Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit Marah
"Mau beli apa, Mbak?" tanya Naresta sambil tersenyum.
"Itu, Mbak, biasa. Saya mau roti cokelat, ya. Soalnya Mas Dimas sudah menagih saya terus dari kemarin."
Rani terkekeh kecil.
"Tapi, dia juga ikut panik saat melihat saya muntah-muntah terus."
Naresta langsung tersenyum.
"Mas Dimas memang perhatian, ya."
"Iya, Mbak. Sampai saya bilang, 'Aku cuma mual, Mas.' Tapi dia tetap panik."
Aya yang sedang menyusun barang di rak ikut menoleh.
"Berarti Mas Dimas langsung khawatir?"
"Iya, Mbak. Bahkan sampai bingung mau melakukan apa."
Naresta tertawa kecil.
"Berarti sama seperti Mas Elvan."
Rani mengangguk.
"Iya. Ternyata calon ayah kalau lihat istrinya sakit memang langsung panik."
Naresta mengusap perutnya.
"Mas Elvan juga begitu. Aku cuma bilang capek sedikit saja, dia langsung menyuruhku duduk."
Aya terkekeh.
"Sedikit? Mbak Naresta kalau sudah di rumah malah sering dilarang melakukan macam-macam."
"Ya karena dia terlalu khawatir."
Rani tersenyum.
"Berarti nanti kalau anak saya lahir, mungkin Mas Dimas juga bakal begitu."
"Semoga saja perhatian, bukan malah bikin kamu tambah pusing," jawab Naresta sambil tertawa kecil.
Rani ikut tertawa.
"Iya, Mbak."
Naresta kemudian mengambil roti cokelat dari rak dan meletakkannya di atas meja kasir.
"Nah, ini rotinya."
Rani langsung tersenyum.
"Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama."
Rani kemudian melihat ke arah perut Naresta.
"Eh, Mbak. Sudah mulai sering terasa gerakannya?"
"Iya. Sekarang malah sering sekali."
"Sering?"
"Iya."
Naresta tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Kadang kalau malam malah susah tidur karena dia bergerak terus."
Rani tertawa.
"Berarti anaknya aktif."
"Iya. Mas Elvan kalau merasakan gerakannya juga langsung senang."
Aya langsung menyahut dari belakang.
"Kalau Mas Elvan sudah mendengar atau merasakan bayinya bergerak, bisa lama banget menempel di perut Mbak Naresta."
Naresta tertawa malu.
"Iya, benar."
Rani tersenyum melihat keduanya.
"Semoga semuanya lancar sampai lahiran, ya, Mbak."
"Aamiin. Kamu juga."
Rani mengangguk.
"Aamiin."
Rani mengeluarkan uang dari tas kecilnya, lalu menyerahkannya kepada Naresta.
"Ini, Mbak, uangnya."
Naresta langsung menggeleng.
"Nggak usah, Rani. Ambil saja."
Rani langsung mengernyit.
"Lho, Mbak, jangan begitu."
"Sudah, anggap saja buat calon ibu."
Rani tersenyum malu.
"Nggak bisa begitu, Mbak. Saya beli, ya tetap harus bayar."
Naresta kembali mendorong uang itu ke arah Rani.
"Serius, ambil saja."
"Tapi, Mbak..."
Aya yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya ikut menyela.
"Sudah, Rani. Kalau Mbak Naresta sudah bilang begitu, ambil saja."
Rani menatap Aya.
"Benar, Mbak?"
"Iya."
Rani akhirnya memasukkan kembali uangnya ke dalam tas.
"Terima kasih, Mbak."
Naresta tersenyum.
"Sama-sama."
Rani kemudian mengambil roti cokelat yang sudah dibungkus.
"Nanti kalau Mas Dimas tanya, bilang saja saya dapat dari Mbak Naresta."
Naresta tertawa kecil.
"Iya, bilang begitu."
Rani mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya pulang dulu, Mbak."
"Hati-hati, Rani. Jangan terlalu capek."
"Iya, Mbak."
Rani pun berjalan menuju pintu toko.
Sebelum keluar, ia kembali menoleh.
"Semoga kehamilan Mbak juga lancar sampai lahiran."
"Aamiin. Kamu juga, ya."
"Aamiin."
Tring!
Pintu toko kembali tertutup setelah Rani pergi.
Naresta tersenyum kecil sambil memperhatikan pintu tersebut.
"Semoga Rani baik-baik saja."
Aya mengangguk.
"Aamiin."
Naresta kemudian mengusap perutnya perlahan.
"Sebentar lagi kita juga akan bertemu, Nak."
Naresta bangun dari duduknya. Gerakannya membuat Aya langsung menegurnya.
"Mau ke mana, Mbak?"
"Sudah mulai sakit pinggangku karena kelamaan duduk. Mau masuk rumah saja biar bisa rebahan."
"Yaelah, Mbak. Tadi juga ngebet banget nyuruh saya bawa Mbak ke toko."
"Hehe."
Naresta tersenyum kecil sambil memegangi pinggangnya.
"Aya, tolong panggilkan Mas-mu. Aku nggak sanggup jalan, deh."
Aya langsung menghela napas.
"Kan sudah saya bilang, jangan terlalu lama di toko."
