Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Memberikan Cincin Penyimpanan
Bei Mingye melangkah masuk dengan sikap dingin, menatap Kaisar Bei Mingluo dan berkata, “Kudengar kau berniat mengatur pernikahan untukku?”
Kaisar Bei Mingluo sudah terbiasa dengan sikap santai Bei Mingye yang tidak mengenal aturan. Dia berdiri dari belakang meja, lalu berjalan menghampirinya.
“Benar. Gadis itu adalah Nona Keempat keluarga Xuan, seorang jenius terkenal di ibu kota. Paman sudah mempertimbangkannya sejak lama. Hanya dia yang pantas untukmu.”
Bei Mingye mencibir, “Paman, apakah kau berpikir aku tidak bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik darinya?”
Mendengar panggilan Paman, Kaisar Bei Mingluo menghela napas dan menjelaskan maksudnya, “Ah Ye, usiamu sudah tidak muda lagi. Kau harus tahu bahwa masa depan Kerajaan Dong membutuhkanmu. Paman tentu akan memilihkan yang terbaik untukmu. Nona dari keluarga Xuan itu adalah seorang jenius. Coba katakan, apakah ada wanita lain yang lebih baik darinya?”
“Aku tidak berminat mengurus Kerajaan Dong,” jawab Bei Mingye acuh.
“Paman harus tahu bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memaksaku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan. Jadi, jangan buang-buang waktu untuk masalah ini. Pada waktunya nanti, aku sendiri yang akan membawa wanita pilihanku bertemu denganmu.”
Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada datar, “Dia seribu kali lebih baik daripada Xuan Meng.”
Tanpa memberi kesempatan kepada Kaisar Bei Mingluo untuk membalas, Bei Mingye berbalik dan meninggalkan ruang kerja kekaisaran.
Melihatnya pergi begitu saja, Kaisar Bei Mingluo hanya bisa menghela napas pasrah. “Ah Ye dan kakak benar-benar memiliki sifat yang sama. Mereka selalu melakukan apapun yang mereka inginkan!”
Mengingat kakak kandungnya yang telah pergi mengembara sejak usia sepuluh tahun, dia sangat sedih.
Bagaimanapun, sejak dulu dia selalu percaya bahwa kakaknya-lah yang seharusnya menjadi penguasa Kerajaan Dong.
Delapan belas tahun yang lalu, kakaknya yang telah menghilang selama enam belas tahun tiba-tiba muncul kembali sambil membawa seorang bayi dalam dekapannya.
Saat itu, kakaknya terluka parah dan tidak banyak bicara.
Setelah menitipkan bayi itu kepadanya agar dirawat dengan baik, dia kembali pergi meninggalkan Kerajaan Dong.
Itu adalah terakhir kalinya dia melihat kakaknya.
Bayi tersebut memiliki sepasang mata berwarna abu-abu keunguan yang sangat indah.
Demi melindungi putra kakaknya dari berbagai intrik politik, Kaisar Bei Mingluo mengumumkan kepada publik bahwa Ah Ye adalah putranya yang telah hilang dan baru saja ditemukan.
Dia juga menganugerahkan gelar kebangsawanan kepadanya sejak dini agar Ah Ye tidak terseret ke dalam perebutan takhta.
Namun selama bertahun-tahun, sebenarnya Kaisar Bei Mingluo selalu berharap keponakannya itu bersedia menjadi Kaisar Kerajaan Dong.
Sayangnya, Ah Ye sama sekali tidak tertarik pada posisi tersebut.
Kaisar Bei Mingluo menghela nafas tak berdaya, lalu kembali ke meja kerjanya.
Karena Ah Ye menolak pernikahan itu, dia tidak akan membahasnya lagi.
Dan karena sepertinya Ah Ye sudah memiliki wanita yang disukainya, sebagai pamannya, dia hanya perlu menunggu dan melihat.
Setelah meninggalkan istana, Bei Mingye segera kembali ke kediamannya di utara kota.
Namun begitu melangkah masuk ke halaman tempat Chongyue beristirahat, dia tiba-tiba batuk keras dan memuntahkan seteguk darah.
Murong yang saat itu sedang membawa semangkuk obat segera menghampirinya ketika melihat kondisi tuannya yang mendadak memburuk.
“Tuan, bagaimana keadaan Anda?” tanyanya dengan khawatir.
“Aku tidak apa-apa.” Bei Mingye menggelengkan kepala, kemudian mengambil mangkuk obat dari tangan Murong. “Biar aku yang membawanya ke dalam.”
Murong semakin cemas.
Kondisi tuannya jelas tidak baik-baik saja.
Sebelumnya, racun dingin tuannya hanya kambuh setiap enam bulan sekali. Racun itu juga baru saja kambuh bulan lalu. Tidak mungkin kambuh lagi secepat ini.
Jadi, luka yang dialami tuannya pasti bukan luka biasa.
Namun, apa yang telah dilakukan tuannya sampai mengalami luka dalam separah itu?
Meskipun penasaran, Murong tidak bertanya karena jika tuannya tidak ingin membicarakannya, tidak ada gunanya memaksanya.
Akhirnya, dia hanya mengangguk dan kembali ke dapur.
Saat Bei Mingye masuk ke kamar, Yu Liu baru saja selesai merapikan pakaian Chongyue.
“Tuan, luka di punggung Chongyue sudah selesai dibalut,” ucapnya sambil membawa baskom air keluar kamar.
