Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Honeymoon yang Terlambat I
Martha baru menyadari bahwa dirinya benar-benar akan pergi berlibur ketika ia melihat sebuah koper besar berdiri di sudut kamar.
Benda itu sudah berada di sana sejak dua hari lalu, tetapi selama itu pula ia terlalu sibuk dengan pekerjaan untuk memedulikannya. Pagi itu, setelah menyelesaikan beberapa urusan di klinik tempat ia bekerja, Martha pulang dengan kepala penuh daftar pasien yang masih harus ia ingat, jadwal jaga yang sudah ditukar, serta beberapa pesan dari rekan kerja yang memastikan semuanya tetap berjalan selama ia pergi.
Ia baru saja meletakkan tas ketika Daniel muncul dari kamar sambil membawa sepasang sepatu.
“Ini punya siapa?”
Martha menoleh.
“Punya kamu.”
Daniel melihat sepatu itu, lalu menatap koper di sudut kamar.
“Jadi kita benar-benar berangkat?”
Martha tertawa kecil. “Bukankah tiketnya sudah ada?”
“Aku masih berharap Amara berubah pikiran.”
“Kenapa?”
“Karena kalau dia berubah pikiran, kita bisa kembali ke kehidupan normal.”
Martha menggeleng sambil mengambil beberapa pakaian dari lemari.
“Sejak kapan kau mengeluh kalau adikku memberimu liburan gratis?”
“Sejak aku sadar aku tidak tahu cara liburan.”
Martha berhenti melipat pakaian dan menatap suaminya. Daniel berdiri dengan ekspresi serius, tetapi sudut bibirnya sudah bergerak menahan tawa.
“Kita pernah liburan.”
“Kapan?”
Martha berpikir. Ingatannya berkelana cukup jauh sebelum akhirnya ia menggeleng.
“Tidak tahu.”
“Nah.”
Mereka saling memandang, lalu tertawa bersamaan.
Itulah masalahnya. Mereka memang pernah pergi bersama, tetapi hampir selalu ada alasan di balik perjalanan tersebut. Pernah menghadiri acara keluarga, pernah mengunjungi kerabat, pernah mengantar anak, bahkan pernah mengambil cuti beberapa hari hanya untuk menghadiri sebuah acara. Namun perjalanan yang benar-benar dilakukan karena mereka ingin menikmati waktu sebagai suami dan istri ternyata sulit ditemukan dalam ingatan.
Puluhan tahun pernikahan membuat kehidupan mereka dipenuhi rutinitas yang terasa begitu normal sampai keduanya tidak pernah mempertanyakan apakah mereka masih memiliki waktu untuk diri sendiri.
Martha kembali memasukkan pakaian ke dalam koper.
“Daniel.”
“Hm?”
“Jangan lupa obatmu.”
“Aku sehat.”
“Justru karena itu jangan sampai sakit di Italia.”
Daniel menghela napas. “Kau tetap bidan bahkan saat liburan.”
“Aku memang bidan.”
“Dan aku tetap suamimu.”
Martha tersenyum. “Itu juga benar.”
Dari ruang keluarga terdengar suara Susan.
“Bu!”
Martha menoleh ke arah pintu.
“Apa?”
Susan muncul dengan membawa sebuah tas kecil. Gilberth menyusul di belakangnya dengan wajah yang tampak tidak senang.
“Ibu benar-benar pergi?”
Martha tersenyum. “Iya.”
“Berapa lama?”
“Beberapa hari.”
Gilberth langsung menyela, “Kenapa cuma beberapa hari?”
Martha mengangkat alis.
“Bukannya kamu senang karena Ibu pergi?”
“Bukan begitu.”
Susan tertawa. “Dia sebenarnya takut rumah jadi sepi.”
Gilberth menatap adiknya.
“Aku tidak takut.”
"Kalian bisa ke mansion kalau sepi." Kata Martha.
Daniel yang sedang memasukkan charger ke dalam tas langsung tertawa.
“Selama di Swiss kalian tidak pernah terlihat seperti anak yang merindukan orang tua. Sekarang baru protes.”
Susan memeluk Martha dari samping.
“Karena sekarang Ibu dan Ayah benar-benar pergi berdua.”
Martha membelai rambut putrinya.
“Kalian sudah besar.”
Gilberth mengangkat tangan.
“Aku belum.”
Daniel menatapnya.
“Kamu sudah cukup besar untuk menjaga rumah.”
“Kenapa jadi aku?”
“Karena Susan lebih bertanggung jawab.”
Susan langsung tersenyum puas.
Gilberth memandang ayahnya dengan kecewa.
“Tidak adil.”
