Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34.Kabar gembira membara.

Jarak tak pernah menjadi penghalang bagi kabar buruk yang menyebar secepat kilat, apalagi jika peristiwanya begitu mengerikan dan tak masuk akal menurut logika manusia. Di jalan tol yang membelah perbatasan hutan lebat menuju Desa Sukamakmur, garis polisi sudah terpasang rapat melarang siapa pun melangkah mendekat ke area kejadian. Lampu sorot mobil patroli berputar perlahan, memantulkan cahaya merah dan biru yang menari-nari di permukaan aspal yang masih hangat terkena sisa panas api. Di tengah jalan yang kini sepi itu, terbongkar sebuah mobil sedan yang kini tinggal kerangka besi hangus melengkung tak berbentuk. Dan di dalamnya, terbaring sesosok mayat yang mengerikan—tubuhnya mengering kerontang sempurna, kulitnya menempel rapat pada tulang seolah dijemur berhari-hari di bawah terik matahari terpanas, padahal laporan menyebutkan mobil itu baru hilang dari pantauan kurang dari seminggu yang lalu.

Agus, seorang penyidik berusia tiga puluh tahun yang dikenal teliti, teguh, dan tak mudah percaya pada hal-hal tak logis, berjongkok perlahan di samping sisa-sisa bangkai mobil itu. Sarung tangan lateks yang bersih kini ternoda debu dan jelaga hitam pekat. Matanya meneliti setiap jengkal sisa puing besi, mencari jejak pelaku, sisa senjata tajam, atau tanda-tanda perkelahian yang biasa ditemukan dalam kasus pembakaran dengan niat jahat. Namun yang ia temukan justru semakin membingungkan dan membuat bulu kuduk merinding. Mobil terlihat seperti terlempar, jika diperkirakan dari jalan karena tidak merusak pembatas jalan ke jurang dibawahnya. Lalu Agus memperhatikan mayat yang kering kerontang, seperti cairan ditubuhnya mengering dan di temukan tidak jauh dari TKP mobilnya yang terbakar.

“Sama sekali tidak masuk akal,ini aneh. ” gumamnya pelan sambil berdiri tegak, mengusap wajah yang terasa kering meski udara di sekitarnya terasa lembap. “Bagaimana mungkin mobil ini terbakar, dan pengemudi berada di luar mobilnya. Dan juga seakan mobil ini melayang tanpa ada jejak mobil menabral pembatas jalan. ”

Saat ia hendak memeriksa kembali data identitas korban dan berencana meminta rekaman kamera pengawas jalan raya, telinganya yang peka menangkap bisikan-bisikan samar dari sekelompok warga yang berhenti mengamati dari kejauhan, tak berani melangkah lebih dekat. Wajah mereka pucat pasi, saling pandang dengan tatapan ngeri dan ketakutan yang mendalam, seolah melihat hal yang sudah lama mereka dengar namun tak pernah berharap melihatnya dengan mata kepala sendiri.

“Kasihan sekali nasibnya...” bisik seorang pria tua sambil menggeleng-gelengkan kepala berkali-kali. “Sekali lagi tumbal yang jatuh ke tangan mereka. Padahal sudah lama tak ada kejadian begini.”

Agus segera berjalan mendekat, langkahnya mantap namun tenang agar tidak membuat warga semakin ketakutan atau enggan berbicara. “Maaf mengganggu sebentar, Bapak. Boleh saya bertanya? Apa maksud ucapan Bapak tadi 'sekali lagi tumbal'? Apakah kejadian mengerikan seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya di tempat ini?”

Pria itu sedikit terkejut dan mundur selangkah, namun akhirnya menghela napas panjang saat melihat tatapan Agus yang penuh ketulusan ingin mengetahui kebenaran. Beberapa warga lain yang ikut berkumpul saling berbisik sesaat, sebelum akhirnya salah satu dari mereka memberanikan diri berbicara lebih lantang.

