Indonesia
NovelToon NovelToon
Mendadak Bapak

Mendadak Bapak

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:645.6k
Nilai: 5
Nama Author: Pratiwi Devyara

Darren, seorang aktor berusia 30 tahun. Yang saat ini karier nya sedang menanjak. Tiba-tiba didatangi seorang anak berusia 14 tahun bernama Axl, yang mengaku sebagai anak kandungnya. Buah kesalahan nya di masa remaja bersama seorang gadis bernama Mikha.

Seketika hidup Darren pun berubah. Ia yang tak tau jika anak itu dilahirkan pun terpaksa harus bertanggung jawab. Karena Axl meminta untuk tinggal bersamanya.

Berbagai keseruan dan masalah pun mewarnai hidup keduanya. Terkadang mereka akur, kadang bertengkar. Di satu sisi Darren harus berusaha menjadi ayah yang baik untuk Axl. Namun disisi lain, ia juga harus menutupi status Axl dari publik.

Dikarenakan saat ini, Darren tengah digandrungi oleh publik terutama kaum perempuan. Jika statusnya sebagai laki-laki yang telah memiliki anak terbongkar, dikhawatirkan akan mempengaruhi kariernya.

Ia berusaha keras merahasiakan hal tersebut. Sementara disisi lain, Axl bercita-cita menyatukan kembali orang tua nya. Namun baik Darren

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

I'll be here to protect you

Selama beberapa hari ini Darren sibuk dengan urusan membuat konten YouTube serta kolaborasi dengan beberapa youtuber lainnya. Yang sudah lebih dulu punya panggung di dunia per YouTube an.

Kadang ia pulang sampai larut malam bahkan menjelang pagi. Seperti hari ini, ia baru tiba dirumah menjelang dini hari dan hanya tidur sebentar. Alhasil ia pun jadi terlambat datang ke kantor. Padahal di kantor sedang ada rapat penting dan sudah diperingatkan oleh atasannya sejak 3 hari yang lalu.

Darren buru-buru masuk ke dalam kantor dan menuju ruangan rapat, sementara orang-orang diruangan rapat telah selesai dan saat ini tengah mengantri untuk keluar dari ruangan tersebut.

Darren mengehentikan langkahnya tepat di depan ruang rapat, ketika menyadari bahwa rapat tersebut sudah usai. Tampak atasannya tengah berbincang dengan klien dan bersalaman dengan mereka. Ketika mereka akhirnya pulang, atasan nya lalu menatap Darren dan meninggalkan tempat itu menuju ruangannya. Sementara dihadapannya kini, tampak seorang pria dengan sinis menatapnya dari atas ke bawah.

"Enak ya, kalau kantor punya bapak moyang."

Pria itu berkata dengan suara yang dingin dan ketus. Sementara Darren mengangkat kepalanya dan balas menatap pria itu meski ia tahu dirinya salah.

Orang itu adalah Surya, karyawan lama yang seharusnya menempati posisi Darren saat ini. Ia seharusnya naik jabatan jika saja Darren tidak melamar ke perusahaan ini dan merebut kedudukan yang selama ini di idam-idamkannya.

Direktur perusahaan ini memberikan serangkaian test pada Darren ketika ia melamar. Ia sendiri yang menilai dan menganggap Darren pantas di tempatkan di posisi nya sekarang ketimbang Surya yang sudah berkerja cukup lama.

Jadilah sejak hari pertama, Surya menjadi orang yang tidak menyukai kehadiran Darren di kantor tersebut.

"Darren , ikut ke ruangan saya."

Direktur perusahaan akhirnya memanggil Darren.

Pria berusia 29 tahun itu menatap sekilas ke arah Surya, tetap dengan tatapan yang menantang. Ia lalu mengikuti Direktur perusahaan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangannya.

Disana, Darren diberikan teguran atas ke terlambatannya mengikuti rapat tadi. Darren menerima semuanya karena ia tau jika ia salah. Terlalu banyak kegiatan diluar rumah yang ia lakukan hingga mengganggu waktu istirahatnya dan menyebabkan ia terlambat hari ini.

Darren lolos di hari itu, tapi tidak dihari-hari selanjutnya. Surya terus berusaha menjatuhkan Darren di segala kesempatan. Baik karena kesalahan Darren sendiri maupun fitnah licik yang sengaja di buat-buat sendiri oleh Surya.

