Dea si gadis kota terdampar di pedalaman Australia - tanpa adanya toko sepatu atau department store dalam jarak puluhan kilometer! Untungnya, ia terperangkap di sana bersama cowok keren yang tampaknya siap menerima tantangan. Jadi untuk menghilangkan kejenuhan dan membangkitkan semangat, Dea melontarkan tiga tantangan pada cowok itu.
Bagaimana bujangan yang punya harga diri sepertinya menghadapi tantangan itu? Mengambil langkah seribu atau balas menantang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesha Rasyida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Part 2
Sehabis makan, mencari cincin. Dea merasa sangat canggung di toko perhiasan, dan memilih cincin emas polos yang paling dulu pas ukurannya. Saat ia akan membayar, Chase melarangnya.
"Aku akan memotongnya dari gajimu," guraunya sambil mengulurkan kartu kredit.
Merasa tidak pantas ribut, Dea tidak punya pilihan lain kecuali menerima dengan sopan. "Terima kasih," katanya, bersumpah akan mencari cara untuk membayarnya sebelum ia pergi. Pernikahan ini lebih menguntungkan baginya daripada bagi Chase, dan sepertinya tidak adil kalau Chase juga harus membiayai segalanya.
Hening sesaat ketika pramuniaga sibuk dengan kartu kredit. Dea mengambil cincin itu dari dalam kotak dan berpura-pura mengaguminya. "Indah."
"Mau dilengkapi berlian?" tanya Chase.
Dea meliriknya ragu. Apa ini gurauan lagi? Sulit menebak air muka Chase. Dea mencoba tertawa. "Tidak, jika disertakan juga dalam potongan gajiku!"
"Berliannya aku yang tanggung."
Suara Chase biasa saja, tapi saat mata mereka bersirobok, pandangan mereka terkunci, dan entah karena apa jantung Dea memukul keras menghantam rusuknya. Ia memaksa dirinya mengalihkan pandangan.
"Aku punya cincin berlian saat bertunangan dengan Phil," katanya pada Chase. "Tidak begitu bermanfaat buatku. Aku gagal menikah saat itu jadi mungkin jika aku menanggalkan semua hiasan, nasibku akan lebih baik."
Chase terus menatap wajah Dea yang berusaha menghindar. "Kuharap begitu," katanya.
Chloe tidak sabar ingin pergi dan membeli baju yang dijanjikan untuk pesta pernikahan, jadi Chase pergi menyelesaikan urusan peternakan dan meninggalkan mereka berdua mencari baju. Dea belum pernah berbelanja bersama anak berumur lima tahun, tapi untuk seorang anak yang jarang melihat toko yang lebih besar daripada toko serba ada setempat, Chloe punya ide yang jelas tentang baju yang diinginkannya.
Ia menjatuhkan pilihan pada gaun merah muda berumbai-rumbai yang jelas tidak cocok dipakai di pedalaman, hingga Dea memandang anak itu dengan rasa tertarik yang baru.
"Kurasa kau cocok menjadi gadis kota," komentarnya, membelikan jepit rambut serta kalung plastik sebagai pelengkap.
"Menurutmu sebaiknya aku pakai apa?" tanyanya pada Chloe.
Chloe suka gaun putih panjang yang roknya mekar seperti meringue, lengkap dengan tiara dan cadar, tapi Dea pikir Chase tidak akan senang atau menganggapnya lucu jika ia muncul dengan gaun ini.
"Kurasa aku bisa memakai salah satu gaun yang kubawa," katanya. Ia tidak ingin kelihatan terlalu serius menghadapi pernikahan ini. Di sisi lain, ia tidak punya gaun yang benar-benar pantas, dan akan tampak janggal jika Chloe sebagai pendamping pengantin tampil lebih baik dari dirinya. Bagaimanapun, ini pernikahannya, dan barangkali satu-satunya yang akan pernah dijalaninya.
Untungnya Chase menolak usulnya untuk memakai baju yang ia bawa, dan mereka punya alasan kuat untuk melanjutkan belanja. Akhirnya, Dea menemukan gaun sutra mentah tanpa lengan berwarna perunggu unik yang memperjelas warna matanya, yang menurutnya cukup bergaya tanpa mengesankan ia terlalu berusaha. Bersama gaun itu, ia membeli topi jerami dan sepatu sandal berhak tinggi, untuk mengingatkan diri sendiri gadis seperti apa ia dulu.
Gadis seperti apa ia sekarang, Dea segera mengoreksi dirinya sendiri.