“Sudah tiga kali dalam setahun terakhir, Pak Polisi,” ucap seorang wanita paruh baya dengan suara bergetar. “Selalu orang asing yang lewat sendirian, selalu ditemukan mati terbakar namun tubuhnya kering kerontang persis seperti itu. Dan yang paling aneh, semuanya ditemukan di jalan yang mengarah langsung ke Desa Suka makmur.”

“Desa Suka makmur?” Agus mengerutkan kening dalam-dalam, mencoba mengingat-ingat apakah pernah mendengar nama desa itu sebelumnya. “Apa yang sebenarnya ada di desa itu? Mengapa warga tampak begitu takut menyebutnya?”

“Kata orang-orang tua dulu, desa itu dijaga oleh makhluk sakti yang dikabarkan menjaga harta karun disana,” jawab pria tua tadi sambil melirik ke arah hutan lebat di kejauhan. “Selama ratusan tahun tak pernah ada pencurian, pembunuhan, atau bencana besar yang menimpa warga desa itu. Hidup mereka aman dan tenteram. Desa yang dilindungi oleh apapun,baik itu manusia dengan niat jahat maupun makhluk gaib jahat. Kami tak tahu apakah itu benar-benar nyata atau sekadar mitos turun-temurun, tapi kenyataan yang ada di depan mata kami hari ini seolah membenarkan semua cerita itu.”

Rasa penasaran Agus semakin berkobar hebat, perlahan menggantikan rasa ragu yang sempat ia rasakan. Desa Sukamakmur kini menjadi satu-satunya petunjuk yang bisa ia tuju. Ada sesuatu yang sangat besar dan tersembunyi di balik kesunyian desa itu, sesuatu yang mungkin jauh lebih berbahaya dan misterius daripada apa yang pernah ia bayangkan selama bertugas sebagai penyidik.

***

Sementara itu, di kediaman tua yang kini menjadi rumah bagi Raisa, suasana terasa jauh lebih hangat namun juga sedikit terasa canggung dan membebani. Sejak kejadian di kamar Arya tempo hari, sikap pria itu berubah drastis sepenuhnya. Ia tak lagi menghindar, justru kini ke mana pun Raisa melangkah, bayangan tinggi berbalut pakaian hitam itu selalu ada tak jauh dari sana, mengawasi setiap gerak-geriknya dengan perhatian yang tak biasa. Saat Raisa hendak duduk makan, piringnya sudah penuh dengan makanan yang paling ia sukai sebelum ia sempat meminta. Saat ia hendak beristirahat, selimutnya sudah ditarik rapi dan bantalnya sudah tersusun sempurna tanpa ia sadari. Perhatian yang begitu besar dan berlebihan itu justru membuat Raisa merasa tak nyaman, seolah ia tak bisa bergerak sebebas dulu atau melakukan hal kecil tanpa diawasi.

Saat ia berusaha mencari alasan untuk menghindar sejenak dari tatapan tajam Arya, terdengar suara ketukan pelan di pintu depan. Pak Yono, kepala desa Suka makmur, datang ditemani Pak Budi sambil membawa sebuah map tebal berwarna cokelat tua yang tersegel rapi di tangannya. Wajahnya tampak penuh hormat namun tersenyum ramah saat melihat Raisa menyambutnya di ruang tamu.

“Selamat siang, Nona Raisa,” sapanya sopan sambil sedikit membungkukkan badan. “Saya Yono, kepala desa Suka makmur. Saya datang atas perintah langsung Tuan Arya untuk menyerahkan berkas ini kepada Nona.”

Raisa menerima map itu dengan tangan yang sedikit ragu, lalu segera membuka segelnya perlahan. Matanya terbelalak lebar tak percaya saat membaca isi dokumen yang tersusun rapi di dalamnya. Itu adalah surat penerimaan siswa baru di sekolah menengah umum terdekat yang cukup bergengsi, lengkap dengan semua administrasi, pembayaran uang masuk, dan izin tinggal yang sudah beres sepenuhnya.