Acap kali Darren terlibat dalam masalah hingga nyaris dipecat, meski akhirnya kebenaran kadang terungkap dan atasannya meminta maaf sudah menyalahkan Darren atas apa yang tidak diperbuatnya.

Lama kelamaan, Darren jadi merasa risih dengan sikap Surya. Seringkali ia nyaris menonjok wajah lelaki itu, jika saja teman-teman kantornya tak menghalangi.

Ia tidak masalah jika ada persaingan di kantor tersebut. Namun Darren sangat tidak nyaman ketika ada orang yang menyinggung soal gosip yang menimpa dirinya dan membuatnya terdepak dari dunia keartisan.

Surya sering memancing emosinya lewat singgungan tersebut. Apalagi sampai dia membawa-bawa nama Axl untuk dijadikan bahan perdebatan dengan Darren. Mengatakan jika anaknya adalah anak haram dan sebagainya.

Darren akhirnya meninju wajah Surya suatu ketika, saking ia kesalnya dengan mulut nyinyir surya yang sudah mirip seperti netijen jaman now yang barbar. Dan sejak saat itu Surya makin mengibarkan benderanya untuk melawan Darren begitupun sebaliknya.

Darren membaca pesan singkat dari Axl ketika ia baru saja keluar kantor dan masuk ke dalam mobilnya. Hari ini Axl di sekolah sampai sore dikarenakan ada pelajaran tambahan untuk persiapan Olimpiade nya nanti.

Darren segera tancap gas menuju ke sekolah Axl. Entah mengapa hari ini tak begitu macet sehingga ia bisa dengan mudah mencapai lokasi sekolah Axl. Ia berhenti tepat di depan gerbang, dimana anak itu tengah berdiri sambil memakan sesuatu.

Darren membuka lock pintu mobilnya dan membiarkan anak itu masuk. Sambil memperhatikannya.

"Makan apa kamu?" tanya nya kemudian.

"Cakwe, mau?"

Axl menyodorkan cakwe tersebut ke mulut Darren dan laki-laki itupun menerimanya.

"Koq enak ya?" ujarnya kemudian.

"Enak apa laper?" godaa Axl sambil melirik.

"Dua-duanya kayaknya. Beli dimana sih?"

"Itu abangnya tuh." Axl menunjuk pedagang cakwe yang mangkal tak jauh dari situ.

"Papa mau?" tanya Axl kemudian.

"Mau dong."

Darren merogoh kantongnya dan mengambil beberapa lembar uang sepuluh ribuan.

"Mau Axl beliin?"

" Sama papa, yuk." ajaknya kemudian.

Axl dan Darren pun keluar dari dalam mobil dan menghampiri abang-abang penjual cakwe dan membeli beberapa porsi lagi.

Sambil menunggu abangnya menyiapkan yang baru matang, Axl dan Darren tampak berbincang dengan abangnya. Lalu mereka tertawa-tawa. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Darren dan Axl tampak menikmatinya.

Usai mendapatkan apa yang mereka inginkan, keduanya pun kembali ke mobil. Mereka mulai makan cakwe tersebut dengan mobil yang perlahan merayap meninggalkan gerbang sekolah.

Mereka menikmati perjalanan pulang sambil makan dan menikmati lagu-lagu dari Linkin park. Mulai dari lagu "Numb" sampai "Waiting for the end" . Keduanya kompak menyanyikan lagu itu bersama-sama.

...This is not the end...

...This is not the beginning...

...Just a voice like a riot...

...Rocking every revision...

...But you listen to the tone...

...And the violent rhythm...

...And though the words sound steady...

...Something empty's within 'em...

Mereka bernyanyi dengan tangan seolah memukul drum. Sambil terus memakan cakwe tentunya. Keduanya tampak seperti dua teman akrab yang sedang menikmati kebersamaan nya.

...We say, "yeah"...

...Fists flying up in the air...

...Like we're holding onto something...

...That's invisible there...

...'Cause we're living at the mercy of...

...The pain and the fear...

...Until we tell it, forget it...

...Let it all disappear...

...Waiting for the end to come...

...Wishing I had strength to stand...

...This is not what I had planned...

...It's out of my control...

Mereka terus menikmati kebersamaan itu, hingga akhirnya cakwe yang mereka beli telah habis dimakan dan mereka baru menyadari jika mereka tidak memiliki air minum. Parahnya nya lagi, mereka kini terjebak di tengah kemacetan.

