Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Tamara tampak mengenakan gaun malam berwarna merah menyala dengan potongan dada rendah yang mencolok, berusaha menarik perhatian setiap pasang mata di ruangan itu. Di sampingnya, Roy mengenakan setelan jas hitam formal, namun raut wajah pria itu tampak agak masam dan terpaksa, mengingat ia harus menemani Tamara mendatangi pesta pernikahan mewah yang undangan eksklusifnya didapatkan dengan susah payah oleh keluarga Tamara.
"Astaga, Ra. Ramai banget. Ini benar-benar pesta konglomerat kelas atas," bisik Roy sambil mengedarkan pandangan kagum ke sekeliling ruangan yang berkilauan.
Tamara mendengus pelan, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan rasa percaya diri yang berlebihan. "Tentu saja, yang menikah ini adalah putra tunggal Tuan besar Mahendra sekaligus pewaris Vanguard Group, jadi mengadakan pernikahan semegah ini itu hal mudah. Aku ini termasuk sepupu jauhnya Tuan Aksa, makanya aku bisa datang kesini dan kamu juga bisa datang kesini karena bantuanku," ucap Tamara angkuh, merapikan letak kalung berlian imitasi di lehernya.
"Ayo kita ke depan, aku penasaran siapa wanita sialan yang berhasil merebut posisi menantu utama keluarga Mahendra," gerutu Tamara, menarik lengan Roy untuk menerobos kerumunan tamu.
Suasana di dekat panggung utama tampak begitu riuh, sorot lampu warna-warni memantul indah dari layar LED raksasa yang terpampang di belakang pelaminan, menampilkan potret wajah pengantin pria dan wanita secara bergantian dengan jarak dekat.
Saat Tamara dan Roy semakin mendekati barisan depan, langkah kaki Tamara seketika terhenti total. Matanya membelalak lebar, dan rahangnya nyaris jatuh ke lantai.
Di atas layar LED yang amat besar itu, terpampang jelas potret wajah sang mempelai wanita dengan riasan pengantin yang sangat anggun. Wajah yang selama ini amat sangat ia kenal, wajah yang sudah ia hina dan rendahkan di kampus, gadis bisu miskin yang menjadi target perundungannya karena dekat dengan Roy.
"T-tidak mungkin...," gumam Tamara terbata-bata, suaranya nyaris hilang tenggelam di tengah alunan musik. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak mempercayai apa yang dilihatnya.
Roy, yang berdiri tepat di samping Tamara, ikut mendongakkan kepala menatap layar raksasa tersebut. Darahnya mendadak berdesir dingin, napasnya tercekat di tenggorokan dan wajahnya memucat pasi seketika.
"Ro-Roy...," Tamara menoleh ke arah kekasihnya dengan tubuh yang mulai gemetar hebat karena terkejut.
"Itu... itu Nadia, kan? Apa aku salah lihat? Kenapa dia... kenapa dia bisa ada di sana?" tanya Tamara.
Roy tidak mampu menjawab, matanya kini beralih dari layar menatap lurus ke atas panggung pelaminan. Di sana, berdiri sosok pria jangkung berjas hitam dengan aura dominasi yang begitu mengerikan dan mencengkeram.
Pria yang berdiri di samping Nadia, merangkul pinggang ramping gadis itu dengan posesif adalah Aksa.
'Nadia, harusnya aku yang ada disamping kamu... maafin aku, selama kamu dibully Tamara, aku tidak bisa membantu kamu. Sekarang, kamu justru menikah dengan pria lain,' batin Roy.
Tamara merasakan panas yang luar biasa menjalar di dada dan sekujur tubuhnya, mepalan tangannya di sisi gaun merah menyala itu begitu kuat hingga kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangannya sendiri. Rasa iri yang teramat sangat, benci dan tidak percaya bergemuruh hebat di dalam benaknya.
'Gimana bisa si bisu jadi menantu keluarga Mahendra,' teriak Tamara dalam hati.
Perempuan bisu yang selama ini selalu ia injak-injak, ia rendahkan dan ia anggap sampah di kampus, kini berdiri di singgasana kemewahan sebagai nyonya muda dari keluarga konglomerat paling berkuasa di negeri ini. Pernikahan megah bernilai miliaran rupiah, gaun pengantin bertabur kristal swarovski dan bersuamikan seorang pria tampan berwibawa tinggi yang memancarkan aura dominasi mutlak, semuanya jatuh ke tangan Nadia, perempuan yang tidak memiliki suara.