“Ini... ini benar-benar ditujukan untuk saya, Pak Kades?” tanyanya dengan suara bergetar menahan haru yang meluap-luap.

“Benar sekali, Nona,” jawab Pak Yono tersenyum tulus melihat wajah gadis itu yang mulai berseri. “Kemarin lusa Tuan Arya sengaja datang ke rumah saya bersama Pak Budi. Beliau meminta saya mengurus semua pendaftaran sekolah Nona dari awal hingga selesai, tanpa menyisakan satu pun urusan yang belum beres. Beliau berkata Nona berhak mendapatkan pendidikan setinggi apa pun yang Nona inginkan, dan beliau akan memastikan hal itu terwujud.”

Rasa bahagia meledak seketika di dalam dada Raisa, melupakan sejenak rasa canggung yang tadi ia rasakan. Selama ini keinginan untuk kembali duduk di bangku sekolah selalu ia pendam rapat-rapat karena tak berani menghadapi temannya memandangnya aneh, tapi sekarang dia mempunyai kesempatan disekolah yang baru dan teman baru. Untuk hari ini semua harapan itu terwujud berkat sosok yang selama ini melindunginya tanpa banyak bicara. Tanpa pikir panjang, ia langsung memeluk Pak Budi, Sekar, Alif, bahkan Jatmika yang tampak kaku namun perlahan tersenyum kecil membalas pelukan itu seadanya.

“Terima kasih! Terima kasih banyak semuanya! Akhirnya aku bisa sekolah lagi! Aku tidak akan melepaskan kesempatan yang diberikan padaku ini!” serunya riang, matanya berbinar penuh harapan yang kembali menyala terang.

Tanpa menunggu lebih lama, ia berlari secepat kilat naik ke lantai dua menuju kamar Arya, lalu membuka pintu itu selebar-lebarnya tanpa mengetuk lebih dulu. Arya sedang duduk diam di kursi dekat jendela, menatap ke arah rimbunnya hutan dengan wajah tenang yang seakan tak tergoyahkan apa pun, namun seketika berubah saat melihat Raisa datang dengan wajah berseri-seri yang tak pernah ia bosan melihatnya.

“Arya! Terima kasih banyak! Terima kasih!” seru Raisa lantang, senyumnya merekah begitu indah seolah menerangi ruangan yang remang itu.

Arya berdiri perlahan, mencoba sekuat tenaga kembali menata ekspresi wajahnya yang dingin dan datar seperti kebiasaannya. “Hanya karena hal sekecil itu kau bersorak seheboh itu? Seolah belum pernah melihat dunia luar sebelumnya.”

“Hal sekecil?” Raisa menggeleng tak setuju sedikit pun, lalu berlari mendekat dan memeluk pinggang Arya dengan sangat erat sambil menatap lurus ke dalam manik mata pria itu. “Bagiku ini bukan hal kecil. Ini adalah harapan yang selama ini aku simpan sendirian. Dan kau yang mewujudkannya.”

Tanpa sadar, sebelum Arya sempat membuka mulut untuk berkata apa-apa, Raisa mendongakkan kepalanya sedikit dan mendaratkan kecupan singkat namun hangat tepat di pipi kiri Arya.

Keheningan yang mendadak menyelimuti ruangan itu begitu pekat. Arya tertegun kaku, matanya membelalak lebar tak percaya, tubuhnya seolah dipaku tak bergerak di tempat. Rasa hangat yang tak asing namun kali ini terasa jauh lebih dahsyat seketika merambat dari titik kecil di pipinya ke seluruh pembuluh darahnya, membuat jantungnya yang tak pernah berdetak seperti manusia kini berpacu liar seolah hendak meledak di dalam dadanya.

“Beraninya kau!” suaranya terdengar sedikit serak dan kacau, berusaha menutupi kegugupannya dengan nada tegas yang dibuat-buat. “Itu... itu tidak pantas dilakukan sembarangan pada makhluk sepertiku!”

