Indonesia
NovelToon NovelToon
Become A Mother Of My BFF

Become A Mother Of My BFF

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / Cintapertama
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari

Riana Nina Zara adalah seorang wanita yang baik dan punya pembawaan yang ceria. Ia memiliki seorang sahabat baik bernama Alina Raya Wijaya. Mereka sangat dekat karena berteman baik sejak duduk di bangku SMP. Bahkan Riana sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Orangtuanya juga selalu baik kepadanya.

Alina sendiri adalah seorang gadis piatu yang hanya tumbuh besar di bawah pengasuhan ayahnya. Ibunya meninggal dunia setelah setahun melahirkan dirinya. Sejak itu ayahnya tidak pernah menikah kembali karena fokus untuk merawat dan membesarkan dirinya.

Namun suatu hari ayahnya secara tiba-tiba memperkenalkan seorang wanita cantik kepadanya. Dan kedepannya wanita itu akan menjadi ibu sambungnya. Sayangnya ia tak menyukai wanita itu.

Apakah pernikahan itu akan terjadi atau tidak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di dera rasa bersalah.

"Ayo jawab teleponnya Ri! Kamu buat Tante khawatir." Salma tampak cemas ketika mencoba menghubungi Riana yang tak kunjung menjawab panggilan telepon nya sejak kemarin malam.

Ia benar-benar khawatir padanya. Apalagi dia tidak tahu nomor telepon Reyhan karena lupa menanyakannya. Ia bersumpah akan memberi pelajaran pada laki-laki itu jika sampai terjadi hal buruk pada Riana.

"Bagaimana, sayang? Apa Riana menjawab teleponnya?" tanya Hendri, suami Salma.

Saat itu Salma menunggu Riana di rumahnya. Jikalau sewaktu-waktu Riana tiba-tiba pulang ke rumah. Tetapi ini sudah jam 11 siang, belum juga ada tanda-tanda Riana kembali ke rumah.

"Belum. Tidak ada jawaban. Apa kita lapor polisi saja?" Salma tampak sangat khawatir.

"Ini belum 24 jam. Polisi tidak akan mau menerima laporan kita. Kita tunggu saja satu jam lagi. Jika tak ada kabar, kita coba cari sendiri saja. Hmm... apa kamu sudah menghubungi Alina dan yang lainnya?"

"Belum."

"Coba tanya Alina, mungkin dia tahu sesuatu."

"Iya, aku akan menghubunginya."

Ketika Salma hendak menghubungi Alina, ia melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Riana.

"Bukannya itu mobil pak Ervin?" tanya Hendri ketika mengenali mobil tersebut.

"Iya, mas."

Tak lama ia melihat Riana keluar dari kursi penumpang dan terlihat buru-buru masuk. Ia masih mengenakan gaun yang dipakainya saat ke pesta. Raut wajahnya tampak sedih.

Tak lama Ervin keluar dari mobil dan mengejar Riana. Tetapi Riana malah berlari masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikannya. Bahkan dia juga tak menggubris Salma dan Hendri yang berusaha untuk memanggilnya.

Melihat gelagat aneh keponakannya, Salma menghadang Ervin yang berniat masuk ke dalam rumah.

"Apa yang sedang terjadi pak Ervin? Kenapa keponakan saya bersikap seperti itu? Dan kenapa dia baru pulang jam segini? Dia pergi bersama temannya tadi malam. Lalu kenapa anda yang mengantarnya pulang? Ada apa sebenarnya? Tolong jelaskan pada saya." Salma mendesaknya dengan berbagai pertanyaan.

Ervin tampak frustasi. Ia tidak tahu harus menjelaskannya dari mana.

"Pak Ervin! Kenapa anda diam saja?" desak Salma tak sabaran.

"Hah! Bisa kita bicarakan ini di tempat lain?" tanya Ervin.

"Kita bicara di sebelah saja." usul Hendri.

Mereka lalu pergi ke ruangan sebelah rumah Riana. Di sana ada sebuah ruangan yang diperuntukkan untuk tamu.

Mereka bertiga bicara di sana.

"Sekarang tolong jelaskan pada saya apa yang terjadi pada Riana? Kenapa dia terlihat tidak baik-baik saja?" tanya Salma lagi.

Ervin tampak mengusap wajahnya beberapa kali. Ia sendiri tampak frustasi dan kebingungan.

"Maafkan saya. Tapi saya juga tidak tahu harus mulai dari mana." Jelas Ervin.

"Apa maksud anda?" tanya Hendri ikut bingung.

Akhirnya Ervin menjelaskan semua yang terjadi pada Salma dan Hendri dengan hati-hati.

Salma yang mendengar hal itu tampak terkejut dan tak kuasa menahan emosinya. Ia menampar wajah Ervin karena marah.

"Berani-beraninya anda berbuat begitu pada keponakan saya. Apa anda sudah gila? Dia bahkan seumuran dengan putri anda. Bagaimana bisa? Jawab!" ia menarik kerah kemeja Ervin.

Suaminya menahan Salma agar ia tak bertindak lebih jauh.

"Anda telah menghancurkan masa depan Riana. Anda sudah menodai kesucian dirinya. Bagaimana dengan hidupnya setelah ini? Bagaimana jika dia sampai hamil? Bagaimana dengan kuliahnya dan juga impiannya? Apa dia bisa menanggung beban ini sendirian." Salma menangis di pelukan suaminya.

"Tenang dulu sayang! Semua pasti ada jalan keluarnya. Biarkan pak Ervin melanjutkan pembicaraannya dulu." ucap Hendri mencoba untuk menenangkan istrinya.

