Indonesia
NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33. Respect

Pagi hari yang cerah langsung diisi dengan obrolan serius di rumah. Fitri mengadu kepada Ranti, bahwa ponsel miliknya sudah mulai sering nge-lag, lambat, dan menyulitkan aktivitasnya sehari-hari.

Mendengar keluhan tersebut, Ranti langsung meminta bantuan kepada Acha dan Nathan, yang kebetulan datang untuk membantu mencarikan pilihan handphone Oppo baru yang bagus namun tetap pas di kantong bagi Fitri.

Acha dan Nathan berdiskusi bersama Fitri untuk menentukan pilihan terbaik agar masalah nge-lag pada ponsel lamanya bisa teratasi tuntas.

Suasana di ruang tamu terasa santai namun penuh perdebatan kecil saat Fitri sibuk menggulir layar ponselnya Nathan untuk melihat-lihat berbagai pilihan model dan spesifikasi smartphone Oppo.

Berkat saran dari Acha, Nathan lantas menunjukkan katalog dari salah satu temannya yang memiliki konter handphone bernama Gudang Cell.

Namun, begitu Fitri melihat daftar harga yang tertera di layar, matanya langsung membelalak kaget.

Gadis itu mengeluh karena tidak ada satu pun unit baru yang harganya di bawah 1 juta rupiah, sementara rata-rata kisaran harga ponsel baru berkisar antara 2 hingga 6 juta rupiah lebih.

Melihat kebingungan di wajah adik kekasihnya, Nathan langsung memberikan saran yang bijak dan solutif.

"Jangan kaget gitu, Fit. Kalau mau yang murah tapi kualitasnya tetap bagus dan nggak nge-lag, gimana kalau kita cari handphone bekas rasa baru?" saran Nathan dengan ramah.

"Biasanya ada ponsel seken yang baru dipakai sebentar sama pemilik sebelumnya, jadi kondisinya masih mulus banget, fungsinya normal, tapi harganya jauh lebih ramah di kantong."

Saran dari Nathan itu langsung membuat Fitri merenung sejenak, menimbang-nimbang opsi tersebut agar bisa mendapatkan ponsel impian tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

Mendengar saran bijak dari Nathan untuk melirik opsi ponsel bekas berkualitas, Ranti dan Acha langsung mengangguk setuju.

Mereka sepakat bahwa jalan keluar tersebut adalah pilihan paling masuk akal agar Fitri bisa mendapatkan perangkat yang lancar tanpa harus memaksakan membeli unit baru yang harganya di luar jangkauan budget mereka.

Melihat raut wajah Fitri yang masih tampak ragu memikirkan masalah biaya, Ranti selaku sang ibu langsung menenangkan putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Udah, Fitri nggak usah pusing mikirin kurangnya uang. Kalau tabungan kamu belum cukup buat beli Handpone-nya, nanti kurangannya bisa pakai uang Mamah sama teteh kamu dulu, ya," ucap Ranti lembut.

Acha turut mengangguk meyakinkan adiknya. "Iya, Fit. Tenang aja, nanti kita patungan bantu tutupin kekurangannya. Yang penting loh bisa dapat ponsel yang bagus buat cari kerja dan nggak ngadat-ngadat lagi."

Mendengar dukungan luar biasa serta uluran tangan dari ibu dan kakaknya yang juga dibantu penuh oleh Nathan keraguan di wajah Fitri seketika lenyap. Seketika itu juga, senyuman lebar merekah di bibirnya.

Perasaan senang dan lega memenuhi hatinya, membuat Fitri tidak sabar untuk segera pergi ke konter Gudang Cell bersama Nathan dan keluarganya demi mendapatkan handphone impiannya.

Rencana Acha dan Nathan untuk segera berangkat ke konter Gudang Cell demi mencarikan handphone baru untuk Fitri harus tertunda sejenak.

Tepat ketika Nathan sudah mengeluarkan motornya dari halaman rumah, ponsel di dalam tas Acha tiba-tiba berdering, menandakan sebuah pesan WhatsApp masuk.

Acha mengambil ponselnya dan melihat nama pengirim di layar Alfian kakak kandungnya sendiri.

