Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26. Respect
Begitu melangkah masuk ke area dalam minimarket, Acha langsung disambut oleh Ibu Ema, kepala toko sekaligus atasannya yang berdiri di dekat meja kasir dengan membawa papan catatan.
Melihat kedatangan Acha, Ibu Ema langsung memanggilnya dengan ramah namun membawa sebuah kabar yang seketika membuat senyuman di wajah Acha memudar.
"Acha, pas banget kamu baru datang," sapa Ibu Ema.
"Begini, Cha, untuk shift sore dan malam hari ini, kamu terpaksa harus lembur ya."
Mendengar kata 'lembur', mata Acha langsung membelalak kaget. Mengingat dia baru saja pulih dari sakit dan hari ini adalah hari pertamanya masuk kerja setelah sekian lama, beban lembur tentu terasa sangat berat bagi tubuhnya.
"Lembur, Bu? Tapi... saya kan baru masuk hari ini setelah kemarin-kemarin izin sakit," balas Acha dengan nada ragu dan sedikit memohon pengertian.
Ibu Ema mengangguk maklum, namun dia juga tidak memiliki pilihan lain. "Saya tahu, Cha, dan sebenarnya saya tidak enak meminta ini. Tapi Tasya—mendadak mengabari kalau dia tidak bisa masuk kerja karena ada urusan penting di sekolahnya, mengingat dia kan memang masih sekolah. Stok pegawai yang bisa diandalkan untuk shift ini pas banget lagi kosong selain kamu."
Acha hanya bisa menghela napas panjang dalam hati. Meskipun dia merasa lelah dan khawatir kesehatannya kembali drop.
Terutama setelah berjanji pada Nathan dan ibunya untuk menjaga diri—dia tahu posisinya sebagai karyawan yang profesional tidak bisa serta-merta menolak keadaan mendesak seperti ini.
Dengan senyuman terpaksa dan rasa pasrah, Acha akhirnya mengangguk mengiyakan perintah atasannya.
"Baik, Bu Ema. Kalau memang darurat, nanti saya bantu lembur."
Ibu Ema tersenyum lega mendengar jawaban Acha. "Makasih banyak ya, Acha, pengertiannya. Nanti upah lemburnya dihitung sesuai aturan toko. Kerjanya pelan-pelan saja, jangan diporsir kalau capek."
Setelah mengiyakan, Acha berjalan lesu menuju locker untuk kembali mengenakan apronnya. Di dalam hati, dia merasa sedih karena rencana menghabiskan sore hari dengan tenang bersama Nathan buyar begitu saja, dan dia harus segera memberi tahu sang kekasih tentang perubahan jadwal mendadak ini.
Sisa jam kerja sore itu berubah menjadi jauh lebih sibuk bagi Acha. Setelah menerima keputusan harus lembur, dia tidak punya banyak waktu untuk bersedih atau meratapi nasib.
Begitu kembali berdiri di area kasir, ponsel khusus toko berdering nyaring menandakan adanya pesanan baru yang masuk secara online melalui aplikasi pesan singkat minimarket.
Acha dengan sigap membuka aplikasi tersebut dan mendapati daftar belanjaan yang lumayan panjang dari salah satu customer.
Mulai dari kebutuhan dapur, beberapa makanan ringan, hingga galon air mineral kecil harus segera disiapkan dalam satu keranjang belanja.
Mengingat waktu pengambilan barang oleh customer tersebut sudah semakin dekat, Acha langsung bergerak cepat.
Dia meninggalkan meja kasir sejenak, mengambil keranjang plastik besar, lalu menyusuri lorong-lorong rak minimarket dengan cekatan.
Matanya teliti mencocokkan satu per satu nama barang di layar ponsel dengan produk asli di rak.
Setelah semua item lengkap terkumpul di dalam keranjang, dia membawanya kembali ke dekat meja kasir untuk segera dikemas ke dalam kantong plastik belanjaan dan diberi label nama pemesan.
Meski tubuhnya mulai terasa penat akibat seharian berdiri dan ditambah beban lembur mendadak.
Acha tetap berusaha fokus menyelesaikan semuanya dengan teliti agar tidak ada barang yang tertinggal atau salah hitung sebelum sang customer datang menjemput pesanannya.
