Indonesia
NovelToon NovelToon
Air Mata Di Ujung Penyesalan

Air Mata Di Ujung Penyesalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mabuok Hape

Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.

Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.

Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.

Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.

Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.

Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.

Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Tangan Tanpa Curiga

Cahaya matahari pagi yang hangat menembus kaca jendela ruang kerja baru Pratama Group, membiaskan kilau keemasan di atas meja kayu jati yang bersih dan tertata rapi. Tidak ada lagi tumpukan dokumen bermasalah, tidak ada aroma rokok yang menyengat, dan tidak ada lagi kecemasan yang dulu kerap menghantui ruangan itu. Ruang kerja Arga kini memancarkan aura ketenangan dan profesionalisme yang murni.

Di balik meja, Arga duduk menyandarkan punggungnya dengan rileks. Kemeja putih bersih yang dikenakannya terasa pas, mencerminkan pikirannya yang kini jauh lebih jernih. Di seberangnya, Kirana duduk anggun dengan blazer berwarna sage green. Di depan Kirana, terhampar beberapa lembar dokumen perjanjian kerja sama baru antara Pratama Group dan firma hukum mitra yang baru dibentuknya.

Namun, atmosfir pagi itu menyimpan sebuah memori kilas balik (flashback) yang melintas di benak Arga—sebuah benang merah penting yang menjelaskan bagaimana seluruh rantai kejatuhan Reza dan Nabila sebenarnya bermula.

"Arga?" panggil Kirana pelan, memperhatikan pandangan Arga yang sempat tertahan pada kolom tanda tangan di dokumen tersebut. "Ada klausa yang perlu kita tinjau ulang?"

Arga tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Kirana. Dokumenmu selalu sempurna. Aku hanya... mendadak teringat pada suatu hari, sekitar delapan bulan yang lalu. Di ruangan lama, dengan meja yang sama."

Kirana menatap Arga dengan penuh pengertian, membiarkan Arga mengalirkan potongan kenangan yang menjadi cikal bakal seluruh panggung pembalasan dendamnya.

Kilas Balik — 8 Bulan Lalu

Siang itu, hujan gerimis mengguyur ibu kota. Di dalam ruang kerja Arga yang lama, Reza melangkah masuk dengan senyum lebar yang dipaksakan. Di tangannya, ada stopmap tebal berwarna merah berisi berkas adendum investasi dan pengalihan kewenangan dana operasional proyek ekspansi.

Kala itu, Reza masih merasa dirinya adalah master manipulator. Ia baru saja menyelesaikan makan siang rahasianya bersama Nabila di sebuah restoran privat, membicarakan rencana besar untuk menguras aset Pratama Group secara perlahan sebelum melarikan diri ke luar negeri.

"Ga, ini berkas adendum proyek tahap dua yang kemarin kita bahas," ujar Reza dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat santai dan akrab. Ia meletakkan berkas itu tepat di depan Arga. "Pihak investor dari Singapura minta ratifikasi cepat sore ini. Aku sudah periksa semua reaches-nya, aman kok. Kamu tinggal tanda tangan di lembar terakhir."

Arga, yang kala itu sebenarnya sudah mulai menerima bukti-bukti awal dari Bimo mengenai pengkhianatan Reza dan Nabila, menatap lembaran kertas itu.

Di dalam hati Arga, ada rasa sakit yang menyayat. Pria di hadapannya adalah sahabat yang ia bantu sejak masa-masi sulit. Namun, Arga menyembunyikan seluruh badai emosinya di balik ekspresi tenang yang tak tertebak. Logika Arga bekerja dengan sangat dingin: Jika Reza menginginkan sebuah jebakan, maka aku akan memberinya panggung terbaik untuk menjebak dirinya sendiri.

Arga tidak langsung meraih pulpennya. Ia menatap Reza lurus ke matanya. "Kamu sudah membaca seluruh pasal di lembar lampiran, Za? Termasuk klausul tanggung jawab pribadi (personal guarantee) kalau terjadi penyimpangan dana?"

Reza tertawa kecil, melambaikan tangannya seolah hal itu adalah formalitas yang sepele. "Aduh, Ga... kamu seperti enggak kenal aku saja. Kita ini sudah sepuluh tahun bareng-bareng! Masa sama aku kamu masih ragu? Semua pasal sudah di-cek tim hukumku. Aman 100%. Tanda tangan saja, biar aku bisa langsung kirim ke kurir."

Chemistry pengkhianatan saat itu begitu kentara. Reza berdiri dengan kepercayaan diri tinggi, yakin betul bahwa rasa percaya Arga padanya adalah titik lemah yang bisa ia eksploitasi kapan saja. Bagi Reza, melihat Arga meraih pulpen adalah kemenangan taktis yang mudah. Ia merasa sedang memegang kendali penuh atas jalan hidup Arga.

Reza menyaksikan jemari Arga memegang pulpen Parker berujung emas.

Dengan gerakan yang sangat mantap dan tanpa ragu sedikit pun, Arga membubuhkan tanda tangannya di atas materai.

Sret. Sret.

Goresan tinta itu mengalir tegas. Tanda tangan tanpa curiga— setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Reza saat itu. Reza menyeringai puas di dalam hati, membayangkan miliaran rupiah yang akan segera mengalir ke rekening penampungannya.

