Indonesia
NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan yang memiliki waktunya sendiri

Setelah kembali dari masjid, semua menikmati makanan yang telah disiapkan oleh pak Rahman dan anaknya. Tidak ada obrolan pembahasan sebelumnya. Tanpa ada kesepakatan khusus, mereka seperti sudah tahu masing-masing bahwa pembahasan itu akan menemukan waktunya kembali. Dengan situasi dan kondisi yang lebih tepat, bukan sambil mengerjakan kegiatan lainnya.

Selesai makan, semua kembali duduk di ruang tamu rumah pak Rahman. Pak Rahman menyandarkan tubuhnya.

"Jejak?" Beliau tiba-tiba berkata.

"Apakah ada jejak yang kamu temui mas Bima?"

Bima langsung mengangguk.

"Itu yang lebih aneh. Ada jejak kaki. Jejak manusia. Tapi tidak pernah ada orang yang membuatnya."

Bima menatap lantai.

"Saya pernah mengikuti jejak itu karena berpikir mungkin saya akan menemukan rombongan. Tapi jejaknya tiba-tiba berhenti. Begitu saja. Tidak berbelok. Tidak kembali. Hanya berhenti."

Ruangan semakin sunyi.

Bima kemudian menunjuk carrier milik Rasyid.

"Saat itu saya masih membawa carrier. Isinya sudah semakin sedikit. Makanan tinggal beberapa. Air juga terbatas. Saya mulai berpikir bagaimana caranya bertahan."

Bima tersenyum kecil.

"Lalu saya melakukan sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat."

"Apa?" tanya Arga.

"Saya meninggalkan carrier."

Semua orang terkejut.

"Sengaja?" tanya Dedi.

"Iya."

Bima mengangguk.

"Saya terlalu lelah. Saya ingin berjalan lebih cepat. Jadi saya meletakkannya di dekat sebuah pohon. Saya membawa beberapa barang penting saja. Kemudian saya pergi."

"Berapa jauh?"

"Mungkin sekitar beberapa ratus meter."

Bima mengernyit.

"Saya tidak tahu. Lalu saya berubah pikiran. Saya kembali mengambil carrier."

Bima terdiam cukup lama.

"Dan saat saya kembali..."

"Apa?" tanya Pak Rahman.

Bima menatapnya.

"Isinya bertambah. Yang saya ingat, sebelumnya makanan saya hampir habis. Tapi ketika saya kembali, ada beberapa bungkus makanan. Ada air. Logistik saya justru bertambah. Saya bahkan sempat berpikir mungkin ada orang yang menolong. Tapi kalau memang ada orang..." Ia berhenti.

"...kenapa tidak ada siapa-siapa?"

Arga menatap carrier di lantai.

"Apakah itu terjadi sekali?"

Bima mengangguk.

"Iya, sekali."

Pak Rahman mengusap dagunya.

"Itu Arga. Dia memang menambahkan makanan pada carrier yang kami temukan di hutan sisi utara rawa."

Bima mengangguk.

"Iya, saya sudah tahu fakta itu juga dari Arga."

Ia menunduk.

"Saat itu saya justru merasa takut. Karena tidak ada jejak siapapun, dan saya tidak berani membuka logistik tambahan itu. Meski rasa haus datang."

Kemudian Bima melanjutkan perjalanan.

"Saya terus berjalan. Hanya beberapa menit. Setidaknya begitulah yang saya rasakan. Saya melihat sesuatu yang berbeda. Hutan bambu."

Pak Rahman kembali mengangkat kepala. Cerita ini cukup familiar. Arga pun saat ditemukan dulu, mengaku telah dari hutan bambu sebelum menemukan kebun kopi warga.

"Saya menemukan hutan bambu yang sangat rapat. Awalnya saya kira itu jalan keluar. Ternyata justru semakin sulit." Bima memejamkan mata.

"Saya masuk. Bambu di sana tinggi sekali. Suasananya gelap meskipun saat itu saya yakin masih siang. Anginnya hampir tidak terasa."

"Dan anehnya..." Ia membuka mata.

"...suara langkah yang selama ini mengikuti saya tidak terdengar lagi."

Arga berbisik,

"Jadi suara itu hilang?"

"Iya."

Bima mengangguk.

"Benar-benar hilang."

"Seolah-olah saya sudah masuk ke tempat yang tidak bisa diikuti olehnya."

Bima kemudian tersenyum tipis.

"Setelah melewati hutan bambu itu, saya menemukan jalan. Jalan lebar." Bima menggeleng seolah masih sulit mempercayainya.

"Lebar sekali dibandingkan jalur yang selama berhari-hari saya lewati. Dan di sana ada kendaraan. Mobil logistik."

Arga tersenyum kecil.

"Mobil itu yang membawaku keluar."