Di tengah kesibukan mengemas barang pesanan customer, langkah kaki Amina—rekan kerja Acha yang lain—mendekati area kasir untuk membantu mengambil beberapa stok kantong plastik.
Saat berdiri tepat di samping Acha, Amina tak sengaja melirik ke arah wajah sang sahabat. Seketika kening Amina berkerut dalam melihat kondisi fisik Acha yang tampak jauh berbeda dari biasanya.
Kulit Acha terlihat kusam dengan rona pucat di area sekitar bibir dan bawah matanya, serta butiran keringat halus yang mulai membasahi pelipisnya akibat kelelahan lembur.
"Eh, Acha... muka kamu pucat banget, lho," tegur Amina dengan nada cemas, lalu menghentikan kegiatannya sejenak dan menyentuh pelan lengan Acha.
"Yakin nggak apa-apa? Baru aja sembuh dari sakit, sekarang malah langsung disuruh lembur seharian. Jangan diporsir banget kalau memang badan udah kasih sinyal capek."
Mendengar perhatian dari temannya, Acha mencoba tersenyum meyakinkan meskipun bibirnya terasa sedikit kaku. Dia menggeleng pelan, berusaha menepis kekhawatiran Amina agar tidak semakin panik.
"Eh? Ah, nggak apa-apa kok, teh. Cuma agak gerah aja karena tadi bolak-balik nyiapin barang online," elak Acha dengan suara yang sedikit pelan namun dipaksakan ceria.
"Aku masih kuat kok, tanggung juga sisa sebentar lagi jam kerja lembur aku kelar. Tenang aja, aku baik-baik saja, kok!"
Meski merasa tubuhnya mulai terasa lemas dan kepalanya sedikit pening, Acha tetap berusaha menutupi rasa sakitnya.
Dia tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya khawatir, terutama karena dia tahu sebentar lagi customer pesanannya akan datang dan jam shift malamnya akan segera berakhir.
Meski Acha tersenyum dan berusaha meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja, Amina sama sekali tidak termakan ucapan itu.
Sebagai rekan kerja yang sudah cukup lama mengenal Acha, Amina tahu betul kapan sahabatnya itu benar-benar sehat dan kapan dia hanya sedang memaksakan diri demi tidak merepotkan orang lain.
Amina menghela napas panjang sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap Acha dengan sorot mata penuh selidik sekaligus kekhawatiran yang nyata.
"Bohong. Mana ada orang pucat pasih kayak gini dibilang baik-baik saja, Cha," protes Amina dengan nada gemas bercampur iba.
"Jujur aja deh, muka kamu tuh keliatan banget lemasnya. Lagian Ibu Ema juga ada-ada saja, tahu anak buahnya baru aja sembuh dari sakit parah, eh malah langsung dikasih jadwal lembur seharian cuma karena Tasya izin sekolah. Kalau kamu tumbang di sini gimana?"
Mendengar omelan penuh perhatian dari Amina, Acha hanya bisa tersenyum tipis, merasa tidak enak hati sekaligus terharu.
Dia tahu Amina peduli padanya, namun dia juga tidak mau memperpanjang masalah atau membuat Ibu Ema merasa tidak enak jika ia terus mengeluh.
"Udah, teh... Teteh... nggak usah khawatir berlebihan begitu, ya," bujuk Acha dengan suara lembut sambil menepuk pelan pundak Amina.
"Aku beneran masih bisa kok. Tanggung jawab kerjaan kan harus diselesaikan. Dari pada nanti tokonya keteteran karena kurang orang, mending aku bantu lembur sebentar lagi. Lagian sebentar lagi juga jam shift malam aku kelar, kok."
Melihat kekerasan kepala Acha yang tetap ingin profesional meskipun kondisi fisiknya sudah memberikan sinyal peringatan, Amina hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.
Dia tahu kalau Acha sudah bertekad, sangat sulit untuk mengubah pendiriannya.
"Iya deh, terserah kamu yang keras kepala," kata Amina mengalah.
"Tapi ingat, kalau pusing atau kunang-kunang, jangan dipaksain! Langsung duduk atau panggil aku, jangan sok kuat terus."