Bei Mingye meletakkan mangkuk obat di meja, lalu membantu Chongyue duduk bersandar pada kepala ranjang.
Dia tersenyum kembut saat bertanya, “Apakah kau merasa lebih baik?”
Chongyue tidak menjawab. Dia hanya menatap Bei Mingye dengan tatapan penuh selidik.
Ditatap seperti itu, Bei Mingye justru bertanya dengan nada bercanda, “Apakah kau merasa aku sangat tampan sampai ingin terus menatapku?”
Biasanya Chongyue akan mengejeknya karena terlalu percaya diri. Namun kali ini dia tidak melakukannya dan hanya berkata datar, “Kau terluka.”
Senyum di wajah Bei Mingye tidak berubah. Dia mengambil sendok, menciduk obat dari dalam mangkuk, lalu mengarahkannya ke bibir Chongyue.
“Minumlah obatmu dulu. Setelah itu, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu,” ucapnya santai.
Chongyue mengerutkan kening. Dia hendak menolak ketika Bei Mingye tiba-tiba mendekatkan wajahnya.
Dia menatapnya dengan tajam. “Apa yang mau kau lakukan?”
Bei Mingye terkekeh pelan. “Melihatmu enggan minum obat, aku berpikir untuk menyuapimu langsung dengan mulutku.”
Chongyue tertegun, lalu segera membuka mulutnya dan meminum obat dari sendok tersebut.
Rasa obat itu sangat pahit, mungkin karena tidak dicampur dengan akar manis. Namun bagi Chongyue yang sudah terbiasa meminum berbagai macam ramuan obat, rasa pahit seperti itu bukanlah masalah besar.
Tidak lama kemudian, semangkuk obat habis.
Setelah meletakkan mangkuk kosong di atas meja, Bei Mingye mengeluarkan sebuah cincin perak dari cincin penyimpanannya.
Tanpa mengatakan apa-apa, dia meraih tangan Chongyue dan menggunakan pisau kecil untuk menggores ujung jarinya hingga setetes darah keluar.
Begitu darah itu menetes ke permukaan cincin, Bei Mingye perlahan memasangkannya pada jari manis tangan kiri Chongyue.
Melihat betapa hati-hatinya dia memasangkan cincin ke jarinya, sudut bibir Chongyue berkedut pelan.
Haruskah dia mengingatkan pria ini tentang makna memasangkan cincin kepada seorang wanita?
“Gunakan kesadaranmu untuk melihat isi di dalam cincin itu,” ucap Bei Mingye dengan suara lembut.
Chongyue mengangguk pelan.
Dia memusatkan kesadarannya pada cincin perak di jarinya. Begitu kesadarannya memasuki ruang di dalam cincin, dia terkejut melihat betapa luasnya ruang penyimpanannya.
Dia mendongak dan menatap Bei Mingye. “Ini cincin penyimpanan?”
“Benar.” Bei Mingye mengangguk. “Sekarang cincin ini menjadi milikmu.”
Chongyue terdiam.
Selama beberapa hari tinggal bersama Yu Liu dan Murong, dia telah mempelajari banyak hal mengenai Benua Timur. Dia juga tahu betapa langkanya sebuah cincin penyimpanan.
Bahkan di Kerajaan Dong, benda seperti ini hampir tidak dapat ditemukan. Namun, pria di hadapannya justru memberinya satu.
Chongyue tiba-tiba teringat pada luka Bei Mingye.
Dia mengerutkan kening dan menatapnya lekat-lekat. “Kau terluka karena mencari cincin ini?”
“Benar.” Bei Mingye mengangguk jujur tanpa berusaha menyembunyikannya. “Benda ini memang sangat langka. Kebetulan aku tahu seseorang yang memilikinya, jadi aku pergi dan merebutnya.”
Chongyue terdiam lagi.
Hanya karena dia pernah mengatakan menginginkan sebuah cincin penyimpanan, pria ini sampai mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkannya?
Sepertinya Bei Mingye benar-benar menganggap serius janji enam bulan yang pernah di ucapannya waktu itu.
“Terima kasih.”
Karena darahnya sudah menetes dan cincin ini telah mengikatnya sebagai pemilik baru, menolaknya sekarang justru akan terlihat seperti berpura-pura jual mahal.
“Kau tidak perlu berterima kasih padaku.” Bei Mingye mengambil mangkuk obat, lalu berdiri. “Beristirahatlah dengan baik.”
Setelah itu dia berbalik dan melangkah keluar kamar.
Namun begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, Bei Mingye kembali batuk dan memuntahkan darah.
Yu Liu yang sedang menunggu di luar hendak berbicara, tetapi Bei Mingye langsung melayangkan tatapan penuh isyarat kepadanya.
Yu Liu memahami maksudnya.
Tanpa bertanya apa pun, dia mengambil mangkuk kosong dari tangan Bei Mingye dan berjalan mendampinginya.
Setelah beberapa langkah, Bei Mingye berhenti dan menatap Yu Liu. “Kau dan Murong jagalah dia dengan baik. Aku akan kembali ke kamarku untuk memulihkan luka.”
“Baik, Tuan,” jawab Yu Liu patuh.
Bei Mingye tidak berkata apa-apa lagi dan pergi dengan langkah perlahan.
saya ingin sekali mencabik Xuan meng😡