"Anda berhak marah dan memukul saya. Ini memang kesalahan saya. Saya bersedia untuk bertanggung jawab dan menikahi Riana jika Riana menyetujuinya. Saya bersedia untuk melakukan apapun untuk menebus kesalahan saya. Tolong maafkan saya. Saya juga tidak sadar melakukannya. Seseorang ingin menjebak saya. Dan akhirnya malah membuat Riana menderita. Maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf." jelas Ervin sambil memohon padanya.

Salma tampak sangat emosi melihat Ervin.

"Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Biarkan Riana tenang dulu agar dia bisa mengambil keputusan. Untuk saat ini sebaiknya anda pulang saja. Karena masalah ini tidak akan selesai jika diselesaikan dengan emosi." ucap Hendri pada Ervin.

"Baiklah! Tetapi jika terjadi sesuatu pada Riana tolong segera hubungi saya. Saya akan kembali lagi nanti setelah keadaannya lebih tenang." ucap Ervin.

Tak lama ia pun pergi dari sana.

"Bagaimana sekarang, mas?" tanya Salma pada suaminya.

"Sekarang lebih baik kamu temui Riana. Lihat bagaimana keadaannya. Mas takut kalau Riana berbuat sesuatu yang nekat." ucap Hendri cemas .

"Iya, baiklah!" ucap Salma.

...****************...

Salma segera berlari ke kamar Riana dan melihatnya. Namun pintu kamarnya terkunci dari dalam. Salma mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban dari Riana. Beruntung ia memiliki kunci cadangan kamar Riana yang sengaja di buat kalau-kalau keadaan darurat.

Ia mengambil kunci dari laci meja kerjanya dan berlari kembali ke kamar Riana.

Ia membuka pintu, namun Riana tak ada di ruangan itu.

Ia mendengar suara kran air yang dinyalakan, lalu segera berlari ke sana dan membuka pintu.

Ia melihat Riana sedang duduk di bawah pancuran air kamar mandi sambil terus menggosok-gosok tubuhnya dengan sikat untuk mandi.

Ia menggosok-gosoknya dengan kasar. Seperti sedang berusaha menghilangkan kotoran yang sulit untuk dibersihkan.

"Astaga! Apa yang sedang kamu lakukan, Riana?" tanya Salma sambil mematikan kran air.

Dia lalu duduk dan mengambil sikat yang di pegang oleh Riana dan melemparnya ke sembarang tempat.

"Berikan sikat itu , Tante! Tubuh Riana sangat kotor. Riana harus segera membersihkannya." Riana ingin mengambil kembali sikat itu, tetapi Salma mencegahnya.

Wanita itu memeluk erat keponakannya itu. Berusaha untuk menenangkannya.

"Jangan lakukan itu, sayang! Tubuhmu bisa sakit. Ayo kita keluar dan ganti baju ya! Kamu bisa masuk angin nanti." Salma tampak sedih melihatnya.

Ia tak kuasa menahan air matanya.

"Riana sudah ternodai, Tante. Riana sudah kotor. Riana takut membuat ayah dan ibu kecewa." Gadis itu menangis di pelukan Salma.

"Ayah dan ibumu tidak akan pernah kecewa padamu, sayang! Jangan takut! Kita akan hadapi semuanya sama-sama. Kamu nggak sendirian. Ada Tante juga om. Kita akan selalu ada buat kamu. Tenang ya!"

Salma tahu kata-kata itu tidak bisa sepenuhnya menenangkan Riana. Tapi setidaknya Riana tahu jika dia tidak sendirian.

Mereka akan melakukan apapun untuk menjaganya.

...****************...

Sementara itu di apartemen miliknya, Ervin tampak muram.

Ia begitu frustasi dengan rasa bersalah yang saat ini sedang membelenggu dirinya.

"Ayah! Kenapa baru pulang jam segini? Ayah kemana saja? Alina berulang kali menghubungi ayah! Tapi tidak ada jawaban. Ayah baik-baik saja, 'kan?" Alina begitu khawatir ketika melihat ayahnya akhirnya pulang ke rumah.

Namun pria itu tampak kacau. Raut wajahnya tampak lelah.

"Ayah kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Alina cemas.

Pria itu menghela nafas dalam. Ia bahkan tak berani menatap wajah putrinya. Apa yang kira-kira akan Alina lakukan jika ia tahu apa yang sudah ayahnya lakukan pada sahabat baiknya?

"Ayah! Ayah sudah..... menodai Riana!"

"Apa!!!!!"

...****************...

Hai!

Mohon dukungannya ya.

Selamat membaca.

🌹🌹🌹😘😘

1
SANG
Sembilan belas bunga untuk mu dek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Bintang lima untukmu dek semangat terus pantang mundur. Keren habis deh, cocok banget, mantap banget, beken deh...
SANG
Cucok banget💪👍
SANG
Keren habis💪👍
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Asyiknya💪👍
SANG
Makin tambah seru nih💪👍
SANG
Lanjut ya dek💪👍
SANG
Mampir lagi ya dek💪👍
SANG
Semangat ya dek💪👍
SANG
Iklan untuk mu dek💪👍
SANG
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Bunga untukmu dek💪👍
SANG
Berlanjut terus dengan sebuah bunga untukmu Thor/Rose/
SANG
Lanjutkan aksimu Thor💪👍
SANG
semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
like iklan plus komen💪👍
SANG
Makin asik, tambah asik💪👍
SANG
Makin tambah seru nih💪👍
SANG
🍒 seru dan menarik💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!