menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARIS YANG TERLEWATI
empat tahun kemudian...
Cahaya matahari pagi memancar hangat, menembus tirai tipis dapur dan membiaskan warna keemasan di atas meja makan. Suasana rumah terasa begitu tenang, hanya dihiasi aroma khas roti panggang yang gurih berpadu dengan wangi manis susu panas yang baru saja dituangkan Yuki ke dalam cangkir kecil bermotif kelinci.
Di salah satu kursi, Sena duduk sambil mengayun-ayunkan kaki mungilnya yang bahkan belum menyentuh lantai. Mulutnya yang sedikit belepotan selai cokelat cemberut, matanya melirik gelisah ke arah tangga.
"Ma... Papa kok belum turun juga? Bentar lagi aku telat sekolah," omel Sena. Suara cemprengnya dipenuhi kejengkelan khas anak usia empat tahun yang merasa waktunya terbuang sia-sia.
Yuki tersenyum menggeleng melihat tingkah putri kecilnya itu. Ia berjalan mendekat, lalu mengelus lembut rambut halus Sena yang diikat kencang dengan pita merah muda. "Iya, bentar lagi Papa turun, Sayang. Papa kan semalam tidur agak malam."
Belum sempat Sena membalas, derap langkah kaki yang terburu-buru terdengar bergetar dari arah tangga kayu. Akira muncul dengan kemeja yang sudah rapi, namun jemarinya masih sibuk mengancingkan tali jam tangan kulitnya. Tatapannya langsung tertuju pada sosok kecil yang sedang menatapnya galak dari meja makan.
"Papa lama! Aku nanti telat, lho!" tuduh Sena seraya menunjuk Akira memakai sisa pinggiran roti panggangnya.
Akira terkekeh pelan. Ketegangan dan beban kerja ilmiah yang biasa menggelayuti kepalanya mendadak menguap setiap kali melihat ekspresi sok dewasa dari replika mini istrinya ini. Langkah kakinya mendekat, lalu dengan gemas jemarinya mencubit lembut pipi Sena yang mengembung.
"Iya, iya, maaf ya. Bentar lagi kita berangkat, Princess," jawab Akira lembut.
"Aaaa! Sakit, Papa! Jangan dicubit-cubit terus pipi aku!" rengek Sena sambil menepis tangan papanya dengan kedua tangan mungilnya, membuat pipinya justru makin merona merah.
Yuki yang menyaksikan adegan rutin setiap pagi itu tak mampu lagi menahan tawa. Tawanya renyah memecah kecanggokkan pagi.
"Sayang, nanti kamu ada jadwal mengajar atau langsung ke laboratorium?" tanya Akira setelah ia mendudukkan diri sebentar untuk menyesap kopi hitamnya.
Yuki menyandarkan tubuhnya di tepi meja makan, menatap suaminya penuh kehangatan. "Hari ini aku nggak ke kampus. Ada jadwal photoshoot buat brand baru nanti siang."
"Terus perginya kapan?"
"Mungkin setelah kalian berdua pergi. Aku mau beres-beres rumah sebentar dulu," kata Yuki.
Setelah menghabiskan sarapan singkatnya dalam tempo cepat dan diwarnai desakan tanpa henti dari Sena yang terus mengaitkan tas punggungnya, Akira akhirnya berdiri. Sebelum melangkah keluar, Akira meraih pinggang Yuki, mendongakkan wajah istrinya pelan, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi Yuki. Yuki membalasnya dengan senyuman manis dan kecupan singkat di bibir Akira.
Sena yang berdiri di antara mereka berdua langsung meletakkan kedua tangannya di pinggang, mendongak penuh protes. "Ih! Kok aku nggak dicium?!"
Sontak Akira dan Yuki tertawa berbarengan. Yuki langsung berlutut dan menempelkan bibirnya ke pipi Sena, menciumnya bertubi-tubi hingga suara tawa berbaur dengan jeritan geli Sena memenuhi ruangan. "Udah, Ma! Cukup! Nanti pipi Sena habis!"
"Hati-hati di jalan ya, Pak Profesor," goda Yuki seraya mengiringi langkah suami dan anak perempuannya sampai ke depan pintu front door.
"Kami berangkat, Sayang," pamit Akira.
"Bye-bye, Mama!" seru Sena riang seraya melambaikan tangannya tinggi-tinggi.
"Bye-bye, putri Mama yang paling cantik. Belajar yang pintar ya!" balas Yuki, melepas keberangkatan dua orang terpenting dalam hidupnya itu dengan senyuman yang merekah penuh ketulusan.
Perjalanan menuju TK Sena disambung dengan obrolan tak henti dari sang putri tentang kelinci peliharaan di sekolahnya. Sesampainya di halaman sekolah yang asri dan dipenuhi warna-warni cat dinding, Akira menggandeng tangan kecil Sena berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas.
Sejumlah ibu-ibu muda yang juga sedang mengantarkan anak-anak mereka mendadak menghentikan bisik-bisik rumit mereka. Pandangan mereka tertuju pada sosok pria tinggi berkacamata, berkemeja rapi, dan memiliki aura ketampanan yang tenang namun tegas.
