Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 TEMAN HIDUP SEJATI
SELAMAT MEMBACA !!!
Satu tahun kemudian
Kembar sudah bisa berjalan, si Naya tak pernah bisa diam. Dia akan berjalan ke sana ke mari sesuka hatinya. Haikal terpaksa mengambil pengasuh dari Indonesia.
"Da...Dad...Daddy!" teriak heboh sambil bertepuk tangan senang saat melihat Haikal pulang dari bekerja.
Haikal yang dipanggil heboh oleh kesayangannya tentu saja sangat senang sekali, rasa lelah saat bekerja hilang begitu saja. Saat mendapat sambutan hangat dari princessnya.
"Hmmm...wanginya. Sudah mandi ya, Sayang?" tanya Haikal saat mencium wangi pipinya Naya yang gemoy itu.
Sementara Devan yang pendiam itu, berjalan pelan menuju ke arah Daddynya. Devan mengulurkan tangannya, lalu mencium tangan Haikal.
"Masya Allah pintarnya, Abang. Siapa yang mengajarinya, Sayang?" tanya Haikal tersenyum bahagia.
Devan yang ditanya hanya menunjuk pada pengasuhnya saja, Mila hanya tersenyum dari kejauhan.
"Putranya Daddy the best pokoknya!" serunya sambil menggandeng Devan menuju ke ruang keluarga.
Sementara Fira baru saja sampai, ia turun dari mobilnya dan berjalan menuju ke dalam rumah.
"Assalamualaikum,"
"Calam, Mama!" teriak Naya menyambut ucapan salam dari Mamanya.
Devan berjalan menghampiri Mamanya, ia mengulurkan tangannya lalu menciumnya.
Deg jantungnya Fira menghangat sangat mendapat ciuman tangan dari putranya. Ia langsung menggendong tubuh putranya ikut berkumpul di ruang keluarga.
Naya juga ikut berjalan ke arah Fira, ia ikut-ikutan apa yang dilakukan Abangnya.
"Pintarnya putra tampan Mama dan putri cantik Mama. Kalian sudah mandi, Sayang?" tanya Fira sambil mencium kedua pipi Devan dan Naya.
Mereka berdua menganggukan kepalanya serempak, bahwa dia sudah mandi. Fira sangat bahagia bisa melihat tumbuh kembangnya dua buah hatinya yang sangat tampan seperti Papanya dan cantik seperti dirinya.
"Mama mau mandi dulu, Sayang. Kalian mau ikut Mama atau mau di sini sama Mbak dulu?" tanya Fira sambil meminta izin untuk membersihkan dirinya dulu.
"Sini sama Mommy saja. Biarkan Mama mandi dulu, sebentar lagi mau apa Sayang?" tanya Amara yang baru keluar dari pintu lift.
Fira mencium tangan Kakaknya itu, lalu ia menoleh ke arah kedua buah hatinya. "Aku di sini saja dengan Mommy, Ma. Sebentar akan sholat!" seru Devan.
"Aku juga di cini caja, Ma," jawab Naya dengan tersenyum, sambil memeluk tubuh Amara.
Dalam hatinya Fira menangis pilu, menyaksikan anak-anaknya tumbuh tanpa adanya seorang Papa di sisinya. "Lihatlah, Mas. Putramu wajahnya persis seperti kamu waktu kecil."
Ia langsung berjalan ke arah lift, masuk ke dalamnya.
"Apa aku salah, Mas. Memisahkan kalian bertiga?" tanyanya lagi.
Sampai sekarang Haikal dan keluarganya belum memberitahukan keadaaan Bryan yang sebenarnya. Rencananya saat nanti ulang tahun kembar yang ke satu yang akan dilangsungkan satu minggu lagi.
Semua keluarga akan berkumpul di rumahnya dan Haikal akan memberitahukan semua kepada Fira. Terserah dia mau kembali kepada suaminya atau melepaskan pernikahannya itu.
Malam harinya setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga, Devan minta duduk dipangkuan Mamanya. Sedangan Naya ingin manja dengan Mommynya.
"Ulang tahunnya kembar satu minggu lagi, Dek. Mau dirayakan besar-besaran atau cukup dengan keluarga saja?" tanya Haikal yang duduk di sebelahnya istrinya.
Naya yang sudah tau arti kata ulang tahun, dia langsung berdiri tegak. "Tiup lilin kan, Dad?" tanyanya sambil memainkan matanya, itu kelihatan sangat menggemaskan.
