Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Kepanikan

Usai pertengkaran hebat yang merobek sisa-sisa kehangatan keluarga Broto, rumah megah di pinggir jalan raya Madiun itu tenggelam dalam keheningan yang mencekik.

Lampu kristal di ruang tengah telah dipadamkan, menyisakan pendar remang dari lampu dinding koridor. Bau amis kluwek dan jejak minyak tanah dari dapur belakang perlahan merayap masuk melalui celah-celah pintu, menebarkan udara kental yang membuat dada terasa sesak.

Galang tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi kasur kamarnya, memandangi pintu kayu yang terkunci. Pipinya masih berdenyut panas akibat tamparan keras Bu Retno, tetapi rasa sakit itu kalah jauh dibanding kecemasan yang memenuhi dadanya.

Malam kian melarut, merayap mendekati pukul satu pagi—jam-jam ketika entitas ghaib di rumah itu mulai berkeliaran mencari mangsa.

Tiba-tiba, sebuah jeritan melengking memecah malam.

"BAPAK! JANGAN DEKAT-DEKAT! BAPAK BUKAN BAPAKKU!"

Galang terlonjak dari kasur. Jeritan itu berasal dari kamar anak-anak—kamar yang ditempati oleh Rian dan Gilang!

Tanpa membuang waktu, Galang memutar kunci dan mendobrak pintunya sendiri, berlari kencang menyusuri koridor yang gelap.

Dari dalam kamar nomor dua, suara barang-barang dibanting keras bergema beruntun. Isak tangis ketakutan Gilang membumbung tinggi, berbaur dengan pekikan Rian yang terus melontarkan raungan histeris.

"Rian! Buka pintunya, Rian!" teriak Galang seraya menggedor pintu kayu jati kamar adiknya dengan panik.

"MAS GALANG! TOLONG, MAS! BAPAK BERDIRI DI POJOKAN! BAPAK DAHINYA BOLONG!" raung Rian dari dalam. Suaranya pecah, sarat dengan ketakutan yang meremukkan saraf.

BRAK! BRAK!

Galang memutar gagang pintu dengan paksa. Terkunci dari dalam. Tak ada waktu untuk mencari kunci serep. Galang mengambil langkah mundur dua tapak, lalu menghantamkan bahu kanannya sekuat tenaga ke arah selot pintu.

TAK!

Pintu kayu itu terbuka paksa, terhempas menghantam dinding.

Pemandangan di dalam kamar membuat darah Galang serta-merta membeku. Lampu kamar padam total, namun pendar cahaya bulan yang menembus celah gorden memperlihatkan kekacauan hebat. Kasur berantakan, sprei terlepas, dan lemari pakaian plastik roboh berantakan di lantai.

Di sudut kamar yang paling gelap—di dekat lemari pakaian yang tumbang—Rian terduduk meringkuk kaku. Kedua tangannya mencengkeram erat kepalanya sendiri, matanya membelalak lebar hingga urat-urat merah di bola matanya terlihat jelas.

Keringat dingin mengucur deras membasahi kaos oblongnya. Ia berteriak histeris tanpa henti ke arah pojok plafon atas, sementara Gilang—si bontot—meringkuk menangis sesenggukan di kolong meja belajar, memeluk lututnya sendiri.

"Jangan mendekat! Jangan bawa Rian! Rian tak mau ikut!" jerit Rian histeris, kakinya menendang-nendang udara kosong di hadapannya dengan liar.

Galang menerjang masuk, merangkul tubuh Rian yang gemetaran hebat bagaikan tersengat listrik.

"Rian! Rian, ini Mas Galang! Sadar, Rian! Istighfar!"

Namun Rian tidak mendengarnya. Matanya tetap terkunci pada sudut kosong di atas lemari. Cengkeraman tangannya di lengan Galang begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap masuk ke dalam kulit Galang.

"Lihat itu, Mas! Bapak berdiri di situ!" raung Rian dengan suara parau yang hampir tak menyerupai suaranya sendiri. "Bapak pakai baju lurik yang ada noda darahnya! Dahinya bolong berulat! Bapak senyum sama Rian ... Bapak bilang giliran Rian malam ini! Bapak bawa kencringan besi!"

Galang melemparkan pandangannya ke sudut plafon yang ditunjuk Rian. Bagi mata telanjang Galang, sudut itu hanya diisi oleh bayangan hitam malam. Namun, panca indera batinnya sanggup merasakan hawa dingin luar biasa membekukan ruangan itu.

Bau tanah kuburan yang basah dan amis kotoran sapi mendadak menyengat parau di hidungnya—aroma khas kedatangan almarhum Pak Broto dalam wujud wadah pesugihan yang dikendalikan oleh mantra Pak Sapta.

