Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 33
Kedua mobil beriringan kembali ke jalanan menuju Apartemen, di dalam perjalanan Draja sesekali melihat dari kaca spion keadaan Alensky yang masih nampak tak sadarkan diri.
"Apa ini tidak berbahaya?" Tanya Draja.
"Maksud mu?" Sahut Tranaka.
"Alen terlalu lama pingsan, dan apa wanita tadi itu yang membuatnya pingsan, dari mana dia tau namaku?, ada hubungan apa wanita itu dengan Alen?, dari tangannya keluar cahaya, kamu lihat kan Naka, apa dia seorang pesulap?, atau penyihir, atau_"
"Stop, hentikan ocehan mu, kau terlalu banyak bertanya dan bahkan aku belum sempat menjawab satu pun Draja"
"Kalau begitu jelaskan padaku, kau pasti tau kan?"
"Nanti"
"Kenapa tidak sekarang?"
"Ya Tuhan, dia kak Sera, Kakak sepupu Alen" akhirnya hanya jawaban singkat yang di berikan oleh Tranaka ke Draja.
"Kakak sepupu?, lalu apa yang dia lakukan pada Alen?"
"Kau bisa tanya langsung padanya nanti"
"Lalu apa yang keluar dari tangannya, dia_"
"Cukup Draja, tidak semua pertanyaan mu bisa aku jawab, akupun masih penasaran apa yang terjadi sesaat tadi, yang penting sekarang adalah keadaan Alen"
Akhirnya sampai di Apartemennya, bukan Apartemen Alensky, sesaat Tranaka juga berpikir keras, kenapa mereka malah menuju ke sini?, batinnya.
Sera menghampiri, membuka pintu dan akan membawa Alensky.
"Biar aku yang melakukannya" cegah Tranaka.
Segera keluar bersama Draja, Tranaka kini mengangkat tubuh Alensky, Draja menutup pintu mobil dan mengikutinya.
Disaat hampir sampai di pintu lift, Tranaka di kejutkan dengan kedatangan Graven Rudolf.
"Kak Graven?"
"Hem, kita ke Apartemen mu" jawab Graven cepat dan menutup pintu lift.
Tranaka mengangguk, sepertinya cukup Draja saja yang bingung saat ini, karena semua yang ada disana sepertinya sudah tau hubungan antara Tranaka dan Alensky.
Sampai di Apartemen yang di tuju, Tranaka memindai wajahnya dan_
Ting
Pintu terbuka.
"Kamar ku" ucapnya.
Graven mengangguk dan mendahului Tranaka untuk membuka pintu kamarnya.
Sampai di dalam sana.
Sera mempersilahkan semua untuk keluar, apa yang dilakukannya kali ini membutuhkan tubuh Alensky dengan sebagian besar baju yang harus di buka, dan akhirnya Sera melakukan apa yang seharusnya.
Di luar sana, Draja masih duduk dengan kebingungan yang nampak jelas di wajahnya, Tranaka mengambil air minum untuk Kakak sepupunya dan juga Draja.
"Bagaimana keadaan Alen?" Tanya Draja.
"Dia akan baik-baik saja" jawab Graven setelah meminum separo air dalam gelasnya.
"Aku kakak Tranaka, dan kau teman mereka?" Tanya Graven pada Draja.
"Iya, aku Draja, teman satu kelas Alen dan Naka" jawabnya.
"Dan kenapa kak Graven bisa ada bersama dengan Kak Sera?" Tanya Tranaka.
"Kau lupa kakak mu ini akan menikah, atau kau tak mendengarkan pengumuman di keluarga besar kita?"
"Apa?, my God, jadi kak Sera calonnya?!" Tentu saja Tranaka terkejut dengan kenyataan yang sangat kebetulan sekali.
"Hem, dasar bocah tidak peka" sahut Graven kesal juga.
"Sorry kak, aku tidak datang di acara keluarga saat itu, karena Daddy mengundang wanita yang di jodohkan dengan ku"
"Keluarga Mawardi kan memang sudah masuk keluarga kita semenjak Om Kian menikahi wanita gatal itu"
"Dan aku tidak suka dengan mereka" sahut Tranaka.
"Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena istri Om Kian adalah keluarga mereka juga"
"Aku juga heran kenapa Om Kian memilih wanita dari keluarga Mawardi" ucap Tranaka.
"Aku juga heran bagaimana kalian bisa melangsungkan pernikahan lebih dulu dari pada aku" Graven membicarakan hal yang berbeda.
"Itu panjang cerita nya" jawab Tranaka.