Haikal mengusap kepalanya dengan lembut, "Iya, tiup lilin, Adik mau ada banyak orang atau sedikit saja?" tanya Haikal kepada Naya.
Hmmm...ia tampak berpikir meletakan jari telunjuknya di dagunya sambil berpikir. Lalu ia meminta Amara menurunkan dirinya. Ia berjalan menghampiri Abang dan Mamanya.
"Abang mau lamai atau cepi?" tanyanya dengan Abang kembarannya. Ia juga minta dipangku sama Mamanya.
Devan menatap wajah Mamanya yang cantik itu, "Mama kalau mengundang keluarga saja, apa tak apa-apa, Ma?" tanya kepada Mamanya.
Fira tersenyum dengan ucapannya Putra, dia memang tak suka keramaian. "Bagaimana dengan adik? Apa setuju dengan Abang, jika kita mengundang keluarga saja?" tanya Fira kepada gadis kecilnya.
"Tapi, Kak Calista diundang kan, Ma. kacian kalau tak diundang, Ma!" seru Naya menatap wajah Mamanya penuh harap.
Fira mencium kepala kedua anaknya dengan sayang. "Baik, Sayangnya Mama. Kita undang Kak Calista. Bagaimana dengan Uncle dan Onty Sasa, Onty El diundang, nggak?" tanya Fira kepada mereka, ia ingin melihat respon mereka.
"Diundang dong, Ma. Cama Opa cama Oma juga!" teriak heboh Naya sambil tepuk tangan, senyumnya yang tak pernah luntur dari bibirnya.
Sementara Devan hanya mengangukan kepala, tersenyum sedikit tak heboh seperti kembarannya.
Malam semakin larut, Fira mengajak kedua anaknya untuk tidur bersamanya. Sementara pengasuhnya tidur di kamarnya kembar.
"Mommy, Daddy good night!" seru mereka berdua sambil mencium pipi keduanya.
"Good night too, semoga mimpi indah sayang," jawab Haikal dan Amara serempak.
Fira menggandeng mereka menuju ke pintu lift. Di belakang mereka ada pengasuhnya kembar bernama Mila.
Sesampainya kamarnya, kedua bocil itu dibantu cuci tangan, kaki dan gosok gigi sama pengasuhnya. Fira berjalan ke pintu penghubung ke kamarnya kembar untuk mengambilkan baju tidur mereka.
"Ayo sini, Sayang. Mama bantu ganti bajunya dulu, baru kita tidur bersama!" panggil Fira kepada putranya yang sudah selesai gosok gigi.
Setelah selesai dengan bajunya Devan, Fira gantian membantu gadis kecilnya ganti baju tidur.
"Mir, kamu tidur saja di kamarnya kembar ya. Biar mereka malam ini tidur bersamaku!" seru Fira kepada Mila pengasuhnya kembar.
Mila menganggukan kepalanya, "Baik, Mbak. Tapi kalau ada butuh sesuatu bangunkan aku ya, Mbak," jawab Mila sambil memberi pesan kepada Fira. Bukan apa, biasanya tengah malam si Naya akan bangun minta susu.
"Lebih baik susunya Naya di taruh di meja riasku saja, Mil. Nanti malam kalau dia lapar aku akan menyeduhnya sendiri. Untuk malam ini tidurlah dengan pulas, tak usah memikirkan mereka berdua," ujarnya Fira.
Mila masih berdiri tak enak hatinya. "Jangan khawatir, Mil. Besok aku libur, kok. Sana bawa botol susunya Naya ke sini. Sekalian punyanya Devan, Mil. Takut, dia juga lapar," ucap Fira kepada Mila.
Mereka sudah tidur dikasur, Fir mulai membacakan ceritanya. Baru juga sepuluh menit, kedua buah hatinya itu sudah tertidur pulas, Fira mendengar dengkuran halus dari mereka.
Fira menatap wajahnya Devan yang mirip dengan Papanya, "Apa kamu pernah mengingatku, Mas. Atau kah kamu sudah berbahagia dengan wanita yang kamu ajak bertunangan itu. Aku tak pernah menyesali pernikahan ini, Mas. Karena dari pernikahan ini, aku mempunyai teman hidup sejati bukan satu melainkan dua. Semoga kamu bahagia di sana, Mas. Aku tak pernah membencimu sedikitpun," ucap Fira lirih sambil mengusap pipinya Devan dengan lembut.
Tanpa Fira menyadarinya, Devan mendengarkan ucapan lirih dari Mamanya. Dia akan menanyakannya kepada Daddynya, dimana sebenarnya Papanya.