Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Leon sudah berada di ruangannya, duduk bersandar pada kursi kebesarannya, namun ingatannya masih berputar pada kejadian di mana Reka meminta diturunkan di tepi jalanan sekitar gedung perusahaan.
Tak ingin sampai kejadian tadi kembali terulang, Leon lantas menekan panggilan pada sekretarisnya melalui sambungan intercom.
"Iya, tuan."
"Tolong sampaikan pada nona Reka untuk mengantarkan laporan pemasaran produk bulan lalu ke ruangan saya!."
"Baik, tuan."
Tak lama berselang, terdengar suara ketukan dari balik pintu ruangan Leon. "Tok....tok....tok...."
"Masuk!."
"Permisi, tuan." Reka masuk dan kembali merapatkan pintu, lalu mendekat ke depan meja kerja Leon.
"Ini laporan yang anda minta, tuan." Reka menggunakan bahasa formal.
"Duduklah!."
Reka tak langsung duduk, wanita itu justru menatap Leon dengan intens, seolah dapat merasakan bahwa tujuan Leon memanggilnya bukan benar-benar untuk mengantarkan laporan yang diminta.
"Kamu mau duduk di kursi atau di pangkuan mas, hm?."
Tanpa menunggu lama, Reka lantas menarik pelan kursi di depan meja kerja Leon kemudian menempatinya.
"Sebenarnya mas mau bicara apa? Apa tidak bisa nanti di apartemen saja kita bicara?." Kini Reka tak lagi menggunakan bahasa formal.
"Sebentar lagi kita akan menikah kembali, dan mas ingin kedekatan kita ini tak perlu disembunyikan dari siapapun. Maksudnya, kamu tidak perlu takut kalau hubungan kita sampai ketahuan oleh pegawai yang lain! Lagipula, cepat atau lambat mereka juga pasti akan tahu."
"Kamu tidak perlu khawatir akan menjadi bahan pergunjingan! Mas akan menjamin, tidak ada yang akan berani menggunjingkan kamu." Kalau sudah Leon yang turun tangan, mana mungkin ada pegawai yang berani membicarakan hal buruk tentang Reka.
"Terserah mas saja!." Balas Reka. Sebenarnya apa yang dikatakan Leon ada benarnya. Mau sampai kapan ia main kucing-kucingan, cepat atau lambat hubungan mereka pasti akan ketahuan juga oleh pegawai Leon, terlebih jika mereka telah resmi menikah kembali.
"Satu lagi mas, aku tidak ingin adanya pesta. Aku ingin pernikahan kita diadakan secara sederhana saja. Kalau memang mommy-nya mas Leon ingin mengadakan syukuran, silahkan, tapi kalau bisa di adakan secara sederhana saja!. Mengundang anak-anak panti asuhan jauh lebih bermanfaat ketimbang buang-buang uang untuk melangsungkan pesta megah, mas." Pinta Reka.
"Kalau untuk itu mas tidak masalah, asalkan nikahnya sama kamu. Nanti mas akan membicarakannya dengan mommy." Balas Leon. Mau adanya pesta ataupun tidak, bukan masalah bagi Leon asalkan calon istrinya adalah Reka, wanita yang telah melahirkan seorang putra untuknya.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin mas bicarakan, aku akan kembali bekerja."
Leon mengangguk, mempersilahkan Reka meninggalkan ruangannya.
Sekembalinya di ruangan kerja, Reka melihat Ibnu baru saja tiba. Untuk pertama kalinya ia melihat Ibnu datang terlambat ke kantor.
"Mas Ibnu....." Ada perasaan sungkan di hati Reka saat menyapa pria itu. Ya, hingga detik ini Reka belum menyudahi hubungannya dengan Ibnu secara langsung.
Ibnu hanya merespon sapaan Reka dengan seulas senyum.
"Mas...." Reka tidak menggunakan panggilan formal. "Boleh kita bicara sebentar!." Reka berniat menyudahi semuanya sekarang juga, agar tidak terus dihantui perasaan bersalah terhadap pria itu.
Di koridor gedung yang jarang di lalui para pegawai, di sinilah Reka mengajak Ibnu untuk mengobrol. Duduk berdampingan di bangku besi.
"Mas, sebelum aku ingin minta maaf! Sungguh, aku tidak bermaksud mempermainkan perasaan mas Ibnu, aku hanya_."
