harta, langkahnya berhenti.
Luo Cheng berdiri di tengah jalan.
Dua pengawal Lapisan Kedelapan berada di belakangnya.
Beberapa sosok lain perlahan keluar dari bayangan.
Yang terkuat membuat Lin Yuan langsung menyipitkan mata.
Alam Fondasi Roh Lapisan Kesembilan.
Luo Cheng tersenyum dingin.
"Serahkan kotak itu."
Tatapannya turun ke tangan Lin Yuan.
"Dan pedangmu."
Lin Yuan menghela napas pelan.
"Kemarin kau menginginkan tanganku."
"Hari ini pedang dan kotakku."
Ia perlahan menggenggam gagang senjata.
"Klan Luo ternyata benar-benar suka mengambil barang milik orang lain."
Luo Cheng mengangkat tangan.
Kelompoknya langsung menyebar.
Jalan keluar tertutup.
Lin Yuan menatap mereka satu per satu.
Kemudian tersenyum tipis.
"Baik."
Qi Alam Fondasi Roh Lapisan Keenam mulai mengalir.
"Kalau kalian ingin mengambilnya..."
Tatapannya berubah tajam.
"...datanglah sendiri."
Qi berputar semakin cepat di sekitar tubuh Lin Yuan.
Tekanan Alam Fondasi Roh Lapisan Keenam menyebar di tengah jalan.
Luo Cheng mencibir.
"Lapisan Keenam?"
"Di depan orang-orangku, kau bahkan tidak memiliki kesempatan melarikan diri."
Dua pengawalnya melangkah maju bersamaan.
Keduanya berada di Fondasi Roh Lapisan Kedelapan, dua lapisan lebih tinggi daripada Lin Yuan.
Belum lagi pria kurus di belakang mereka.
Aura Fondasi Roh Lapisan Kesembilan miliknya jauh lebih berat dibandingkan yang lain.
Lin Yuan tidak meremehkannya.
Perbedaan dua lapisan masih mungkin ditutup dengan teknik dan pengalaman.
Namun tiga lapisan bukan sesuatu yang bisa diabaikan.
"Ambil kotaknya," perintah Luo Cheng.
Salah satu pengawal langsung menerjang.
Pedang panjangnya menyapu horizontal menuju pinggang Lin Yuan.
WUUUSH!
【Naluri Tempur aktif.】
Lintasan serangan muncul dalam kesadaran Lin Yuan.
Kakinya bergeser.
Jejak Petir!
Tubuhnya menghilang dari posisi semula.
Pedang lawan hanya membelah bayangan.
"Apa?"
Pengawal itu terkejut.
Lin Yuan sudah muncul di sampingnya.
Pedang berkarat terhunus.
"Tebasan Pemutus Takdir!"
CLANG!
Pengawal tersebut buru-buru mengangkat pedang.
Dua bilah bertabrakan keras.
Kekuatan Fondasi Roh Lapisan Kedelapan langsung menekan Lin Yuan mundur tiga langkah.
Telapak tangannya terasa kebas.
Namun pengawal itu tidak terlihat senang.
Sebuah retakan kecil muncul pada pedangnya.
"Kau..."
Lin Yuan tidak memberinya kesempatan.
Jejak Petir kembali bergerak.
Pengawal kedua menyerang dari belakang.
BOOM!
Qi menghantam tempat Lin Yuan berdiri sebelumnya.
Batu jalanan langsung pecah.
Lin Yuan muncul beberapa meter jauhnya.
Napasnya tetap stabil.
Tubuh Besi membuat daya tahannya jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.
Namun menghadapi dua Lapisan Kedelapan sekaligus tetap memberikan tekanan besar.
Terlebih lagi pria Lapisan Kesembilan belum bergerak.
Luo Cheng mulai kehilangan kesabaran.
"Kenapa kalian bermain-main?"
"Bunuh dia!"
Kedua pengawal saling memandang.
Aura mereka meningkat bersamaan.
Lin Yuan menurunkan tubuhnya sedikit.
Mata Takdir terbuka.
WUUUNG!
Dunia di hadapannya seolah berubah.
Garis-garis samar muncul di sekitar dua lawan.
Bukan masa depan.
Bukan pula kelemahan mutlak.
Melainkan hubungan antara gerakan, Qi, teknik, dan keputusan mereka.
Lin Yuan memperhatikan semuanya.
Pengawal kiri selalu bergerak lebih dahulu.
Yang kanan mengikuti setengah napas kemudian.
Mereka tampak menyerang bersamaan.
Sebenarnya tidak.
"Aku menemukannya."
Pengawal kiri menerjang.
Pengawal kanan mengikuti.
Lin Yuan justru maju.
"Apa dia gila?"
Luo Cheng membelalak.
Pedang pertama datang menuju leher.
Lin Yuan memiringkan kepala.
Ujung bilah melewati pipinya.
Pengawal kedua menusuk jantung.
Namun saat itulah Lin Yuan berputar.
Pedangnya menebas sambungan serangan kedua orang tersebut.
Tebasan Pemutus Takdir!
CLANG!
Pedang pengawal kedua terpental.
Formasi serangan mereka langsung kacau.
Lin Yuan menghantamkan bahunya ke dada pengawal pertama.
BUK!
Kekuatan Tubuh Besi meledak.
Pria itu terlempar dan menghantam dinding toko.
Lin Yuan segera berbalik.
Kakinya menyapu.
Pengawal kedua terkena tepat pada lutut.
