Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sehari sebelum malam jamuan makan malam. Suasana di Kafe Sudut Temu terasa lebih sibuk dari biasanya. Bunyi mesin espresso yang mendesis dan denting cangkir kopi menjadi latar musik bagi Alea yang tengah sibuk mengelap meja dengan celemek cokelat kebesarannya.
Malam ini, ia bekerja tanpa pengawasan 'CCTV berkedok manusia' bernama Arka.
Pemuda itu mengirimkan pesan singkat sore tadi, mengatakan ada urusan mendesak yang harus diselesaikan—yang tentu saja diartikan Alea sebagai urusan rapat saham ala Tuan Muda, padahal di luar sana Arka sedang sibuk melumpuhkan para musuh klan yang mencoba mengusik ketenangannya. Meski begitu, Arka berjanji dengan nada mutlak bahwa ia akan menjemput Alea tepat pukul sepuluh malam nanti.
Ting!
Lonceng pintu kafe berbunyi. Alea yang sedang menyusun display roti menoleh dengan senyum default pelayanan pelanggan. "Selamat datang di Sudut Temu, ada yang bisa—"
Kalimat Alea terhenti. Senyum ramahnya luntur dalam sekejap.
Dari ambang pintu kafe, sosok Vanessa lengkap dengan Siska dan Nindy yang mengekor di belakangnya bak dayang-dayang kerajaan melangkah masuk dengan gaya angkuh. Ketiga gadis itu mengenakan pakaian kasual namun dipenuhi logo brand KW super yang entah apa lah namanya, tampak sangat tidak cocok dengan estetika kafe indie tempat para mahasiswa biasa mengerjakan skripsi.
Begitu mata Vanessa menangkap sosok Alea yang sedang memegang lap meja, senyum meremehkan yang sangat lebar langsung tercetak di wajah sok cantiknya.
"Oh, my God, " seru Vanessa sengaja dengan suara keras, menarik perhatian beberapa pelanggan. Ia melangkah mendekati meja kasir dengan gaya angkuh. "Gue kira gue salah lihat. Ternyata beneran ada gembel yang lagi nyamar jadi pelayan di sini."
Siska dan Nindy tertawa cekikikan dari belakang.
Alea menarik napas panjang, memasukkan lap mejanya ke dalam saku celemek, lalu memencet layar mesin kasir dengan tenang. Otak kapitalisnya menolak terpancing emosi gratisan.
"Selamat malam, Nona-nona cantik tapi adabnya tipis," sapa Alea ramah, menopang dagu di atas mesin kasir.
"Mau pesan menu apa? Kalau mau pesan simpati, kebetulan lagi sold out. Tapi kalau mau pesan Americano dingin biar hatinya yang panas agak adem, harganya dua puluh lima ribu. Tax and service terpisah."
Wajah Vanessa seketika memerah. Ia paling benci jika hinaannya dipantulkan dengan santai. Gadis itu menggebrak meja kasir dengan kasar mengunakan telapak tangannya.
"Lo nggak usah belagu, ya, Alea!" desis Vanessa tajam, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Lo pikir lo hebat bisa nempel-nempel sama Arka di sekolah?! Lo pikir Arka beneran peduli sama gadis rendahan kayak lo ini, sadar diri, Alea! Lo itu beda level sama Arka?!"
"Sayangnya gue nggak mikir gitu, tuh," jawab Alea jujur sambil mengedikkan bahu.
"Gue cuma mikir argo gue tetep jalan. Terus ada masalah?"
Vanessa mendengkus sinis, melipat tangannya di dada dengan gaya superior. Ia menatap Alea dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat.
"Lo bener-bener cewek halu yang nggak tahu tempat," cibir Vanessa puas.
"Lo pasti nggak tahu kan berita terpanas di kalangan high society hari ini? Besok malam, keluarga Adiwangsa bakal ngadain jamuan makan malam resmi. Dan tebak buat apa? Buat meresmikan perjodohan Arka dengan Clarissa Suryanegara! Anak konglomerat asli, bukan cewek kasta rendahan tukang lap meja kayak lo!"
Di dalam roda gigi di otak Alea langsung berputar cepat. "Perjodohan? Makan malam?
Pantas saja Arka tiba-tiba membelikannya gaun silk-satin mahal dan menyewanya untuk menghancurkan sebuah pesta. Ternyata pesta yang dimaksud adalah acara perjodohannya sendiri! Menarik!"
Alih-alih merasa patah hati, sedih, atau insecure seperti yang diharapkan Vanessa, mata Alea justru berbinar terang. "Wah, kalau tugasnya ngehancurin acara perjodohan anak konglomerat, rate card gue kemurahan nih! Besok gue tagih hazard pay sama uang lemburnya juga ah!" gumam Alea dalam hati.
Vanessa yang melihat Alea hanya diam sambil tersenyum-senyum sendiri, Vanessa mengira gadis itu sedang syok berat.
"Kenapa? Kena mental lo?" tawa Vanessa puas.
"Lo itu cuma mainan Arka buat ngehibur diri sesaat. Besok malam, Arka bakal sibuk gandeng tangan Clarissa yang pakai gaun ratusan juta, sementara lo cuma bisa balik ke kontrakan kumuh lo sambil nangis di pojokan!"
