Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tirai Terakhir Sang Bayangan dan Fajar Kebenangan

Matahari pagi menyembul dari balik ufuk timur, memantulkan bias cahaya keemasan di atas hamparan kaca jendela ruang komando bawah tanah istana. Suasana di dalam ruangan berteknologi canggih itu terasa dingin dan hening, kontras dengan ketegangan mental yang tengah memuncak di hadapan sebuah kursi besi di tengah ruangan.

Victor Vance pimpinan sindikat kriminal internasional yang selama ini menebar teror dan ancaman kini terduduk lemas dengan kedua tangan terborgol erat di belakang sandaran kursi. Wajahnya babak belur, sudut bibirnya pecah, dan napasnya memburu menahan rasa sakit akibat sergapan kilat tim pengamanan malam tadi.

Di hadapannya, Kenzie Al-Ghazali berdiri tegak dengan postur militer yang kaku. Kenzie mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Sorot matanya sangat tajam, dingin, dan menghujam langsung ke ulu hati siapa pun yang berani menatapnya.

"Kau benar-benar sudah kehilangan taringmu, Kenzie," desis Victor tertawa sinis di tengah kesakitannya, mencoba memancing emosi pria di hadapannya. "Dulu kau adalah algojo paling ditakuti di Eropa Timur. Sekarang kau bersembunyi di balik jubah pengampunan, menjadi suami teladan dan pengurus yayasan amal. Sungguh lelucon yang menyedihkan."

Kenzie tidak terpancing. Ia melangkah mendekat perlahan, lalu mencengkeram kerah kemeja Victor dengan satu tangan hingga wajah gembong itu terangkat sejajar dengannya. Tidak ada teriakan amarah dari mulut Kenzie; suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan mematikan jauh lebih menakutkan daripada bentakan keras.

"Dunia hitam memang mengajarkanku cara menjadi pembunuh yang keji, Victor," ucap Kenzie tajam tepat di depan wajah musuhnya. "Tapi dunia itu juga mengajarkanku satu hal penting: bagaimana cara mengenali sampah yang harus disingkirkan selamanya agar tidak mengotori rumahku."

Vito yang berdiri di sudut ruangan sambil memegang tablet data pengawasan mendekat dan menyerahkan sebuah berkas digital. "Boss, tim cyber kita sudah meretas server komunikasi pribadi Victor. Seluruh jaringan logistik bawah tanah dan aset keuangan mereka yang tersisa di kawasan Asia Tenggara telah berhasil kita lumpuhkan dan serahkan kepada pihak interpol internasional pagi ini juga."

Victor membelalakkan matanya mendengar laporan itu. "Kau... kau menghancurkan seluruh kerajaanku dalam semalam?!"

"Kerajaanmu dibangun di atas darah dan penderitaan orang lain, Victor. Sudah saatnya runtuh," balas Kenzie dingin. Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Victor terdorong mundur ke sandaran kursi. Kenzie memberi isyarat kepada Vito. "Bawa dia keluar. Serahkan kepada pihak berwenang sesuai protokol hukum internasional. Pastikan dia tidak pernah bisa menginjakkan kaki lagi di wilayah ini."

"Siap, Boss!" seru dua pengawal elit langsung menarik paksa Victor keluar dari ruangan bawah tanah.

Badai terakhir dari masa lalu yang mencoba merusak kediaman mereka akhirnya musnah tak bersisa. Kenzie menarik napas dalam-dalam, melepaskan seluruh sisa beban mental yang sempat menggelayuti pikirannya, lalu berbalik melangkah meninggalkan ruang bawah tanah menuju lantai atas.

Sementara itu, di kamar utama istana, Aisyah Humaira berdiri di dekat jendela sambil merapikan tirai putih transparan. Hatinya yang sejak semalam diselimuti kecemasan kini perlahan-lahan mencair seiring terbitnya matahari pagi yang cerah. Ia baru saja selesai menunaikan duha dan memanjatkan doa panjang agar suaminya senantiasa berada dalam perlindungan Allah.

Pintu kamar terbuka perlahan. Langkah kaki tegap yang sangat dikenalinya mendekat dari arah belakang.

Sebelum Aisyah sempat berbalik, sepasang lengan kokoh melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya merapat ke dada bidang sang suami. Aroma parfum maskulin bercampur kesejukan pagi langsung menyapa indra penciumannya.

Aisyah menyandarkan punggungnya dengan nyaman, lalu mengangkat tangan kanannya untuk mengusap lembut jemari Kenzie yang mendekap perutnya.