"Tidak ada siapa-siapa di sana, Rian! Lihat Mas Galang!" bentak Galang sambil menangkup kedua pipi Rian, mencoba menarik perhatian adiknya yang hampir gila oleh ilusi ghaib. "Mas ada di sini! Mas tidak bakal biarkan siapa pun mengambil Rian!"

Di saat yang sama, derap langkah kaki yang teratur berdetuk kaku dari arah koridor luar.

Pak Sapta berdiri di ambang pintu kamar. Pria tua itu mengenakan sarung tenun gelap dan kemeja polos, memegang tongkat berkepala naganya. Di belakangnya, Bu Retno menyusul dengan langkah lunglai, matanya yang redup menatap Rian tanpa ekspresi emosi sedikit pun.

"Ada apa ini ribut-ribut tengah malam begini?" tanya Pak Sapta dingin, suaranya mengalun rendah namun bergema di dalam kamar yang kacau.

Melihat sosok Pak Sapta di ambang pintu, jeritan Rian justru kian menjadi-jadi. Anak laki-laki berusia empat belas tahun itu mendadak melompat bangun, menunjuk-nunjuk wajah Pak Hendra dengan telunjuknya yang gemetar parah.

"DIA! DIA BUKAN MANUSIA!" teriak Rian dengan mata liar. "Wajah Bapak Sapta berubah jadi hitam! Tadi malam Rian lihat dia berdiri di bawah pohon kamboja sambil makan daging mentah! Ibu! Usir dia, Bu! Dia yang mau bunuh Rian seperti Mbak Mia!"

Bu Retno melangkah mendekat. Bukannya merangkul atau menenangkan Rian yang sedang ketakutan setengah mati, wanita itu justru menatap putranya itu dengan pandangan dingin dan jengkel.

"Rian, cukup!" bentak Bu Retno kaku. "Jangan ikut-ikutan gila seperti Masmu ini! Pak Sapta ini bapakmu sekarang! Kenapa kamu malah berteriak-teriak tidak jelas!"

"Ibu! Rian tidak bohong!" jerit Rian, air matanya menyembur deras. Ia berlutut di depan ibunya, memegang ujung daster Bu Retno dengan histeris. "Bapak Broto tadi berdiri di sudut kamar! Bapak bilang nama Rian sudah dicoret di papan kayu! Rian mau dibawa ke hutan jati, Bu! Tolong Rian, Bu ... Rian takut ...."

Bu Retno secara perlahan mengibaskan dasternya, melepaskan cengkeraman jemari Rian begitu saja.

"Ketakutanmu ini muncul pasti karena keseringan dengar bualan Mas Galang," kata Bu Retno kaku. "Pak Sapta sudah cape-cape mencari uang untuk membiayai sekolahmu, dan kamu malah berteriak-teriak seperti orang kesetanan."

Galang bangkit berdiri, menutupi tubuh Rian di belakang punggungnya. Ia menatap Bu Retno dan Pak Sapta dengan pandangan penuh kebencian yang mendalam.

"Ibu benar-benar sudah tidak punya hati!" geram Galang, suaranya bergetar berat. "Anak kandung Ibu sendiri sedang ketakutan sampai histeris seperti ini, dan Ibu cuma peduli sama perasaan iblis di samping Ibu itu?! Rian tidak gila! Sosok pesugihan itu memang sedang mengincar Rian!"

Pak Sapta melangkah masuk satu tapak ke dalam kamar. Matanya memandang Rian yang meringkuk ketakutan di belakang Galang. Senyum amat tipis—hampir tak terlihat—terukir di sudut bibirnya yang kaku.

"Rian ini memang selalu yang paling sensitif," bisik Pak Sapta sangat pelan, nada suaranya mengandung intonasi rahasia yang hanya dipahami oleh entitas pemilik perjanjian pesugihan. "Pikirannya sudah retak. Gelombang bayangan itu tidak akan berhenti memanggilnya sampai dia mendatangi tempat yang seharusnya."

Pak Sapta lalu menoleh kepada Bu Retno.

"Bu, biarkan anak ini tenang dulu. Besok pagi kita bawa Rian ke pengobatan alternatif di luar kota, atau kita istirahatkan dia di tempat yang lebih tenang. Rumah ini rupanya terlalu riuh untuk jiwanya yang rapuh."

"Iya, Pak ... terserah Bapak saja," jawab Bu Retno menurut bagaikan kerbau yang telah dicucuk hidungnya.

"Jangan pernah sentuh Rian!" ancam Galang, melangkah maju memotong jalan Pak Sapta. "Aku tidak akan biarkan Rian dibawa ke mana pun tanpaku!"

Pak Sapta tidak meladeni ancaman Galang. Pria itu hanya berbalik dengan tenang, menuntun Bu Retno keluar dari kamar.

Sebelum benar-benar melangkah pergi melintasi koridor, Pak Sapta menyempatkan diri melirik ke arah Gilang yang masih bersembunyi di bawah meja belajar. Tatapan kacamata emasnya terasa bagaikan vonis mati yang dingin dan tak terelakkan.

