Indonesia
NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Membaca pikiran

"Ah, ngomong-ngomong... apakah kalian sudah bisa menebak jenis manipulasi Aether jenis apa yang kalian miliki?" Ujar Airyn seraya berupaya mengalihkan topik perbincangan.

"Oh, entahlah. Aku belum menemukan tanda-tanda khusus," sahut William jujur.

"Bagaimana denganmu, Flora?" tanya Airyn pada gadis bersurai merah muda di sebelahnya.

Flora tampak ragu sejenak. "Hmm... aku belum terlalu pasti. Sebaiknya kita menunggu hari pengujian resmi dari Profesor Seraphina saja."

"Teira, kalau kau sendiri bagaimana? Kau sudah tahu cabang manipulasi Aether-mu?" desak William sambil menoleh kearah pemuda itu.

Teira melirik Airyn sekilas sebelum menjawab tanpa ragu, "Belum. Aku tidak tahu."

Airyn yang mendengarnya seketika memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya pemuda ini berbohong seakan tak ada beban! gerutu Airyn dalam hati.

"Tapi rasanya akan sangat menyenangkan jika bisa menguasai teknik telepati seperti Airyn," pangkas Teira santai.

"Benar! Itu sangat keren. Bisa kau coba padaku, Airyn?" tawar William bersemangat.

"Aku juga mau mencobanya!" sela Teira tak mau kalah.

Airyn dibuat pusing sendiri menyaksikan keputusasaan dua pemuda di hadapannya. Mendadak, sebuah gagasan melintas di benaknya.

"Aku punya ide. Bagaimana kalau coba menghubungkan gelombang pikiran dengan beberapa orang sekaligus, seperti yang dilakukan Profesor Seraphina kemarin? Flora, bantu aku juga ya!" usul Airyn.

Flora mengangguk setuju. Airyn memfokuskan pikirannya, meminta ketiga temannya untuk duduk sejajar dan memaku pandangan ke arah iris matanya.

Secara bergantian, Airyn menatap dalam-dalam manik mata William, Flora, dan Teira, lalu mengerahkan pusaran Aether di dalam dada dan kepalanya.

‘Kalian bisa mendengar suaraku sekarang?’ bisik gelombang suara Airyn di dalam benak mereka.

Ketiganya mengangguk serempak saat suara Airyn bergema jernih di dalam kepala mereka. Memanfaatkan momentum, Airyn memacu fokusnya lebih dalam, mengalirkan Aether lebih pekat untuk melihat sejauh mana batasan teknik ini.

‘Airyn benar-benar luar biasa...’

‘Apakah dia memang selalu seserius ini jika sedang fokus?’

‘Kau terlihat sangat mengagumkan, Airyn...’

Airyn tersentak. "Kalian... sedang membicarakanku, ya?!"

Seketika ketiga Aetherist muda di hadapannya membelalak kaget.

"Airyn... kau bisa mendengar sesuatu?!" tanya Flora terperanjat.

Ditengah kebingungan yang menyeruak mendadak, sebuah suara ramah menyela.

"Hei, sedang apa kalian berkumpul di sini?"

Ternyata Fin yang kebetulan baru saja tiba di perpustakaan dan menghampiri meja mereka.

"Bagaimana kalau dicoba pada Fin juga?" Cetus Flora spontan.

"Mencoba apa?" tanya Fin polos seraya mengambil tempat duduk di samping Airyn.

Ide itu sukses membuat rasa penasaran Airyn makin membuncah. "Fin, tatap mataku lekat-lekat dan coba pikirkan sesuatu di dalam hatimu," pinta Airyn.

Fin menurut patuh. Pemuda bersurai hitam itu memaku tatapannya pada iris mata emas Airyn—sebuah kedekatan yang entah kenapa membuat William dan Teira di seberang meja meringis tak senang.

