Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Langit yang Sama
Buket bunga liar berukuran mungil itu terulur di depan Lily. Sederhana kelopak-kelopak kecil yang dirangkai agak sedikit berantakan, namun tersusun rapi dengan balutan rumput panjang di bagian tangkainya.
"Nih, Kak," ucap Malik singkat, menyunggingkan senyum tipis seraya menatap Lily.
Lily sempat mematung selama beberapa detik. Jemarinya menggantung di udara sebelum akhirnya terulur menerima ikatan bunga itu. Wajahnya menumpahkan rasa terkejut yang tak sempat ia sembunyikan.
"Eh... makasih ya, Lik," gumam Lily pelan.
Malik mengangguk puas, senyumannya makin lebar mendapati respons canggung dari gadis di depannya.
Di sisi lain, Rafa yang melihat kejadian itu langsung menyenggol lengan Javin cukup keras. Suara tawa jahilnya membumbung memecah keheningan sore.
"Aduh, aduh! Kasihan banget ada yang ditikung anak SMA! Keduluan lo, Vin! Gimana sih, kurang sat-set banget jadi cowok!"
Javin terkekeh santai, merapikan letak topi di kepalanya tanpa terlihat panik sedikit pun. Matanya melirik ke arah Lily yang masih memegang buket bunga, lalu beralih menatap Rafa dengan dagu terangkat percaya diri.
"Tenang aja, Raf," celetuk Javin santai. "Besok gue beli lahan sekalian, terus gue tanam bunga khusus satu hektar cuma buat Lily. Bukan cuma metik bunga liar di pinggir bukit begini."
"Halah, gombalan mu tak bernilai, Bang!" sahut Wafa tiba-tiba.
Tanpa aba-aba, Wafa melangkah maju dan pasang badan tepat di depan Lily. Kedua tangannya direntangkan lebar-lebar, menutupi pandangan Javin yang tertuju pada kakaknya. Matanya memelototi Javin dengan raut wajah sok galak yang justru terlihat menggemaskan.
"Jangan harap bisa dapetin Lily ya, Bang Javin!" seru Wafa lantang.
"Cemburu kan adiknya!" sahut Owen dari samping sambil menepuk-nepuk pahanya sendiri, memicu gelak tawa heboh dari Malik dan Rafa.
"Bukan cemburu, Kak Owen! Tapi Kak Lily ini mahal, enggak bisa dibandingin sama lahan satu hektar doang!" potong Wafa tak mau kalah, walau bibirnya yang pucat tak bisa menyembunyikan tawa yang ikut terkembang.
"KAKAK! KESINI DEH, LANGITNYA BAGUS BANGET!"
Teriakan melengking dari arah puncak bukit kecil mendadak menghentikan perdebatan konyol itu.
Ell berdiri di atas gundukan rumput paling tinggi, melambai-lambaikan kedua tangannya ke udara seraya menunjuk ke arah horizon.
Mendengar seruan si bontot, rombongan anak muda itu langsung berbondong-bondong melangkah naik. Wafa melepaskan penjagaannya pada Lily, membiarkan Malik dan Rafa merangkul lengannya dari samping untuk membantunya menaiki bukit kecil yang meliuk tersebut.
Begitu mereka tiba di puncak bukit, embun sore dan angin laut yang berembus pelan menyapa wajah mereka. Di hadapan mereka, semburat warna jingga, keemasan, dan keunguan membentang luas di atas langit pantai.
Matahari pelan-pelan merayap turun, membiaskan cahaya keemasan di atas permukaan air sungai dan deretan pohon pinus.
Lily memejamkan mata sejenak, meresapi kehangatan angin sore, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara.
"BAGUS BANGET!!" teriaknya lepas, membiarkan suaranya bergema bersama lautan angin.
Di sebelah Lily, Wafa berdiri mematung. Angin sore mengibaskan rambutnya yang sedikit basah oleh keringat dingin. Tatapannya terkunci pada bentangan langit jingga di atas sana.
Binar mata yang tadinya jahil meluruh, berganti dengan sorot keheningan yang begitu dalam.
'Tunggu Wafa sebentar lagi ya, Mih...' bisik Wafa dalam hatinya. Jemarinya di dalam saku jaket meremas kain dengan erat, menahan rasa sesak yang perlahan mengetuk dadanya.
Tidak jauh dari sana, Owen tidak memandang ke arah langit. Matanya justru tertuju pada sosok adiknya yang berdiri diam memandangi awan. Owen bisa melihat betapa tipisnya bahu Wafa di balik jaket tebal itu, dan betapa pelannya napas yang dihela oleh sang adik.
