#Japan #Samurai
Asanami Kenshi, samurai terkuat di klannya, dikhianati dan dibutakan oleh tangan yang pernah ia lindungi. Kini, dalam dunia yang hanya dihuni bayangan dan suara, Kenshi memburu satu hal: balas dendam.
Di jalan berlumur darah dan pengkhianatan, dia membuktikan bahwa mata bukan syarat untuk membunuh-hanya tekad yang tak bisa dipatahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaRan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa yang Bergetar
Angin pagi di lereng Gunung Kuuhaku membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tapi bagi Kenshi, udara seperti ini terasa seperti ujian pertama dari pelatihan yang lebih keras. Matahari belum terbit sempurna, namun suara langkah kuda dan derap kaki sudah terdengar dari area pelatihan di halaman kuil Tokito.
Kenshi berdiri diam, tubuhnya hanya mengenakan yukata tipis berwarna kelabu, rambutnya terurai sedikit berantakan, bekas luka dari pertarungan dengan Takeda Asami masih membekas di lengan dan dada. Di hadapannya berdiri sang guru legendaris, Tokito Hakuro, membawa sebuah pedang kayu berukuran besar.
“Mulai hari ini, kau akan belajar kembali dari awal,” kata Hakuro dengan suara berat. “Pedang bukan hanya tentang teknik, tapi tentang ketetapan hati. Tentang jiwa yang tidak tergoyahkan. Dan saat kau tidak memilikinya, maka setiap tebasanmu hanya akan berakhir sebagai gerakan kosong.”
Kenshi tidak menjawab. Dia menunduk dan menarik napas panjang. Hari ini bukan tentang kata-kata, melainkan tentang keteguhan dan pembuktian.
Latihan pertama dimulai dari gerakan dasar: menebas. Tidak dengan katana Izanami miliknya, tetapi dengan sebatang bambu berat yang bahkan lebih berat daripada pedang biasa. Hakuro mengharuskan Kenshi menebas sebuah balok kayu yang tertanam dalam tanah sebanyak seribu kali.
“Lakukan hingga jiwamu terbangun,” kata Hakuro.
Kenshi mengangguk. Tebasan pertama terasa seperti mendorong gunung. Kedua mulai terasa menusuk otot. Pada seratus pertama, lengannya mulai bergetar. Tapi dia tidak berhenti. Tidak kali ini.
Dari kejauhan, Hana yang baru selesai latihan dasarnya, menyaksikan Kenshi. Tubuh pria itu sudah banjir peluh dan darah segar mengalir di pergelangan tangannya akibat kulit yang terkelupas oleh gesekan konstan dengan bambu. Namun wajah Kenshi tetap tenang, seperti samurai yang telah terbiasa hidup di antara rasa sakit dan kematian.
Tokito Hakuro berdiri di sisi Hana. Dia menyipitkan mata, mengamati Kenshi.
“Dia kuat, tapi kekuatannya masih egois,” ucap Hakuro. “Dia masih menyimpan amarah dalam setiap tebasannya. Jika amarah itu meledak di saat yang salah, dia akan hancur sebelum mencapai puncak.”
Hana menoleh ke arah sang guru. “Tapi bukankah rasa marah juga bisa menjadi bahan bakar?”
Hakuro tertawa pelan. “Ya, jika kau bisa mengendalikannya. Tapi jika tidak… marah akan menjadi tuan, dan kau budaknya."
Menjelang tengah hari, Kenshi sudah menyelesaikan 800 tebasan. Setiap tebasan kini diiringi oleh suara parau dari napasnya yang berat. Tubuhnya limbung, namun matanya tertuju pada batang kayu di depannya.
Seribu tebasan. Bukan hanya untuk memenuhi perintah Hakuro, tapi untuk menyelami kembali jalan pedang yang telah dia tinggalkan sejak matanya buta.
Pada tebasan ke-928, ia tersungkur. Bambu jatuh dari tangannya dan darah mengalir dari kening. Tapi dia tidak berhenti lama. Dia kembali berdiri, menggenggam ulang bambu yang dingin dan berat, dan terus menebas.
Saat tebasan ke-1000 akhirnya selesai, matahari sudah tinggi. Hakuro berjalan pelan ke arahnya, menatap batang kayu yang kini penuh bekas sayatan dan Kenshi yang hampir jatuh berlutut.
“Kau lulus tahap pertama,” ujar Hakuro. “Tapi jalanmu masih panjang.”
Hari-hari berikutnya dipenuhi oleh latihan berat. Kenshi menjalani teknik pernapasan dalam air, menyeimbangkan tubuh di atas batang bambu yang mengapung di danau, serta menahan kuda-kuda dalam durasi yang tak masuk akal. Hakuro tidak memberikan belas kasihan. Bagi sang guru, dunia luar tidak mengenal belas kasihan. Jika Kenshi ingin menghadapi samurai terkuat lainnya, maka dia harus menjadi lebih dari sekadar kuat.
Suatu malam, setelah latihan yang melelahkan, Kenshi duduk sendiri di bawah pohon cemara, memandangi langit malam dengan matanya yang buta. Tapi dalam gelapnya dunia, dia melihat sesuatu yang jauh lebih terang dari bintang: kenangan.
Wajah ayahnya yang terbunuh. Saudara seperguruannya yang dibantai. Pengkhianatan yang membuat klannya runtuh. Semua itu berkumpul seperti bayangan hitam di pikirannya. Tapi di tengah semua itu, dia mendengar suara Hana, suara Hakuro, dan suara dirinya sendiri: suara hati yang tidak menyerah.
“Jiwaku tidak akan goyah,” gumam Kenshi pelan. “Jika jalan pedangku masih bisa disucikan, maka aku akan menebas semua kegelapan yang tersisa.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, jiwa Kenshi bergetar bukan karena rasa takut… tapi karena harapan.