"Siap, Bos!" balas Acha sambil nyengir lebar, berusaha mencairkan suasana agar Amina tidak terus-menerus cemas menatapnya.
Setelah perbincangan singkat itu, Amina kembali ke tugasnya dengan perasaan dongkol dan khawatir yang masih bersisa.
Sementara Acha kembali melanjutkan sisa pekerjaannya di balik meja kasir sambil menahan rasa pening yang mulai menyerang kepalanya.
Beberapa saat setelah menyelesaikan tugas kasir, Acha berniat mengisi perutnya yang kosong dengan menyantap sedikit makanan ringan yang dibawanya dari rumah agar tubuhnya kembali bertenaga.
Namun, baru suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, gelombang rasa mual yang luar biasa tiba-tiba menghantam perutnya.
Acha seketika menutup mulutnya dengan tangan, lalu berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi karyawan di bagian belakang.
Di dalam sana, dia langsung memuntahkan seluruh isi perutnya dengan lemas, membuat tubuhnya semakin terkuras energinya.
Mendengar suara batuk dan muntah dari arah kamar mandi, Amina yang kebetulan sedang melintas langsung merasa panik. Dia buru-buru menyusul dan mengetik pintu kamar mandi dengan cemas.
"Cha? Acha, kamu kenapa di dalam? Ya ampun..." seru Amina dari luar.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Acha keluar dengan wajah yang jauh lebih pucat pasi dari sebelumnya, bibirnya bahkan nyaris kehilangan warnanya, dan napasnya terengah-engah sambil berpegangan pada dinding.
Melihat kondisi Acha yang sangat mengkhawatirkan itu, Amina langsung merangkul pundak sahabatnya dengan panik.
"Astaga, Acha! Muka kamu udah pucat banget kayak mayat hidup. Ini udah muntah-muntah begini, masih mau sok kuat?"
Amina memapah Acha keluar dari area kamar mandi untuk duduk di kursi istirahat karyawan. Dia segera mengambilkan sebotol air mineral hangat dan menyuruh Acha meneguknya perlahan.
"Udah, Cha, nurut sama aku. Jangan diterusin kerjanya," ucap Amina dengan nada tegas namun penuh keibuan.
"Kamu pulang aja sekarang, ya? Jangan dipaksain kerja lembur lagi. Kalau kamu kenapa-napa di tempat kerja gini, mau tanggung jawab siapa? Kamu kan baru aja sembuh total dari sakit, badan kamu belum siap buat kerja berat seharian penuh!"
Acha yang kepalanya masih terasa berputar-putar dan perutnya bergolak hebat akhirnya tidak bisa lagi menyembunyikan rasa lemasnya.
Dia hanya bisa mengangguk lemah, menyerah pada rasa sakit yang mendera tubuhnya setelah seharian memaksakan diri.
Suasana di ruang istirahat karyawan minimarket terasa begitu tegang sekaligus penuh kekhawatiran.
Di saat Acha masih duduk memegangi kepalanya yang pening akibat muntah-muntah, pintu gudang terbuka dan muncullah Vika, rekan kerja mereka yang baru saja selesai bertugas mengantarkan pesanan customer ke luar toko.
Begitu melihat kondisi Acha yang lemas dan pucat pasi dengan sisa air mata karena mual, langkah Vika langsung terhenti. Dia meletakkan kantong pengantaran di atas meja dengan panik, lalu menghampiri Acha.
"Ya ampun, Acha! Kamu kenapa? Kok pucat banget begini?" seru Vika cemas sambil ikut berjongkok di samping kursi Acha.
Amina yang berdiri di sebelah Vika langsung menjelaskan situasinya dengan nada geram.
"Dia tadi muntah-muntah pas mau makan, Vik! Badannya udah nggak sanggup tapi masih aja ngeyel mau lanjut lembur gara-gara takut sama Ibu Ema."
Mendengar itu, Vika langsung mengernyit tidak setuju. Tanpa pikir panjang, dia mengambil keputusan tegas.
"Udah, Cha, nggak usah dipaksa! Kamu pulang sekarang aja ke kosan buat istirahat. Biar aku yang antar pakai motor."