Dengan rasa penasaran, Acha membuka pesan tersebut. Namun, begitu dia membaca kalimat demi kalimat yang dikirimkan oleh sang kakak, senyuman di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa terkejut dan tidak menyangka.

"Cha, kamu lagi sama Nathan? Saran aa yah, jangan terlalu dekat-dekat sama dia. Nathan itu nggak sebaik yang kamu pikirkan selama ini. Kamu harus hati-hati sama dia."

Pesan singkat itu terasa bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Acha. Mengingat bagaimana Nathan baru saja menunjukkan ketulusan, kerja keras, serta sisi lembut dan perhatiannya.

Selama mereka melalui masa-masa sulit bersama, peringatan dari Alfian terasa sangat bertolak belakang dengan apa yang dia rasakan sendiri.

Acha terdiam sejenak menatap layar ponselnya, diliputi rasa bimbang antara mempercayai ucapan sang kakak atau tetap memegang teguh keyakinannya kepada Nathan.

Perubahan ekspresi yang begitu drastis pada wajah Acha tidak luput dari pengamatan orang-orang di sekitarnya.

Nathan yang tadinya bersiap di atas motor, Fitri yang bersemangat, serta Ranti yang berdiri di ambang pintu seketika menghentikan aktivitas mereka.

Suasana halaman rumah yang tadinya hangat mendadak diselimuti keheningan canggung.

"Cha? Kok malah melamun? Ada apa?" tanya Ranti dengan nada penuh keibuan, menatap anaknya dengan sorot mata cemas.

Nathan pun mematikan kembali mesin motornya, lalu melangkah mendekati Acha. Dengan raut wajah khawatir, dia bertanya lembut, "Kamu kenapa, Cha? Ada kabar buruk dari siapa?"

Fitri turut mendekat, ikut penasaran melihat kakaknya yang mendadak membeku usai membaca pesan di ponsel.

Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian dan tidak ingin merusak suasana pagi yang sudah direncanakan, Acha buru-buru menguasai dirinya lagi.

Dia menyembunyikan layar ponselnya, lalu memasang senyuman tipis meski sedikit kaku untuk menepis kecemasan keluarganya.

"Eh, nggak apa-apa kok, Mah, Nathan, Fitri. Cuma pesan biasa dari minimarket ... ehm, maksudnya dari teman yang kerja disana," kilah Acha mencoba tenang, meski jantungnya masih berdegup kencang memikirkan peringatan Alfian.

Acha memilih untuk menelan sendiri rasa penasaran dan ganjalan di hatinya itu. Dia tidak mau merusak momen kebersamaan mereka, apalagi Nathan sudah berbaik hati meluangkan waktu untuk membantu mencarikan ponsel baru untuk Fitri.

Dia bertekad, urusan pesan peringatan dari kakaknya itu akan dia tanyakan atau selesaikan nanti saja setelah mereka selesai urusan di konter.

"Udah, yuk! Katanya mau ke Gudang Cell sekarang keburu siang," ajak Acha mengalihkan pembicaraan, berusaha kembali ceria.

Nathan menatap Acha sejenak, bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang kekasih, namun dia memilih untuk tidak mendesak sekarang.

Nathan hanya mengangguk pelan, sementara Fitri kembali bersorak riang karena rencana berburu ponsel impiannya dilanjutkan.

Acha pun segera naik ke boncengan motor Nathan, meluncur membelah jalanan dengan pikiran yang masih melayang pada pesan misterius dari kakaknya.

Motor yang dikendarai Nathan melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota yang mulai ramai. Angin pagi berhembus menerpa helm dan jaket mereka, namun suasana di atas motor tidak sehangat biasanya.

Nathan, yang sejak awal bisa merasakan ada perubahan drastis kepada dirinya Acha setelah membaca pesan dari Alfian, tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Di sebuah lampu merah yang membuat laju kendaraan mereka terhenti sejenak, Nathan menoleh ke belakang, menatap kaca spion untuk melihat wajah kekasihnya.

"Cha..." panggil Nathan dengan suara lembut yang bisa didengar jelas di balik helm.

"Beneran nggak ada apa-apa? Kalau kamu lagi ada masalah atau ada sesuatu yang mengganjal, ceritain aja sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu."