"Duh, itu papanya Sena, ya? Ganteng banget, kaya aktor."
"Bukan aktor, tau! Dia itu Profesor Akira, ahli biokimia yang sering masuk jurnal ilmiah itu!"
"Aduh, sempurna banget ya..."
Sena yang mendengar bisikan-bisikan bernada kagum dari ibu-ibu di sekitarnya langsung menatap papanya penuh selidik. Ia melipat kedua tangannya di dada, memperkasai langkahnya hingga Akira terpaksa berhenti.
"Papa awas ya, jangan cari Mama baru!" kata Sena tegas dengan mata membulat sempurna.
Akira hampir saja tersedak liurnya sendiri. Ia menggeleng heran, lalu kembali berlutut untuk mencubit gemas pipi kenyal itu lagi. "Aduh, siapa sih yang ngajarin ngomong gitu, Sayang? Papa cuma sayang sama Mama dan Sena."
"Awas aja kalau nakal!" ancam Sena, meski detik berikutnya ia langsung melingkarkan lengannya di leher Akira dan mencium pipi papanya dengan penuh kasih sayang. "Yaudah, Sena masuk dulu."
"Iya. Nanti pas jam pulang sekolah, Papa yang jemput ya. Jangan lari-lari di kelas," pesan Akira lembut sebelum melepaskan Sena yang disambut oleh guru TK-nya di ambang pintu.
Atmosfer hangat kekeluargaan itu mendadak berganti menjadi dingin dan steril begitu Akira menginjakkan kaki di National Center for Advanced Biomedical Sciences. Jas laboratorium putih yang membalut tubuhnya seolah menyulapnya kembali menjadi sosok akademisi yang dingin, penuh presisi, dan tak tersentuh.
Ia melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya yang dipenuhi tumpukan pustaka ilmiah, mikroskop elektron, dan deretan tabung reaksi.
Tok, tok.
Asisten penelitiannya masuk membawa sebuah map dokumen tebal bertuliskan data reaksi enzimatis yang sedang mereka teliti selama tiga bulan terakhir. "Profesor Akira, ini hasil pengujian sampel babak akhir. Tapi... ada penyimpangan variabel sekitar 4,2 persen dari hipotesis awal kita."
Akira menerima dokumen tersebut tanpa bersuara. Matanya mengecil di balik lensa kacamata saat menelusuri deretan angka dan grafik kompleks. "Ini melenceng. Jika persentase isolasi proteinnya seperti ini, reaksi sintesisnya tidak akan stabil."
Pria itu langsung duduk di meja kerjanya, mengambil pena merah, dan mulai mengurai rumus demi rumus. Ia begitu tenggelam dalam simulasi struktur molekul hingga mengabaikan segala hal di sekitarnya. Suara detak jarum jam di dinding bergema teratur, berpacu dengan gesekan ujung penanya di atas kertas kalkir.
Dunia Akira mendadak menyempit. Baginya saat ini, yang ada hanya logika, angka, dan batas-batas garis penelitian yang tidak boleh melenceng sedikit pun. Ia terus mencari letak kesalahan isolasi variabel tersebut, memutar otak tanpa menyadari waktu terus bergulir.
Jarum panjang jam dinding telah bergeser cepat. Angka menunjuk tepat di pukul 12.15 siang.
Di luar gedung laboratorium yang tenang dan bernuansa hening, melangkah masuk sesosok tubuh kecil dengan seragam TK bertopi kuning. Sena berjalan sendirian menelusuri koridor laboratorium yang asing baginya. Langkah kaki kecilnya menapak mantap, meski sesekali matanya menatap bingung pada jajaran pintu kaca berlabel bahasa Latin.
Beberapa staf peneliti menatap anak kecil itu dengan dahi berkerut.
"Dek, anak siapa ya? Cari siapa di sini?" tanya seorang staf.
Namun, Sena yang sedang merajuk hanya menatap mereka dengan bibir dower dan menggeleng tak mau menjawab. Ia terus berjalan dengan ingatan samar-samar tentang tempat kerja papanya. Hingga langkahnya terhenti di lantai dua, tepat di depan sebuah pintu kayu jati berukir plakat kuningan mengkilap:
Prof. Akira Riyuma - Head of Department.
Tanpa mengetuk, tanpa permisi, dan dengan sisa kejengkelan yang membumbung tinggi, Sena mendorong pintu berat itu sampai berdecit nyaring.
Brak!
Akira yang sedang konsentrasi penuh memegang kanta pembesar langsung terkejut. Dahinya berkerut dalam, napasnya tertahan. Ia bersiap memberikan teguran keras pada siapa pun stafnya yang bertindak tidak sopan memasuki ruangannya tanpa izin.
"Berapa kali saya katakan, kalau masuk ruangan ini harus"
Kalimat tegas itu terputus di tenggorokan.
Di depan pintu yang terbuka lebar, berdiri seorang anak kecil berwajah merah padam. Tas punggung berbentuk kelincinya masih tersangkut di bahu, dan tangannya mengepal di samping paha.
Akira terpaku. Tatapannya beralih dari wajah murka anak perempuan itu ke arah jam dinding di atas lemari arsip.