KRAK!
"AARGH!"
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Pedang Lin Yuan berhenti di depan tenggorokannya.
Namun sebelum Lin Yuan melanjutkan—
"Sudah cukup."
Suara dingin terdengar.
Bahaya hebat langsung muncul dari belakang.
【Ancaman fatal terdeteksi.】
Lin Yuan bergerak tanpa berpikir.
Jejak Petir meledak.
BOOM!
Sebuah telapak tangan menghantam tanah.
Jalan batu pecah sepanjang beberapa meter.
Pria kurus Fondasi Roh Lapisan Kesembilan akhirnya bergerak.
Lin Yuan mendarat cukup jauh.
Tatapannya berubah serius.
"Kau cukup bagus," kata pria itu.
"Fondasi Roh Lapisan Keenam, tetapi mampu menekan dua Lapisan Kedelapan."
Ia mengangkat tangan perlahan.
"Sayangnya, itu berakhir sekarang."
Aura Lapisan Kesembilan dilepaskan sepenuhnya.
Tekanan berat memenuhi jalan.
Lin Yuan merasakan Qi dalam tubuhnya sedikit melambat.
Inilah perbedaan tiga lapisan.
Luo Cheng tersenyum puas.
"Penatua Wu, patahkan kedua kakinya."
"Biarkan dia hidup."
"Aku ingin berbicara dengannya setelah ini."
Lin Yuan melirik Luo Cheng.
"Sepertinya pelajaran sebelumnya masih kurang."
Wajah Luo Cheng berubah.
"Bunuh dia kalau begitu!"
Penatua Wu melesat.
Kali ini kecepatannya berbeda sepenuhnya.
Lin Yuan hanya sempat melihat bayangan.
Tinju datang.
Ia mengangkat pedang.
BANG!
Tubuh Lin Yuan terlempar.
Punggungnya menghantam tiang batu.
Darah terasa naik ke tenggorokan.
Tubuh Besi memang mampu menahan sebagian kekuatan serangan.
Tetapi bukan berarti dirinya kebal.
"Lapisan Kesembilan..."
Lin Yuan menyeka darah di sudut bibir.
Penatua Wu mendekat.
"Kau baru mengerti?"
Lin Yuan tidak menjawab.
Tangannya diam-diam menyentuh kotak pil di balik pakaian.
Pil Pemecah Batas Roh.
Sistem sebelumnya telah mengatakan pil itu dapat membantu terobosan jika fondasinya memenuhi syarat.
Namun menggunakannya sekarang terlalu berisiko.
Ia tidak mungkin duduk bermeditasi di tengah pengepungan.
Penatua Wu kembali menyerang.
Lin Yuan berbalik dan berlari.
Luo Cheng tertawa keras.
"Akhirnya takut juga!"
"Kejar!"
Beberapa orang langsung mengikuti.
Lin Yuan memasuki gang sempit.
Jejak Petir digunakan berulang kali.
Bangunan-bangunan di sekitarnya berubah menjadi bayangan.
Namun Penatua Wu tetap mengikuti dari belakang.
Jarak mereka perlahan mengecil.
"Percuma!"
BOOM!
Serangan Qi menghantam dinding di samping Lin Yuan.
Batu beterbangan.
Lin Yuan melompat melewati reruntuhan.
Di ujung gang terlihat sebuah bangunan tua yang sudah ditinggalkan.
Ia langsung menerobos masuk.
BRAK!
Pintu kayu hancur.
Lin Yuan berlari menuju ruangan terdalam.
Tidak ada jalan keluar.
Senyum tipis justru muncul di wajahnya.
"Cukup."
Ia duduk bersila.
Kotak pil dibuka.
Pil putih keemasan muncul di telapak tangannya.
【Pil Pemecah Batas Roh terdeteksi.】
【Kondisi fondasi pengguna sedang dianalisis.】
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Kemudian—
【Fondasi memenuhi persyaratan.】
【Peluang terobosan: tinggi.】
Lin Yuan langsung menelan pil tersebut.
BOOM!
Energi panas meledak di dalam tubuhnya.
Meridian bergetar.
Qi Fondasi Roh Lapisan Keenam yang sebelumnya stabil mendadak bergerak seperti sungai banjir.
Lin Yuan mengatupkan gigi.
Ia mengarahkan seluruh energi menuju penghalang lapisan berikutnya.
DUM!
Penghalang bergetar.
Belum pecah.
DUM!
Retakan pertama muncul.
Namun tepat saat Lin Yuan hendak melakukan dorongan ketiga—
BRAAAK!
Dinding bangunan dihancurkan dari luar.
Debu memenuhi ruangan.
Penatua Wu berjalan masuk.
Luo Cheng muncul beberapa langkah di belakangnya.
Senyumnya langsung menghilang ketika merasakan perubahan aura Lin Yuan.
"Dia sedang menerobos!"
Penatua Wu juga menyadarinya.
Tatapannya berubah tajam.
Luo Cheng langsung berteriak,
"Jangan biarkan dia berhasil!"
Lin Yuan membuka mata.
Qi di dalam tubuhnya masih menggila.
Penghalang Fondasi Roh Lapisan Ketujuh sudah dipenuhi retakan.
Namun musuh berada tepat di depannya.
Ia perlahan berdiri.
Pedang berkarat kembali berada dalam genggamannya.
Kalau tidak diberi waktu untuk menerobos dengan tenang...
maka ia akan menerobos sambil bertarung.
......................
Bersambung...