Raisa justru memukul pelan bahu bidang Arya sambil mendengus kesal yang dibuat-buat. “Dasar pelit sekali! Cium pipi saja tidak boleh. Padahal itu hanya cara aku mengucapkan terima kasih yang paling tulus.”

“Keluar sana sekarang! Segera!” bentak Arya, namun suaranya tak sekeras biasanya, bahkan terdengar seperti orang yang sedang berusaha menahan sesuatu yang begitu besar dan kuat agar tak meledak.

“Begitu saja sudah mengusir,” cemberut Raisa sambil berjalan mundur perlahan menuju pintu. Namun sebelum menutup pintu itu sepenuhnya, ia kembali tersenyum manis dan berteriak kecil dengan nada jenaka. “Terima kasih sekali lagi, Arya yang paling pelit sedunia!”

Begitu pintu tertutup rapat, kendali yang selama ratusan tahun Arya pegang dengan sempurna seketika lepas begitu saja. Tubuhnya yang memiliki unsur api murni mulai memancarkan cahaya kemerahan samar yang semakin terang, dan lidah api kecil mulai menjalar dari ujung jari-jarinya. Ia meremas dadanya yang terasa sesak bukan karena sakit, melainkan karena perasaan yang begitu kuat hingga membuat kekuatan Ba nas pati-nya ikut tak terkendali sepenuhnya. Bayangan wajah Raisa yang tersenyum dan rasa hangat singkat di pipinya terus terbayang berulang-ulang, semakin memicu api yang berkobar hebat di dalam dirinya.

Belum lama berselang, pintu kembali terbuka dan Jatmika masuk dengan wajah berseri ingin melaporkan kegembiraan yang masih terasa di lantai bawah. Namun kata-kata yang hendak ia ucapkan mati seketika di kerongkongan saat melihat tuannya yang kini dikelilingi lidah api kecil yang berkobar tak menentu dan semakin membesar.

“Tuan! Apa yang terjadi?! Mengapa kekuatan Tuan tak terkendali begini?!” Jatmika langsung melangkah maju dengan wajah khawatir setengah mati.

“Cepat... bantu aku padamkan api ini sekarang!” perintah Arya terengah-engah, berusaha menahan diri agar api itu tak merusak isi kamar atau menyebar ke seluruh rumah yang kini ditinggali orang-orang yang ia sayangi.

Jatmika segera mengerahkan seluruh tenaganya, memancarkan semburan air dingin dari ujung jarinya untuk mendinginkan tubuh Arya perlahan. Namun setiap kali api itu tampak meredup sejenak, bayangan wajah Raisa kembali melintas jelas di benak Arya, dan api itu berkobar kembali jauh lebih hebat dari sebelumnya.

“Jatmika... jangan banyak bertanya!” bentak Arya antara rasa kesal dan malu yang mendalam. “Fokuslah meredam ini!”

“Tapi Tuan... apa yang dilakukan Nona Raisa sampai membuat kekuatan Tuan yang tak terkalahkan selama berabad-abad ini menjadi tak terkendali begitu?” tanya Jatmika tak habis pikir sambil kembali mengerahkan seluruh tenaganya.

“Jangan banyak tanya, cepat lakukan!. ”perintah tegas Arya.

Arya pun berusaha menenangkan dirinya, sedangkan Jatmika berusaha mengeluarkan kekuatan nya untuk memadamkan api ditubuh Arya.

Di lantai bawah, suasana masih penuh tawa dan kegembiraan yang tulus. Raisa dengan ceria mengajak Alif dan Sekar untuk segera bersiap pergi ke pasar desa guna membeli perlengkapan sekolah yang belum lengkap. Tak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di lantai atas, sang penguasa api sedang berperang hebat melawan perasaannya sendiri yang kini tak bisa lagi ia sembunyikan, tolak, atau kendalikan. Sebuah perasaan yang ternyata jauh lebih panas, jauh lebih membara, dan jauh lebih dahsyat daripada api mana pun yang pernah ada di dunia ini.​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!