"Iya, iya. Sekarang panggilkan Mas Elvan."
"Iya, tunggu."
Aya segera berbalik dan memanggil Elvan yang sedang berada di bagian belakang toko.
"Mas Elvan!"
Tak lama kemudian, Elvan muncul dengan wajah bingung.
"A-ada a-apa, M-mbak A-Aya?"
"Itu, Mas. Mbak Naresta sakit pinggang dan nggak sanggup jalan. Tolong bantu bawa masuk."
Elvan langsung menoleh ke arah Naresta.
"S-sayang?"
Naresta tersenyum kecil.
"Mas, bantu aku."
Elvan segera menghampiri istrinya.
"S-sakit?"
"Pinggangku saja, Mas. Kelamaan duduk."
Elvan langsung terlihat khawatir.
"A-aku g-gendong?"
Naresta mengangguk.
"Iya. Tolong."
Elvan kemudian mengangkat Naresta dengan hati-hati, menggendongnya di depan dengan kedua tangannya.
Naresta melingkarkan tangannya di leher Elvan.
"Pelan-pelan, Mas."
"I-iya."
Aya berdiri di belakang mereka sambil menggelengkan kepala.
"Tuh, kan. Baru sebentar di toko sudah minta digendong."
Naresta terkekeh.
"Namanya juga sudah hamil besar."
Elvan menatap Aya sebentar.
"J-jangan m-marah."
Aya langsung mengangkat kedua tangannya.
"Saya nggak marah, Mas. Saya cuma ngomel sedikit."
Naresta tersenyum.
"Sudah, ayo masuk."
Elvan mengangguk dan membawa Naresta masuk ke dalam rumah dengan langkah perlahan.
Aya hanya bisa menghela napas melihat keduanya.
"Dasar pasangan yang satu posesif, yang satu manja."
Hanya butuh beberapa menit, akhirnya mereka tiba di rumah.
Elvan langsung membawa Naresta menuju kamar. Sesampainya di sana, ia berjalan perlahan lalu menurunkan istrinya dengan hati-hati ke atas tempat tidur.
"Pelan-pelan, Sayang."
"Iya, Mas."
Elvan memastikan Naresta sudah berbaring dengan nyaman sebelum duduk di sisi ranjang.
Naresta menatap suaminya.
"Mas."
"I-iya?"
"Aku boleh minum es?"
Elvan langsung terdiam.
"Es?"
"Iya. Aku pengin minum es."
Elvan terlihat berpikir beberapa detik.
"B-boleh."
Naresta langsung tersenyum.
"Serius?"
"I-iya. Tapi s-sedikit."
Naresta tertawa kecil.
"Kenapa sedikit?"
"J-jangan kebanyakan."
"Iya, Mas."
Elvan kemudian berdiri.
"M-mau es a-apa?"
"Es teh saja."
Elvan mengangguk.
"E-es t-teh."
Naresta langsung memanggilnya sebelum ia keluar kamar.
"Mas."
Elvan menoleh.
"A-apa?"
"Hati-hati."
Elvan mengangguk kecil.
"I-iya."
Ia kemudian keluar kamar untuk mengambilkan minuman yang diinginkan istrinya.
Naresta tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Anak Mama, ternyata Papa masih perhatian banget."
Tak lama kemudian, Elvan kembali ke kamar sambil membawa sebuah gelas kecil berisi es teh.
Naresta langsung menatap gelas tersebut.
"Mas, kok kecil? Itu nggak bakal bikin hausku hilang."
Elvan duduk di tepi ranjang.
"J-jangan k-kebanyakan."
Naresta mengerucutkan bibirnya.
"Tapi aku haus."
Elvan menatap gelas itu, lalu menatap istrinya.
"S-sedikit d-dulu."
"Mas..."
"Kalau m-masih haus, n-nanti aku a-ambil lagi."
Naresta akhirnya mengangguk.
"Iya deh."
Elvan menyerahkan gelas tersebut kepada Naresta dengan hati-hati.
"Minum p-pelan."
Naresta menerima gelas itu.
"Iya, Mas."
Ia mulai meneguk es teh tersebut perlahan. Setelah beberapa tegukan, Naresta kembali menatap suaminya.
"Mas."
"I-iya?"
"Enak."
Elvan tersenyum kecil.
"Bagus."
Naresta kembali meminum es tehnya.
Namun, baru beberapa tegukan, ia langsung mengulurkan gelasnya kepada Elvan.
"Mas, habis."
Elvan melihat gelas yang hampir kosong.
"C-cepat b-banget."
"Aku kan haus."
Elvan mengangguk.
"M-mau lagi?"
Naresta tersenyum lebar.
"Iya."
Elvan berdiri.
"T-tunggu."
Naresta langsung tertawa kecil.
"Jangan dibawakan yang kecil lagi, ya."
Elvan menoleh.
"B-besar?"
"Iya."
Elvan berpikir sebentar.
"U-ukuran s-sedang."
Naresta menghela napas sambil tersenyum.
"Ya sudah, sedang saja."
Elvan pun kembali keluar kamar untuk mengambilkan es teh.
Naresta hanya menggelengkan kepala.
"Mas Elvan ini..."