Acha, yang duduk memeluk pinggang Nathan dengan erat, tersentak kecil di balik punggung sang kekasih. Dia menatap punggung tegap Nathan, merasakan ketulusan yang terpancar dari nada bicara pemuda itu.

Rasanya Acha ingin sekali menceritakan pesan peringatan dari kakaknya saat itu juga. Namun, ego dan rasa khawatirnya menahan lidahnya, dia takut suasana hati Nathan jadi rusak atau malah timbul prasangka di antara mereka.

Sekali lagi, Acha memilih menggelengkan kepala pelan dan tersenyum tipis meski Nathan tidak bisa melihatnya secara langsung.

"Nggak apa-apa kok, A. Beneran. Lagi nggak mikirin apa-apa, kok," jawab Acha berusaha terdengar santai dan ceria.

Nathan terdiam sejenak mendengar jawaban itu. Sebagai seseorang yang sudah cukup mengenal Acha, dia sangat tahu kapan kekasihnya itu jujur dan kapan dia sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun, alih-alih mendesak atau memaksa Acha untuk bicara, Nathan memilih untuk menghargai keputusan gadis.

Lampu lalu lintas berganti hijau. Nathan kembali menjalankan motornya dengan tenang, lalu bersuara pelan melalui sela-sela deru angin jalanan.

"Ya udah, kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa. Aku nggak bakal maksa," ucap Nathan penuh pengertian.

"Tapi ingat ya, Cha... kapan pun kamu udah merasa siap, dan kapan pun kamu butuh tempat buat cerita atau mengeluarkan unek-unek kamu, aku bakal selalu ada di sini. Aku siap mendengarkan kapan saja."

Mendengar kalimat yang begitu sabar dan menenangkan dari Nathan, pertahanan hati Acha nyaris runtuh. Rasa bersalah karena sempat menyembunyikan sesuatu beradu dengan rasa sayang yang teramat sangat kepada pemuda di depannya ini.

Acha mengeratkan pelukannya di pinggang Nathan, menyandarkan kepalanya sejenak ke punggung pemuda itu sambil tersenyum haru, merasa bersyukur memiliki kekasih sebaik dan selembut Nathan.

Perjalanan Acha dan Nathan pagi itu akhirnya tiba di deretan pertokoan ponsel tempat konter Gudang Cell milik teman Nathan berada.

Setelah melihat-lihat beberapa pilihan unit bekas berkualitas yang masih mulus dan sesuai dengan budget yang sebagian dibantu oleh tabungan Acha dan Ranti pilihan mereka akhirnya jatuh pada sebuah ponsel Oppo seken bergaransi toko yang performanya masih sangat prima dan bebas nge-lag.

Transaksi berjalan lancar, dan setelah urusan ponsel untuk Fitri selesai, perut keduanya mulai terasa keroncongan karena energi yang terkuras sejak pagi.

Sebelum beranjak pulang kembali ke rumah, Nathan mengajak Acha menepi sejenak untuk mengisi tenaga.

Di pinggir jalan kota yang teduh, mereka mampir ke sebuah warung tenda sederhana yang menjual menu sarapan khas lokal favorit mereka, yaitu nasi lengko.

Sambil menikmati piring demi piring nasi hangat bertabur irisan timun, tauge, tempe, tahu, serta lumuran bumbu kacang yang gurih dan kecap manis, suasana hati Acha perlahan kembali cair.

Sisa-sisa bayangan pesan dari Alfian yang sempat mengusik pikirannya sejenak terabaikan oleh kehangatan pagi itu.

Nathan dengan telaten menyuapkan beberapa suap makanan sambil sesekali melontarkan candaan kecil yang membuat Acha tersenyum lepas.

Di tengah kesederhanaan warung sarapan pinggir jalan tersebut, kebersamaan mereka terasa begitu manis, membuktikan keyakinan bahwa di sisi Nathan, segala keraguan dan beban mendadak terasa jauh lebih ringan untuk dihadapi.

Meskipun suasana warung nasi lengko pagi itu cukup ramai oleh lalu-lalang orang dan kendaraan, Nathan sama sekali tidak canggung untuk menunjukkan perhatiannya kepada Acha.

