"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Tidak ada habisnya
Fitri seketika melangkah mundur satu tapak, menepis tangan Adam secara terukur. Matanya menatap Adam tanpa ada sedikit pun sisa kehangatan dari masa lalu.
"Pernikahan kita sudah mati tiga tahun lalu, Pak Adam," tegas Fitri dengan nada suara dingin dan tenang. "Penyesalan Anda hari ini tidak akan pernah bisa memutar balik waktu. Tolong miliki sedikit harga diri dan tinggalkan kami!"
"Fitri, tolong dengarkan aku dulu!" Adam mencoba melangkah mendekat, matanya memerah menahan tangis. "Aku tahu aku salah besar! Aku buta karena Rosa dulu, tapi sekarang aku sudah sadar! Aku cuma mau menebus semuanya untuk kamu dan Aiden!"
Belum sempat Adam menyentuh ujung lengan pakaian Fitri, pintu pengemudi SUV di samping mereka terbuka. Danu melangkah keluar dengan tubuh tegapnya, berdiri pasang badan tepat di samping Fitri. Pria itu dengan sigap merangkul pundak Fitri, memberikan gestur perlindungan yang begitu alami.
"Pak Adam, tolong kendalikan diri Anda," ujar Danu dengan nada rendah namun sarat ketegasan seorang pria dewasa. "Silakan singkirkan mobil Anda dari jalan ini sekarang, atau saya terpaksa menghubungi pihak kepolisian atas tindakan membahayakan lalu lintas dan mengganggu kenyamanan keluarga saya."
Adam menatap tangan Danu yang merangkul erat pundak Fitri. Rasa sakit yang melingkupi dadanya terasa seperti tusukan sembilu yang diremas-remas. Di mata Fitri saat ini, tidak ada lagi ruang untuk rasa cintanya yang dulu pernah begitu membara. Yang tersisa hanyalah rasa hormat pada Danu dan penolakan mutlak untuk dirinya.
"Kamu... kamu tega melakukan ini sama aku, Fit?" bisik Adam serak, menatap Fitri dengan tatapan hancur.
Fitri tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, menggamit lengan Danu seolah meminta untuk segera pergi. "Ayo masuk mobil, Mas Danu. Tidak ada guna melayani orang yang tidak tahu batasan."
"Mari, Fit," sahut Danu lembut sebelum menatap Adam sekali lagi dengan tatapan penuh peringatan.
Dengan tubuh gemetar dan dada yang hancur berkeping-keping, Adam berbalik gontai memasuki mobil tuanya. Ia memundurkan kendaraannya dengan tergesa-gesa, membiarkan mobil Danu melaju mulus melewati persimpangan malam itu.
Suasana malam di kamar sewaan Adam terasa begitu mencekam dan sepi. Di atas meja kayu yang berdebu, selembar kertas berisi daftar nomor telepon lama keluarga besar Fitri tergeletak di samping cangkir kopi dingin yang sudah basi. Adam duduk membisu di tepi ranjang tipisnya, meremas ponsel tuanya dengan jemari yang dingin dan gemetar.
Setelah penolakan mentah-mentah dari Fitri dan ancaman hukum dari Dokter Danu di persimpangan jalan kemarin, seluruh akal sehat Adam seolah menguap. Dinding pertahanannya runtuh total. Hanya ada satu harapan tersisa di benaknya: Paman Rahman, paman kandung Fitri di kampung halaman. Dulu, sewaktu almarhumah ibu Fitri masih hidup, Paman Rahman adalah sosok penengah keluarga yang amat bijaksana dan selalu bersikap hangat padanya.
Dengan napas memburu kencang, Adam menekan tombol panggil ke nomor rumah Paman Rahman di Jawa Tengah.
Tutt... tutt... tutt...
Nada sambung berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar desah halus seorang pria paruh baya di seberang telepon.
"Halo, Assalamu’alaikum..." sapa suara berat yang sangat dihafal Adam dari masa lalu.
Jantung Adam berdebar kencang, air mata seketika menetes membasahi pipinya yang tirus. "Paman... ini Adam, Paman..."
Suasana di seberang telepon mendadak hening seketika. Suara deru kipas angin di seberang sana terdengar begitu jelas, disusul helaan napas panjang yang sarat akan kekecewaan mendalam.
"Ada apa kamu menelepon ke sini, Adam?" tanya Paman Rahman. Nada suaranya tidak membentak, namun begitu dingin dan asing tanpa pendar kehangatan yang dulu biasa Adam dengar.
"Paman... tolong Adam, Paman..." ratap Adam dengan suara serak, terisak-isak menahan gejolak emosi di dadanya. "Adam tahu Adam sudah buat dosa besar sama Fitri. Adam sangat menyesal, Paman. Adam sudah ceraikan Rosa... Adam cuma mau Fitri dan Aiden kembali. Tolong bujuk Fitri supaya mau terima Adam lagi, Paman..."
Di seberang sana, Paman terdengar terkekeh pelan, sebuah tawa kecil yang terdengar begitu hambar dan menyayat hati.
"Kamu pikir pernikahan dan keluarga itu barang mainan yang kalau sudah kamu buang ke selokan, bisa kamu ambil lagi saat kamu butuh, Adam?" tanya Paman Rahman tajam. "Waktu kamu menyodorkan surat perjanjian cerai satu tahun dan membuang keponakan Paman demi wanita lain, apakah kamu pernah memikirkan perasaan almarhumah ibunya?"