Galang segera berlutut kembali, merangkul Rian yang masih terisak-isak hebat dan gemetaran di lantai. Di kolong meja, Gilang merangkak keluar sambil menangis memeluk kaki Galang.

"Mas Galang ... Rian takut ...," bisik Rian dengan suara yang kian melemah, matanya menatap hampa ke arah jendela kamar yang tertutup gorden. "Bapak tadi bilang ... kalau Rian tidak mau ikut sendiri ... Bapak bakal jemput Rian di tempat kayu-kayu besar ...."

Galang memeluk kedua adiknya erat-erat dalam kegelapan kamar. Ia tahu persis apa arti bisikan ghaib itu. "Tempat kayu-kayu besar" yang dimaksud tidak lain adalah kawasan hutan jati Ngawi—lokasi di mana cabang warung baru sedang dibangun di atas tanah sengketa.

1
Its just a lunch
klo cuma mau nginep sementara waktu,knp gak minta izin pak kyai utk nginep di pesantren sih,malah kembali pulang ke markas iblis.
wajar para kerabat pada nolak bantuin kalo taruhan nya nyawa dan keluarga mrk.
kinoy
ni gmn sih masa mati smua
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kenapa Galang tidak minta ijin Kyai buat nginep di padepokan ya saja ya .... Biar ada yang membantu dia menghadapi datangnya malam Jumat Kliwon
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ini serius Galang tidak membawa Gilang pergi dari rumah ?
Serius Galang akan menantang datangnya malam Jumat kliwon?
Serius Galang pasrah saja....
Asphia fia
yg menang banyak Sapta Thor anak Retno mati semua, sedang Retno jg jiwanya telah mati siapa yg akan menikmati kekayaan & kekayaan nya klo bukan sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lantas ... kenapa saat itu Juga pakk kyai tidak membantu Galang untuk pergi segera dasi tanah Jawa ini, jika memang itu satu satunya jalan.
Kenapa pakk kyai tidak membantu Galang, yang belum dewasa untuk menyelesaikan ini sendiri.
Asphia fia
apa dr p.broto dan Bu Retno gk ada keluarga Thor ko GK ada yg peduli
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tidak adakah tempat bernaung dan berlindung buat Galang menyelamatkan Gilang dari rumah itu???????
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Disini ga diceritain soal reaksi warga yang melihat kematian anak pakk Broto secara berurutan dan dalam jarak waktu yang dekat , Thor ??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lagi .... dan lagi
Galang harus menyaksikan sisa saudaranya diambil gilirannya menjadi tumbal.

come on, Galang !
jangan diam saja .
Do something to save your little brother "Gilang".
kinoy
PGN komen kasar sbnrnya ke si Sapta ma si Retno .iblis kalian..Galang jg mst y CPT cari cara lain..dah tau pesugihan nyari ustad donk BKN dilawan sndr..maaf y KK otor. AQ gemes baca y&lama2 g sanggup..kyknya KLO msh kyk gini nunggu abis anak si Retno mati smua AQ ijin skip dl baca. jujur g sanggup baca y..maaf y
kinoy
edan..dah jls mengakui pesugihan ..menuntut tumbal
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
kasihan kondisi Rian dan Gilang.
masih kecil tapi diliputi ketakutan karena gangguan ghaib.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Mau menjerit sampai melengking ,
mau kamu menangis darah,
Buu Broto ga akan sadar dengan ucapan dan tindakannya, Galang .....
Dia dalam pengaruh ghaib Mbah Mangu.
kinoy
ALLAHU RABBI..KA Anna..blm muncul kah sosok yg BS nyelametin mrk yg tersisa..ato EMG bkl dibabad abis tuh keturunan
Shankara Senja
buat Galang..klo belom punya ilmu mumpuni..jangan coba coba ngelawan iblis ya...nnt yg ada mlh kamu yg celaka..terus gmn nasib adik adik mu..berguru dulu jgn emosi
kinoy
AQ baca y SKT hati y..kasian ATH KLO Rian&gilang bnr2 ditumbalin mah..gd yg BS nolongin gt..bantuin Galang..tetangga sekitar gmn..KK otor tolongin donk..mewek AQ ni😭
kinoy
hs yg ba nolongin Galang&adik2nya gt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lantas ..... apa yang akan kau lakukan, Galang .... untuk menyelamatkan Rian dan Gilang ?

Apakah pesugihan yang diambil bapakmu tidak bisa diputuskan ???
Dan tetapp harus dituntaskan dengan mengambil 2 nyawa yang tersisa , yaitu Rian dan Gilang ????
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kasihan Rian dan Gilang 😭
Mereka masih kecil
Tapi nyawa mereka sudah digadai oleh pesugihan yang dianut bapaknya sendiri.
Tinggal giliran Rian ..... Dan selanjutnya Gilang.
🥺🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!