Draja yang dari tadi mengikuti perbincangan mereka terkejut seketika, pernikahan?, siapa yang menikah?, Tranaka dan Alensky?, apa ini mungkin?, batin Draja.
"Tunggu!, maaf aku menyela obrolan kalian, siapa yang menikah lebih dulu, Naka?" Tanya Draja.
Oh my God, Tranaka lupa jika di sini ada Draja yang tentu saja masih punya pendengaran baik untuk bisa menangkap semua perkataan.
"Emm, itu, sebenarnya_"
Tranaka sedikit bingung saat akan menjelaskannya.
"Mereka sudah menikah, tapi masih di rahasiakan sampai nanti lulus kuliah" Graven sengaja menyela jawaban Tranaka.
"Mereka?" Tanya Draja dengan mata yang membola.
"Kak, ini rahasia" sahut Tranaka.
"Percuma saja, dia sudah mendengar semuanya, nanti kalian bisa minta laki-laki ini merahasiakannya"
"Apa yang harus aku rahasiakan?" Draja semakin bertanya-tanya.
"Pernikahan ku" jawab Tranaka.
"Kamu sudah menikah?, dengan?"
"Alensky" jawab Tranaka.
"A-Apa?!"
Draja rasanya tak percaya, bagaimana hal ini bisa terjadi, padahal mereka baru beberapa hari bertemu dan _
"Ya Tuhan" ucapnya pelan.
"Aku percaya kamu bisa menjaga rahasia ini Draja, karena Alen dan aku masih merahasiakannya" ucap Tranaka.
Draja mengangguk pelan, lalu kemudian menatap mata Tranaka dalam.
"Apa mungkin Meriya tau hal ini, hingga akhirnya mereka membunuh ibu Murni?"
Tranaka menggeleng cepat.
"Itu tidak mungkin, orang luar hanya kamu yang tau, bahkan keluarga besarku hanya Daddy dan Kak Graven yang tau hal ini"
"Membunuh?, siapa yang di bunuh siapa?" Tanya Graven akhirnya berbalik tak jadi pergi meninggalkan mereka.
Akhirnya Tranaka dan Draja menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa Alensky begitu marah dan ingin membalas perbuatan orang-orang yang di duga terlibat akan kematian ibu Murni.
"My God, aku benar-benar tak menyangka" ucap Graven.
"Sebaiknya kak Graven tidak usah memikirkan hal ini, serahkan padaku, aku masih bisa mengatasi nya"
"Benarkah, aku takut jika kalian akan salah mengambil langkah" sahut Graven dengan wajah cemas nya.
"Tenang saja kak, aku tau Alensky masih susah untuk mengendalikan emosi nya, tapi aku masih bisa membantunya"
"Hem, aku percaya padamu Naka, kamu yang lebih tau Alensky sekarang ini, tapi jika butuh apapun, bilang padaku"
Ada anggukan, begitu juga dengan Draja yang memberikan responnya, kemudian Graven beranjak dari tempatnya saat mendengar Sera memanggil nya.
Bukan hanya Graven, Tranaka juga ikut masuk ke dalam kamarnya.
"Alen sudah tersadar, dia hanya lelah dan tertidur lagi, sebaiknya kau temani" Sera mengusap pelan wajah Alensky.
"Baik kak"
Sera dan Graven lalu pamit pergi, melanjutkan hal penting yang sempat tertunda.
"Aku juga sebaiknya pergi Naka, dan mungkin aku akan mengawasi keadaan Murni, dia sudah setuju untuk sementara tinggal di tempat ku" Draja ikut berpamitan.
Tranaka mengangguk, mengucapkan terimakasih, dan memberikan pesan untuk berhati-hati di jalan sebelum akhirnya Draja pergi dari Apartemen nya.
Ditempat lain, seseorang tengah menatap tajam ke arah seorang wanita yang duduk santai di tempatnya.
"Kenapa ada polisi yang masih mengadakan penyelidikan?!" Teriak laki-laki berdasi yang terlihat kesal sekali.
"Aku juga tidak tau, padahal jelas-jelas wanita itu melompat sendiri dari jendela kamarnya"
"Kalau begitu pastikan bukti itu nyata, jangan ada yang di lebihi atau kurangi!" Bentak nya.
"Dad, sudahlah, Mommy sudah mengatakan yang sebenarnya, sebaiknya kita menyangkal atau mematahkan penyelidikan mereka" sahut Meriya yang baru saja tiba dan ikut bergabung dalam perbincangan keluarga.
Yuk jangan lupa ninggalin komen sebelum bab berikutnya ya,
Waktunya kasih VOTE, VOTE, VOTE.
jgn ada yg meninggalkan ya thor
lanjut...