Owen memejamkan mata rapat-rapat, mengutarakannya dalam keheningan yang pekat. 'Izinin Wafa hidup lebih lama ya, Mih... Tolong beri kita waktu sedikit lebih banyak lagi.'
"Wah! Langitnya bagus banget!"
Suara serak khas paruh baya memecah keheningan.
Jaya baru saja menyusul naik ke atas bukit dengan napas yang agak terengah-engah setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Papi!" jerit Ell gembira. Anak bungsu itu langsung berlari kencang menerjang Jaya, memeluk pinggang sang ayah dengan erat.
Jaya menepuk-nepuk punggung anak bungsunya, namun matanya menatap lurus ke arah pemandangan matahari terbenam yang terpantul indah di sungai. Kenangan tujuh tahun lalu mendadak berputar hebat di kepalanya. Tanpa sadar, mata Jaya berkaca-kaca.
"SAYANG..... TEMPAT INI MASIH SAMA KAYAK DULU SEBELUM KAMU PERGI...!" teriak Jaya ke arah langit lepas, menyuarakan kerinduan yang bertahun-tahun ia simpan rapat-rapat di dadanya.
Suasana mendadak diliputi kehangatan yang haru. Semua anak-anaknya Owen, Rafa, Lily, Wafa, dan Ell tersenyum hangat memandangi sosok ayah mereka yang jujur memperlihatkan perasaannya.
Rafa merangkul bahu Papinya dari samping, lalu berbisik pelan seraya tersenyum menatap langit. "Mami pasti bisa lihat dari surga, Pih. Mami pasti lagi senyum juga ngelihat kita di sini."
Di belakang mereka, Sean tidak mau kehilangan momen emosional tersebut. Ia mengangkat kamera yang melingkar di lehernya, membidik siluet keluarga itu yang berdiri sejajar membelakangi matahari terbenam.
Klek!
Klek!
Suara jepretan kamera berbunyi, mengabadikan kebersamaan yang tak ternilai harganya.
"Nanti malam kita bakar marshmallow ya, Kak!" seru Ell antusias sambil melepaskan pelukannya dari Jaya dan menoleh pada Owen.
Owen tersenyum lebar, mengusap puncak kepala Ell gemas. "Harus dong! Camping enggak lengkap kalau enggak ada marshmallow bakar sampai gosong!"
Malam pun jatuh sepenuhnya. Kegelapan hutan pinus dihanyutkan oleh pijar keemasan dari lidah api unggun yang menari-nari di tengah area perkemahan. Suara gemertak kayu terbakar beradu manis dengan gesekan daun-daun pinus yang ditiup angin malam.
Mereka duduk melingkar di atas kursi lipat dan tikar tebal. Asap tipis yang membawa aroma manis dari marshmallow yang mulai meleleh di ujung tusukan kayu membumbung tinggi.
Owen memegang gitar akustik kesayangannya, memetik dawai baja itu hingga menghasilkan nada-nada instrumental yang hangat.
"Ayo dong, Ly, nyanyi! Jangan cuma ngemil marshmallow doang!" goda Javin yang duduk di sebelah perapian seraya memutar tusukan kayu marshmallow-nya agar tak terlalu gosong.
"Ih, malu tau!" sahut Lily sambil mengunyah marshmallow hangatnya.
"Udah, Ly, sikat aja! Suara lo kan lumayan daripada suaranya Bang Rafa kayak kaleng rombeng," celetuk Wafa yang duduk berselimutkan sarung tebal di samping Lily.
"Heh! Enak aja! Suara gue ini standar vokalis band papan atas ya!" omel Rafa tak terima.
"Ayo, Kak Lily! Sama Bang Wafa juga!" dorong Ell dari sudut tikar.
Lily akhirnya tertawa pelan, lalu mulai menyanyikan bait pertama dengan suaranya yang lembut dan jernih. Tak disangka, Wafa menyambut nada tersebut di bait kedua. Suara Wafa yang agak berat, hangat, dan serak-serak basah masuk dengan sangat pas, membentuk harmonisasi duet yang mengalun indah di tengah sunyinya malam.
Semua orang di sekeliling api unggun terpukau sejenak. Sean memanggul kameranya untuk mengabadikan momen duet itu, Javin menepuk-nepuk tangannya mengikuti irama, dan Rafa tersenyum lega menatap Wafa yang tampak begitu menikmati malam itu tanpa beban.
Di kursi utama, Jaya bersandar nyaman seraya menyeruput kopi hitamnya. Matanya menatap wajah anak-anaknya satu per satu yang saling tertawa, bernyanyi, dan melempar lelucon.
Di bawah naungan langit malam berhias ribuan bintang, hangatnya kebersamaan itu seolah menyapu habis rasa lelah dan dingin yang menusuk tulang.