Emosi Tamara bergejolak nyaris meledak, otaknya yang licik berputar keras dan membayangkan bagaimana ia ingin meneriaki Nadia saat itu juga, membongkar masa lalu gadis itu dan mempermalukannya di hadapan para tamu elite. Namun, akal sehatnya yang tersisa langsung menarik rem darurat dengan keras.
Ini adalah keluarga Mahendra, sedikit saja ia membuat keributan atau mengacaukan acara sakral ini, bukan hanya reputasinya yang hancur. Tapi bisnis keluarganya di dunia sosialita bisa dipastikan rata dengan tanah dalam hitungan detik, Aksa dikenal sebagai pria dingin tanpa ampun yang tidak akan segan-segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
'Sabar, Tamara... tahan emosi lo,' batin Tamara meredam amarahnya dengan gemetar.
Sudut bibir Tamara yang tadinya bergetar karena geram dipaksa untuk melengkung ke atas, menciptakan sebuah senyuman palsu yang amat kaku.
'Nikmati saja dulu kebahagiaan murahanmu ini, Nadia. Lihat saja nanti, gue pasti akan membuat perhitungan. Tapi tidak sekarang,' batin Tamara.
Untuk saat ini, strategi terbaik yang harus ia ambil adalah mencari muka. Tamara memutuskan untuk tetap naik ke atas pelaminan, berpura-pura menjadi kerabat yang ikut berbahagia demi mencuri perhatian dan mengambil hati keluarga Mahendra, terutama sang pengantin pria.
Di sisi lain, Roy berdiri mematung di samping Tamara dengan tatapan kosong dan hati yang hancur berkeping-keping, rasa bersalah yang teramat dalam menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Bayangan saat-saat di mana Nadia menangis diam-diam di sudut kampus karena menjadi korban perundungan Tamara, sementara ia hanya bisa diam terpaku tanpa melakukan apa pun untuk membela, berputar jelas di kepalanya.
Roy menyadari kebodohan terbesarnya, ia telah melepaskan permata berlian yang begitu tulus karena paksaan perempuan manipulatif seperti Tamara dan kini permata itu telah bersanding dengan pria yang jauh berada di luar jangkauannya, pria yang mampu memberikan segalanya yaitu perlindungan yang tidak pernah bisa Roy berikan dulu.
Antrean tamu di atas pelaminan terus bergerak maju. Tak lama kemudian, giliran Tamara dan Roy yang berdiri tepat di hadapan pengantin baru tersebut.
Nadia, yang tadinya tersenyum ramah menyalami para tamu, mendadak membeku di tempatnya. Jantungnya seolah berhenti berdegup ketika kedua mata bulatnya menangkap sosok Tamara dan Roy yang kini berdiri tepat di hadapannya. Trauma masa lalu, hinaan-hinaan keji, serta rasa sakit akibat perundungan yang dilakukan Tamara di kampus seketika melintas tajam di benaknya, membuat jemari lentik Nadia di balik buket bunga mendadak dingin dan bergetar hebat.
Aksa, yang berdiri tepat di samping Nadia dengan posisi posesif, langsung menyadari perubahan drastis pada fisik istrinya. Ia merasakan jemari Nadia yang bersandar di lengannya tiba-tiba mencengkeram erat kain jasnya dan napas gadis itu tampak memburu seketika.
Sorot mata pekat Aksa langsung menajam, ia menundukkan kepalanya sedikit dan menatap wajah Nadia yang mendadak sedikit pucat.
"Ada apa, Nadia? Kamu tidak enak badan?" tanya Aksa dengan suara baritonnya yang rendah dan penuh perhatian, kontras dengan sikap dingin yang biasa ia tunjukkan pada orang lain.
Nadia mendongak, menatap manik mata hitam suaminya yang memancarkan kekhawatiran mendalam. Sadar bahwa hari ini adalah hari bahagianya dan ia tidak ingin merusak suasana atau memicu masalah besar, Nadia dengan cepat menggelengkan kepalanya pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memberikan senyuman tipis dan mengangguk meyakinkan, memberikan kode bahwa dirinya baik-baik saja.
.
.
.
Bersambung.....
coba dicas dan kabari Aksa biar nggak mikir yang aneh-aneh 🥰🥰🥰
se brutal apa pun masalah kalau istri yang utama di hati pasti langsung mentok di istri...😤
udah tua bukannya cari hidup damai malah masih mikirin harta orang...
jadi ingat temanku yang di pisahkan dari anak kandung karena keluarga pacarnya nggak merestui.bahkan ketika temanku hamil mereka ngotot minta tes DNA dulu demi membuktikan itu cucu mereka atau bukan.setelah bayi lahir malah mereka merebut hak asuhnya.uang bisa mengatur segalanya..😤