Airyn memfokuskan pandangannya ke dalam manik mata cokelat jernih milik Fin. Ia mencoba meluncurkan pesan telepati, namun Fin sama sekali tidak menunjukkan reaksi—membuktikan pemuda ini tidak memiliki energi Aether untuk menerima pesan. Namun anehnya, sebuah bisikan mendadak bergaung jernih di dalam benak Airyn:

‘Airyn terlihat sangat cantik hari ini, seperti biasanya...’

UHUK!

Airyn seketika tersedak air liurnya sendiri! Fin panik setengah mati, refleks mengusap punggung Airyn. William dan Teira yang panik ikut berdiri mencari bantuan, sementara Flora bergegas memegang pundak sahabatnya.

"Ehem! A-aku tidak apa-apa! Flora antar aku ke kantin untuk minum!" pangkas Airyn cepat dengan wajah yang sudah payah menahan rona merah di pipinya, buru-buru ia menarik lengan Flora menuju arah pintu keluar.

"Hei Fin, apa yang kau katakan sampai membuat Airyn syok berat begitu?!" desak William menatap Fin penuh selidik.

"Ha? Kalian kan mendengarnya sendiri, aku sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun!" bela Fin polos tanpa tahu-menahu.

Teira yang berdiri di belakang mereka mengamati rentetan kejadian itu dalam keheningan. ‘Apakah kemampuan telepatinya bertransformasi menjadi membaca pikiran?’ gumamnya lirih dalam hati.

Saat jam makan malam tiba, kantin dipadati para murid. Airyn memilih mengacuhkan insiden sore tadi dan melahap porsi makannya dengan tenang.

Usai menyantap hidangan, Airyn dan Flora kembali ke kamar asrama. Airyn memanfaatkan waktu untuk melatih beberapa gerakan pertahanan fisik yang dibacanya dari naskah perpustakaan, dengan Flora sebagai mitra latihnya. Kamar mereka dipenuhi tawa renyah saat salah satu dari mereka melakukan kesalahan eksekusi pukulan, sebuah momen sederhana yang mencairkan beban di dada.

Sebelum beristirahat, Airyn menyempatkan diri mengaktifkan bola kristal komunikasi untuk mengontak Kaelen di Tidebay, ditemani oleh Flora.

"Dari mana kau mendapatkan bola kristal komunikasi ini, Airyn?" tanya Flora terkagum-kagum usai transmisi ditutup.

"Oh... Teira yang meminjamkannya padaku," sahut Airyn pelan.

"Wah! Dia mau meminjamkan perangkat komunikasi langka dan mahal secara sukarela? Kau pakai sihir apa pada pemuda ungu itu, Airyn?" goda Flora menyunggingkan senyum jahil.

Wajah Airyn seketika memerah gelagapan. Flora tertawa pelan menyaksikan kepanikan sahabatnya. "Sepertinya Teira memang perlahan mulai melunak dan bersikap baik pada kita."

Tak sanggup membalas godaan Flora lagi, Airyn bergegas mematikan saklar lampu kamar agar mereka bisa segera terlelap.

Keesokan paginya, rutinitas gemblengan fisik kembali bergulir. Berlari mengitari kompleks Asteria sebelum terbit fajar telah menjadi santapan harian selama tiga hari terakhir. Untuk menutup sesi fajar kali ini, Profesor Ignatius menginstruksikan latihan push-up secara berurutan.

Flora yang tidak terbiasa dengan beban fisik langsung tumbang pada percobaan pertama. Stella menyusul di belakangnya. Airyn sanggup bertahan hingga hitungan kesepuluh sebelum lengannya menyerah. Sementara Emery membuktikan ketangguhannya—bertahan paling lama hingga hitungan kedua puluh tanpa jeda, bahkan melampaui capaian para Aetherist laki-laki.

Selesai sarapan, para Aetherist menghadiri kelas teori gabungan bersama murid akademi. Saat siang menjelang, mereka kembali memasuki Ruang Putih untuk sesi taktik pertempuran bersama Profesor Ignatius.