Mendapat tawaran tersebut, Acha justru menggeleng lemah sambil menarik pelan ujung seragam Vika. Matanya menyiratkan rasa takut dan serba salah.
"Jangan, Vik... Aku nggak enak. Kalau aku pulang sekarang, nanti siapa yang lembur? Ibu Ema tadi kan sudah pesan sama aku buat gantiin Tasya."
"Duh, Acha keras kepala banget sih!" protes Vika gemas.
"Kesehatan kamu itu jauh lebih penting dari pada omongan Ibu Ema!"
Melihat Acha yang masih ragu-ragu karena takut terkena teguran atasan, Vika tiba-tiba mendapatkan sebuah ide cemerlang. Dia tersenyum penuh keyakinan sambil menepuk dadanya sendiri.
"Tenang aja, Cha. Kamu nggak usah pusing mikirin Ibu Ema. Aku bakal gantiin kamu lembur malam ini tanpa sepengetahuan beliau. Kamu tahu sendiri kan, kalau udah malam begini Ibu Ema paling malas datang ke minimarket buat ngecek karyawan. Beliau pasti langsung tidur di rumahnya," bisik Vika meyakinkan.
Amina yang mendengar ide Vika langsung mengangguk setuju dengan antusias. "Nah, benar tuh kata Vika, Cha! Pokoknya urusan lembur beres di tangan kita. Aku juga bakal nemenin Vika lembur di sini sampai toko tutup. Jadi Vika nggak sendirian, dan kamu bisa tenang istirahat di kosan."
Mendengar bujukan tulus dari kedua sahabatnya itu, pertahanan Acha akhirnya runtuh. Rasa sakit di tubuhnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Dengan mata berkaca-kaca karena terharu, Acha akhirnya mengangguk pasrah menyetujui usulan mereka.
"Makasih banyak ya, teh... Vika... Kalian baik banget sama aku," ucap Acha dengan suara parau penuh rasa syukur.
Tanpa buang waktu lagi, Vika langsung memapah Acha berdiri dan membimbingnya keluar menuju pelataran parkir minimarket.
Di atas motor matic Vika, Acha dibonceng dengan hati-hati menuju kosannya agar bisa segera beristirahat total di atas tempat tidur.
Sementara itu, Amina kembali masuk ke dalam area toko dengan perasaan lega, bersiap membantu Vika merangkap tugas lembur menggantikan Acha hingga malam berganti.
Motor matic yang dikendarai Vika akhirnya berhenti dengan mulus di depan gerbang kosan Acha.
Dengan sigap, Vika mematikan mesin motornya, lalu segera membantu Acha turun dan memapahnya berjalan pelan menaiki tangga menuju kamar kos.
Setibanya di dalam kamar, Vika langsung membimbing Acha untuk duduk di tepi kasur.
Tanpa membuang waktu, Vika merapikan bantal dan selimut, lalu dengan lembut membaringkan tubuh Acha yang masih lemas ke atas tempat tidur.
"Nah, rebahan yang benar ya, Cha. Biar pusingnya agak mendingan," ujar Vika penuh perhatian sambil menyelimuti separuh badan Acha.
Belum sempat Acha mengucapkan terima kasih, Vika merogoh tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik dari warung bubur langganan di dekat minimarket.
"Oh iya, tadi di jalan aku sengaja mampir beli bubur ayam hangat buat kamu. Biar perut kamu ada isinya dan nggak kosong setelah muntah-muntah tadi. Terus ini juga ada kue biskuit kesukaan kamu, siapa tahu nanti malam atau besok pagi kamu butuh camilan kalau lapar tapi belum nafsu makan berat," kata Vika sambil menata bungkusan makanan tersebut di atas nakas sebelah tempat tidur.
Melihat segala bentuk perhatian dan ketulusan yang diberikan oleh Vika, mata Acha terasa panas. Rasa haru yang begitu dalam menyelimuti hatinya.
Dia merasa sangat beruntung dan bersyukur dikelilingi oleh orang-orang sebaik Amina dan Vika, terutama Vika yang selalu sigap membantunya di saat-saat ia merasa paling lemah dan membutuhkan pertolongan.
"Makasih banyak ya, Vik... Kamu baik banget sama aku. Kalau nggak ada kamu sama teh Amina tadi, aku pasti udah pingsan di minimarket," ucap Acha dengan suara parau dan mata berkaca-kaca.