Bima mengangguk.

"Dan di situlah saya bertemu Arga."

Ia menatap Arga.

"Saya naik ke mobil itu. Saya pikir semuanya selesai." Bima tertawa kecil.

"Saya pikir saya hanya hilang beberapa hari." Kemudian senyumnya menghilang.

"Sampai saya keluar."

Ia menatap Dedi.

"Dan saya menemukan kenyataan bahwa saya sebenarnya sudah hilang..." Bima berhenti.

"...tiga puluh tahun."

Arga menunduk.

Pak Rahman tidak bergerak. Keterkejutan nya bahkan sampai membuat tubuhnya membeku beberapa saat.

Bima melanjutkan.

"Awalnya saya tidak percaya. Saya pikir mereka salah orang. Saya pikir mungkin ada kesalahan tanggal. Tapi semua bukti mengarah pada satu hal."

Ia mengangkat tiga jarinya.

"Tiga puluh tahun."

Bima kemudian menatap Dedi.

"Padahal saya hanya merasa pergi empat atau lima hari."

Dedi tersenyum getir.

"Dan saya sudah berubah seperti ini." Ia menunjuk dirinya sendiri.

Bima menatap kakaknya cukup lama.

"Selisih umur kami hanya tiga tahun." Ia menghela napas.

"Ketika saya hilang, kami masih sama-sama muda. Sekarang kang Dedi..." Bima menunjuk Dedi di sampingnya.

"...sudah hampir jadi kakek-kakek."

Dedi tertawa kecil. Tawa yang justru terdengar sedih.

"Sedangkan kamu masih seperti orang yang baru pergi beberapa hari."

Bima mengangguk.

"Itulah yang tidak bisa saya pahami."

Ia melihat tangannya sendiri.

"Tubuh saya tidak menua. Ingatan saya tidak melewati tiga puluh tahun. Saya tidak merasa hidup tiga puluh tahun. Saya hanya merasa menjalani empat atau lima hari."

Pak Rahman menatap Bima dalam-dalam.

"Dan kamu yakin tidak ada bagian waktu yang hilang dari ingatanmu?"

Bima menggeleng.

"Kalau ada, saya tidak tahu."

Ia menatap kamera Bayu.

"Kemungkinan itu yang paling menakutkan." Bima kemudian melihat carrier Rasyid.

"Karena kalau saya bisa keluar setelah empat atau lima hari..."

Ia terdiam.

"...bagaimana dengan Bayu dan Rasyid?"

Tidak ada yang menjawab. Bima mengusap wajah.

"Mungkin bagi kita mereka sudah hilang puluhan tahun. Tapi bagi mereka..." Ia menatap gelapnya jendela.

"...mungkin baru beberapa hari."

Pak Rahman berdiri perlahan. Ia berjalan menuju jendela. Di luar, malam semakin gelap. Bau rawa masih terasa.

"Kalau begitu," katanya pelan, "kita harus berhenti menghitung waktu dengan cara kita."

Bima menatapnya.

Pak Rahman melanjutkan,

"Karena mungkin hutan itu punya cara sendiri untuk menghitung waktu."

Dedi memandang adiknya. Bima kembali menatap kamera Bayu. Dan untuk pertama kalinya, muncul sebuah kemungkinan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar kehilangan.

Bagaimana jika Bayu dan Rasyid sebenarnya masih hidup?

Bagaimana jika mereka hanya merasa sudah berjalan beberapa hari?

Dan bagaimana jika...

mereka masih berada di dalam hutan itu sekarang?

1
Seorang Awan Jenggot
Arga mana ?🤭
halwa diyah
/Scowl/
Seorang Awan Jenggot
lanjutttttttttttttttt
halwa diyah: siaaap
total 1 replies
Suci Fatana
bab yg nguras air mataku
Suci Fatana
haaah ikut deg deg an akuuu
Seorang Awan Jenggot
lanjutkan thor😍
halwa diyah: siaaap
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
Mantap Thor 👍
halwa diyah: Terimakasiiiih 😍
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
Makin seru makin menegangkan...😍
halwa diyah: Selanjutnya kuusahakan buat lebih seru lagi kak. terimakasih dukungan nya
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
Mantap
halwa diyah: Terimakasih kak
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
cerita yg bagus, cuma kok sedikit yg berpartisipasi, kurang promo kali, sangat disayangkan ceritanya menggantung ga ada kelanjutan...

banyak orang klw mau baca, mereka lihat dulu ini cerita tamat atau tidak. klw tidak mereka jadi malas membacanya.

masukan buat author, tamatin aja ceritanya. saya tahu di luar sana banyak yg mengintip cerita ini tapi Krn menggantung mrk JD malas..😍
Suci Fatana: ceritanya aku sangat suka
total 4 replies
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!