Martha tertawa melihat perdebatan kecil itu. Namun beberapa saat kemudian, ketika ia memandang kedua anaknya, ekspresinya berubah lebih lembut. Selama dua minggu di Swiss, mereka memang selalu dikelilingi keluarga besar. Kini mereka kembali ke rumah dan akan tinggal bersama orang tua mereka. Ada rasa lega dalam hati Martha karena akhirnya anak-anaknya kembali.
“Kalian baik-baik saja selama kami pergi?”
Susan mengangguk. “Baik.”
Gilberth ikut mengangguk.
“Kami akan baik-baik saja.”
Martha menyipitkan mata.
“Jangan membuat masalah.”
Gilberth memasang wajah polos.
“Aku tidak pernah membuat masalah.”
Daniel langsung tertawa.
“Kalimat itu bahkan tidak layak dipercaya.”
Tawa kembali memenuhi rumah.
Namun menjelang keberangkatan, suasana berubah sedikit lebih tenang. Martha berdiri di depan pintu sambil memandang rumah yang selama bertahun-tahun menjadi pusat kehidupannya. Ada sesuatu yang terasa aneh ketika ia menyadari bahwa kali ini ia benar-benar akan meninggalkan semuanya tanpa membawa pekerjaan.
Daniel datang membawa koper.
“Sudah?”
Martha mengangguk.
“Sudah.”
“Masih mau mengecek jadwal pasien?”
Martha melirik ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Tidak.”
Daniel tersenyum puas.
“Bagus.”
Mereka berangkat menuju bandara tanpa rombongan keluarga. Hanya sebuah perjalanan yang seharusnya sederhana, meskipun keduanya tahu bahwa Amara tidak pernah benar-benar memahami arti sederhana.
Pesawat yang disiapkan untuk mereka jauh lebih mewah daripada yang mereka bayangkan. Martha sempat berdiri cukup lama di depan kursinya, memandangi ruang yang luas dengan ekspresi canggung.
Daniel sudah duduk lebih dulu.
“Kamu mau berdiri sampai Italia?”
Martha menatap kursinya.
“Ini terlalu mahal.”
“Jangan pikirkan.”
“Bagaimana bisa tidak?”
Daniel menggenggam tangannya dan menariknya perlahan agar duduk.
“Anggap saja hadiah dari adikmu.”
Martha menghela napas.
“Amara memang keterlaluan.”
“Dalam hal baik.”
Martha akhirnya tersenyum.
Pesawat bergerak meninggalkan landasan. Jakarta perlahan mengecil di bawah mereka, lalu tertutup awan. Martha menatap keluar jendela cukup lama. Ada rasa ringan yang sulit dijelaskan ketika ia menyadari bahwa untuk beberapa hari ke depan tidak ada jadwal persalinan yang harus ia pikirkan, tidak ada panggilan darurat yang berkaitan dengan pekerjaan Daniel, dan tidak ada anak yang harus mereka antar atau jemput.
Daniel menyandarkan tubuhnya.
“Tidur saja.”
“Aku tidak mengantuk.”
“Biasanya kau tidur cepat.”
“Karena biasanya aku capek.”
Daniel tersenyum.
“Sekarang?”
Martha menatapnya.
“Sekarang aku penasaran.”
“Dengan apa?”
“Seperti apa rasanya menjadi turis.”
Daniel tertawa.
“Berarti kita benar-benar sudah tua.”
Martha memukul lengannya pelan.
“Jangan menghina usia.”
“Aku cuma bercanda.”
Mereka menghabiskan perjalanan dengan berbicara tentang hal-hal yang selama ini sering terlewat. Masa muda mereka, pernikahan, anak-anak, bahkan keputusan-keputusan kecil yang dulu terasa biasa tetapi ternyata membawa mereka sampai sejauh ini.
Ketika pesawat akhirnya tiba di Italia, matahari sudah condong ke barat.
Perjalanan menuju Amalfi membawa mereka melewati jalan berkelok di sepanjang pesisir. Martha beberapa kali menoleh ke luar jendela. Rumah-rumah berwarna terang berdiri di lereng, sementara laut terbentang luas di bawah tebing. Pemandangan itu begitu berbeda dari kehidupan yang mereka kenal di Jakarta.
Daniel bahkan sempat meminta kendaraan berhenti sebentar di sebuah tempat dengan pemandangan laut yang terbuka.
Martha turun dan berdiri di sampingnya.
“Indah sekali.”
Daniel mengangguk.
“Amara tahu tempat.”
Martha tersenyum.
“Dia memang selalu tahu.”
Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa beberapa kendaraan di belakang mereka terdapat pengamanan yang sengaja ditempatkan Leon. Tidak mencolok, tidak mengganggu, bahkan hampir tidak terlihat. Martha dan Daniel memang datang untuk menikmati liburan, dan Leon memastikan tidak ada satu pun alasan bagi mereka untuk merasa sedang diawasi.