"Aduh, pa. Cakwenya nyangkut nih di tenggorokan. Mana kita ga ada minum lagi." ujarnAxl menahan rasa haus dan mengganjal di tenggorokannya.

"Sama papa juga, kamu sih nggak ngingetin tadi. Bukan nya beli dulu di sekolah kamu."

"Papa juga sama aja, nggak ngingetin Axl."

"Aduh mana macet lagi." Darren terus menghidupkan klakson mobilnya.

"Sabar ya." Darren berkata sambil

Menahan hausnya juga.

"Aduh?. Buruan dong...!"

Axl merasa kesal dengan kemacetan yang begitu lama. Hingga akhirnya mobil mereka kembali berjalan karena kemacetan telah usai.

"Axl liat ke arah sana, kali aja ada warung atau minimarket." perintah Darren.

Mata Axl pun melihat ke arah kiri jalan dan tampaklah plang minimarket. Mereka pun antusias, namun lagi-lagi mereka terjebak macet.

"Yaaaaaah....., bangsat." gerutu Axl ketika akhirnya mobil mereka terpaksa berhenti kembali.

"Brengsek nih" ujar Darren tak kalah kesal.

"Udah, pa. Axl aja yang lari kesana. Buka pintunya..!"

"Ya udah nih, daripada kita tewas mengenaskan gara-gara nggak minum." Darren membuka lock pintu mobilnya.

"Ada uangnya nggak?" tanya Darren kemudian.

"Ada."

Axl pun segera berlari menuju mini market tersebut.

Cukup lama Darren menunggu Axl, entah karena anak itu mengantri atau memang sengaja di lama-lama kan untuk menyiksa ayahnya yang kehausan. Yang jelas Darren sudah merasa tak tahan lagi, apalagi kemacetan yang tak kunjung selesai.

"Buruan sih, nak. Lama banget." gerutu nya kemudian.

Tak lama setelah itu, ia bisa melihat Axl yang keluar dari minimarket sambil meminum air mineralnya. Usai minum Axl tertawa-tawa sambil mengacungkan air minum itu seolah meledek Darren yang masih di dalam mobil. Axl sengaja memperlambat langkahnya hingga membuat Darren kesal dan terpaksa menongolkan kepalanya dari kaca mobil.

"Buruan, Bambaaaaang."

Axl tertawa-tawa lalu mempercepat langkahnya dan menuju ke mobil.

"Bapaknya haus, bukannya cepet."

Darren masih menggerutu, sementara kini Axl membuka kan air mineral untuknya. Ia lalu meminum air itu hingga hampir habis.

Tak lama kemudian keduanya kembali sumringah, dan kemacetan pun berakhir. Mereka melanjutkan perjalanan sambil masih bernyanyi, kali ini berganti lagu dengan tempo yang ringan. Mereka menyanyikan lagu "I'll be there" milik The Jackson 5 tapi yang di cover oleh Westlife.

...You and I must make a pact...

...We must bring salvation back...

...Where there is love, I'll be there...

...I'll reach out my hand to you...

...I'll have faith in all you do...

...Just call my name and I'll be there...

Darren menginjak pedal gas nya dalam-dalam, hingga kecepatan mobil yang dikendarainya pun bertambah.

Ia terus melintasi jalan demi jalan. Suasana tetap stabil, sampai kemudian tiba-tiba sebuah mobil yang ada di sisi kanan jalan sengaja membanting stir ke arah mobil Darren. Mobil mereka pun beradu. Hingga menyebabkan mobil mereka oleng dan terbanting ke sisi kiri menabrak sebuah pohon di pinggiran trotoar.

"Braaaaaaaakkkkk.......!"

Semua terjadi begitu saja. Kaca sisi kiri mobil pecah dengan Axl berlumuran darah karena terkena pecahan kaca. Begitu juga dengan Darren. Dari tempat kejadian ia bisa melihat mobil yang sengaja menabraknya tadi dan mengenali mobil tersebut dari jenis dan plat nya.

"Are you ok?" Darren bertanya pada Axl dengan wajah panik.

Axl mengangguk. Karena lukanya tak begitu parah, namun cukup banyak sehingga darahnya menjadi banyak yang keluar. Darren mengencangkan sabuk pengaman Axl dan juga miliknya. Penuh kemarahan ia menghidupkan kembali mesin mobil, lalu menyusul mobil tadi dengan kecepatan tinggi.