"Tidak perlu minta maaf! Kalau aku jadi kamu, aku pun pasti akan melakukan apapun demi bisa hidup bersama dengan buah hatiku."
Deg
Reka cukup terkejut. Dari kalimat Ibnu, sepertinya pria itu sudah tahu semuanya.
"Tidak perlu bertanya, dari mana aku mengetahuinya! Yang jelas, sekarang aku ikhlas melepasmu. Lagipula, sejak awal aku sudah bisa merasakan bahwa kamu masih sangat mencintai Daddy-nya baby Richard. Membohongi perasaan sendiri sama halnya dengan menggali kuburan untuk diri sendiri, Reka. Jangan hanya karena satu dan lain hal, kamu sampai mengesampingkan perasaan kamu sendiri. Kadang memperjuangkan seseorang yang kita cintai perlu untuk dilakukan demi membahagiakan diri sendiri." Reka tertegun mendengar nasehat Ibnu. Sungguh, sikap pria itu sangat dewasa dan bijaksana.
Layaknya seorang kakak pada adik perempuannya, Ibnu mengelus puncak kepala Reka. "Hiduplah dengan bahagia! Jangan terus mengesampingkan perasaanmu demi orang lain, terlebih mereka yang tidak peduli padamu! Jika tidak dapat menutup mulut orang banyak dengan kedua tanganmu, maka sebaiknya gunakan kedua tanganmu untuk menutup telinga dari omongan buruk orang tentang dirimu!."
Dengan wajah haru, Reka mengangguk. "Terima kasih, mas. Mas Ibnu adalah salah satu orang baik yang pernah aku temui di muka bumi ini."
"Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, Reka. Lagian, mana ada orang baik yang menghamili anak gadis orang." Kepalang basah, mandi sekalian. Ia sudah telanjur mengikuti alur kegilaan Georgina, sekalian mengaku dihadapan Reka apa salahnya. Toh lambat Laun Reka juga akan tahu tentang rencana pernikahannya dengan Georgina yang mengaku sedang mengandung anaknya.
Ucapan Ibnu langsung membungkam mulut Reka.
"Kalau begitu aku pergi dulu, masih ada urusan yang harus diselesaikan soalnya." Ibnu berpamitan, pria itu bangkit dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Reka bersama wajah syok nya.
"Aku tidak salah dengar kan?." Gumam Reka, seakan tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya dari mulut pria sebaik Ibnu Syaputra.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan Reka, lagipula itu bukan urusan kamu!." lanjut gumam Reka, sebelum akhirnya ikut beranjak dari duduknya dan berlalu.
Di ruangan pimpinan.
"Ada apa, pak Ibnu? Apa pak Ibnu ingin menyampaikan sesuatu?." Tanya Leon pada Ibnu yang tiba-tiba mendatangi ruangannya.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak kepada anda yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk bergabung di LF Group selama satu tahun terakhir. Selama menjadi bagian dari LF Group saya belajar tentang banyak hal, dan salah satunya tentang kerja keras. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak. Dan yang terakhir sekaligus yang paling berat bagi saya, saya ingin mengajukan surat pengunduran diri dari LF Group." Tutur Ibnu kemudian meletakkan surat pengunduran dirinya ke atas meja kerja Leon.
"Saya sangat berharap alasan dari pengunduran diri anda ini bukan karena tidak puas dengan gaji yang diberikan oleh perusahaan atas kinerja anda selama ini. Tetapi, bila memang itu alasannya, maka anda berhak mengajukan permohonan untuk kenaikan gaji!." Leon tidak ingin ada pegawainya yang resign dikarenakan oleh ketidakpuasan dengan gaji yang diberikan oleh perusahaan.
"Bukan, sama sekali bukan karena itu, tuan. Saya memutuskan resign karena saya harus kembali mengurus bisnis keluarga. Sudah cukup lama saya menghindar dari tanggungjawab dalam mengurus bisnis keluarga, kini sudah saatnya bagi saya untuk kembali." Balas Ibnu.
"Kalau memang itu alasan anda, maka saya tidak bisa mencegahnya. Saya hanya bisa mendoakan semoga kesuksesan selalu menyertai anda, pak Ibnu."
"Terima kasih banyak, tuan Leonardo Fernandez." Kedua pria tampan dengan porsinya masing-masing tersebut saling berjabat tangan.
nexttt, semangaatt thoorr
next, semangaaatt thoorr
semangaatt thor
lanjut dong thor up terbarunya