Namun, apa yang tidak diketahui Reza adalah bahwa di lembar lampiran ketiga—yang diselipkan Arga melalui Bimo satu jam sebelum pertemuan itu—terdapat klausul jebakan hukum yang mengikat seluruh aset pribadi Reza dan Nabila jika terjadi penggelapan. Arga sengaja membubuhkan tanda tangan itu dengan penuh kesadaran, memberikan Reza tali kekuasaan yang cukup panjang agar pria itu melilitkan lehernya sendiri di kemudian hari.

Kembali ke Masa Kini

Arga menghembuskan napas perlahan, mengakhiri kenangan masa lalu yang kini telah menjadi sejarah. Pria yang dulu menandatangani berkas dengan kepedihan di hatinya kini telah bertransformasi menjadi sosok yang benar-benar utuh dan bijaksana.

"Saat itu, Reza berpikir aku menandatanganinya tanpa rasa curiga sedikit pun," kata Arga, menatap Kirana dengan binar mata yang jernih. "Dia mengira aku adalah orang bodoh yang buta oleh persahabatan. Padahal, tanda tangan itulah yang akhirnya mengunci pintu penjara untuk dirinya dan Nabila."

Kirana mendengarkan dengan penuh empati. Ia menyentuh punggung tangan Arga yang terhampar di meja dengan gerakan lembut, memberikan rasa hangat dan dorongan moral yang nyata.

"Tapi sekarang beda, Arga," bisik Kirana halus, matanya memancarkan ketulusan yang murni. "Hari ini, lembaran di depanmu tidak ditulis oleh pengkhianatan atau jebakan. Ini ditulis oleh kejujuran."

Arga menatap Kirana, meresapi chemistry hangat yang mengalir di antara mereka. Tidak ada permainan manipulasi emosi, tidak ada agenda tersembunyi. Kirana hadir sebagai mitra sejati yang tidak hanya cerdas secara profesional, tetapi juga menjadi tempat bagi jiwa Arga untuk berlabuh dengan aman.

Arga mengambil pulpen Parker milik-nya. Kali ini, tangannya tidak lagi menahan beban kepedihan masa lalu.

Dengan senyuman yang lepas dan tenang, Arga membubuhkan tanda tangannya di lembar kerja sama mereka.

Sret.

Goresan tinta hitam itu mengunci kesepakatan baru. Sebuah tanda tangan yang diukir dengan rasa percaya yang murni—tanpa ada lagi rasa curiga, kecemasan, atau bayang-bayang pengkhianatan masa lalu.

"Selesai," ujar Arga seraya menutup berkas tersebut dan menyerahkannya kembali kepada Kirana.

Kirana menerima berkas itu dengan senyum merekah. "Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Arga Pratama."

"Bukan Pak Arga," potong Arga seraya terkekeh pelan, suasana kaku di antara mereka cair seketika oleh kehangatan pagi. "Cukup Arga."

Kirana merona tipis, lalu mengangguk pelan. "Baiklah... Arga."

Matahari makin tinggi memancarkan cahayanya, menyinari ruang kerja yang kini terasa begitu lapang. Babak kelam tentang kebohongan, saham yang dipindahkan, dan rekening rahasia telah musnah ditelan keadilan. Di hadapan Arga dan Kirana, kini terbentang jalan baru yang terang—sebuah masa depan yang dibangun di atas fondasi kejujuran, keteguhan hati, dan cinta yang sejati.

1
Damay Yanti
kapan arga ketemu dengan aisyah nya
Mabuok Hape: entah lah .. author pun bingung 🤣🤣🤣
total 1 replies
aku
next kak
aku
msh baik si arga ya, incip dkit buat menghargai
aku
hancur semua 🤣
aku
mantap 😃
aku
oh alaaaah revisi kah? pantes bingung aq udh bab 36 kok balik ke awal 😃🙏
Pinkan Aritra
sukurin
Pinkan Aritra
kapok
Idefdenko Channel
semogah Arga membalas perbuatan istri nya
Idefdenko Channel
mantap, mendebarkan ...
Idefdenko Channel
mantap
partini
konflik nya masih lama ya Thor
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt
Mabuok Hape: ya KK, maklum lah baru belajar buat novel .. he he he, kadang salah, kadang alur entah kemana perginya, jadi harap maklum 🙏
total 3 replies
partini
cari buktinya susah banget ya ga aihhhh
partini
ayo ga bikin kejutan buat mereka berdua yg sadis yah
partini
Arga kan terzolimi Thor istri selengkong ko ada kata suami kejam ?
partini: oh sperti itu ok ,tapi bukan kejam sih menurut ku harga yg harus di rasakan istri nya karena berani selengkong
jadi ga kejam 🤭
total 2 replies
partini
kumpulan bukti sebanyak"nya cari momen acara yg penting di hadiri kedua keluarga dan tamu play lah tuh bukti like boom
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus aku suka dan udah aku kasih like, yang semangat bikin novelnya 👍👍
Mabuok Hape: makacih😍
total 6 replies
partini
lain ini lelaki yg di selingkuhi,,aihhh jadi suami kejam Dong masa iya balik ke lobang yg sama plus terkontaminasi cairan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!