Ia mengemudi dengan sangat kencang dan penuh konsentrasi. Axl sendiri tak bisa berkata apa-apa, ia masih belum tau apa yang akan dilakukan ayahnya nanti.

Darren berhasil menyusul mobil tersebut. Ia menjaga kemudi agar tetap stabil dan tidak mengganggu pengguna yang lain. Ia terus mepet di mobil tersebut. Dan pada sebuah kesempatan ketika jalanan cukup lengang.

"Braaaaaaaaaaaaakkkkkkk......."

Sisi kemudi mobilnya sengaja ia tabrakan pada mobil tersebut hingga menyebabkan mobil itu nyaris terguling dan akhirnya menabrak sebuah tiang listrik. Beruntung tak ada pengguna jalan lain yang menjadi korban dari kejadian tersebut. Namun hal ini cukup menyita perhatian warga sekitar yang tak sengaja menyaksikannya. Mereka beramai-ramai menghampiri mobil orang itu dan juga mobil yang dikendarai Darren.

Dengan wajah penuh kemarahan, Darren keluar dari dalam mobil, menghampiri mobil yang ditabraknya tadi dan mengeluarkan paksa pengemudinya yang cidera. Kebetulan si pengemudi itu sudah membuka pintu mobilnya dari tadi untuk meminta bantuan.

"Brengsek lo, Surya."

"Buuuuuk.....!"

Darren memukul wajah Surya berkali-kali hingga ia sendiri hampir dikeroyok warga karena mengira Surya adalah korban.

"Heh, lo yang nabrak, lo yang marah. Sehat lo?" ujar salah seorang warga dengan wajah beringas siap menghajar Darren.

"Liat kesana, ke mobil saya...!"

Darren menunjuk arah tempat dimana mobilnya terparkir.

"Saya nabrak dia dengan sisi kemudi, sebelah kanan. Tapi liat sisi kiri mobil saya juga rusak, dia yang nabrak saya duluan. Anak saya di dalam mobil itu, luka semua. Liat sanaaaaa.....!"

Para warga pun menghampiri mobil Darren dan melihat memang benar sisi kiri mobilnya rusak dengan kaca yang pecah. Ada Axl di dalam tersebut, yang tampak masih menahan sakit karena banyaknya luka di tubuhnya. Meskipun bukan luka berat namun cukup meyakitkan.

"Mereka membawa Axl keluar lalu mencoba mengobati lukanya seadanya. Sementara kini Darren coba ditenangkan oleh warga.

Sebagian dari mereka hafal dengan wajah Darren karena sering wara-wiri di televisi. Sebagian lagi, seperti biasanya hanya berkumpul untuk merekam. Karena sibuk dengan anaknya, dan warga sibuk memperhatikan Darren, hingga tak mereka sadari jika Surya sudah berlalu begitu saja. Ia kabur meninggalkan tempat itu.

Darren berterima kasih pada semua yang telah menolong ia dan anaknya, tak lama kemudian Reno dan Yudha pun sampai. Beberapa saat yang lalu Darren menelpon teman-temannya dan meminta bantuan. Karena kondisi mobilnya sudah tidak memungkinkan lagi untuk di kemudikan. Hanya Reno dan Yudha yang bisa datang, karena Bimo sedang ada tugas dari kesatuannya.

"Darr...."

Reno berlari mendekati Darren dan Axl dengan wajah panik, begitu pula dengan Yudha.

"Lo nggak apa-apa?" tanya Reno kemudian. Darren menggeleng, sementara Yudha kini menarik Axl untuk kemudian dibawa ke mobil.

"Gue udah telpon derek mobil, biarin aja mobil lo disini." ujar Reno kemudian.

Mereka pun akhirnya masuk ke dalam

Mobil Reno. Diperjalanan Axl tampak menahan sakit. Ada beberapa luka robek di tubuhnya. Yang paling besar ada di pelipis serta lengan kiri. Yudha memeluk anak itu agar ia tenang dan tidak begitu merasakan sakit. Karena meskipun bukan luka parah, luka tetaplah terasa sakit dan perih. Sementara Darren duduk di depan dengan hati yang masih diliputi dendam. Ia tak lagi merasakan sakit di tubuhnya saking ia masih marah dengan Surya.

"Cari masalah juga tuh orang." ujar Reno sambil terus fokus mengemudikan mobil.

"Iya taroklah kalau dia benci sama gue. Tapi tadi, dia bener-bener kelewatan. Masalahnya ada anak gue di mobil. Syukur kalo cuma luka begini, kalau tadi benturan nya lebih keras dan anak gue kenapa-kenapa gimana?" Darren berkata dengan nafas berat dan emosi yang tak bisa ditahan.

"Lapor aja, Darr. Sebelum makin menjadi-jadi."

ujar Yudha kemudian.

"Iya bener kata Yudha, kalau kayak gini mah udah ada unsur kesengajaan namanya" ujar Reno lagi.

"Tapi tadi gue juga nabrak dia." ujar Darren.

"Ya nggak apa-apa. Bilang aja lo ngejer dia karena sudah nabrak lo dan tidak bertanggung jawab. Lo terpaksa nabrak dia juga karena dia nggak mau berhenti." Reno mengajari.

"Bener Darr, nanti biar Bimo yang tangani. Bangsat tuh orang." timpal Yudha.

Darren hanya diam, dalam hati ia berjanji akan melakukan semua yang sudah disarankan temannya. Tapi nanti, karena ia harus memberi Surya pelajaran dengan tangannya sendiri.

"Axl, are you ok?"

Darren bertanya pada Axl. Axl mengangguk.

"Sakit banget nggak."

"Nggak sih, tapi Axl nggak bisa liat darah."

"Then close your eyes."

Axl memejamkan matanya. Reno membawa Darren dan Axl menuju rumah sakit terdekat. Disana mereka berdua diberi perawatan , lukanya di obati dan diperban. Luka di pelipis dan lengan Axl mendapat beberapa jahitan.

Usai menebus obat, Reno dan Yudha mengantarkan mereka sampai ke apartment.

"Axl, kamu mandi ya. Tapi awas jangan kena luka jahitannya. Pelan-pelan aja, takutnya masih nyisa pecahan kaca ditubuh kamu, jadi kamu mandi." ujar Darren

"Cepet sembuh ya, nak." Reno turut berbicara pada Axl. Anak itu pun mengangguk.

"Makasih, om."

Reno dan Yudha mengangguk.

"Darr, gue sama Yudha cabut dulu. Yudha ada tugas operasi di rumah sakit. Dia dinas malem. Gue harus ketemu klien juga setengah jam lagi." ujar Reno.

"Ya udah, makasih ya bro. Kalau nggak ada kalian, gue nggak tau harus gimana tadi."

"Sama-sama. Lain kali kalo ada apa-apa bilang. Kita siap bantu koq." timpal Yudha.

"Ok, thanks ya bro. Makasih banget."

"Lebih hati-hati kedepannya, bro." ujar Reno lagi.

"Ok..."

Reno dan Yudha pun berpamitan pulang. Darren lalu masuk ke kamar mandi dan membersihkan badan. Ia membiarkan air membasahi luka-lukanya yang sudah diobati tadi.

Setelah mandi ia mencoba mengobati lukanya kembali. Namun dengan ekspresi takut-takut. Seolah takut pada rasa perih yang akan melandanya.

"Aduh, perih nih pasti." Darren mendekatkan kapas yang sudah di lumuri obat kepada lukanya. Namun ia tak berani.

"Aduh, gimana ini."

Darren masih ragu, sampai kemudian Axl masuk ke kamarnya lalu merebut kapas tersebut dan menempelkan kepada lukanya.

"Aaaaawwwwww...."

"Pelan-pelan, nak." ujar Darren memelas namun dengan nada setengah berteriak. Axl tertawa kecil.

"Ini nggak sakit, papa cuma takut aja."

"Ihhh siapa yang takut, orang luka-luka kecil gini doang koq." Darren ngeles.

"Kenapa teriak, kalau nggak takut?"

"Pengen teriak aja, kalau ngobatin luka nggak teriak tuh nggak afdol tau."

"Tadi dirumah sakit Axl liat dan denger koq, papa teriak waktu dikasih Alkohol dan papa menolak disuntik, kan?. Axl aja nggak ada teriak apa-apa. Tadi Abis mandi juga, Axl obatin luka sendiri. Nggak ada takut."

Axl menggoda Darren sambil terus mengobati lukanya dan Darren masih terus kesakitan.

"Sombong kamu, tadi di mobil ngeluh sakit."

"Ngeluh tapi nggak teriak kan."

"Sama aja. Lagian papa nggak takut koq disuntik, cuma lagi nggak pengen aja. Orang lukanya ringan. Ngapain disuntik segala."

"Sa ae ngeles nya, keset Firaun."

Lagi-lagi Axl meledek. Kali ini Darren mengangkat tangan dan siap memukul kepala Axl, namun gerakannya tertahan karena sendi sikunya sakit. Akibat terlalu banyak menggerakkan stir mobil.

"Awwwwwww...." Darren mengaduh kesakitan dan Axl tertawa.

"Syukurin, makanya jangan jahat."

"Kamu tega banget sama bapak sendiri."

Lagi-lagi Axl tertawa. Darren memandangnya dengan tatapan yang hangat.

"Maafin papa soal tadi."

"Soal apa?" tanya Axl bingung.

"Harusnya saat kita ditabrak tadi, papa langsung bawa kamu kerumah sakit. Harusnya papa mementingkan kamu dulu daripada membalas orang itu."

"Nggak apa-apa sih, tadi itu keren. Kalaupun Axl di posisi papa, Axl akan melakukan hal yang sama.

Axl tersenyum tipis. Ia terlihat jauh lebih dewasa ketika melakukan itu.

"Maksudnya?" tanya Darren heran.

"Orang seperti itu, ya harus dibalas. Dia juga harus tau siapa kita. Semakin kita diam dan menerima perlakuannya, semakin mereka semena-mena terhadap kita."

Darren terdiam, ucapan Axl memang benar. Namun sebagai seorang ayah, dia tidak bisa membenarkan sikapnya tadi. Harusnya, hal pertama yang ia lakukan adalah menyelamatkan anaknya dulu. Baru memikirkan untuk membalas dendam.

"Axl yang minta maaf sama papa."

Kali ini Darren terhenyak mendengar apa yang diucapkan anak nya tersebut. Belum sempat ia berkata-kata, Axl sudah kembali bicara.

"Papa seperti ini karena Axl. Sejak Axl

muncul di hidup papa, banyak masalah yang papa dapatkan."

"Itu tadi bukan salah kamu, dia itu adalah orang yang nggak suka sama jabatan papa di kantor. Dia sekantor sama papa."

"Tapi kalau tadi papa sendirian di mobil, nggak ada Axl. Papa nggak akan berfikir untuk membalas dendam dengan cara yang berbahaya seperti itu. Papa nggak akan semarah tadi, karena nggak ada orang lain yang terluka. Papa marah karena Axl terluka."

"Walau nggak ada kamu juga, papa tetap akan balas. Jadi stop menyalahkan diri kamu. Kamu sudah terlalu banyak melakukannya."

"Axl cuma kasian sama papa. Rasanya, Axl pengen kembali ke rumah daddy aja. Walau oma nggak suka sama Axl."

"Setelah semua hidup papa berantakan, terus kamu mau pergi gitu aja?. Mau kembali ke daddy kamu yang kaya raya dan sayang sama kamu itu?. Tega banget kamu sama papa. Yang tersisa dari hidup papa itu cuma kamu sekarang."

Axl diam, dia terus mengobati luka demi luka yang ada di lengan Darren. Ia sudah kehabisan kata untuk membantah segala ucapan Darren. Sebagai anak yang baru berusia 14 tahun, ia masih memiliki rasa takut untuk terus beradu argumen dengan orang yang lebih tua darinya. Pendapat dan pembelaan nya masih terbatas.

Darren terus memperhatikannya, melihat betapa anak itu tak berani lagi menatap matanya.

"Kamu besok pulang sekolah, mau kemana?"

Darren kembali membuka omongan untuk meminimalisir ketegangan yang terjadi pasca pembicaraan terakhir tadi. Saat Darren mengatakan jika anak itu tega pada dirinya.

"Mmmm. Belajar kayak biasa, pa. Di studio Chico. Tapi bentar doang."

Axl menjawab, namun ada sedikit ketakutan dalam nada bicaranya. Jujur tadi ia takut jika ucapannya telah membuat Darren jadi tersinggung.

"Oh ya ngomong-ngomong soal temen kamu, tadi Adrian ada chat papa, Chico juga. Katanya ada salah satu anak SMA kamu yang liat kejadian tadi dan dia kasih tau temen kamu soal keadaan kamu. Bales dulu gih chatnya atau telpon. Takutnya mereka khawatir."

"Udah koq, pa. Tadi Axl udah telpon Adrian dan bilang kalau kita baik-baik aja. Oh ya besok abis belajar, Axl mau latihan karate."

"Karate?. Kamu masih penuh luka begini?"

"Axl udah janjian sama anak-anak dari beberapa hari yang lalu, pa. Masa di batalin. Kita udah lama nggak latihan. Lagian luka kayak gini, besok juga kering."

Darren menatap Axl dalam-dalam. Betapa anak itu adalah plek-ketiplek foto copy an diri nya sendiri. Egois dan selalu ingin melakukan apa yang ingin ia lakukan. Tak ada yang bisa menghalangi.

"Beneran kamu udah nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.

"Serius, pa."

"Ya udah hati-hati aja besok. Kapan-kapan kita latihan bareng."

"Ok..."

Esok harinya sepulang kerja, Darren pergi ke tempat dimana Axl latihan karate. Ia khawatir terjadi apa-apa pada anak itu. Pada hari-hari selanjutnya, Ia terus mengawasinya kapanpun dan dimanapun anak itu berada. Bahkan ia lebih protektif dari biasanya.

Sampai-sampai Axl sendiri kadang berbohong hanya untuk bisa keluar rumah dan main dengan teman-temannya. Jika ketahuan, maka Darren tidak segan memberikan hukuman padanya. Termasuk mengurung anak itu dalam kamar sampai ia ngamuk dan tak menegur Darren selama 3 hari.

Meskipun lelah, sepulang dari kantor ia selalu menyempatkan diri untuk latihan karate dengan anaknya. Mengawal Axl kemanapun anak itu pergi atau meminta teman-temannya seperti Bimo dan Yudha untuk mengawasi anak itu diam-diam. Ia tak ingin memberi kesempatan pada Surya atau siapapun untuk bisa menyakiti anaknya tersebut.

Karena sampai hari ini, Darren belum juga mengikuti saran Reno dan Yudha untuk melaporkan Surya kepolisi. Ia masih ingin bebas membalas jika Surya berani berbuat macam-macam. Terutama pada Axl.

Ia tidak ingin laporannya pada pihak yang berwajib akan menghalangi geraknya untuk memberi pelajaran bagi Surya.

Axl sendiri yang mencium gelagat ayahnya dan mengetahui keberadaan kedua teman ayahnya yang sering mengawasinya diam-diam. Acapkali, ia , Adrian, Jodi dan Chico mengerjai Bimo dan Yudha dan mengelabui mereka agar tak terus diikuti.

1
安呢
cerita ya seru ga membosankan
mamah wangda
bagus bgt
Erlin Sylviana
ini pemeran telenovela Mexico kan
Anna maria dan r
fernando
Erlin Sylviana
sumpah nyembur air minun gua
Trusthi Widhi
seneng deh Nemu cerita pake komplit 🎉🎉🎉
Yuni Rahma
nih novel cerita nya kereen
nurule
bagus ceritanya
Defi
issh, sadisnya ngata-ngatain Adrian 😂🤣
Defi
🌹
Defi
Papa Darren keren 👍👍.. apapun itu perasaan Axl lebih penting apalagi semenjak kepergian Axl membuka mata Papa Darren lebar2..
Defi
ga apa2 kan Axl, hidup bersama dengan Rio..😟
Defi
Axl cobalah berdamai, iya berat sih tapi lihatlah Rio bisa berlapang dada dada menerima keadaan meski pahit buat dia..
Cindy ini benar2 menyebalkan, sama saja dengan suaminya jahat 😡
Defi
Rio kamu keren, akhirnya bisa berdamai demi kebahagiaan Daddy Andrew.. jadi nyesek lihat sikap Rio yang bela2in cari Nino a.k.a Axl demi bisa melihat senyum di wajah ayahnya
pembaca komik📖
episode nya sampai 61 lalu end terus bagaimana apakah ada season 2
Maple🍁
Kak Dev yg tnggung jwab nohh anak orng udah baper.. bperx sma ibu sahabatx pula🙄😊
Maple🍁
Pengen tak gntungin kdua emak mreka brdua.. dsar ortu egois nggk mkiring prasaan kdua anak mreka😤😤😤
pipi gemoy
emang beda ini novel
top 👍👍👍👍👍
pipi gemoy
wow
novelnya susah di tebak ending nya
👍👍👍👍👍
pipi gemoy
wow Thor 🌹
pipi gemoy
wow
sudah ta vote Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!