Saat piring makanan mereka tersaji, Nathan dengan sigap mengambil sendok, meracik sesuap nasi lengko lengkap dengan bumbu kacangnya, lalu mengarahkannya ke depan bibir Acha.

Melihat tindakan itu, Acha langsung menggeleng pelan sambil menarik sedikit tubuhnya ke belakang. Wajahnya merona merah seketika.

"Eh, jangan, A... Malu, ini di tempat umum," bisik Acha dengan nada protes tertahan.

Kedua pipinya Acha memanas membayangkan orang-orang di sekitar memperhatikan mereka. Selama ini, Acha tidak pernah diperlakukan seintim dan seblak-blakan itu oleh cowok manapun di tempat terbuka.

Namun, Nathan hanya tersenyum usil. Alih-alih menarik tangannya, dia justru semakin mendekatkan sendok tersebut ke dekat bibir Acha dengan tatapan membujuk.

"Udah, nggak apa-apa. Buka mulutnya, sayang. Kamu kan belum makan dari tadi pagi," bujuk Nathan dengan suara lembut namun tegas.

Karena terus dipaksa oleh sang kekasih dengan penuh kelembutan, Acha akhirnya menyerah. Dengan malu-malu dan sedikit salah tingkah, dia membuka bibirnya dan menerima suapan pertama dari Nathan.

Seketika itu juga, rasa canggung yang tadinya melanda perlahan-lahan menguap, tergantikan oleh rasa hangat yang merayap hingga ke dadanya.

Acha takjub sekaligus bersyukur dalam hatinya tidak pernah menyangka dia akan diperlakukan seromantis dan sebegitu manisnya di hadapan publik oleh seorang pria. Perasaan dicintai itu membuncah dengan indah.

Sambil mengunyah makanan, Acha melirik Nathan dengan mata berbinar malu-malu, lalu memberanikan diri melontarkan pertanyaan kecil di sela-sela kunyahannya.

"A... Aa emang nggak risi atau malu apa suap-suapin aku di tempat umum gini? Dilihatin orang lho..." tanya Acha penasaran, masih merasa salah tingkah.

Nathan mendengarkan pertanyaan itu dengan senyuman santai. Tanpa ragu sedikit pun, dia menjawab dengan kalimat simpel yang langsung membuat jantung Acha berdegup kencang tak karuan.

"Kenapa harus malu? Kan aku lagi suapin calon istri sendiri," jawab Nathan enteng sambil tersenyum hangat, lalu kembali menyodorkan suapan berikutnya.

Mendengar sebutan calon istri yang terucap begitu natural dari bibir Nathan, seketika wajah Acha memerah padam hingga ke telinga.

Dia salah tingkah bukan main, salah tingkah bercampur rasa bahagia yang teramat sangat.

Di bawah terik matahari pagi yang mulai meninggi, Acha hanya bisa menunduk malu menyembunyikan senyum lebarnya, semakin yakin bahwa Nathan adalah pelabuhan hati yang tepat untuk masa depannya.

Melihat pipi Acha yang merona merah padam hingga menjalar ke lehernya akibat ucapan santai nan manis barusan, Nathan tidak bisa menahan senyum gelaknya. Dia sangat menikmati detik-detik ketika gadis di hadapannya ini tersipu malu karenanya.

"Tuh kan, salah tingkah gitu..." goda Nathan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, sorot matanya menatap Acha penuh puja.

"Kalau lagi malu-malu tapi gemesin kayak gini, muka kamu jadi kelihatan tambah cantik, Cha."

Mendengar pujian blak-blakan yang dilontarkan tepat di tengah warung yang cukup ramai itu, pertahanan Acha benar-benar runtuh seketika.

Kepalanya terasa pening karena debaran jantung yang menggila. Rasa malu yang teramat sangat membuatnya kehilangan akal sehat untuk sekadar membalas ucapan Nathan.

Tanpa berpikir panjang lagi, Acha reflek menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu membenamkan wajahnya yang panas menyembunyikan diri di balik dada bidang Nathan.

Dia merengkuh tubuh pemuda itu erat-erat, menolak mengangkat wajahnya karena takut tertangkap basah sedang tersenyum lebar menahan salah tingkah.

