Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Rencana Penyamaran
Dahi Rhea berkerut dalam, matanya menatap lekat barisan kata yang menggantung itu.
"Menggunakan nama...? Maksudnya menggunakan nama apa, Suster?" tanya Rhea.
Suster Maya menghela napas berat, matanya berkaca-kaca menatap Rhea.
"Saya juga kurang tahu, Mbak. Tulisan jari Bu Mira di punggung saya terhenti di situ, beliau gak sempat lagi melanjutkan kalimatnya."
Rhea, Zora, dan Rayven saling berpandangan di tengah lorong rumah sakit. Bu Mira telah tiada, namun teka-teki mengenai putri kandungnya kini mengarah pada sebuah perusahaan besar PT Gemilang Utama.
Deru mesin mobil membelah keheningan malam yang kian larut. Di dalam kabin mobil, suasana sempat hening selama beberapa saat. Lampu-lampu jalanan yang melintas membiaskan bayangan di wajah ketiga orang yang masih dilingkupi rasa syok dan duka atas kepulangan Bu Mira.
Zora yang duduk di kursi belakang menarik napas panjang, memecahkan keheningan seraya menatap layar ponselnya.
"PT Gemilang Utama..." gumam Zora memulai pembicaraan, memecah di antara mereka. "Gue barusan coba googling sepintas. Itu perusahaan manufaktur dan ekspor-impor tekstil besar di Jakarta. Karyawannya ada ratusan dari staf sampai level eksekutif."
"Ratusan karyawan. Artinya mencari Amara di sama tanpa tahu nama samarannya sama saja seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami," sahut Rayven yang fokus menatap jalan raya.
Rhea yang duduk di samping Rayven mengusap pelipisnya yang terasa agak pening.
"Tapi kita tahu satu hal pasti, Ven. Bu Mira bilang Amara ada di sana. Apakah ada kemungkinan Amara bekerja di sana menggunakan identitas palsu selama ini?" sambung Rhea.
"Sangat memungkinkan. Seseorang yang memutus hubungan total dengan masa lalunya biasanya akan mengubah nama, dokumen, bahkan latar belakang hidupnya. Kita nggak bisa asal datang ke kantor itu dan bertanya siapa yang bernama Amara, karena secara hukum nama Amara Sastro mungkin sudah tidak tercatat di mana pun," sahut Rayven seraya memutar kemudi.
"Gila sih, misteri keluarga ini benar-benar kaya teka-teki labirin," cetus Zora seraya menyandarkan kepalanya lemas.
Mobil Rayven perlahan melambat dan berhenti di tepi jalan apartemen Zora.
"Gue duluan ya, Rhe, Mas Rayven. Makasih banyak tumpangannya," pamit Zora dan membuka pintu mobil.
"Iya, Zor. Hati-hati ya," balas Rhea.
Sepeninggal Zora, kabin mobil mendadak kembali hening. Hanya ada hembusan pendingin udara dan suara deru mesin yang halus. Rayven kembali melajukan mobilnya menuju daerah kontrakan Rhea.
Rhea menatap keluar jendela, memandangi deretan pertokoan yang sudah tutup.
Sepuluh menit kemudian, mobil Rayven berhenti tepat di depan gang masuk menuju kontrakan sederhana milik Rhea.
Rhea sudah memegang gagang pintu dan hendak membuka pintu mobil, ketika suara Rayven mendadak menghentikan gerakannya.
"Rhea."
"Iya, Rayven?" Rhea menoleh kembali.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan," ujar Rayven pelan.
Jantung Rhea mendadak berdesir aneh. Ada pendar hangat yang menyelusup di dadanya melihat tatapan Rayven. "Bicara soal apa?"
Rayven menyunggingkan senyum tipis yang sangat menawan. "Soal kamu. Jangan terlalu memaksakan diri dan menanggung beban kasus ini sendirian. Kamu punya Zora... dan punya aku. Jangan lupa istirahat ya?"
Rhea terpana sejenak, pipinya mendadak terasa sedikit hangat. Ia tersenyum manis untuk menutupi rasa canggungnya. "Iya Rayven, pasti. Kamu juga hati-hati di jalan ya."
"Selamat malam, Rhea."
