Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:790
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Belajar Berdiri Kembali

​​Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah-celah jendela ruang tamu. Cahaya hangat itu memenuhi rumah kecil yang kini terasa jauh lebih sunyi.

​Arkana sudah bangun sejak subuh. Di dapur, ia memotong bawang dan mengocok telur untuk membuat nasi goreng. Namun, tak ada lagi suara lembut yang menyapa. Tak ada obrolan hangat yang menemani. Hanya bunyi spatula yang beradu dengan wajan.

​Saat mengambil piring di lemari, gerakan Arkana terhenti. Di sudut rak masih tersimpan tiga mangkuk kecil bergambar beruang. Mangkuk yang dulu ia beli sambil membayangkan Eka, Dwi, dan Tri berebut makanan.

​Arkana mengembuskan napas berat. Ia menutup kembali lemari itu tanpa menyentuh ketiga mangkuk tersebut. "Belum saatnya..." bisiknya lirih.

​Klek. Pintu kamar terbuka. Hanifah melangkah keluar dengan wajah pucat dan mata sembap.

​Arkana memaksakan senyum tipis di bibirnya. "Selamat pagi, Dek."

​"Pagi, Mas," sahut Hanifah lirih.

​"Ayo, sarapan dulu. Mas sudah buatkan nasi goreng," panggil Arkana menarikkan kursi.

​Hanifah mengangguk pelan. "Iya, Mas."

​Mereka duduk berhadapan. Hening. Hanya bunyi sendok yang berdenting menyentuh piring. Meja makan yang dulu penuh tawa kini terasa begitu membisu.

​Selesai makan, Hanifah membawa piring ke dapur. Saat kembali ke ruang tamu, matanya tertuju pada sapu di sudut ruangan. Ia meraih gagang sapu itu.

​Arkana yang melihatnya spontan bangkit berdiri. "Dek, Mas saja yang menyapu."

​Hanifah menggeleng pelan. "Aku ingin menyapu, Mas."

​"Tapi kata dokter kamu harus banyak istirahat—"

​"Aku sudah jauh lebih baik, Mas," potong Hanifah menatap suaminya. "Aku cuma ingin melakukan sesuatu. Kalau terus diam di kamar... aku selalu teringat mereka."

​Kalimat itu membuat Arkana terdiam. Ia mengangguk pelan. "Kalau capek, langsung berhenti ya."

​"Iya, Mas," janji Hanifah mulai mengayunkan sapu perlahan.

​Saat sapunya menyentuh bawah lemari, terdengar bunyi benda kecil bergeser. Hanifah berjongkok dan meraih benda itu. Sebuah kerincingan bayi berbentuk bintang berwarna kuning—hadiah dari Bu Sulastri.

​Hanifah memandangi mainan mungil itu. Tangannya gemetar hebat, dan air matanya runtuh seketika. "Mas..."

​Arkana bergegas menghampiri. "Ada apa, Dek?"

​"Harusnya... harusnya mereka yang memainkan ini, Mas..." bisik Hanifah dengan suara pecah.

​Arkana berlutut di samping istrinya. Ia merengkuh bahu Hanifah dan menggenggam jemarinya erat. "Mas juga merindukan mereka, Dek..."

​Hanifah menyandarkan kepalanya di dada Arkana, menumpahkan tangisnya kembali.

​"Assalamu'alaikum!" panggil sebuah suara dari luar rumah.

​Arkana usap air matanya cepat, lalu membuka pintu. Bu Sulastri berdiri di sana membawa kantong plastik berisi sayuran dan ikan.

​"Wa'alaikumsalam. Eh, Bu Sulastri," sapa Arkana memaksakan senyum. "Silakan masuk, Bu."

​"Maaf ya, Nak. Bibi datang lagi," ucap Bu Sulastri canggung.

​"Tidak apa-apa, Bu. Justru kami senang," sahut Arkana.

​Hanifah melangkah keluar dari ruang tamu. Bu Sulastri bernapas lega melihat menantu tetangganya itu. "Alhamdulillah... Hari ini kamu sudah mau keluar kamar, Nak."

​Hanifah tersenyum tipis. "Pelan-pelan, Bu. Saya sedang belajar."

​Bu Sulastri mengusap lembut bahu Hanifah. "Tidak perlu terburu-buru, Nak. Luka seperti ini tidak akan sembuh dalam semalam. Tapi Bibi yakin, sedikit demi sedikit kamu pasti bisa melewati ini."

​"Terima kasih banyak ya, Bu... Terima kasih selalu ada untuk kami," bisik Hanifah haru.

​"Sudah sewajarnya tetangga saling menjaga, Nak," balas Bu Sulastri hangat sebelum berpamitan.

​Menjelang malam, Arkana dan Hanifah duduk berdampingan di teras rumah. Angin malam berembus pelan membawa aroma tanah basah.

​Hanifah menatap halaman depan, lalu memecah keheningan. "Mas..."

​"Iya, Dek?" sahut Arkana menoleh.

​"Kalau nanti aku sudah benar-benar kuat... aku ingin bekerja," tutur Hanifah mantap.

​Arkana sedikit terkejut. "Bekerja?"

​Hanifah mengangguk. "Bukan karena kurang uang, Mas. Aku hanya ingin menyibukkan diri. Kalau terlalu lama di rumah... aku terus melihat bayangan anak-anak."

​Arkana terdiam sejenak. Ia memahami rasa sakit yang menghantui istrinya. Perlahan, ia meraih dan menggenggam jemari Hanifah.

​"Kalau itu bisa membuatmu perlahan bangkit... Mas akan selalu mendukungmu, Dek," tegast Arkana tulus.

​Hanifah menoleh, matanya berbinar. "Benarkah, Mas?"

​"Iya," Arkana tersenyum tipis. "Kita sudah kehilangan banyak hal, Dek. Tapi Mas tidak mau kehilangan semangat hidupmu juga."

​Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Hanifah. Namun kali ini, ada secercah harapan yang mulai tumbuh di sana. Merekapun yakin, selama terus berjalan berdampingan, mereka pasti sanggup berdiri kembali.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!