Nathan terperanjat kecil mendapat serangan mendadak itu, namun dia langsung tertawa pelan.

Dengan penuh kasih sayang, dia merangkul bahu Acha, membiarkan kekasih hatinya itu bersembunyi di pelukannya sambil mengelus puncak kepala Acha dengan lembut untuk menenangkan debaran di dada gadis itu. Di antara keramaian pagi hari itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua.

Setelah urusan membeli handphone untuk Fitri selesai dan perut mereka sudah kenyang berkat sarapan nasi lengko di pinggir jalan, Nathan rupanya masih punya kejutan kecil untuk Acha.

Alih-alih langsung mengantar gadis itu pulang ke rumah, Nathan membelokkan arah motornya menuju pusat perbelanjaan terdekat yang memiliki pusat hiburan keluarga, Timezone.

Begitu mereka tiba di area permainan tersebut, mata Acha langsung berbinar cerah. Rasa malunya karena insiden salah tingkah di warung tadi seketika berganti dengan antusiasme yang luar biasa.

"Aa, kita mau main ke sini?" tanya Acha dengan senyum lebar, tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

Nathan mengangguk mantap sambil merangkul pundak Acha pelan. "Iya, sengaja. Biar kamu nggak suntuk, dan kita bisa seru-seruan bareng hari ini. Main sepuasnya, ya!"

Tanpa menunggu lama, Nathan langsung mengisi kartu permainan dan mengajak Acha mencoba berbagai macam games seru, mulai dari balapan mobil, tembak-tembakan, hingga mesin dansa dan capit boneka.

Di setiap permainan, Nathan selalu menggoda dan menyemangati Acha, membuat tawa renyah gadis itu terus mengalir sepanjang mereka berada di dalam sana.

Bagi Acha, hari itu terasa begitu sempurna. Perhatian, keromantisan, dan usaha kecil Nathan untuk melihatnya terus tersenyum berhasil melenyapkan segala beban pikiran yang sempat hinggap di benaknya, termasuk bayangan pesan dari sang kakak.

Di tengah bisingnya suara mesin permainan dan keramaian sore itu, Acha merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.

Hari itu benar-benar menjadi salah satu momen paling membahagiakan bagi Acha.

Setelah menuntaskan urusan ponsel Fitri, Nathan benar-benar menepati janjinya untuk membawa Acha bersenang-senang melepas penat di arena permainan Timezone.

Pertama-tama, Nathan menarik Acha ke area mesin bola basket (Arcade Hoops). Dengan penuh semangat, Nathan mencontohkan cara memasukkan bola ke ring, lalu mereka berlomba mencetak skor terbanyak sambil tertawa-tawa ketika lemparan mereka meleset.

"Kita coba memasukkan bola ke dalam ring yah siapa yang menang itu berarti terakir makan es krim" Ucap Acha bersemangat menantang Nathan.

"Bener yah, tapi kalau kamu yang kalah. Awas yah jangan nangis" Ucap Nathan mengejek Acha.

"Kita liat aja nanti" Ucap Acha tak mau kalah.

Lalu mereka mulai memasukkan bola ke dalam rink dengan sangat tergesa-gesa dan penuh semangat.

Acha tak mau kalah dengan Nathan dan fokus memasukkan bola ke dalam rink dengan harapan Acha bisa mengalahkan Nathan.

"Yeh aku menang" Ucap Acha bersorak ria kesenangan.

"Iya iya kamu yang menang deh" Ucap Nathan menerima kekalahannya, dengan sengaja karena Nathan tidak mau Acha merasa sedih kalau kalah.

"Awal lho jangan lupa traktiran nya yah" Ucap Acha tersenyum kegirangan.

"Iya sayang, nanti yah mending sekarang kita lanjut ke permainan berikutnya" Ucap Nathan

Puas berolahraga basket, langkah mereka beralih ke permainan tembak-tembakan air (Water Gun Fun). Di sini, keseruan semakin menjadi-jadi.