Resort tempat mereka menginap berdiri di atas tebing yang menghadap laut. Bangunannya memadukan batu tua dengan desain modern, sementara teras-terasnya dipenuhi tanaman yang bergerak perlahan diterpa angin.
Martha terdiam ketika melihat kamar mereka.
“Amara benar-benar tidak tahu batas.”
Daniel meletakkan koper.
“Dia punya banyak uang.”
“Bukan berarti harus seperti ini.”
“Biarkan.”
Martha berjalan ke balkon. Pemandangan di hadapannya membuat semua keberatan yang tadi ingin ia sampaikan perlahan menghilang.
Laut tampak berkilauan terkena cahaya sore. Perahu-perahu kecil bergerak jauh di bawah sana, meninggalkan garis putih yang segera menghilang di permukaan air.
Daniel berdiri di belakangnya.
“Masih mau mengomel?”
Martha tersenyum.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku terus mengomel, aku akan kehilangan pemandangan.”
Malam pertama mereka tidak diisi dengan agenda khusus. Mereka hanya berjalan perlahan menyusuri kawasan sekitar resort, mencari tempat makan kecil yang tidak terlalu ramai. Martha tertawa ketika Daniel salah mengucapkan nama sebuah makanan, lalu Daniel membalas dengan mengatakan bahwa setidaknya ia berani mencoba.
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar dan duduk di balkon.
Udara malam terasa nyaman. Lampu-lampu kota di kejauhan terlihat seperti titik-titik kecil yang menghiasi garis pantai.
Martha menyandarkan tubuh ke kursinya.
“Daniel.”
“Hm?”
“Kita benar-benar sudah menikah selama itu?”
Daniel menoleh.
“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”
“Entahlah.”
Martha tersenyum kecil.
“Aku melihat kita sekarang, lalu tiba-tiba ingat wajahmu waktu masih muda.”
Daniel tertawa.
“Wajahku dulu lebih tampan.”
“Menurutmu.”
“Menurutmu juga.”
Martha menggeleng.
“Kau memang tidak berubah.”
“Banyak yang berubah.”
“Seperti apa?”
Daniel memandang tangannya sendiri.
“Dulu aku pulang kerja masih punya tenaga untuk mengajakmu jalan-jalan. Sekarang pulang kerja aku hanya ingin duduk.”
Martha tertawa.
“Kalau begitu kita memang berubah.”
Mereka terdiam sejenak.
Bukan karena kehabisan bahan pembicaraan, melainkan karena masing-masing sedang mengingat perjalanan panjang yang sudah mereka lewati.
Martha menatap laut.
“Aku pernah berpikir hidup kita akan seperti ini selamanya.”
“Seperti apa?”
“Bekerja, membesarkan anak, membayar kebutuhan, lalu mengulang semuanya.”
Daniel mengangguk.
“Bukankah memang begitu?”
“Iya.”
Martha tersenyum.
“Tapi ternyata ada juga hari seperti ini.”
Daniel meraih tangannya.
“Dan masih ada hari-hari lain.”
Martha menoleh kepadanya.
“Setelah pulang nanti, kita tetap akan bekerja.”
“Pasti.”
“Aku tetap akan mengurus pasien.”
“Aku tetap akan bertugas.”
“Anak-anak tetap akan membuat rumah berantakan.”
Daniel tertawa.
“Terutama Gilberth.”
Martha ikut tertawa.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tawa mereka. Mereka tidak sedang melupakan kehidupan yang menunggu di Jakarta. Mereka hanya sedang memberikan ruang bagi diri sendiri untuk menikmati bagian lain dari kehidupan itu.
Martha menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.
“Terima kasih sudah ikut.”
Daniel mengecup pelipis istrinya.
“Terima kasih sudah mau pergi.”
Martha tersenyum.
Mungkin inilah yang sebenarnya diberikan Amara kepada mereka. Bukan tiket pesawat mahal, bukan resort mewah, bahkan bukan perjalanan ke Italia.
Adiknya memberi mereka waktu.
Waktu yang selama puluhan tahun selalu kalah oleh pekerjaan, anak-anak, tanggung jawab, dan berbagai hal yang terasa lebih penting.
Di Jakarta, rumah mereka mungkin sedang lebih tenang karena Susan dan Gilberth sudah tidur.
Di Italia, dua orang yang telah melewati sebagian besar hidup bersama itu justru baru mulai menyadari bahwa pernikahan mereka masih memiliki banyak cerita yang belum sempat mereka jalani.
Dan perjalanan itu baru dimulai.