Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tergawakan
Pagi itu, jarum jam dinding besar di ruang tengah tepat menunjukkan pukul sembilan. Rindu melangkah keluar dari kamar utama dengan pakaian rapi, elegan, dan riasan tipis yang dipoles dengan sangat rapi.
Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seorang wanita yang hatinya baru saja diremukkan hingga hancur berkeping-keping semalam.
Dengan langkah mantap, Rindu menuruni anak tangga satu per satu. Suara hak sepatu tingginya yang mengetuk anak tangga kayu menggema di tengah keheningan rumah besar itu, seolah menegaskan keberanian dan keputusan bulat yang tak bisa lagi ditawar-tawar.
Di bawah, Ratna yang sedang duduk santai di meja seraya menikmati cangkir teh hangatnya seketika menoleh.
Melihat Rindu turun dengan penampilan amat rapi dan tas tangan tersampir anggun di bahunya, mata wanita tua itu memicing.
Raut wajahnya mendadak keruh, menyunggingkan senyum sinis yang penuh dengan rasa ketidaksukaan yang amat mendalam.
"Mau ke mana kamu pagi-pagi begini?" tanya Ratna dengan nada suara melengking dan ketus, tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikan rasa jijik di raut wajahnya.
Ratna menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Rindu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan, persis seperti keyakinannya semalam bahwa Rindu hanya sedang bersandiwara demi menarik perhatian.
"Gaya amat pakai baju rapi segala. Mau keluyuran ngabisin uang anak saya lagi? Atau mau acting kabur dari rumah biar dikasihanin Arsen?"
Rindu menghentikan langkahnya tepat di pijakan tangga terakhir. Ia memutar tubuh menghadap Ratna.
Tatapan matanya lurus, dingin, dan benar-benar kosong dari rasa hormat yang dulu selalu ia persembahkan untuk ibu mertuanya itu. Tak ada lagi kelembutan Rindu yang mengalah, tak ada lagi senyum manut yang biasa ia sunggingkan.
"Aku mau ke pengadilan," sahut Rindu singkat, padat, dan datar. Suaranya bergema begitu jernih dan berani di ruang tengah yang luas itu.
"Apa?!" Ratna terbelalak, cangkir di tangannya hampir saja terlepas dan membasahi meja.
Di saat yang bersamaan, pintu kamar tamu di lantai bawah mendadak terbuka. Arsen, yang baru saja terbangun dengan mata merah, melangkah keluar.
Wajahnya begitu kusut setelah semalaman tak bisa memejamkan mata karena terus meratapi kesalahannya.
Pria itu membeku seketika di tempatnya berdiri. Kalimat singkat yang keluar dari bibir Rindu terdengar begitu jelas di telinganya, menghantam kesadarannya bagaikan petir di siang bolong.
Pengadilan.
Suara itu terus bergaung memekakkan telinga di dalam kepala Arsen, meruntuhkan seluruh pertahanan dan harapannya.
Arsen langsung panik setengah mati. Rasa takut kehilangan yang amat sangat menjalar cepat, menguasai seluruh aliran darah dan persendiannya.
Tanpa memedulikan penampilannya yang masih berantakan dengan kaus kusut, Arsen berlari menghampiri Rindu dengan langkah tergesa-gesa dan tak beraturan.
"Rindu! Nggak, Rindu! Kamu nggak boleh pergi!" Kata Arsen, suaranya parau dan bergetar hebat. Pria itu langsung memburu ke hadapan Rindu, mencoba menggapai kedua tangan istrinya dengan jemari yang gemetar.
"Aku mohon, Sayang... jangan ke pengadilan! Jangan lakukan ini pada pernikahan kita! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!"
Ratna yang tersadar dari kagetnya ikut bangkit dari kursi makan, wajahnya memerah padam antara syok dan emosi yang meluap-luap.
"Rindu! Kamu benar-benar nekat ya?! Kamu pikir kamu siapa, berani-beraninya mau menggugat cerai anak saya?!"
Namun, Rindu sama sekali tidak bergeming. Ia melangkah mundur satu tindak, menghindari sentuhan Arsen seolah-olah kulit pria itu adalah racun yang paling mematikan.
Tatapannya pada Arsen terasa sangat membekukan, memutus habis sisa-sisa benang cinta yang pernah ada di antara mereka. Perceraian ini bukan lagi sekadar ancaman, ini adalah akhir dari segalanya.