Nathan dengan usil sengaja mengarahkan semprotan airnya ke target Acha, "rasa serangan halilintar" Ucap Nathan menarik tuas semprotannya bersiap menembak Acha

"Aa, awas yah aku balas nih" Ucap Acha membalas menyemprot Nathan sambil bersorak girang. Suasana kompetitif yang manis itu membuat gelak tawa keduanya tidak berhenti.

Tak cukup sampai di situ, Nathan mengajak Acha beralih ke mesin ketuk palu tikus yang bersembunyi di dalam lubang (Whac-A-Mole).

"Oke siap yah aku pukul bagian kiri dan aa pukul yang bagian kanannya" Ucap Acha memberikan intruksi dan Nathan menyetujuinya

Keduanya memegang palu karet dan berkejaran memukul boneka tikus yang muncul bergantian dengan cepat. Gerakan refleks mereka yang kadang meleset justru mengundang tawa geli satu sama lain.

Sebagai penutup petualangan arcade mereka, Nathan membimbing Acha mencoba mesin capit boneka (Claw Machine).

"Emang aa yakin bisa mendapatkannya" Ucap Acha tidak yakin dengan kekasihnya.

"Kamu liat sendiri nih" Ucap Nathan sambil menggerakkan mesin capitnya dan Nathan gagal mengambil bonekanya.

"Apa orang gagal tuh" Ucap Acha menertawakan kekalahan Nathan.

"Tenang itu baru sekali, kamu lihat yah" Ucap Nathan dan berhasil.

Meskipun capitnya beberapa kali gagal mengangkat boneka impian Acha, Nathan terus menyemangati dan memeluk pundak kekasihnya dengan gemas.

Setelah berjam-jam berkeliling dan mencoba berbagai macam permainan seru di arena Timezone energi Acha dan Nathan benar-benar terkuras habis. Napas mereka sedikit tersengal, namun senyuman puas tak pernah lepas dari wajah keduanya.

Melihat kekasihnya sudah mulai kelelahan, Nathan lantas mengajak Acha keluar dari area permainan untuk mencari tempat makan siang.

Mereka butuh tempat yang nyaman untuk duduk santai sekaligus mengisi ulang tenaga masing-masing setelah lelah beraktivitas.

Pilihan mereka akhirnya jatuh pada sebuah restoran daging panggang yang cukup elegan.

Di sana, tanpa ragu Nathan memanjakan Acha dengan memesan menu spesial sebagai bentuk apresiasi atas hari yang menyenangkan itu.

Dua porsi steak daging Wagyu A5 yang terkenal empuk, juicy, dan memiliki kualitas premium terbaik.

Sambil menunggu pesanan tiba, mereka duduk berdampingan menikmati suasana restoran yang tenang.

Di tengah momen santai tersebut, Acha tiba-tiba teringat bahwa mereka belum sempat mengambil foto berdua untuk mengenang hari yang begitu menyenangkan ini.

Dengan mata yang berbinar antusias, Acha langsung mengeluarkan ponsel dari tasnya.

"A, tunggu sebentar. Kita belum sempat foto bareng dari tadi lho dari pagi sampai sekarang. Yuk, foto dulu buat kenang-kenangan!" ajak Acha penuh semangat sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah mereka berdua.

Nathan langsung tersenyum lebar menyambut ajakan kekasihnya. Dia mendekatkan posisinya ke samping Acha, merangkul bahu gadis itu dengan akrab, dan memasang ekspresi ceria terbaiknya.

Acha mengangkat ponsel tinggi-tinggi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya merapat ke sisi Nathan. Jepretan demi jepretan kamera mengabadikan senyuman tulus, gelak tawa, serta rona bahagia di wajah mereka.

Melalui foto-foto tersebut, kenangan indah hari itu terangkum sempurna, menjadi bukti nyata betapa hangat dan kuatnya ikatan kasih sayang di antara Acha dan Nathan.

Momen hangat saat Acha dan Nathan menikmati makan siang mewah berdua tiba-tiba terusik oleh dering ponsel Nathan yang bergetar di atas meja.

Layar ponsel tersebut menampilkan nama asisten rumah tangga di rumah Dinda yang bernama Bi Een.

Nathan segera mengangkat panggilan tersebut, mengira ada keperluan penting. Namun, raut wajahnya yang tadinya santai dan penuh senyum seketika berubah pucat dalam hitungan detik.