Vika tersenyum hangat sambil mengusap pelan pundak sahabatnya itu. "Udah, nggak usah dipikirin, yang penting sekarang kamu istirahat total sampai benar-benar pulih. Jangan sungkan-sungkan, kita kan sahabatan. Oh ya, kalau nanti malam ada apa-apa, perut kamu sakit lagi, atau butuh sesuatu, segera hubungi aku atau teh Amina ya! Jangan ditahan sendirian."
Acha mengangguk lemah sambil tersenyum tulus. "Iya, Vik. Pasti."
Setelah memastikan Acha sudah merasa nyaman di tempat tidurnya dan berpesan sekali lagi agar sahabatnya itu bisa segera tidur lelap, Vika akhirnya pamit undur diri untuk kembali ke minimarket membantu Amina menyelesaikan tugas lembur.
Kini, di dalam kamar kosnya yang temaram, Acha memejamkan mata perlahan, merasa tenang dan dihargai, lalu perlahan-lahan terlelap di tengah rasa lelah yang mendera.
Suasana kamar kosan yang temaram membuat Acha terlelap cukup pulas di bawah selimut hangatnya.
Namun, beberapa jam kemudian, dering ponsel yang diletakkan di atas nakas mendadak bergetar dan berdering nyaring, memecah kesunyian malam.
Dengan mata yang masih terasa berat dan kepala yang sedikit pening, Acha meraba-raba meja kecil di samping tempat tidurnya.
Begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel, dia langsung mengerjap kaget. Panggilan masuk itu berasal dari Ranti, mamanya.
Acha dengan cepat menarik napas dalam-dalam untuk menjernihkan suaranya, berusaha menetralkan sisa-sisa rasa lemas dan parau akibat muntah-muntah tadi sore.
Dia tidak ingin sang mama mendengar suaranya yang terdengar menyedihkan dan berujung panik di seberang sana. Setelah merasa siap, dia pun menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Mah..." sapa Acha dengan nada yang dibuat-buat seceria dan segar mungkin.
"Halo, Sayang... Tumben malam-malam begini Mama telepon ya? Maaf ya kalau ganggu kamu istirahat," suara lembut Ranti langsung terdengar dari ujung telepon.
"Mama cuma mau tanya, gimana keadaan kamu hari ini? Kemarin kan baru masuk kerja lagi setelah sempat sakit. Badan kamu sudah benar-benar pulih kan, Cha?"
Mendengar pertanyaan penuh perhatian dari mamanya, dada Acha seketika terasa sesak. Bayangan saat dia muntah-muntah dan kelelahan di minimarket tadi sempat melintas di benaknya.
Namun, dia langsung menepisnya kuat-kuat. Dia tahu betul bagaimana watak Ranti yang akan langsung cemas berlebihan dan bahkan berniat datang jauh-jauh jika tahu putrinya kembali jatuh sakit.
Acha tersenyum kecut, lalu menjawab dengan nada yang dia buat senormal mungkin. "Aduh, Mama ini... nanyainnya segitunya banget. Aku baik-baik saja kok, Mah! Sehat walafiat, nggak kurang suatu apa pun."
"Beneran? Suara kamu kok kayaknya agak serak, Cha? Kamu nggak lagi nutup-nutupin sesuatu dari Mama kan?" selidik Ranti, suaminya tampak mulai curiga di seberang sana.
"Ih, Mama curigaan mulu deh! Suara aku serak karena tadi banyak ngomong melayani pembeli di toko, kan shift seharian lumayan ramai. Sumpah, aku sehat banget kok, Mah. Tadi siang juga aku udah makan enak, terus sekarang malah mau lanjut tidur lagi saking nyenyaknya," elak Acha selicin belut, berusaha memberikan alasan yang masuk akal agar sang mama tidak curiga.
Mendengar jawaban penuh keyakinan dari sang anak, nada suara Ranti akhirnya melunak dan terdengar lega. "Syukurlah kalau gitu... Kalau memang capek, jangan diporsir ya, Sayang. Ingat pesan Mama, jaga kesehatan, jangan suka telat makan. Ya sudah, kalau kamu mau istirahat lagi, silakan tidur. Selamat malam, anakku."