"Mas..." panggil Aisyah lirih. "Semuanya sudah selesai?"

Kenzie membenamkan wajahnya sejenak di ceruk leher Aisyah, menghirup aroma menenangkan dari istrinya sebelum menjawab dengan suara baritonnya yang lembut. "Semuanya sudah selesai, Sayang. Victor dan kelompoknya sudah diserahkan kepada pihak berwenang. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang bisa mengusik ketenangan kita."

Mendengar pengakuan itu, air mata haru yang sempat tertahan di pelupuk mata Aisyah akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia berbalik perlahan di dalam dekapan suaminya, menatap lekat-lekat manik mata hitam Kenzie yang kini tampak begitu jernih dan bebas dari beban.

"Alhamdulillah... ya Allah, alhamdulillah..." lirih Aisyah bersyukur, lalu menangkup pipi suaminya dengan kedua tangannya yang mungil. "Terima kasih karena selalu menepati janji untuk kembali kepadaku dengan selamat, Mas."

Kenzie mengecup telapak tangan istrinya yang menangkup pipinya, lalu mendaratkan ciuman yang sangat tulus dan penuh cinta di kening Aisyah. "Akulah yang harus berterima kasih padamu, Aisyah. Doamu, kesabaranmu, dan ketulusan cintamu adalah perisai terkuat yang menyelamatkanku dari kegelapan abadi."

Menjelang siang hari, suasana istana kembali diisi oleh kedamaian dan kehangatan yang sempurna. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan.

Di ruang keluarga, Kenzie dan Aisyah duduk berdampingan menikmati secangkir teh chamomile hangat. Di hadapan mereka terbentang sebuah peta kecil rencana perluasan kebun organik dan renovasi panti asuhan cabang baru yang akan menjadi proyek sosial yayasan mereka berikutnya.

Vito melangkah masuk membawa sebuah amplop cokelat besar dengan ekspresi wajah yang jauh lebih santai dari biasanya.

"Boss, Nyonya... surat izin operasional resmi untuk perluasan klinik kesehatan gratis di wilayah perbatasan sudah diterbitkan oleh dinas terkait," lapor Vito sambil meletakkan dokumen itu di atas meja. "Tim logistik kita siap turun ke lapangan pekan depan."

Kenzie mengangguk puas. "Kerja bagus, Vito. Atur jadwal keberangkatan kita, dan pastikan seluruh kebutuhan medis didistribusikan tepat sasaran."

"Baik, Boss. Saya permisi dulu," pamit Vito sopan, lalu berlalu meninggalkan ruangan.

Aisyah menatap suaminya dengan senyuman manis yang tersembunyi di balik cadar tipisnya. "Sepertinya kesibukanmu sebagai direktur yayasan amal ini jauh lebih padat daripada saat memimpin perusahaan komersial dulu, Mas."

Kenzie menoleh, lalu merangkul bahu istrinya dengan gemas. "Tapi kesibukan ini mendatangkan keberkahan, Humairah. Setiap sen yang berputar, setiap senyum anak yatim yang terbantu, adalah investasi kita untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak."

Aisyah mengangguk setuju, menyandarkan kepalanya dengan damai di bahu suaminya.

Masa lalu yang kelam kini telah terkubur sedalam-dalamnya, digantikan oleh lembaran-lembaran baru yang ditulis dengan tinta iman, ketulusan, dan cinta kasih yang abadi. Di bawah naungan rida Sang Pencipta, Kenzie dan Aisyah melangkah bersama menyongsong masa depan membuktikan bahwa seberapa jauh seseorang tersesat di dalam pekatnya malam, cahaya hidayah selalu mampu menuntun mereka pulang ke pelabuhan ketenangan yang sejati.

1
Anonim
😍😍😍
Anonim
❤️❤️❤️
Anonim
😍😍😍
Anonim
Baper said ❤️❤️
Anonim
Heeeeemmmm❤️❤️❤️
Anonim
Heeeem semakin seru
Anonim
Ayooooo
Anonim
An
Mantap 🤭🤭
Anonim
🤭🤭🤭
Anonim
😍😍😍😍😍
Anonim
❤️❤️❤️❤️
Anonim
😍😍😍
Anonim
Heeeeemmm
Anonim
Ayoooo
Anonim
Trima kasih autir 😍😍😍
Anonim
😍😍😍😍
Anonim
Menarik 🤭🤭🤭
Anonim
😄😄😄
Anonim
Heeemmmm
Anonim
❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!