---
Pagi hari di area perkemahan dengan kabut tipis yang merayap di antara batang-batang pohon pinus. Udara dingin khas pegunungan masih menusuk tulang saat Jaya dan Lily sudah berkutat di depan perapian.
Di atas panci sedang, Jaya sibuk mengaduk sup ayam hangat yang dicampur wortel dan kentang. Aroma gurih rempah serta kaldu ayam yang membumbung tinggi bercampur asap perapian seketika mengalahkan dinginnya udara pagi.
Dari balik tirai tenda utama, Ell melangkah keluar dengan tubuh sempoyongan. Matanya masih terpejam sebelah, berusaha mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya sambil terus menggaruk pipinya yang sedikit memerah.
"Selamat pagi..." sapa Ell dengan suara serak khas bangun tidur.
Jaya mendongak, menyunggingkan senyum hangat melihat anak bungsunya yang masih linglung. "Pagi, Adek. Udah bangun? Duduk dekat perapian sini biar hangat."
Ell melangkah perlahan dan langsung duduk berjongkok tepat di samping Jaya. Ia mengulurkan kedua tangannya ke dekat bibir perapian, berusaha mencari sisa-sisa kehangatan dari nyala api.
"Nyenyak enggak tidurnya?" tanya Lily lembut.
Ell hanya mengangguk pelan. "Nyenyak... cuma ada nyamuk aja," gumam Ell sambil mengusap pipinya.
"Ya namanya juga di hutan, Sayang," ujar Jaya terkekeh pelan seraya mengusap kepala anak bungsunya itu.
Tak lama kemudian, tirai tenda kembali tersingkap. Wafa melangkah keluar dengan gaya yang tak jauh beda rambutnya mencuat acak-acakan ke segala arah, jaketnya terpasang asal-asalan, dan wajahnya masih dipenuhi rasa kantuk.
"Eh... yang lain pada ke mana, Pih?" tanya Wafa dengan suara berat dan serak.
Jaya mengibaskan sendok sayur di tangannya menuju ke arah hilir. "Pada main di sungai tuh dari subuh. Sana kalau mau ikut, tapi ingat ya, jangan celupin kepala kayak kemarin lagi!"
Tanpa menunggu diperintah dua kali, rasa kantuk Wafa dan Ell menguap begitu saja. Keduanya langsung berhamburan menuju tepi sungai.
Di sana, suasana sudah sangat ramai dan bising oleh gelak tawa. Anak-anak laki-laki sudah membasahi seluruh tubuh mereka, melompat dan bergulat di dalam air sungai yang bening.
"Minggir lo, Vin! Gue mau lompat dari atas batu nih! Awas kena cipratan!" seru Rafa sesumbar dari atas batu kali yang tinggi.
"Jangan loncat di situ, Raf! Dangkal!" teriak Javin dari bawah.
BYURRR!
Rafa mengepakkan kakinya dan melompat bebas, menciptakan cipratan air raksasa yang sukses membasahi Javin.
Di sudut lain, perang air sengit sedang terjadi antara Sean dan Malik. Malik terus-menerus memukulkan telapak tangannya ke permukaan air, menyemprotkan gelombang air ke arah Sean tanpa ampun.
"Stop, Lik! Ampun! Gila lo ya!" pekik Sean terbatuk-batuk, tubuhnya sampai terhuyung-huyung dan nyaris jatuh telentang sepenuhnya ke dalam sungai.
"Wah, bener-bener ya kalian! Kenapa enggak bangunin gue sama Ell, sih?!" seru Wafa dari atas tebing kecil sungai sambil bersedakap.
Malik mendongak, menyeringai seraya menyapu basah rambutnya ke belakang. "Kita udah gedor tenda lo tiga kali kali, Waf! Lo-nya aja yang tidur udah kayak kebo, enggak bangun-bangun!"
Mata Ell berbinar-binar melihat keseruan di depan matanya. Rasa dingin menguap berganti antusiasme yang membuncah. Tanpa aba-aba, anak bontot itu langsung berlari turun menuruni jalanan rumput yang miring.
"Hati-hati, Ell! Bebatuannya licin!" seru Owen panik dari pinggir sungai, siap siaga menangkap tubuh adik bungsunya jika terpeleset.
Hari baru itu pun dipenuhi riuh tawa. Mereka semua asyik bermain air bersama, saling lempar, berenang, hingga bertanding siapa yang paling tahan berdiri di bawah kucuran air terjun kecil.
Di tengah pertempuran air yang makin seru, Rafa melempar ide baru seraya mengusap air dari matanya. "Eh, nanti jam dua siang kita ke pantai yuk! Dekat sini kan ada pantai bagus tuh!"