"Iya, Mah. Mama juga selamat tidur ya. Love you!" balas Acha.
Begitu sambungan telepon terputus, Acha langsung menghembuskan napas panjang secara perlahan. Dia menyeka butiran keringat dingin yang sempat membasahi keningnya akibat rasa tegar yang dipaksakan tadi.
Meskipun dia harus berbohong kecil kepada mamanya, Acha merasa lega karena berhasil mencegah Ranti di rumah merasa khawatir dan memikirkan kondisinya malam-malam begini.
Acha perlahan meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu melirik sekilas ke arah jam dinding kecil yang menggantung di sudut kamar. Jarum pendek menunjuk angka sembilan, sementara jarum panjang tepat di angka dua belas.
Pukul sembilan malam.
Menyadari jam operasional minimarket akan segera berakhir, Acha menduga Vika dan Amina sebentar lagi pasti akan membereskan pekerjaan terakhir mereka dan bersiap pulang ke kosan masing-masing.
Di tengah rasa kantuk dan sisa-sisa lemas di tubuhnya, tiba-tiba kandung kemihnya terasa penuh. Acha mendesah pelan, terpaksa harus beranjak dari tempat tidur.
Dengan langkah gontai dan berpegangan pada dinding kamar kosannya, dia berjalan menuju toilet untuk buang air kecil.
Namun, malang tak dapat ditolak. Begitu dia selesai dari toilet dan melangkah kembali ke dalam kamar, gelombang dingin yang luar biasa tiba-tiba menghantam tubuhnya.
Seketika itu juga, sekujur badan Acha gemetar hebat. Giginya bergemeletuk menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang, sementara kepalanya terasa semakin pening berputar. Menyadari kondisinya yang mendadak memburuk, Acha panik.
Dia dengan cepat meraih ponselnya di nakas dan mencari kontak Vika, lalu menekan tombol panggil.
Prrrrtt... prrrrtt...
Panggilan tersambung, tetapi tidak ada tanda-tanda akan diangkat. Acha mencobanya sekali lagi, namun hasilnya nihil. Teleponnya tetap diabaikan.
Acha menarik napas tersengal-sengal sambil memeluk tubuhnya sendiri yang terus menggigil di atas tempat tidur. Dia mafhum, jam sembilan malam begini biasanya menjadi waktu paling sibuk di minimarket.
Toko pasti sedang dipadati oleh para pembeli malam—mulai dari pegawai kantoran yang baru pulang lembur hingga anak-anak muda yang mencari camilan—sehingga Vika dan Amina mustahil mendengar dering ponsel di tengah keramaian kasir.
Merasa kedinginan dan sendirian di dalam kamar yang temaram, tetes air mata ketakutan perlahan-lahan keluar dari sudut mata Acha.
Di tengah rasa panik dan tubuhnya yang terus bergetar hebat akibat menggigil, Acha menyadari bahwa mengandalkan Vika yang sedang sibuk di minimarket sudah tidak mungkin.
Pikirannya langsung melayang kepada satu sosok yang selalu bisa diandalkannya dalam situasi darurat seperti ini.
Tanpa membuang waktu lagi, Acha segera mengusap layar ponselnya yang bergetar di genggaman, mencari kontak sang kekasih, lalu menekan tombol panggil.
“A Nathan...” gumamnya lirih penuh harap.
Acha mendekatkan ponselnya ke telinga, sabar mendengarkan nada sambung yang berdering di seberang sana.
Prrrrtt... prrrrtt... prrrrtt...
Hatinya semakin ketakutan saat panggilan itu terus berdering tanpa ada tanda-tanda dijawab.
Acha tidak menyerah dia kembali menekan tombol panggil untuk kedua kalinya, bahkan ketiga kalinya, dengan air mata yang sudah tumpah membasahi pipinya karena menahan rasa sakit dan dingin yang teramat sangat.
Namun, hasilnya tetap nihil. Telepon dari Acha sama sekali tidak diangkat oleh Nathan.
Di balik layar ponsel yang temaram, Acha tidak tahu bahwa Nathan saat itu mungkin sudah tertidur lelah setelah seharian bekerja keras, atau ponselnya diletakkan di tempat lain sehingga tidak mendengar dering panggilan darurat dari kekasihnya.