"Kenapa aku nggak berani?" tantang Rindu dengan senyum miring yang teramat dingin.
Matanya menatap tajam bergantian ke arah Ratna dan Arsen, tanpa ada sedikit pun rasa takut yang tersisa.
"Arsen saja berani mengkhianati kepercayaan aku dan menikah diam-diam di belakangku, lalu atas dasar apa Mama berpikir aku nggak akan berani mengakhiri kebohongan ini di pengadilan?"
Kata-kata itu menghantam ruangan bagai hantaman gada yang sangat keras. Ratna membeku, tak menyangka menantu yang selama ini penurut dan lembut bisa melemparkan tatapan mematikan seperti itu. Arsen pun kian gemetar, kehabisan kata-kata untuk membela diri.
Di tengah ketegangan yang mencekam itu, suara langkah kaki santai dari arah tangga lantai dua memecah keheningan.
Dinda, adik kandung Arsen, turun dengan langkah malas. Rambutnya masih sedikit berantakan, mengenakan pakaian tidur, dan mulutnya terbuka lebar menguap lebar-lebar.
Namun, menguapnya terhenti seketika di udara saat telinganya menangkap percakapan panas yang tengah berlangsung di bawah. Matanya yang semula layu mendadak membelalak lebar.
"Apa?! Kak Arsen... nikah lagi?!" seru Dinda penuh keterkejutan, suaranya melengking membelah ruangan.
Pernyataan itu menggantung di udara selama beberapa detik, sebelum akhirnya wajah Dinda yang terkejut berubah menjadi cengiran lebar yang dipenuhi rasa puas.
Bukannya bersimpati atau merasa prihatin atas hancurnya rumah tangga sang kakak, Dinda justru meledak dalam tawa lepas yang begitu meledak-ledak.
"Bhaahaha! Seriussan?! Kak Arsen nikah lagi?!" tawa Dinda pecah, menggema di seluruh sudut ruang tengah.
Ia berjalan menuruni sisa anak tangga seraya bersedekap dada, menatap Rindu dengan sorot mata merendahkan yang sangat kentara.
Dinda tertawa terbahak-bahak, benar-benar mentertawakan nasib tragis Rindu. Rasa benci dan iri yang selama ini ia pendam pada Rindu seolah terbayarkan secara tuntas pagi ini.
"Aduh, kasihan banget sih kamu, Mbak Rindu!" ejek Dinda tanpa belas kasihan.
Ia mengelilingi Rindu seraya memandangnya dari atas ke bawah, seolah Rindu adalah lelucon paling menggelikan yang pernah ia lihat.
"Makanya, jadi wanita itu yang berguna! Tiga tahun nikah tapi nggak bisa ngasih Kak Arsen keturunan, ya pantas lah Kak Arsen cari wanita lain yang lebih subur! Lagian siapa juga yang mau tahan sama wanita mandul mbak?"
Arsen yang mendengar ejekan tajam adiknya langsung menoleh dengan mata memerah penuh emosi.
"Dinda! Diam kamu! Nggak usah ikut campur!" bentak Arsen keras, namun Dinda hanya mengibaskan tangannya santai, tidak peduli.
"Elah, Kak! Kenapa harus dibela sih?" cibir Dinda tajam, lalu kembali mengarahkan pandangan penuh ejekan pada Rindu.
"Sok-sokan mau nuntut cerai lagi. Mau gaya-gayaan keluar dari rumah ini? Paling juga sebentar lagi kelaparan di jalanan. Jangan sampai ya, begitu keluar dari rumah mewah ini, Mbak Rindu malah merangkak balik lagi ke sini sambil nangis-nangis minta ditampung!"
Ratna yang melihat Dinda ikut menyudutkan Rindu justru tersenyum puas, mendukung setiap jengkal ejekan yang keluar dari mulut putri bungsunya.
Di tengah cercaan dan gelak tawa yang begitu merendahkan itu, Rindu hanya berdiri tegak. Tak ada satu tetes pun air mata yang jatuh.
Wajahnya tetap tenang bagaikan telaga yang membeku, menatap satu per satu anggota keluarga penindas itu dengan pandangan penuh cemoohan balik.
banyak² berdoa aja dinda & Ratna,semoga saja kalian tidak mengalami apa yang di alami rindu.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