"Setuju banget Bang!" sahut Malik dan Javin kompak.
Mereka terus bermain air sampai puas, mengabaikan rasa dingin yang pelan-pelan menggerogoti. Baru ketika jari-jari tangan dan kaki mereka mulai keriput hebat serta bibir mulai membiru, mereka menyerah dan menyusuri jalan kembali ke area tenda.
Langkah mereka tertatih-tatih dengan gigi yang berkerotok hebat menahan dingin yang meresap ke tulang.
"Udah puas main airnya?" goda Lily yang sedang merapikan piring. Ia tertawa lepas melihat keadaan malang rombongan laki-laki yang basah kuyup dan menggigil hebat itu.
"Ganti baju dulu sana semuanya, habis itu sarapan. Papi udah masakin sup hangat tuh," ujar Jaya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak-anaknya.
Setelah berganti pakaian tebal dan kering, mereka semua duduk melingkar di tikar besar. Asap hangat dari panci sup ayam bercampur taburan daun bawang dan bawang goreng membumbung tinggi, menyebarkan aroma yang menggugah selera. Mangkuk-mangkuk plastik berpindah tangan dengan cepat.
"Nih, Wafa, Lily... mangkuknya sini Papi tuangin," panggil Jaya seraya menuangkan kuah sup yang masih mengepul panas ke mangkuk anak-anaknya.
Wafa langsung menyeruput kuah sup itu perlahan dari sendoknya. Kehangatan rempah dan gurihnya kuah seketika mengalir turun membasahi kerongkongannya, menyapu bersih rasa dingin yang sempat menjalar di dadanya.
"Ah... mantap banget, Pih! Hidung Wafa yang mampet langsung plong nih!" puji Wafa sambil tersenyum lebar.
"Bener Om, kuahnya pas bange, habis dingin-dinginan di sungai," timpal Javin ikut menikmati sup buatan Jaya.
"Aduh, nikmat banget rasanya," celetuk Sean sambil menyuap potongan kentang dan daging ayamnya.
"Makanya, dibilangin jangan kelamaan di air," sahut Lily seraya menuangkan teh hangat ke cangkir Wafa. "Nih, minum dulu Waf, bibir lo masih agak pucat itu."
"Makasih, Kanjeng Mami," gumam Wafa terkekeh pelan sebelum menyeruput tehnya.
Rafa yang sedang mengunyah kerupuk tiba-tiba menoleh ke arah Jaya yang duduk bersandar di kursi lipatnya.
"Oh iya, Pih," buka Rafa memecah percakapan sarapan mereka. "Nanti siang sekitaran jam dua, kita-kita rencana mau geser main ke pantai dekat sini. Papi ikut nggak?"
Jaya menghentikan suapannya sejenak, mengulas senyum tipis lalu menggeleng pelan. "Aduh, kayaknya Papi enggak bisa ikut main ke pantai deh, Raf."
"Lho? Kenapa, Pih? Kan seru kalau Papi ikut," timpal Ell menatap ayahnya dengan wajah kecewa.
Jaya mengusap kepala Ell dengan penuh kasih sayang. "Papi tadi pagi dapat telepon dari kantor pusat. Ada beberapa berkas laporan keuangan cabang yang harus Papi koreksi dan kirim balik sebelum nanti malam. Jadi siang ini Papi mau fokus kerja sebentar."
"Yah... Papi mah sibuk terus," celetuk Wafa berpura-pura cemberut.
"Kerjaan mendadak, Waf," balas Jaya tertawa kecil. "Tapi kalian pergi aja, Papi izinin, asal ingat pesan Papi, Jaga adik-adiknya baik-baik. Rafa, Owen, kalian yang paling tua tolong awasi Wafa sama Ell. Jangan sampai ada yang nekat renang jauh ke tengah laut!"
"Siap, Papi! Komandan Rafa siap melaksanakan tugas jaga adek!" jawab Rafa mantap sambil memberikan hormat konyol.
"Tenang aja, Pih. Owen awasin dari pinggir," tambah Owen tenang.
Javin ikut menimpali sambil tersenyum, "Saya juga ikut bantu jagain adik-adik kok, Om."
"Nah, kalau Javin yang ngomong Papi lebih percaya daripada Rafa," goda Jaya yang langsung disambut gelak tawa dari semua orang dan sorakan tidak terima dari Rafa.
Di tengah kehangatan sarapan pagi dan mangkuk-mangkuk sup yang bersih tanpa sisa, keceriaan kembali memenuhi perkemahan mereka, bersiap menyambut petualangan selanjutnya di tepi pantai nanti siang.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat