pertemuan pertama yang sangat menjengkelkan. Dimana Diana dan Seorang CEO tampan yang sangat dingin bertemu dalam sebuah insiden yang tidak disengajakan. hingga terjadilah aksi adu mulut bahkan gadis cantik itu tak segan untuk melayangkan sebuah tamparan pada pria yang dirasanya kurang ajar.
"Dasar Pria Tua, jelek, mesum " Ucap Diana
"Dasar gadis Bar bar" Ucap Zian kesal
.
Tanpa diketahui, ternyata Zian adalah CEO di perusahaan tempat Diana bekerja.
"Ternyata Dia bekerja di sini ? Tanya Zian dalam hati.
"Kenapa tatapannya seram sekali ? Gadis cantik itu tampak gugup saat menyadari ada sorot mata tajam yang sedang menatapnya.
Zian merasa marah saat melihat Diana keluar dari Restoran dengan seorang Pria. Pria itu lantas mencecar Diana dengan kata - kata yang menyakiti hati Diana.
Gadis itu terlihat makin benci pada Pria Dingin itu.
Bagaimana hubungan Diana dan Zian selanjutnya ?
ikuti terus ya cerita LCH CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diana Anastasya
Diana sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian rumahan. Gadis itu segera menyiapkan sarapan bubur ayam yang tadi ia beli.
“Pak Zian, Ayo sarapan. Habis itu minum obat. Gadis itu menyerahkan semangkuk bubur ayam buat Zian.
Pria itu nampak menatap mangkok di tangan Diana kemudian mendongak menatap Diana.
“Makanlah... jika bubur ini tidak sehat, sedari dulu aku sudah sakit bahkan mati.” Ucap gadis itu menatap lekat wajah Zian.
“Banyak orang di luaran sana yang tidak punya makanan, bahkan makanan sisa yang sudah dibuang di tempat sampah saja masih mereka makan, namun mereka tetap mensyukurinya. Lantas makanan ini masih kamu bilang tidak sehat ? bersyukurlah jika masih berpunya. “ Ucap Diana panjang lebar. Orang yang diceramahi nampak tertegun atas penuturan Diana.
“Maaf, mungkin selama ini aku terlalu terlena dengan semua ini. Terima kasih sudah mengingatkanku.” Ucap pria itu tulus. Zian segera meraih mangkok yang masih menggantung di tangan Diana.
Seketika senyum mengembang dari bibir manis Diana.
“Makanlah, setelah itu minum obat, kalau panasnya belum redah, nanti aku kompres.” Ucap gadis itu tulus.
Diana dan Zian segera menyantap sarapan mereka.
Sesekali netra Zian selalu melirik kearah gadis di sampingnya.
“Ada apa ?” tanya Diana bingung.
“Terima kasih untuk pagi ini.” Pria itu nampak tersenyum pada Diana.
“Untuk apa ?”
“ Kamu orang pertama yang sudah mengingatkanku tentang pentingnya bersyukur.”
“Sudah seharusnya seperti itu bukan ? Sesama manusia kita harus saling mengingatkan satu sama lain.
“Calon Istri idaman ini “ Batin Zian. Pria itu tersenyum dalam hati.
Setelah merampungkan sarapan mereka, Diana langsung menyerahkan sebutir pil penurun panas pada Pria yang ada di atas sofa.
“jika masih lemas, Anda bisa berbaring dulu di kasur.”
“ Terima kasih”
“ Apakah saya harus menelpon Asisten anda untuk menjemput disini ?” Tanya Diana lagi.
“ Tidak perlu, istirahat sebentar juga sudah baikan.”
Pria tampan itu lantas berjalan menuju kasurnya Diana. Tanpa menunggu lama pria itu langsung terlelap. Terdengar daari dengkuran halus yang berasal dari mulut pria itu.
“Astaga Diana, gara – gara kamu pria itu sampai seperti itu.” Batin Diana. Gadis itu lantas duduk di sofa dan langsung menyalakan TV.
Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi. Diana berinisiatif untuk memasak makan siang. Gadis itu pun berlalu ke dapur dan mencari bahan makanan di dalam kulkas.
Diraihnya Ayam, wortel, bakso, sawi dan kol.
“Aku bikin ayam goreng sama capcay saja kali ya.”
Gadis itu nampak berbicara sendiri sambil menatap bahan makanan yang berada di atas meja.
Setelah satu jam bergulat di dapur, kini Diana terlihat sedang menata makanan di atas meja mini di dapurnya.
Gadis itu lantas beranjak menuju ruangan yang menjadi kamar sekaligus ruang tamu.
Ditatapnya pria yang masih terlelap dengan wajah yang begitu damai. Dengan langkah yang sedikit ragu – ragu, Diana menuju Ranjang yang di tempati Zian, gadis itu lantas mendaratkan punggung tangannya tepat pada dahi Zian.