Di ujung telepon terdengar panik dan tergesa-gesa menyampaikan kabar yang membuat napas Nathan tercekat.

Bi Een mengabarkan bahwa Dinda mendadak jatuh sakit dan sedang berada di rumah sakit lagi. Karena penyakitnya sedang kambuh

Mendengar berita itu, Nathan langsung bangkit dari kursinya dengan panik. Dia menutup sambungan telepon dengan tangan yang sedikit gemetar, sementara sisa makanan di hadapannya tak lagi dihiraukan.

Acha, yang melihat perubahan drastis pada ekspresi wajah Nathan, seketika ikut berdiri dengan cemas.

"Aa? Ada apa? Siapa yang menelepon? Kenapa muka aa pucat banget?" tanya Acha dengan nada khawatir, menggenggam lengan kekasihnya yang mendadak menegang.

Dengan napas yang masih memburu dan raut wajah yang menyiratkan kecemasan luar biasa, Nathan menatap Acha lekat-lekat. Dia kemudian menyampaikan kabar buruk yang baru saja diterimanya dari Dinda dengan nada berat.

"Cha... Teteh aku dilarikan ke rumah sakit," ucap Nathan dengan suara bergetar, mencoba menahan gejolak di dadanya.

Mendengar pengakuan itu, Acha tertegun sejenak. Meskipun itu adalah kakak tiri Nathan, Acha tahu betul betapa gawatnya situasi tersebut.

Tanpa pikir panjang dan didorong oleh rasa empati yang tinggi, Acha langsung menggenggam tangan Nathan erat-erat untuk menyalurkan ketenangan.

"Ya ampun, A... Kalau gitu, kita ke rumah sakit sekarang ya? Aa harus jenguk teteh aa sekarang," ajak Acha tulus, siap meninggalkan sisa makan siang mereka demi mendampingi kekasihnya di saat sulit.

Namun, di luar dugaan Acha, reaksi Nathan justru sangat bertolak belakang. Alih-alih merasa khawatir atau terburu-buru ingin bergegas ke rumah sakit, ekspresi wajah Nathan mendadak berubah dingin dan datar.

Dia menarik napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas menolak ajakan tersebut.

"Nggak usah, Cha. Nggak perlu dijenguk," jawab Nathan ketus, membuat Acha mengerjap kaget.

Sebelum Acha sempat melontarkan pertanyaan lebih lanjut untuk mencerna perubahan sikap Nathan yang begitu drastis, Nathan justru menarik tangan Acha pelan dan mengambil keputusan yang membuat Acha semakin kebingungan.

"Mendingan kita balik lagi ke Timezone aja. Koin permainan kita kan masih ada sisa banyak di kartu, sayang kalau nggak dihabisin sekarang," ujar Nathan dengan nada datar yang terkesan mengalihkan pembicaraan, seolah-olah kabar darurat tentang kakaknya barusan tidak pernah ada.

Acha terdiam, merasa ada sesuatu yang sangat janggal dan rumit di balik sikap tertutup Nathan terhadap keluarganya. Namun, melihat ketegasan di mata pemuda itu, Acha memilih untuk tidak mendesak.

Dengan perasaan campur aduk antara penasaran dan cemas, Acha hanya bisa mengangguk pelan dan menuruti permintaan Nathan untuk kembali ke area permainan.

Suasana bising dan lampu warna-warni yang berkedip di area Timezone sama sekali tidak mampu mengalihkan pikirannya Nathan.

Jarinya yang memegang kendali permainan terasa kaku, dan tatapannya kosong menatap layar mesin arcade yang menyala terang.

Permainan demi permainan dilewati tanpa jiwa. Koin-koin yang tadinya ingin dihabiskan justru menumpuk sia-sia di dalam kartu karena Nathan hanya berdiri mematung, tenggelam dalam lamunannya yang pekat.

Bayangan tentang kabar rumah sakit itu terus berkelebat di kepalanya, berbenturan dengan ego dan luka lamanya.

Acha, yang sejak tadi mengamati gerak-gerik kekasihnya, merasakan kejanggalan yang semakin menjadi.