Alea akhirnya mengakhiri lamunan finansialnya. Ia menatap Vanessa dengan senyum yang jauh lebih meremehkan daripada milik gadis itu.
"Oh, jadi Arka mau dijodohin sama Nona Clarissa?" Alea menepuk tangannya sekali, bersorak kecil.
"Wah, gue jadi gak sabar mau ngucapin kata selamat buat Arka! Tapi... ngomong-ngomong yang dijodohin kan Clarissa, kok lo yang bangga, Vanes? Emangnya lo diundang ke pesta itu juga? Atau lo cuma dapet gosip sisa dari grup WhatsApp doang?"
Skakmat. Wajah Vanessa yang tadinya penuh kemenangan langsung pucat pasi. Keluarga Cokroatmojo yang hanya anggota dewan daerah setempat memang tidak selevel dengan keluarga Suryanegara dan Adiwangsa. Lagian ini makan malam dua keluarga mana mungkin ia dan keluarganya di undang.
"L-lo—!" Vanessa terbata-bata menahan malu karena fakta itu ditelanjangi tepat di depan teman-temannya.
Didorong amarah yang meledak, tangan Vanessa dengan cepat menyambar segelas es kopi susu milik pelanggan lain yang belum sempat diantar Alea di atas meja kasir, berniat menyiramkannya tepat ke wajah Alea.
Namun, Vanessa lupa satu hal. Gadis di hadapannya ini memiliki refleks yang ditempa dari kerasnya jalanan.
Sebelum cairan kopi itu sempat melayang, tangan kiri Alea melesat menahan pergelangan tangan Vanessa dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk membuat gadis itu memekik kaget. Dengan satu putaran pergelangan tangan yang efisien, Alea membelokkan arah gelas itu.
Byurr!
Alih-alih mengenai Alea, separuh isi es kopi susu itu justru tumpah membasahi tas Gucci KW super milik Siska yang berdiri tepat di sebelah Vanessa.
"AAAA! Tas gue!!" jerit Siska histeris, menepis tangan Vanessa.
"S-sory, Sis! Tangan gue dipelintir sama cewek gila ini!" panik Vanessa, berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Alea.
Alea melepaskan tangan Vanessa dengan raut wajah sok inosen, lalu buru-buru memencet tombol di mesin kasir hingga struk kertas keluar dengan bunyi zrrrtt.
Ia menyobek struk itu dan menempelkannya tepat di jidat Vanessa.
"Minuman pelanggan yang tumpah: tiga puluh lima ribu. Biaya cleaning service lantai kafe: lima puluh ribu. Pajak keributan dan polusi suara: seratus ribu," rinci Alea dengan suara lantang, mengabaikan kekacauan Siska yang sedang mengelap tasnya memakai tisu.
Alea menatap Vanessa dengan senyum manis yang mematikan. "Totalnya seratus delapan puluh lima ribu rupiah, Nona Vanessa. Boleh bayar cash atau QRIS, tapi gue nggak terima pembayaran pakai air mata atau alasan. Silakan dibayar, atau gue tahan kunci mobil lo sampai polisi datang."
"Dasar cewek gila! Lo yang bikin tumpah, kenapa gue yang disuruh bayar?!" jerit Vanessa frustrasi, urat lehernya sampai menonjol.
Alea menunjuk ke sudut atas kafe. "Lo lihat kamera CCTV di atas situ? Jelas banget ngerekam tangan lo yang niat nyiram gue duluan. Mau gue putar videonya sekalian gue upload ke TikTok dengan caption 'Anak anggota dewan sedang ngamuk di kafe'? Lumayan nih, views-nya bisa buat nambah beli cilok."
Menyadari dirinya benar-benar kalah telak—baik secara fisik, argumen, maupun hukum perdata ala Alea, Vanessa mengentakkan kakinya ke lantai dengan amarah yang meledak-ledak. Ia melempar uang dua ratus ribuan ke atas meja kasir dengan kasar.
"Ambil kembaliannya, dasar pengemis!" makinya dengan suara bergetar, lalu berbalik pergi.
"Ayo cabut, Sis, Nin! Najis gue lama-lama di tempat murahan ini!"
"Terima kasih atas donasinya, Nona Vanessa! Jangan lupa datang lagi bawa temen yang lebih banyak ya!" teriak Alea riang melambaikan uang dua ratus ribu itu ke arah pintu kafe yang dibanting kasar oleh Vanessa.
Pelanggan kafe yang sejak tadi menonton pertunjukan gratis itu diam-diam menahan tawa. Beberapa bahkan menatap Alea dengan kekaguman.
Alea melirik jam dinding di atas dapur kafe. Pukul 09:55 malam.
Ia merogoh saku celemeknya, merasakan getaran pelan dari ponsel canggih pemberian Arka. Sebuah pesan masuk, singkat dan mutlak.
Bos Arka: 'Gue di depan. Keluar sekarang.'
Senyum Alea mengembang tanpa sadar. Ia melepaskan celemeknya, memberikan uang dua ratus ribu itu kepada temannya yang kebagian shift bersih-bersih lantai, lalu meraih ranselnya.
Bersambung...