Merasa sekujur tubuhnya semakin kaku, kepalanya terasa berdenyut sangat sakit, dan tidak ada seorang pun yang merespons panggilannya, Acha akhirnya melemah.
Ponsel di tangannya terlepas begitu saja jatuh ke atas kasur, sementara dia meringkuk di balik selimut tipis, mencoba bertahan seorang diri di tengah malam yang sunyi.
Rasa putus asa seketika menghimpit dada Acha. Air mata hangatnya mengalir semakin deras membasahi pipi yang sudah pucat pasi.
Vika dan Amina tidak bisa dihubungi karena sibuk melayani pembeli di minimarket, sementara Nathan—orang yang paling dia harapkan bisa menjadi tempat bersandar saat darurat seperti ini—juga sama sekali tidak merespons panggilannya.
Dia benar-benar merasa sendirian, tak berdaya, di tengah hantaman demam tinggi dan rasa pusing yang luar biasa hebat.
Mengingat kantong bubur ayam dan biskuit pemberian Vika yang tadi diletakkan di atas nakas, Acha sadar dia butuh asupan makanan atau obat agar tubuhnya tidak terus-menerus menggigil.
Namun, posisinya saat ini meringkuk di pinggir tembak kamar mandi, sementara meja nakas berada di sisi seberang yang harus dijangkau.
Dengan sisa-sisa tenaga yang sangat minim dan napas yang terengah-engah, Acha nekat memaksa tubuhnya yang lemas. Dia perlahan merangkak berjalan pelan-pelan keluar dari kamar mandi.
Tangannya yang gemetar hebat meraba lantai yang dingin, lalu mencoba berpegangan pada tepi kasur dan dinding kamar kosan untuk menopang tubuhnya yang terhuyung.
Setiap langkah terasa begitu berat, seolah kakinya terbuat dari timah. Pusing di kepalanya berputar hebat, membuat pandangannya sempat berkunang-kunang dan nyaris gelap.
Namun, dia tidak punya pilihan lain. Dengan gigi yang bergemeletuk menahan dingin dan air mata yang terus menetes, Acha berjuang menyeret langkah perlahan-lahan menuju arah nakas, berharap dia bisa bertahan sampai obat atau makanan itu berhasil diraihnya.
Pandangan Acha yang sudah berkunang-kunang membuatnya kehilangan fokus. Di tengah usahanya menyeret langkah menuju meja nakas, tanpa dia sadari ujung kakinya tersandung sudut karpet yang terlipat.
Bruk!
Tubuh Acha yang sudah sangat lemas kehilangan keseimbangan. Sebelum dia sempat menguasai diri, jidatnya terbentur cukup keras pada sudut kayu meja rias di dekatnya.
Rasa sakit yang tajam seketika menjalar di kepalanya, disusul rasa hangat yang mengalir pelan di pelipis. Ketika dia meraba dahinya dengan jemari yang gemetar, telapak tangannya sudah basah oleh darah segar akibat benturan tersebut.
Meski rasa pusingnya semakin menjadi-jadi dan darah mengalir di keningnya, Acha berusaha melawan kepanikan yang mendera.
Di dalam benaknya, dia hanya memikirkan satu hal dia harus kembali berbaring di tempat tidur sebelum kondisinya semakin memburuk.
Dengan napas yang tercekat dan air mata yang bercampur peluh serta darah, Acha memaksakan kedua tangannya mencengkeram lantai, lalu mencoba merangkak dan berdiri.
Dia mengumpulkan seluruh sisa tenaga terakhirnya untuk bangkit.
Namun, tubuhnya sudah benar-benar mencapai batas maksimal.
Baru saja setengah badannya terangkat dan dia berusaha menegakkan diri, pertahanan tubuh Acha ambruk total. Kakinya lemas seketika, tak mampu menopang bobot tubuhnya lagi.
Bruk!
Acha terjatuh lemas langsung ke lantai kamar kosan yang dingin. Kesadarannya perlahan-lahan puyuh, sementara matanya terpejam rapat diiringi kesunyian malam yang mencekam.
Be to continued