Dia tahu betul, raga Nathan memang ada di hadapannya, tetapi pikiran pemuda itu sudah melayang jauh entah ke mana.

Dengan lembut, Acha menyentuh lengan Nathan untuk menghentikan lamunannya. "A... Aa dari tadi melamun terus. Ada apa? Kalau aa masih memikirkan soal teteh aa di rumah sakit, kita beneran nggak apa-apa kok kalau harus ke sana sekarang," ucap Acha tulus, menyiratkan kepekaan dan dukungan penuh.

Mendengar pertanyaan itu, Nathan tersadar dari dunianya sendiri. Dia menatap mata Acha lekat-lekat, menemukan ketulusan yang justru membuat dadanya semakin sesak.

Nathan tahu, dia tidak bisa terus berpura-pura di hadapan gadis ini. Namun, untuk menceritakan yang sebenarnya, lukanya masih terlalu berat untuk diungkapkan.

Nathan menggeleng pelan, lalu menghembuskan napas berat. "Nggak, Cha... Bukan itu. Aku cuma... tiba-tiba merasa nggak enak badan," alibinya dengan suara pelan, mencoba menutupi gemetar di jemarinya.

"Maaf ya. Kayaknya kita pulang saja sekarang."

Acha menatap wajah Nathan yang tampak begitu lelah dan menyimpan beban berat. Tanpa banyak bicara atau melontarkan protes, Acha mengangguk pengertian.

Dia tahu kapan harus mendesak, dan kapan harus memberikan ruang bagi Nathan untuk bernapas.

"Iya, nggak apa-apa, A. Yuk, kita pulang," jawab Acha lembut sambil merapikan tasnya dan menggenggam tangan Nathan erat, seolah ingin meyakinkan bahwa dia akan selalu ada di samping pemuda itu, apapun badai yang sedang disembunyikannya.

Perjalanan pulang di dalam motor terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Suara deru angin berhembus masuk ke dalam wajah Acha yang pelan.

Nathan fokus mengendarai dengan pandangan lurus ke depan, sementara Acha sesekali mencuri pandang, memerhatikan rahang kekasihnya yang mengeras pertanda dia sedang menahan beban pikiran yang berat.

Tidak butuh waktu lama hingga motornya Nathan akhirnya berhenti tepat di depan halaman rumah Acha. Mesin motornya dimatikan, namun suasana di dalam kabin masih menyisakan kecanggungan yang pekat.

Sebelum Acha sempat membuka pintu, Nathan lebih dulu menoleh pelan. Tidak ada senyuman di wajahnya, hanya sorot mata lelah yang menyembunyikan ribuan kata tak terucap.

"Cha... Aku langsung pulang ya. Maaf banget nggak bisa mampir dulu," pamit Nathan dengan nada suara yang terdengar berat dan serak.

Acha menatap pria di hadapannya itu dengan lekat. Di dalam hatinya, rasa penasaran dan kekhawatiran tentu berkecamuk hebat.

Namun, melihat betapa kacaunya kondisi mental Nathan hari ini, Acha memutuskan untuk menepis semua ego dan rasa ingin tahunya.

Dia tidak mau menambah beban pikiran Nathan dengan rentetan pertanyaan atau tuntutan.

Dengan senyuman tipis yang menenangkan, Acha mengangguk pelan. "Iya, A, nggak apa-apa kok. Aa nggak usah mikirin itu," jawab Acha tulus seraya meraih tangan Nathan sejenak untuk memberikan usapan lembut.

"Aa juga istirahat ya di rumah. Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa kabari aku."

Nathan mengangguk pelan, seolah merasa sedikit lega karena Acha begitu pengertian dan tidak banyak menuntut. Setelah berpamitan singkat,

Acha pun melambaikan tangan saat motornya Nathan perlahan mundur meninggalkan halaman rumahnya, membawa serta sejuta rahasia yang masih enggan dibagi.

Be to continued

1
falea sezi
dua dua nya 🤣 goblok
falea sezi
g suka karakter aca yg menye lemah semua di fikir🤣🤣🤣 oon apalagi karakter nathan beeehhh lemah bgt jd cowok. pake rok aja lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!