Rhea turun dari mobil dengan perasaan yang mendadak lebih ringan dan hangat.
Sementara itu, di sudut lain kota, Zora baru saja selesai membersihkan diri di kamar apartemennya. Mengenakan kaos kebesaran dan celana pendek santai, Zora melangkah santai menuju kulkas kecil di pojok ruangan.
"Aduh, cacing di perut gue udah pada demi dari tadi nih," gum Zora seraya membuka pintu kulkas. Matanya seketika berbinar melihat satu porsi camilan favoritnya dan segelas minuman dingin yang tersisa di atas rak. "Wah, surga dunia banget ini mah."
Zora membawa makanan itu ke atas tempat tidur, lalu menyalakan laptopnya. Tanpa ragu ia langsung membuka aplikasi streaming untuk melanjutkan serial drama Korea favoritnya setelah seharian bekerja di bidang hukum.
Sambil mengunyah makanan dengan nikmat, matanya tak berkedip menatap layar.
"Gila ini drakor seru banget sih plot twistnya," serunya sendiri di dalam kamar.
Satu episode berlalu dengan cepat. Makanan di piringnya sudah habis dan jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Zora sempat merebahkan tubuhnya dan menatap jam.
"Aduh, nanggung banget nih... satu episode lagi deh. Nanti habis itu langsung tidur," bujuk Zora pada dirinya sendiri.
*Ahh, kenapa gantung begitu sih. Bentar deh, ini baru jam satu malam. Tanggung banget, satu episode lagi ini benar-benar yang terakhir," ucapnya lagi sambil bikin penasaran sama cerita drakor selanjutnya.
Alhasil, keesokan pagi harinya...
Alarm di ponsel Zora berdering nyaring tanpa henti.
"Astaga! Gue kesiangan," jerit Zora histeris melompat dari kasur.
Melihat Zora yang masuk dengan wajah lelah dan mata sedikit sembab, Rhea menoleh senyuman tipis yang sarat akan sindiran.
"Tumben banget lu terlambat, Zor," tanya Rhea melihat wajah sahabatnya.
Zora menyengir kuda, lalu mendaratkan tubuhnya dengan lemas. "Iya, Rhe. Gue maraton drakor semalam. Nanggung banget episodenya."
"Kebiasaan deh lu," Rhea menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Rayven yang duduk di seberang mereka hanya menyunggingkan senyum tipis sambil menyesap kopi hitamnya sebelum angkat bicara.
"Jadi, dari informasi yang di dapat PT Gemilang Utama adalah perusahaan dengan sistem keamanan yang sangat ketat. Kita nggak bisa gitu aja masik dan melakukan interogasi," kata Rayven.
"Terus kita mulai dari mana, Rayven. Kalau kita pakai jalur hukum resmi juga nggak bisa karena Bu Mira tidak mengajukan hukum tuntutan apa pun. Ini murni amanah pribadi," tanya Rjea seraya memandangi kertas-kertas di meja.
"Kalau begitu kita harus menyelidiki dan masuk kedalam. Kita harus menyusup atau setidaknya mendapatkan akses masuk ke lingkungan kantor itu tanpa menimbulkan kecurigaan," tegas Rayven.
Zora mendongak, matanya berbinar. "Menyelidiki dari dalam? Maksudnya penyamaran."
"Tepat. Kebetulan kemarin malam saya menghubungi salah satu tekan alumni hukum luar untuk PT Gemilang Utama. Dia memberi tahu bahwa minggu ini divisi operasional dan administrasi di sana sedang membuka lowongan pekerjaan temporer untuk audit berkas," jawab Rayven mantap.
"Gila! Berarti salah satu dari kita bisa masuk ke sana dong," Zora langsung menepuk meja dengan antusias.
"Bukan cuma satu. Saya dan Rhea yang akan masuk sebagai tim pendamping legal eskternal. Sementara Zora, kamu tetap di Biro untuk memantau peretasan data sekunder dan mengawasi lalu lintas informasi," potong Rayven menatap Rhea dan Zora bergantian.
Rhea menahan napasnya, merasakan getaran tegang sekaligus antusias. Misi pencarian ini kini berubah menjadi sebuah investigasi terselubung yang penuh risiko.