“Astaga, kenapa panasnya belum turun ? Apa aku kompres saja ya. ? Guman gadis itu hendak berbalik untuk mengambil alat kompres. Namun langkahnya terhenti saat ada tangan yang mencekalnya pergelangan tangan.
“Jangan Pergi.” Ucap pria itu namun masih dengan mata yang terpejam.
Deg
Tiba – tiba saja Diana merasakan debaran jantung yang makin kencang.
“Astaga, kenapa jantungku selalu berdebar saat disentuh Pria ini ?” Batin Diana bermonolog.
“Saya hanya ingin mengambil kompres saja.” Ucap gadis itu lembut sambil melepaskan tangannya dari genggaman Pria Tampan itu.
Gadis itu segera berlalu ke dapur untuk mengambil kain kompres dan juga air dingin.
Setelah mendapatkan peralatan untuk mengompres, Diana kini mendaratkan bokongnya pada tepi kasur yang ditempati Pria itu. Dengan telaten, Diana langsung mengompres Dahi pria yang sedang terbaring lemah itu.
🍀🍀
Di tempat lain, terlihat dua orang wanita parubaya yang masih terlihat sangat cantik dan anggun sedang duduk menikmati minuman mereka. Kedua wanita itu asyik bercerita mengenang masa – masa muda mereka.
“Sejauh ini aku salut sama kamu, jika aku di posisi kamu, mungkin aku tak sekuat kamu.” Nyonya Rasti memegang kedua tangan sahabatnya itu seakan terus memberikan dukungan padanya.
“Selama ini aku sudah berusaha untuk kuat. Bahkan aku sangat kuat Ras. Tapi entah kenapa semua kekuatanku itu seakan rampung saat menghadiri acara semalam.” Ucap Nyonya Arianti sendu.
“Apa maksudmu Ar ? Apakah ada yang mengungkit masa lalumu ? Atau kamu melihat dua manusia bejat itu ?”
“Tidak, menurut informasi yang saya dapat, kedua orang itu sudah meninggal 15 tahun yang lalu bersama Tasya. Mereka meninggal dalam sebuah kecalakaan.“ Ucap Nyonya Arianti. Wanita parubaya itu nampak sudah terisak membayangkan bagaimana tersiksanya gadis yang masih kecil itu dalam tragedi naas tersebut.
“Lantas spa yang membuatmu tampak bersedi setelah Acara semalam ?”
“Ada seorang gadis yang memiliki nama yang sama seperti Tasya. Hiks .. hiks ” nyonya Arianti lantas terisak.
“Memangnya Siapa ?” Tanya Nyonya Rasti penasaran.
“Diana Anastasya” Jawab wanita perubaya itu dengan air mata yng sudah membanjiri pipinya.
“Entah kenapa saat mendengar nama itu, pikiranku hanya tertuju pada putri kecilku yang baru saja aku miliki selama 1 tahun. Hiks.. hiks apakah dia adalah putriku Rasti ?”
“Arianti, Hiks hiks, sudah jangan menangis lagi.?” Ucap nyonya Rasti sambil memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
“Aku sangat merindukan anakku Rasti, Putri kecilku yang tidak berdosa itu.”
“Iya, aku tahu Ar, ibu mana sih yang tidak merindukan anaknya. Ibu mana yang tidak sedih jika berada di posisimu ini. Aku yang sahabatnya saja begitu terpukul saat mendengar berita itu. Apalagi kamu yang mengalaminya. Namun, jika kita terus menangisinya, apakah dia akan hidup kembali ? ” Nyonya Rasti terus berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.
“Apakah kau mengenal gadis itu ? Aku ingin menemuinya.”
“Apakah dengan menemuinya kamu bisa mengobati
luka hatimu itu ?” Nyonya Rasti tampak menatap sahabatnya serius.
“Saya rasa begitu.”
“Baiklah jika itu bisa membuatmu bahagia. Aku akan membantumu menemui Diana.” Ucap wanita parubaya itu sambil tersenyum.
“Terima kasih Ras, hanya kamu yang bisa memahami perasaanku selama ini. “ Nyonya Arianti lantas memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
“Mom, mommy nangis lagi ?” Ucap Seorang wanita cantik yang baru saja menghampiri dua wanita parubaya itu.
“Kamu sudah selesai sayang ?” Tanya nyonya Arianti pada menantunya.
“Sudah mom, “ jawab Andini sambil menunjukan dua buah paperbag yang digenggamnya.
“Makasih Ras, aku sangat lega rasanya. Selanjutnya aku tunggu kabar darimu ya.” Ucap Nyonya Arianti pada nyonya Rasti. Kedua wanita parubaya itu lantas saling mencium pipi kanan dan kiri mereka sebelum nyonya Arianti keluar dari kafe tersebut.
Bersambung.......