Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tikus yang Terjebak
Pintu hidrolik terbuka. Dokter Hans melangkah masuk membawa koper peraknya, mengabaikan total omelan Rara yang sedari tadi panik melihat darah di kemeja Arka.
Pria paruh baya itu meletakkan koper, merobek sisa kemeja Arka, dan memeriksa lukanya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Gimana, Dok?! Harus operasi besar kan? Siapin bius, Dok, dia batu banget nggak mau dibius total!" cerocos Rara tanpa jeda.
Dokter Hans mendengus pelan. Ia menyemprotkan cairan bening ke luka Arka, lalu mengelapnya santai. "Apanya yang operasi besar? Semprotan pembeku dari Dino tadi bekerja sempurna. Hanya jahitan luarnya saja yang robek, otot dalamnya aman."
Rara melongo. "Hah? Jadi... dia nggak kritis?"
"Tentu saja tidak. Dia cuma kelelahan berteriak memberi perintah," sindir Dokter Hans. Pria itu mengeluarkan alat yang bentuknya seperti stapler medis futuristik. Cetak! Cetak! Cetak! Dalam waktu kurang dari dua menit, luka robek Arka sudah tertutup rapat dan diperban rapi. "Selesai. Bos Arka memang lebih liat dari kecoak."
"Kurang ajar," desis Arka menatap dokter pribadinya itu.
"Sama-sama, Bos," balas Dokter Hans santai seraya membereskan kopernya. "Saya permisi ke ruang sebelah, mau membuat kopi. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau staplesnya lepas."
Begitu Dokter Hans berlalu, Arka langsung bergerak duduk tegak. Rasa sakitnya jelas masih ada, tapi postur pria itu kembali tegap dan mendominasi, seolah luka tembak di perutnya hanyalah lecet biasa.
Rara berdecak sebal. Cewek itu berjalan ke arah lemari pakaian di ujung bunker, mengambil sebuah kemeja hitam bersih, lalu melemparnya tepat ke wajah Arka.
"Pakai," sungut Rara judes. "Sakit mata gue dari tadi lihat kemeja lo merah semua kayak habis motong sapi."
Arka menangkap kemeja itu dari wajahnya. Ia menatap Rara dengan sebelah alis terangkat. "Tangan saya kaku. Pakaikan."
"Lo pikir gue babysitter lo?!"
"Kau yang menyuruh saya memakainya, Rara."
"Ya pakai sendiri lah! Tadi aja sok-sokan nantang maut di lobi!" Omelan Rara terus mengalir, tapi lucunya, kaki cewek itu tetap melangkah mendekati sofa.
Sambil terus ngedumel, Rara menarik kemeja hitam itu, memakaikannya ke bahu lebar Arka, lalu mulai memasang kancingnya satu per satu dari bawah ke atas dengan telaten.
Arka tidak membalas omelannya lagi. Pria itu menunduk, menatap wajah fokus Rara yang jaraknya hanya beberapa jengkal dari dadanya. Seringai tipis terbit di sudut bibirnya.
Di meja monitor, Dino menyenggol lengan Bara. "Bar, kayaknya kita jadi nyamuk deh di sini."
"Fokus ke layar, Dino," tegur Bara dingin, mengabaikan pemandangan di sofa. "Keempat Kepala Divisi sudah mengonfirmasi pesan jebakan kita. Sekarang kita tinggal menunggu."
Mendengar itu, Rara segera menyelesaikan kancing terakhir Arka dan mundur selangkah. Suasana hangat tadi mendadak kembali tegang.
Di ujung ruangan, Beby yang sedang memeluk bantal ikut menahan napas. "Gue sumpah, deg-degannya ngalahin nunggu pengumuman nilai cumlaude."
Waktu terasa merayap sangat lambat di dalam bunker itu. Sepuluh menit... dua puluh menit... tiga puluh menit berlalu tanpa suara. Arka hanya duduk menyandarkan tubuhnya dengan mata memicing tajam ke arah layar monitor raksasa yang menampilkan peta digital kota Jakarta.
Hingga akhirnya, tepat di menit keempat puluh...
TIIIT! TIIIT! TIIIT!
Seluruh lampu di ruang monitor berkedip merah terang. Alarm tanda bahaya melolong memekakkan telinga.
Dino langsung mencondongkan tubuhnya, jarinya menari gila-gilaan di atas keyboard.
"Bos!" seru Dino dengan suara bergetar karena adrenalin. "Satelit kita nangkap pergerakan tempur skala besar! Ada tiga peleton pasukan bersenjata dari kelompok bayaran The Ghost turun dari mobil van!"
Mata kelam Arka berkilat buas. "Mereka menyerang titik yang mana, Dino?!"
"Villa Puncak, Bos! Mereka bawa persenjataan berat dan lagi memberondong seluruh area villa itu sekarang juga!" lapor Dino dengan napas memburu.
Bara perlahan mengangkat wajahnya dari layar. Rahang asisten bertubuh tegap itu mengeras hebat.
"Villa Puncak..." desis Bara, suaranya sangat dingin dan mengancam. "Itu adalah lokasi palsu yang kita berikan kepada Divisi Timur."
Udara di dalam bunker seketika membeku.
Arka perlahan bangkit berdiri. Tidak ada lagi sisa-sisa kelemahan di wajahnya. Yang ada hanyalah aura iblis sang penguasa dunia bawah yang sudah siap mencabut nyawa.
"Tikusnya sudah memakan umpan," desis Arka dengan seringai kejam. Matanya menatap tajam ke arah Bara. "Siapkan pasukan eksekusi. Malam ini, saya sendiri yang akan memenggal kepala pengkhianat dari Divisi Timur itu."