12.20 WIB.
Waktu pulang sekolah Sena adalah pukul 11.30. Ia melupakan janjinya. Ia terlalu sibuk dengan garis-garis rumus hingga melewatkan janji paling penting hari ini.
"Sena...?" panggil Akira gagap. Rasa bersalah mendadak menghantam dadanya jauh lebih keras daripada kegagalan eksperimen biologi mana pun.
Sena tidak menjawab. Ia melipat tangannya, membuang muka ke arah rak buku, lalu mulai mengomel dengan bahasa anak-anak yang cepat dan tak beraturan. "Papa jahat! Papa bohong! Katanya mau jemput jam sebelas! Sena ditungguin Ibu Guru sampai sekolahnya mau dikunci! Papa cuma ingat sama tabung-tabung bau itu!"
Akira buru-buru melepaskan jas laboratoriumnya, melemparkannya sembarangan ke atas kursi hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya lalu melangkah cepat menghampiri putrinya.
"Maafkan Papa, Sayang... Papa benar-benar lupa waktu. Maaf ya?" Akira berlutut, mencoba mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong Sena.
Namun, Sena memutar tubuhnya dengan cepat. "Nggak mau! Sena gak mau dipegang Papa! Papa nakal!"
Akira membeku di posisinya. Tangan yang biasanya begitu ahli mengendalikan instrumen bedah mikroskopis dan memecahkan persamaan kimia yang rumit, kini mendadak gemetar dan bingung harus berbuat apa. Pria genius itu benar-benar kehilangan akal menghadapi amukan putri kecilnya.
Saat Akira sedang panik dan meratapi kebodohannya, sebuah suara gemerisik langkah kaki berhak tinggi terdengar mendekat dari arah luar door frame.
"Masa memecahkan sebuah hasil biologi yang sangat rumit bisa, tapi tidak bisa membujuk putrinya sendiri?"
Akira mendongak. Di sana, menyandarkan bahunya di ambang pintu sambil bersedekap, berdiri Yuki. Istrinya tampil mempesona dengan pakaian kerja hasil photoshoot hari ini, menatap pemandangan di depannya dengan tawa kecil yang tertahan.
"Yuki...?" Akira bernapas lega, namun sekaligus merasa malu. "Kamu yang jemput Sena?"
Yuki melangkah masuk, mengelus kepala Sena yang masih merengut. "Untung studio photoshoot-ku dekat dari sekolah Sena. Pas aku lewat jam dua belas kurang, aku liat princess kecil ini duduk sendirian di depan pagar sama gurunya. Pas ditanya, katanya Papanya hilang."
Yuki menatap Akira penuh arti, lalu matanya beralih ke meja kerja suaminya yang berantakan oleh rumusan matematis. Yuki berjalan mendekat ke arah Akira, berlutut tepat di samping suaminya, lalu menyenggol bahu Akira pelan.
"Ingat kata-kata kamu semalam, Pak Profesor?" bisik Yuki lembut di telinga Akira, cukup pelan agar tak terdengar Sena. "Kamu bilang, kamu sedang belajar mewarnai di luar garis. Tapi begitu masuk lab, kamu mengurung diri lagi di dalam garis-garis rumus ini."
Akira menatap Yuki, lalu beralih menatap Sena yang kini mulai meliriknya lewat sudut mata menunggu respon papanya.
Senyum perlahan terbit di wajah Akira. Ia menyadari satu hal: rumus biologinya bisa ditunda, tetapi momen bersama putri kecilnya tidak akan pernah bisa diulang.
Akira mengangguk tipis. Ia merangkak pelan di lantai linoleum laboratorium yang dingin itu, menyamai pergerakan seekor beruang mainan, membuat suara-suara aneh yang membuat raut wajah Sena perlahan berubah.
"Laporan untuk Komandan Sena," kata Akira dengan nada resmi yang dibuat-buat. "Pangkalan Laboratorium telah ditaklukkan. Musuh utama bernama 'Rumus Rumit' telah dihancurkan. Terdakwa Akira siap menerima hukuman berupa membeli es krim dua skop."
Sena menahan senyumnya, matanya berbinar, meski bibirnya masih berusaha cemberut. "Tiga skop! Sama minta dipangku sampai rumah!"
"Siap, Laksanakan!" jawab Akira tegas seraya mengangkat tubuh kecil Sena ke dalam pelukannya. Sena akhirnya tertawa lepas, melingkarkan tangannya di leher Akira dan mencium pipi papanya yang mulai ditumbuhi janggut tipis.
Yuki mengamati pemandangan itu dengan mata berbinar hangat. Dari balik tasnya, ia mengeluarkan ponsel, mengarahkan kamera, dan mengabadikan momen saat sang Profesor genius berjas putih itu rela berlutut di lantai laboratorium demi mendapatkan kembali senyuman putrinya.
Di dalam hatinya, Yuki menuliskan sebuah catatan kecil:
Di luar sana dia mungkin seorang ilmuwan besar. Tapi di ruangan ini, dia hanyalah seorang Papa yang selalu rela kalah demi senyuman Sena.