Puas dengan pilihan masing-masing, mereka memutuskan mencari minum untuk merayakan kesuksesan acara belanja mereka. Mereka menemukan sebuah kafe di tengah kota dan duduk di meja berpayung di luar. Dari situ mereka bisa melihat orang lalu-lalang.
"Mau pesan apa?" pelayan bertanya pada mereka dengan suara riang.
Riang, dan sangat akrab di telinga.
Dea segera menoleh. "Emily!"
"Dea!" Emily terbelalak, sama kagetnya, dan kemudian, khas Emily, ia melompat ke topik yang sama sekali tidak berhubungan. "Rambutmu kenapa?" tanyanya, memerhatikan rambut keriting Dea dengan takjub. "Jangan bilang hair-dryer-mu rusak!"
Dea tidak ingin membahas perubahan rambutnya sekarang. "Emily, apa yang kaulakukan di sini?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Apa yang kulakukan di sini? Kau yang seharusnya ada di Sydney sekarang!"
"Kupikir kau sudah tinggal bersama Baz!"
"Oh, hubungan kami gagal," Emily membuat gerakan tidak peduli yang menyingkirkan Baz ke masa lalu. "Aku sedang dalam perjalanan kembali ke Sidney, kepadamu! dan aku berhenti sebentar di sini. Karena aku suka, kupikir aku akan tinggal beberapa minggu, mengumpulkan cukup uang untuk belajar menyelam dan kemudian langsung menuju terumbu karang."
Ia memasukkan buku pesanannya ke dalam saku celemek dan memandang Dea tajam. "Nah, itu menjelaskan kenapa aku ada di sini, tapi tidak menjelaskan kenapa kau duduk di sini dengan rambutmu semuanya keriting!"
"Ini tidak keriting! Hanya saja... lebih mudah merawatnya... seperti ini."
"Emily?" Chloe menarik-narik celemek Emily, mengabaikan peringatan di mata Dea. "Dea dan Chase akan menikah besok, dan aku akan menjadi pendamping pengantin!"
"Maaf, kurasa aku salah dengar," kata Emily menggeleng seolah menjernihkan pendengarannya. "Aku tahu kau tidak mungkin mengatakan Dea akan menikah, kecuali maksudmu Dea yang lain? Karena dulu aku punya teman bernama Dea, yang tidak akan berani bermimpi untuk menikah tanpa mengatakannya padaku, jadi mungkin kau keliru dengan orang lain?"
Sindirannya ditanggapi serius oleh Chloe. "Tidak," katanya bersemangat, "memang Dea yang ini."
"Dea?" kata Emily dengan galak.
"Yah, kau kan tidak ada, jadi tidak bisa kuberitahu," kata Dea membela diri.
Emily naik darah. "Maksudmu, itu betul?"
"Tidak persis seperti kelihatannya..."
"Kau akan menikah dengan Chase Sutherland? Sejak kapan kalian berhubungan?"
"Agak sulit menjelaskannya saat ini," kilah Dea, terganggu dihujani pertanyaan, matanya mengisyaratkan keberadaan Chloe. "Bagaimana kalau kita ketemu lagi nanti?"
"Di mana kau menginap?" Emily bersiul mendengar jawabannya. "Dia tidak membayar kamarmu, kan?"
"Apa tempat itu mahal?" Dea tampak cemas. Ia bahkan tidak memikirkan pengeluaran untuk hotel. Barang kali seharusnya ia menawarkan mengganti biaya hotel, bukan cincin?
"Itu hotel terbaik," kata Emily. "Begini, aku selesai kerja pukul enam, jadi kutemui kau di bar hotel setengah jam sesudahnya, dan sebaiknya kau bersiap-siap menceritakan padaku segalanya! Sekarang, bagaimana kalau kalian makan es krim?" katanya dengan nada suara berbeda, sambil mengedipkan sebelah mata pada Chloe. "Gratis!"
Chase tidak terkeju mendengar Emily telah beralih dari Baz, dan karena tidak memahami peraturan persahabatan wanita, ia tidak bisa mengerti mengapa Dea merasa tidak enak karena Emily mengetahui dirinya akan menikah tanpa lebih dulu membicarakan hal itu dengannya.
"Nanti kan dia akan tahu juga," ujar Chase masuk akal. "Bagaimana lagi kau akan menjelaskan mengapa kau bisa tetap tinggal di Sydney dan mendirikan usaha di sana?"
Dea tidak mau repot-repot menerangkan pada Chase bahwa bertindak masuk akan bukan landasan persahabatannya dengan Emily.
"Aku akan mengantar Chloe tidur," Chase menawarkan. "Kau pergilah minum bersama Emily."
Bersambung...