Lidah Adam mendadak kaku, tenggorokannya terasa amat kering bagaikan padang pasir. "Paman... Adam khilaf..."
"Khilaf kamu bilang?" potong Paman Rahman dengan nada wibawa yang amat menohok. "Paman yang menyaksikan sendiri bagaimana Fitri pulang ke rumah di kampung dalam keadaan hamil muda tanpa suami! Paman yang mengurus biaya almarhumah ibunya yang jatuh sakit akibat memikirkan nasib Fitri yang kamu telantarkan! Di mana kamu waktu almarhumah kakak saya bertaruh nyawa menahan sakit, dan Fitri harus bertaruh nyawa melahirkan Aiden sendirian di rumah sakit?"
"Adam... Adam waktu itu benar-benar tidak tahu kalau Fitri sedang hamil, Paman!" bisik Adam pasrah, rintihannya makin hancur.
"Kamu tidak tahu karena pikiranmu mepet pada kemewahan dan wanita baru itu, Adam!" pangkas Paman Rahman tanpa ampun. "Sekarang, setelah keponakan Paman berhasil menjadi dokter sukses dan menemukan kebahagiaannya bersama Dokter Danu, pria tulus yang menjaga Aiden seperti darah dagingnya sendiri sejak bayi. kamu datang mau merusak semuanya? Di mana muka kamu, Adam?"
"Tapi Adam ini ayah biologisnya Aiden, Paman! Adam cuma mau bertanggung jawab dan menebus dosa-dosa Adam!" seru Adam nekat, mencoba membela diri.
"Tanggung jawab itu ada batas waktunya, Adam. Dan waktu kamu sudah habis bertahun-tahun yang lalu," tegas Paman Rahman. "Fitri sudah menata hidupnya kembali. Danu adalah pria yang direstui oleh almarhumah ibunya sebelum meninggal. Kamu tidak punya tempat lagi di keluarga ini."
"Paman, Adam mohon..."
"Jangan pernah telepon ke rumah ini lagi," potong Paman Rahman dingin. "Dan ingat pesan Paman, jangan sekali-kali kamu berani mengusik ketenangan Fitri dan Aiden kalau kamu tidak mau berurusan dengan keluarga besar kami."
TUT... TUT... TUT...
Sambungan telepon terputus sepihak.
Adam mematung membisu di kegelapan kamarnya. Ponsel tuanya yang terlepas dari genggaman jatuh terhempas ke lantai keramik yang dingin. Pintu terakhir menuju belas kasihan telah tertutup rapat, mengunci Adam di dalam penjara penyesalan abadi.
Namun, belum sempat Adam mengurai napas dari sesak penyesalannya, ponsel yang tergeletak di lantai itu mendadak berdering kembali dengan sangat nyaring. Layar ponselnya yang retak menyorotkan sebuah nomor telepon rumah berawalan kode area Jakarta.
Dahinya berkerut. Dengan jemari gemetar, Adam memungut ponsel itu lalu mengangkatnya. "Ha-halo?"
"Selamat malam. Benar ini dengan Bapak Adam?" tanya suara seorang wanita dari ujung telepon dengan nada bicara formal, cepat, dan sangat dingin.
"Iya, benar... Ini dengan siapa ya?" jawab Adam terbata-bata.
"Kami dari bagian Collection bank, Pak Adam," sahut wanita itu tanpa basa-basi. "Kami menghubungi Anda terkait penunggakan pembayaran kartu kredit atas nama Anda dengan total tagihan pokok beserta denda keterlambatan yang belum diselesaikan sejak tiga tahun lalu."
Jantung Adam seketika mencelos. Wajahnya yang tadinya kusam mendadak pucat pasi. "Kar-kartu kredit? Tapi... tagihan itu kan waktu itu dipakai oleh mantan istri saya, Rosa..."
"Di sistem kami, seluruh transaksi menggunakan fasilitas atas nama resmi Bapak Adam," potong wanita di telepon itu tegas dan lugas. "Hingga hari ini, total tunggakan Anda sudah mencapai seratus dua puluh lima juta rupiah dan sudah masuk kategori kualifikasi kredit macet. Jika dalam waktu dua kali dua puluh empat jam Bapak tidak melakukan pembayaran minimal, pihak bank akan melimpahkan berkas ini ke tim debt collector lapangan serta mengajukan pemblokiran seluruh aset dan rekening Anda secara hukum."
"Seratus dua puluh lima juta?!" seru Adam histeris, suaranya melengking menahan syok luar biasa. "Mbak, saya sekarang sedang tidak ada uang segitu! Saya tidak punya uang sebanyak itu!"
"Itu kewajiban Bapak sebagai pemegang kartu resmi. Kami tunggu pembayarannya paling lambat lusa pukul lima sore, Pak Adam," balas petugas bank itu dingin sebelum langsung memutuskan sambungan secara sepihak.
Tuut... tuut... tuut...
Ponsel di tangan Adam perlahan merosot. Pria itu menyandarkan kepala ke dinding kamar sewa yang dingin, meremas rambutnya sendiri sampai kesakitan. Dosa masa lalunya saat memanjakan Rosa dengan kartu kredit tanpa kontrol kini berbalik menghantamnya tepat di muka di saat ia sudah tak punya apa-apa lagi untuk membayar.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.