"Jadi... apakah ada pertanyaan yang ingin kalian ajukan mengenai Perang Pertama yang sudah kalian baca?" tanya Ignatius dengan gaya bicara yang berbeda 180 derajat, jauh lebih tenang dan kalem dibanding versi energik fajar tadi.

"Profesor, strategi krusial apa yang membuat para Aetherist generasi pertama sanggup memenangkan pertempuran besar di masa lalu?" tanya William membuka diskusi.

"Sudah sangat jelas, bukan? Karena mereka semua memiliki ketahanan fisik dan kekuatan yang luar biasa. Terutama garis keturunan leluhurku," sahut Emery bangga.

"Percuma saja memiliki fisik sekuat baja jika otaknya dangkal," gumam Teira datar. Airyn mendengar bisikan itu dengan sangat jelas, walau Emery di barisan lain tidak menyadarinya karena terlalu sibuk mengagumi silsilahnya.

"Uraianmu tidak sepenuhnya salah, Emery," pangkas Ignatius lembut.

"Namun selain kapasitas individu, kunci kemenangan utama mereka terletak pada kekompakan dan ikatan solidaritas. Hasrat membara untuk terbebas dari perbudakan menjadi pemantik dan semangat utama yang menyatukan mereka."

"Lalu... jika perang di masa depan benar-benar terjadi, alasan apa yang bisa dijadikan sebagai penyatu kita semua?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Airyn. Dahulu, jeratan perbudakan menjadi musuh bersama yang menyatukan nenek moyang mereka. Namun saat ini, ego, prasangka, dan kepentingan wilayah masing-masing justru merenggangkan aliansi mereka. Apa yang bisa dijadikan alasan agar bersama berjuang bersama?

Profesor Ignatius terdiam sejenak.

"Kurasa... kalian sendirilah yang harus menemukan dan menentukan alasan tersebut," sahut sang profesor bijaksana.

Kedelapan Aetherist muda bungkam dalam perenungan. Mereka menyadari ikatan di antara mereka masih sangat rapuh. Chemistry itu wajib dipupuk seiring dengan berjalannya waktu.

Kelas sore usai dengan menyisakan teka-teki mendalam di dalam dada masing-masing.

"Kalian mau langsung ke kantin?" tanya William pada Airyn dan Flora saat mereka melangkah keluar dari Ruang Putih.

"Aku mau! Kalau kau bagaimana, Airyn?" tanya Flora yang kini sudah tidak canggung lagi berinteraksi dengan Airyn maupun William.

"Kalian duluan saja. Aku ingin mampir ke perpustakaan sebentar, mengembalikan buku," pangkas Airyn.

"Mau kami temani?" tawar William.

"Tidak usah, aku cuma sebentar kok," tolak Airyn halus. Mereka bertiga pun berpisah di persimpangan koridor.

Airyn melangkah ke lantai dua perpustakaan, mengembalikan buku ke rak asal, lalu menandatangani formulir pengembalian. Setelah membaca berbagai buku, ia menyadari tidak ada jurus instan untuk menang, hanya latihan konsisten yang dapat membantu.

"Oh... kau tidak berniat membaca buku itu lagi?"

Sebuah suara menyela. Teira tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya di antara celah rak buku.

"Bukan urusanmu!" ketus Airyn berbalik melangkah pergi.

Teira mengekor di sampingnya saat mereka menuruni tangga menuju kantin utama.

"Hei... aku rasa teknik telepati mu perlahan berevolusi menjadi kemampuan membaca pikiran."

Airyn tak merespon hingga mereka tiba di barisan antrean kantin. "Jangan sembarangan menyimpulkan. Aku sendiri belum bisa memastikannya," bisik Airyn pelan.

Teira menyunggingkan senyum miring penuh teka-teki. "Hmm... bukankah semakin menarik..."

1
Sheila
omo
Sheila
mampus
Sheila
Gedek banget
Sheila
Oh, my...
Sheila
lucu banget lagii
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!